Bohong

1053 Kata
Lara menerobos masuk ke dalam kamar anaknya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Dimas hanya bisa pasrah, jika nantinya dia akan kena marah Lara atau mungkin harus kembali tidur di luar. "Mamah?" Kaget mereka berdua. Melihat mamahnya masuk ke dalam kamar, Shaqa menyalahkan keteledoran Senja mengunci pintu, dia melihat ke arah pintu, di sana ayah mereka hanya tersenyum menenangkan. Padahal itu sangat tidak membantu, kala melihat wajah mamahnya yang terlihat marah sekali. "Mah," ucap mereka pelan. Lalu keduanya menunduk. "Mamah tunggu di ruang tamu," ujar Lara, kemudian dia keluar. Diikuti oleh kedua anaknya. "Duduk!" Perintah Lara tegas. Setelah mereka duduk barulah Lara berbicara. "Mamah gak pernah kan ngajarin Senja dan Shaqa untuk bohong?" Kedua anaknya menggeleng. Mata mereka mulai berkaca-kaca. "Kalau Mamah tanya jawab." Suara Lara belum berubah, masih terdengar santai. "Enggak Mah," jawab mereka pelan. "Terus diajarin siapa bohong?" Mereka berdua kompak melihat ke arah Dimas yang masih memegang piring makannya. Lelaki itu hanya bisa menggeleng, lalu segera pergi ke dapur. "Jangan di ulangi lagi ya, lain kali bilang sama mamah. Gak apa-apa kalau kalian mau ambil pemberian dari Tante atau bunda, intinya jangan sampai kalian yang minta. Jangan bohong lagi, mamah gak suka. Sebagai hukumannya, mainan dari Tante Naura untuk kalian mamah tahan dulu satu minggu." "Mamah jangan!" Teriak mereka berdua kaget, kala paper bag itu, hendak dibawa pergi mamahnya. Lara berbalik, dan tersenyum misterius. "Gak ada penolakan, pembelaan, penyanggahan apalagi rayu-rayu mamah biar dikasih mainan ini, pokoknya final, satu minggu." Keluarlah jiwa ibu-ibunya, mengomel. Shaqa dan Senja meluruhkan dirinya ke sofa, begitu mamahnya masuk ke dalam kamar. "Kalian dimarahin?" Tanya Dimas yang baru saja datang, dan duduk di dekat mereka. Dia kasihan melihat kedua anaknya yang terlihat sedih. "Enggak, tapi mainan dari Tante Naura mamah tahan seminggu." Dimas lega, ternyata lara tidak memarahi anak-anak, artinya istrinya itu juga tidak marah padanya. "Kok bisa? Kenapa?" tanya Dimas, karena Dimas tau sendiri, tadi Lara begitu semangat ingin memberikan bingkisan tersebut pada anak-anak. "Karena Ayah gak bantuin kita, dan malah kabur." Shaqa berkata dengan kalem. "Pokonya semua gara-gara ayah, mamah itu gak suka dibohongin," ucap Senja yang masih penasaran dengan isi mainan dari tente Naura. "Hey, tadi kan kalian juga punya rencana sebelum ayah. Artinya kalian juga udah niat bohongin mamah kan?" Dimas tak mau kalah, dia berdebat dengan kedua anaknya. "Ekhem," suara deheman Lara menghentikan debat mereka. Semua mata tertuju padanya. "Shaqa, Senja, ayo tidur, sudah malam. Besok kalian harus sekolah." "Siap Mah," ucap mereka berdua. Kemudian mengecup pipi Lara. "Selamat malam." "Malam." Jawab Lara dan Dimas. "Hey, kok ke ayah enggak?" tanya Dimas tak terima. "Ayah belum mandi!" Teriak mereka berdua, lalu berlari masuk ke dalam kamar. "Anak itu, benar-benar. Padahal aku udah mandi." Keluh Dimas kesal. "Kan kamu yang ngajarin bohongnya Mas." Kena deh Dimas. "Enggak Yank, bener deh." Dimas mencoba menyakinkan Lara. "Iya, bener." Lara paling bisa, menjebak dengan kata-kata. "Ya Allah, salah ngomong." Lara malas untuk menjawab, dia bangkit dari duduknya, berniat untuk tidur. Namun Dimas lebih dulu menarik tangannya, membuat Lara terjatuh tepat di pangkuan Dimas. Lara masih saja merasakan tegang, jika ada di posisi seperti ini. Padahal ini bukan yang pertama kali terjadi. "Apa sih, lepas gak?" dengan nada mengancam. "Enggak." Dimas masih enggan untuk melepaskan Lara, lelaki itu malah menaruh wajahnya di punggung Lara. Lara semakin kesulitan bernafas. Tangannya mulai keringat dingin. "Awsss," ringisan itu keluar dari mulut Dimas. Karena kakinya tak sengaja diinjak Lara. Melihat Dimas kehilangan Fokus, Lara segera kabur darinya. "Rasain," ucap Lara mengejek Dimas. Lalu berlari ke kamar. "Sayang!" Teriak Dimas. "Jangan teriak-teriak, nanti anak-anak bangun!" Lara menegur Dimas dengan suara yang tak jauh berbeda dengan suaminya. "Kamu juga teriak itu!" "Laki-laki gak mau ngalah." Glek Dimas diam, daripada harus tidur diluar malam ini, dia memilih untuk mengalah. Dimas mengunci pintu, dia juga mematikan lampu tengah, lalu ke dapur, memeriksa pintu belakang, yang ternyata belum dikunci oleh Lara. Di lingkungan tempat tinggalnya memang jarang sekali ada rumah yang kemalingan, tapi itu bukan berarti membuat Dimas lalai, untuk berjaga-jaga. Setelah mencuci kaki, tangan dan muka, Dimas masuk ke dalam kamar. Melihat Lara yang ternyata sudah tidur. Dia menyelimuti Lara, menatap sebentar perempuan yang melahirkan ketiga anaknya, Lara masih terlihat sangat cantik, malah seperti gadis duapuluhan. Padahal dia jarang memakai skincare, kulitnya juga halus, padahal hanya pakai sabun bayi. Dimas tidak suka, Lara yang selalu terlihat cantik. Dia tidak ingin, Lara dicintai orang lain selain dirinya. Tidak boleh. Bahkan ketika hamil pun, masih banyak sodaranya yang memuji-muji Lara padanya. Jalan satu-satunya adalah tidak membiarkan Lara keluar, selain dengannya. Waktu semasa pacaran dulu, dia tidak begitu posesif pada Lara. Namun setelah mengucapkan ijab qobul dengan datu tarikan nafas, hasil hafalannya selama 1 Minggu penuh. Rasanya tidak rela, berbagi tawa, senyum dan perhatian Lara dengan orang lain. Lara hanya miliknya. Dimas ingat, saat Lara dulu di dekati laki-laki, Dimas yang belum seposesif sekarang justru selalu bersikap. Terserah. Kala ada teman laki-laki Lara menghubunginya. Karena dia tau, Lara begitu menjaga hatinya untuk Dimas. Justru dulu, Dimas yang pernah khilaf dia sibuk magang, dan sedikit berkomunikasi dengan Lara. Membuat Dimas seperti lupa bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Lara, dia lebih sering bersama teman magangnya, sampai akhirnya ketahuan oleh Lara. Anehnya, Lara tidak marah sama sekali, bahkan perempuan itu, mengikhlaskan jika Dimas mau bersama teman magangnya. Di situ, Dimas kecewa berpikir bahwa Lara tidak mencintainya, tapi satu hal yang dibenci Dimas. Semakin Lara mengikhlaskan semakin sakit hati Dimas. Dengan segala perjuangan, akhirnya Dimas bisa mendapatkan lagi maaf Lara. Dia bertanya pada Lara, kenapa wanitanya itu terlalu santai melihatnya hampir saja selingkuh. Lara hanya bicara bahwa, Dimas adalah orang yang selalu disebut dalam doanya, jika Dimas pergi bersama hawa nafus, maka Allah akan mengembalikannya. Karena Dimas milik Allah, dan Lara memintanya langsung pada pemiliknya. Jika tidak diberikan, artinya bukan jodoh. Dimas semakin mencintai Lara, dia tidak pernah lagi main mata, sekalipun banyak wanita yang mencoba merayunya, karena Dimas yakin, dia tidak akan dua kali mendapatkan wanita seperti Lara. Jika saat ini Lara begitu jenuh padanya, mungkin semua kesalahan Dimas yang tidak maksimal membuatnya bahagia. Dimas mencium kening Lara, kemudian menyingkirkan anak rambut yang mengenai wajahnya, lalu tidur, sembari memeluk sang istri. Dia bertekad, tidak akan pernah mau, jika Lara menyuruhnya tidur di luar lagi, Dimas merasa tidak bisa tidur, jika tidak memeluk istrinya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN