Setelah membantu kedua anaknya mengerjakan PR, Lara menidurkan Tian. Kemudian dia berganbung bersama suaminya, malam ini ada pertandingan bulu tangkis kesukaan mereka akan sedang tayang. Dengan satu piring cemilan yang dibuat sendiri oleh Lara.
"Wahh, wanginya enak nih, dari dulu kamu paling jago bikin cemilan dari tepung tapioka."
"Yang kanan isi ayam, dan 3 agak kering itu isinya sosis."
"Ok baiklah, aku pilih yang ayam aja. Sebentar aku ambil minum dulu, kamu mau teh atau air putih?"
"Teh aja."
"Ok, tunggu sebentar tuan Puteri."
"Gak ada tuan Puteri tapi udah punya anak tiga."
"Eh salah, maksudnya Ratuku."
"Tehnya jangan manis-manis, nanti kalah saing sama gombalan kamu."
Dimas tersenyum. Dia berjalan menuju dapur, sementara Lara menonton iklan. Dimas kembali dengan dua cangkir yang berisi minuman yang berbeda-beda. Dimas tentu saja memilih kopi, untuk menemaninya bergadang malam ini.
"Terima kasih."
"Kembali kasih. Kamu udah gak marah sama aku?" tanya Dimas hati-hati. Dia penasaran kenapa Lara begitu cepat berubah.
"Masih."
Dimas menaruh cangkir kopi itu di meja. Dia memegang tangan Lara.
"Kamu tau aku gak pernah mau buat kamu marah. Tapi untuk yang satu itu, aku minta maaf. Kamu gak bisa pergi kemanapun tanpa aku,"
"Mas. Aku cuma minta di satu bulan itu sekali aja kamu ijinin aku untuk pergi tanpa kamu. Aku bosen Mas."
"Kamu bosan? Bukannya kita udah janji sekalipun bosan gak akan saling ninggalin."
"Bukan itu maksudku. Aku capek ngulang kata-kata ini terus. Tapi kalau kamu gak ngerti juga"
"Lara. Aku juga sama kayak kamu gak pergi kemana-mana. Aku gak bosen,"
"Kamu kerja Mas. Sedangkan aku?"
"Segitu kurangnya uang dari aku ya? Kamu sampai repot-repot mau kerja?"
"Bukan gitu!" Kali ini mata Lara sudah berkaca-kaca. Dia lelah berdebat, dan harus menjelaskan apa yang selama ini dirasakannya. Karena percuma, Dimas tidak akan memperbolehkan pergi.
"Intinya kamu mau ijinin aku pergi atau enggak?"
"Kamu udah tau jawabannya, lebih baik Minggu depan kita ke rumah Ibu."
"Aku harus nyetrika, kamu saja bareng anak-anak." Kilah Lara. Dia bukan tidak ingin datang, tapi kehadirannya yang tidak diinginkan. Akan merusak acara kumpul keluarga mereka. Yang selalu berhasil membuat Lara bersedih. Lara selalu di sindir, tidak seperti mantu yang lain, bekerja dan membantu suami. Padahal, harusnya Dimas yang disalahkan.
"Kenapa sih, kamu nolak terus, kalau diajak ke rumah Ibu, itu kan sekarang jadi Ibu kita Lara."
"Kenapa sih, aku harus selalu nurutin semua kemauan kamu, tapi kamu sulit banget ngabulin satu pemintaan aku?"
"Aku tau kamu cape, mending sekarang istrirahat, aku gak mau kita ribut dan bangunin anak-anak."
"Mas. Kenapa?"
Dimas menghela nafas.
"Karena Aku suami Kamu, secara kodratnya emang kamu harus nurut sama Aku."
"Kalau kamu lupa, aku ingetin lagi. Aku ini manusia bukan benda yang bisa terus kamu sembunyikan dari semua orang, dan hanya kamu bawa ketika kamu mau aja."
"Kamu mau apa sebenarnya? Mau jalan-jalan? Ok kita jalan-jalan."
"Selama kamu masih posesif sama aku, artinya kamu emang gak pernah percaya sama aku."
"Atau kamu punya orang yang disembunyikan dari aku dan pernikahan kita."
"Enggak!"
"Kenapa harus kaget gitu? Santai aja kalau emang gak ada." Lara mencoba untuk mencari tau, alasan dibalik teguhnya pendirian Dimas, soal dirinya. Jika hanya takut kehilangan, itu sangat konyol sekali.
"Ya emang gak ada, kamu kacau banget Lara. Aku bahkan gak pernah mau diajak nongkrong sama teman-teman aku, karena aku menghargai kamu sebagai istri." Dimas berkata jujur.
"Bulshit." Lara tidak percaya.
"Lara kita sudah memiliki tiga anak, gak sepantasnya kamu ngerengek minta main, seakan-akan kamu remaja yang gak pernah dibolehin main jauh."
"Kamu yang kayak anak kecil, selalu posesifin aku gak jelas."
"Di mana letak gak jelasnya! Posesif itu tanda sayang. Salah kalau aku sayang sama istri aku sendiri?"
"Saking disayanginya, sampai aku ngerasa muak. Selalu diminta jadi nurutin semua kemauan kamu, sedangkan kamu sebaliknya!"
Plak
Lara berlari masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Dia menangis sesegukan. Kenapa rasanya sulit sekali melangkah pergi dari rumah ini, dia tidak mau pergi, jika tidak diijinkan Dimas. Tapi sampai kapan? Dimas tidak pernah mau mengijinkannya. Apakan harus dibayar dengan sebuah tamparan.
"Lara, buka pintunya! Aku minta maaf."
"Laraaa! Maafin aku." Dimas terus berusaha untuk membuka kunci pintu kamar mereka. Sepertinya Lara tidak akan mau membukakanmya sekarang. Namun dia terus berusaha. Agar Lara mau membukakan pintu, Dimas terjaga semalaman di depan pintu kamar, ketika pegal berdiri dia duduk, kemudian berdiri lagi dan mengucapkan kata maaf, sampai suranya menjadi serak, televisi tetap menyala kopi dan teh sudah dingin sejalan dengan waktu yang terus bergerak. Dimas tertidur di samping pintu kamar. Karena kelelahan. Ini kali pertama, dia berlaku kasar pada Lara. Sebelumnya tidak pernah. Ini adalah pertengkaran pertama etelah 10 tahun menikah. Kata orang setelah berhasil melewati 10 tahun pertama. Pernikahan akan semakin langgeng. Karena biasanya masalah muncul ketika pernikahan masih seumur jagung. Tapi kenapa justru di 10 tahun inilah, mereka mengalami hal yang tidak diduga.
Lara merasakan berat dibagian kepalanya, tentanya menanhis semalaman tidak membuatnya lebih baik, justru sebaliknya. Matanya menjadi bengkak. Dan bekas tamparan Dimas semalam menyisakan memar di sudut bibir. Lara bukan tidak mendengar ucapan Dimas yang terus meminta maaf, tapi dia terlalu kaget. Dimas yang dikenalnya, bukan orang yang ringan tangan. Bahkan jarang sekali Lara dibentaknya. Dia ketika kesal hanya akan menekan suranya menjadi lebih berat dan matanya menajam. Bagaimana caranya agar tidak terlihat oleh anak-anaknya. Bisa-bisa mereka curiga. Lara mendapatkan ide, supaya tidak ketahuan anak-anaknya.
Lara bersiap ke kamar mandi. Ketika membuka pintu Lara terkejut, melihat kaki Dimas yang ada di depan kamar. Dia melihat Dimas yang sedang tertidur. Namun terus menggumankan kata maaf untuknya. Lara tertegun, apakah dia yang sebenernya sudah keterlaluan? Kasihan Dimas, saat bangun nanti mungkin akan merasakan sakit badan, padahal harus bekerja. Lara menguatkan hatinya, untuk tidak membangunkan Dimas. Bagaimanapun kali ini, Dimas sudah keterlaluan. Lara melanjutkam pergi ke kamar mandi, bersiap untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, dia harus menyiapkan sarapan.
Setelah selesai salat, anak-anaknya sudah bangun.
"Mah, kenapa di dalam rumah pakai kacamata sama masker?"
"Ini sayang, mamah lagi sakit mata, gak baik kalau kalian lihat bisa tertular?"
"Terus maskernya buat apa? Emang sakit mata bisa nularin lewat mulut juga?"
"Iya, suara mamah juga serak. Mamah gak lagi sakit kan?"
"Ada apa sih, pagi-pagi pada ribut." Suara Dimas yang terdengar lebih serak dari suara Lara, membuat kedua anaknya terheran-heran.
"Ayah kenapa tidur di lantai? Di depan kamar pula."
Dimas segera berdiri, dia mengeluhkan sakit dibagian pundak dan pinggangnya. Sejatinya umur 30an ke atas belum mengalami pengapuran sendi apalagi Dimas cukup rajin olahraga.
"Mah, buatin ayah air hangat untuk mandi, rasanya pegal sekali badan."
Sepersekian detik, setelah menyelesaikan ucapannya, Dimas baru sadar, bahwa dia sedang tidak baik-baik saja dengan istrinya