Lara dan Dimas belum ada perubahan, sudah satu Minggu mereka saling diam. Rindu yang sengaja ditahan gengsi, padahal saling bertemu dan tidur dalam ranjang yang sama. Tapi tidak ada obrolan santai, kecuali sedang bersama anak-anak. Sesekali Dimas kedapatan sedang memperhatikan Lara, begitu juga sebaliknya. Namun saat pandangan mata kedunya bertemu. Segera mereka putus kontak matanya.
Terkadang, Dimas sengaja mendekati Lara yang sedang masak di dapur, memancing perempuan itu, mau berbicara padanya.
"Kok gula gak ada ya? Hmm mungkin habis." Konyol. Dimas menayakan dan menjawab sendiri. Yang paling aneh adalah, dia mencari gula di kulkas. Padahal dia tau, Lara tidak pernah menaruh gula di kulkas. Lara hanya mengintip dari ujung ekor matanya, selebihnya tetap pokus pada ikan yang sedang digoreng. Dimas menutup kembali kulkas. Lalu mengambil gelas yang jaraknya berdekatan dengan Lara.
Badan Dimas yang besar menghalangi Lara untuk mengambil piring, untuk tempat ikan goreng. Dimas sengaja pura-pura tidak melihat. Jika Lara sedang berusaha mengambil piring tanpa meminta tolong untuk geser.
"Minggir!" Ketus Lara akhirnya. Dimas tetap diam. Lara memejamkan matanya, kemudian mengatur nafas.
"Mas Minggir!" Sudah pakai mas, tapi masih ketus.
"Ini Sayang, piringnya," ucap Dimas dengan lembut dan sembari tersenyum.
Dimas berlalu dari hadapan Lara yang sedang sibuk dengan raut wajahnya yang sedang memerah, padahal sudah menikah 10 tahun, tapi masih salah tingkah dibilang sayang.
"Mah, aku pengen ikan gorengnya," ucap Shaqa sembari memberikan piring yang sudah berisi nasi dan tumis sayur kangkung. Lara mengambilkan piring berisi ikan, kemudian diambilnya satu ikan yang terlihat lebih kering dari yang lain. Karena Shaqa sangat suka yang kering, dibandingkan yang masih terlihat lembek. Satu lagi, keanehan anak itu.
"Abang, nih mata ikannya," ucap Senja yang memberikan dua bola mata ikan kepada piring kakaknya.
"Makasih," ucap Shaqa berbinar melihat mata ikan tersebut.
Lara tersenyum, lalu mengambil mata ikan miliknya dan diberikan pada Shaqa, dia tak menyangka, bahwa Dimas melakukan hal itu , di waktu yang bersamaan. Tatapan mata mereka bertemu.
"Makasih Ayah, Mah."
"Sama-sama," ucap Lara dan Dimas. Kemudian, mereka makan dalam hening.
"Abang, Kakak, mau ikut ayah ke rumah Oma gak?"
"Mauuuu!" Teriak mereka semangat.
"Yaudah, nanti habis makan kita berangkat."
"Ok,"
"Tolong pakein baju Tian, dan siapin perlengkapannya." Pinta Dimas dan diangguki oleh Lara. Dia segera merapikan perlengkapan Tian, dan baju ganti anak-anak.
"Mamah gak ikut lagi?" Tanya Senja.
"Iya, mamah harus beres-beres rumah. Bilang saja sama Oma, mamah salam."
"Ok Mah."
"Tian, minum susunya nanti jam 12 terus jam 3, jangan kasih dia makan ciki atau es, kali popoknya udah agak berat langsung ganti. Pastikan dia tidur siang, biar sore gak tidur."
"Iya, aku sudah hapal."
"Kalian hati-hati di jalan."
"Iya mah, dadah." Shaqa dan Senja sangat senang diajak ke rumah neneknya. Walaupun jaraknya hanya 1 jam dari rumah. Tapi mereka hanya datang sebulan sekali, kecuali Dimas. Dia bisa datang kapan saja, tidak pernah Lara larang. Anak-anaknya juga bukan dilarang, dia takut anak-anak bermain tanpa pengawasan, lagipula semenjak sekolah, mereka selalu punya tugas. Setelah menyapukan debu yang menempel dilantai, akibat ban motor Dimas. Lara segere masuk ke dalam.
"Mbakk!" Lara yang hendak masuk itu, akhirnya harus keluar lagi, karena teriakan tetangganya yang kepo.
"Eh Bu Ghiba, abis beli sayuran Bu? apa abis olahraga pagi?" Tanya Lara basa-basi, cara agar tidak banyak ditanya, adalah dengan banyak nanya. Biar dia sibuk jawaban pertanyaan kita, dan lupa buat nanya-nanya sama kita.
"Iya nih Mbak, aduhh tadi saya lihat Pak Dimas dan anak-anak naik motor, pasti mau ke rumah mertua ya? Kok gak ikut Mbak? Mertuanya galak ya?" Skak. Tetangga, selain senang ghibah senang meramal juga.
"Enggak Bu, saya sibuk, ini juga masih ada kerjaan, permisi ya." Tanpa banyak basa-basi, lara segera masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintunya, dia masih bisa mendengar bahwa Bu ghiba memanggil-manggil namanya.
Lara lebih memilih untuk cuci piring, ketimbang menggosipkan mertuanya. Setelah beres, Lara mengepel lantai.
"Assalamualaikum," ucap seseorang, sembari mengetuk pintu, Lara sudah curiga, bahwa orang tersebut adalah tetangganya yang rempong tadi. Awalnya dia tidak mau membukakan pintu, tapi karena setelah di hitung lebih dari tiga kali, Lara akhirnya menemui orang tersebut.
"Waalaikumsalam," ucapnya sembari membukakan pintu.
"Laraaaaa, gue pikir Lo gak ada di rumah."
"Nauraaaa, ya ampun kok gak bilang mau ke sini?"
Mereka berpelukan, sudah cukup lama Lara tidak bertemu Naura. Mereka adalah sepasang sahabat ketika kuliah, kemana-mana selalu berdua, jika keudanya di undang ke acara, dan salah satunya tidak datang, pasti di kira sedang musushan.
Naura adalah anak yang sangat cerewet dan mandiri. Dia saking mandirinya sampai belum nikah-nikah padahal sudah kepala tiga. Kerjaan sudah mempuni dan penampilannya juga selalu bagus dan modis. Tinggal dari dalam dirinya saja. Naura selalu bilang bahwa dia tidak ingin menikah dulu, karena gak mau ribet.
"Kirain, datang ke sini, karena mau kasih gue suprise undangan pernikahan."
"Laknat banget deh punya temen hobinya nyuruh nikah mulu," ucap Naura berpura-pura sedih.
"Lagian, mandiri sih boleh, tapi sendiri terus di usia yang udah gak muda lagi, bukan hal baik tau."
"Alah, yang nikah aja banyak yang cerai, lu aja yang masih beruntung." Lara terdiam. Benarkah dia beruntung? Dengan segala pertengkaran yang selau dihadapinya? Lara sebenarnya setuju dengan pemikiran Naura. Tapi dia ingin, sahabtanya ini mendapatkan pendamping hidup. Karena gagal atau tidaknya rumah tangga tidak akan ketahuan jika tidak dijalankan.
"Ya kan gak semua, yang penting udah berusaha, selain itu, biar Allah yang kasih jalan."
"Lara, gue tuh pusing banget, selalu disuruh nikah. Makanya weekend ini gue kabur ke sini, supaya gak diteror buat kumpul keluarga."
"Hahaha, okok gue paham." Tawa Lara pecah, kala itu dia pernah ikut kumpul bersama keluarga Naura, saat memberitahukan bahwa Lara akan menikah, sontak saja Naura diledek oleh Tante dan sepupunya, dan itu sangat kocak sekali, keluarga Naura sangat ramai dan kompak.
"Ketawa Lo! Sepi bener nih rumah, pada kemana anak-anak?" tanya Naura sembari melihat ke sekelilingnya.
"Ke rumah Omanya."
"Pasti lo kaga ngikut, masih aja musuhan sama mertua, padahal udah 10 tahun nikah."
"Ya ampun mulut tetangga, gue gak musuhan sama mertua," ucap Lara jujur, ya emang gak musuhan, cuma segan aja untuk ketemu.
"Yaudah, ini kasih buat anak-anak, bilang dari tantenya yang cantik jelita, dan tidak sombong. Btw ini mahal, jadi jangan sampai rusak."
"Udah tau mahal, malah dibeli, namanya mainan nanti juga ujung-ujungnya jadi sampah."
"Aduh. Jangan dijewer juga kali, heran punya temen kaga ada rasa terima kasih-terima kasihnya."
"Hehe, jiwa ibu-ibu gue meronta-ronta, kalau liat barang mahal, gunanya dikit."
"Bodoamat, gue kan jarang beli-beliin mereka."
"Yaudah, makasihh yaa,"
"Ok, pasakin seblak dong, dan lama gak makan seblak bikinan Lo." Pantas, perasaan Lara tidak enak, ada udang didalam etalase warung nasi Padang ternyata