Mainan

1089 Kata
Dimas merebahkan dirinya di sofa panjang berwarna biru tua dengan bantal kecil yang menyangga lehernya agar tidak sakit. Niat untuk tidur sebentar diurungkannya. Karena sang ibu, ikut duduk di kursi single. "Anak-anak lagi diajak pergi oleh Mbakmu," ucap sang ibu sembari mengambil remot, hendak menyalakan televisi. "Iya Bu, untung Tian gak rewel anaknya, jadi aman Diajak jalan-jalannya." "Istrimu kebiasaan sekali, tidak pernah mau ikut kumpul keluarga." "Kebetulan lagi banyak kerjaan rumah." "Bulan lalu juga kamu bilang karena lagi banyak kerjaan rumah." "Maaf Bu, Lara emang gak terlalu suka keramaian." "Dari dulu, ibu sulit mengerti mantu ynag satu itu, kalau kamu mau nurut sama ibu, gak akan kejadian begini." "Bu," "Kamu tuh laki-laki, jangan mau dikemudikan perempuan. Keputusan keluarga ada di tangan kamu," ucap ibunya dengan tegas. Yang dilihat oleh ibunya, selama ini Dimas terlalu penurut terhadap istrinya itu, dia juga merasa bahwa kurangnya uang bulanan untuknya karena ulah sang menantu. Padahal kenyataannya adalah, kebutuhan di rumah keluarga Dimas sedang banyak-banyaknya. Belum lagi, si bungsu yang masih menggunakan popok dan minum s**u kardus. Dari dulu, ibunya tidak terlalu setuju dengan Lara, beliau sudah memiliki calonnya sendiri untuk anak laki-lakinya itu. Sayang sekali, Dimas begitu teguh pendiriannya untuk tetap menikahi gadisnya. Padahal orang yang akan dijodohkan dengan Dimas bukan anak sembarangan, anak pejabat dan gadis itu seorang dokter bedah. Tapi Dimas dengan seribu alasan, bahkan sengaja tidak pulang ke rumah sebagai rasa protesnya pada sang ibu, karena ingin ditikahkan dengan Lara. Dimas sama sekali tidak menyesal dengan keputusan yang sudah diambil. Dia juga lah yang selalu menyakinkan ibunya sampai detik ini, bahwa Lara adalah istri yang terbaik. Sayang sekali, Lara justru tidak pernah mau berjuang untuk menyakinkan ibunya setelah mereka menikah. Perhitungan Dimas tentang bagaimana Lara berubah sikap dari setelah menikah pun, tidak terlihat begitu jelas. Dimas ingat, pertama kali Lara enggan diajak mengunjungi ibunya adalah setelah melahirkan Shaqa. Dimas sempat beberapakali menasehati Lara, dan berakhir dengan tangis wanita itu. Dimas akhirnya menyerah, dengan syarat jika hari besar Lara tetap harus datang. Lara setuju, yang penting tidak menginap. "Anak-anak pergi ke mana Bu?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan. "Sama Mbakmu." "Maksud Dimas, perginya ke mana?" "Ke Mall, sekalian mau beliin mainan anak-anak." Dimas kaget, dia segera mengeluarkan handphonenya, dan menelpon seseorang. "Aduh... Kok gak diangkat." "Kamu nelpon siapa?" tanya Ibunya. "Mbak Bu, gawat kalau dia sampai beliin mainan, bisa dimarahin Lara aku." "Baru dibilang, Kamu laki-laki Dimas!" Tegas sang ibu, lalu meninggalkan anaknya yang sedang panik menelpon sang Kakak. Dengan raut wajah lemas, Dimas mengetuk pintu rumah, karena dia tidak membawa kunci cadangan. Tiga kantong paper bag berukurang sedang yang ditenteng Shaqa dan Senja adalah saksi, betapa akan hancurnya dunia persilatan di rumah ini. Sementara Shaqa sudah mengerti kekhawatiran sang ayah. Berusaha untuk menenangkannya. "Tenang Yah, nanti aku nanti bilang sama mamah, kalau kita sebenarnya gak mau. Tapi Bunda memaksa." "Sejak kapan mamahmu bisa percaya alasan klasik begitu Shaqa?" "Tapi kalau dibuang kayak bulan lalu sayang ayah. Aku suka mainan ini," ucap Senja menimpali. "Ayah ada ide." Dimas menceritakan skenario untuk mengelabui Lara. Ketik Lara membukakan pintu, Dimas menariknya keluar, dan menyibukkan lara dengan si kecil Tian. Sementara kedua anaknya berlari masuk ke dalam rumah, membawa tiga bungkus mainan tersebut. "Aneh banget, biasanya pada salaman dulu," ucap Lara. "Mungkin kebelet pipis." Kilah Dimas. "Kamu gak kasih Tian makan ciki kan?" tanya Lara ketika mencium pipi anaknya ada seperti bau makanan yang belum diperbolehkan untuk Tian. "Enggak," jawab Dimas ceoat. Ya dirinya memang tidak memberikan, tapi tidak menutup kemungkinan dengan kakaknya yang mengajak mereka ke Mall. "Kok pipinya wangi makanan." "Eum, itu mungkin karena habis dicium anak-anak." Dimas mengatakan pintar pada dirinya sendiri kali ini, mungkin bakat berkilahnya perlu diberi oenghargaan. "Awas kalau anaknya buang air besar terus, kamu yang harus gantiin popoknya, begadang temenin dia diare," ucap Lara kemudian berlalu masuk ke dalam rumah. "Shaqa, Senja, ayo makan dulu, mamah sudah masak." "Kita masih kenyang Mah," "Kenyang makan apa?" Tanya Lara yang masih berdiri di depan pintu kamar ke dua anaknya, semenjak pulang dari sana, anaknya belum juga keluar kamar. "Tadi kita makan di rumah Oma." "Ya sudah, siapkan buku untuk besok sekolah. Jangan tidur terlalu malam." "Anak-anak mana?" Tanya Dimas ketika mereka sudah duduk di depan makanan. "Masih kenyang katanya." "Kenyang? Makan duluan emang?" tanya Dimas yang justru keheranan sekarang. "Katanya makan di rumah Ibu." "Ibu tadi sedang masak, dan belum matang saat kami pulang." Dimas belum sadar, bahwa anaknya sedang asik memainkan permainan barunya. "Diajarin apa anakku, sampai berani bohong begitu?" tanya Lara yang mulai naik pitam. Ucapan menindas dari sang istri, barulah menyadarkan Dimas bahwa anak mereka sedangkan asik bermain. Dimas berdiri dan menghampiri kamar anaknya. "Shaqa, Senja buka pintunya." Mereka pun menurut, dan menemui Ayahnya. "Kalau gak mau ketahuan, kalian jangan mencurigakan dong, ayo keluar. Kita makan dulu, nanti mamah marah," ucap Dimas berbisik. "5 menit lagi Yah, aku sedang menyusun miniatur." "Makan, atau Ayah jujur bilang Mamah?" Ancaman itu berhasil membuat kedua anaknya tersadar bahwa mamahnya menyeramkan ketika marah. "Kenapa kalian cemberut begitu?" tanya Lara, saat melihat kedua anaknya menghampiri dan duduk di hadapannya. "Eum enggak kok Mah, aku cuma ngantuk." Shaqa merubah wajahnya menjadi mengantuk. "Hoamm, aku juga," Senja akting menguap. "Yaudah, kalau ngantuk gak apa-apa, langsung tidur aja, daripada makan dulu, nanti kalian langsung tidur habis makan." "Siap Mah," ucap mereka berudua dengan semangat. Kemudian bangkit dan berlari masuk ke kamar. "Dari kapan anak kamu les akting?" Tanya Lara yang merasa tercengang, karena baru saja ditipu oleh sang anak. "Kamu kali, waktu masih kecil suka bohongin orang tua." "Jangan suka lempar batu nuduh orang, buat nutupin kesalahan sendiri." Skak mat. Dimas makan dengan tenang, dia tidak berani menyahut. Karena dia tau, alasan dibalik kelakuan anaknya yang aneh itu. Lain kali, dia harus jujur. Tentang mainan itu, jika sembunyi-sembunyi seperti ini, sangat beban sekali untuknya, apalagi kalau sampai ketahuan. "Astaghfirullah, aku lupa." Lara masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil bingkisan yang dititipkan padanya dari Naura. "Apa itu?" "Mainan dari Naura, tadi dia ke sini." "Kata kamu gak boleh terima mainan dari orang." "Kamu boleh tanya Naura, aku udah marahin dia kok." Lara ingin masuk ke dalam kamar anak-anak. Namun Dimas menghalanginya, lelaki itu bahkan membawa piring berisi makanan yang sedang dimakannya. "Kamu kenapa?" tanya Lara, tangannya sudah memegang kenop pintu, yang ternyata tidak dikunci oleh anak-anaknya. "Masakan kamu selalu enak," ucap Dimas, sembari memasukan lagi makanan ke dalam mulutnya. Brag Pintu itu terbuka, Dimas tidak lagi bisa menahannya, dia bahkan tidak bisa melanjutkan kunyahan makanan dalam mulutnya. Kelakuan Dimas, membuat Lara curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN