Lara menggeliatkan tubuhnya, dia merasa kesempitan, di kasur yang lumayan cukup besar, karena ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya, dia tau ini pasti kerjaan Dimas. Lara membuka mata, melihat ke arah dinding yang ternyata sudah pukul lima pagi, anak-anaknya belum terdengar bangun. Jika Lara tidak bangun duluan, maka semua orang yang ada di kamar ini pun akan kesiangan.
"Mas lepas, sudah subuh," ucap Lara berusaha melepaskan tangan Dimas. Namun sepertinya lelaki itu sengaja mengeratkannya.
"Lima menit." Jawab Dimas, dengan suara yang serak, khas bangun tidur, matanya masih terpejam. Dia kembali mendengkur halus.
"Mas, Aku itung sampai tiga," ucap Lara berubah nada menjadi mengancam.
"Bentar Sayang, masih ngantuk," ucap Dimas manja.
"Nanti kesiangan, Kamu dan anak-anak juga belum solat subuh. Aku juga belum masak, mau sarapan apa coba? Air putih?"
"Gampang sayang, tinggal beli."
"Oh udah gak mau dimasakin lagi sama aku? Yaudah yaudah. Aku gak akan maksa bangun, gak usah masakin kalian sarapan,"
Dimas langsung bangun, dan duduk. Untuk ancaman kali ini, dia tidak bisa toleransi lagi. Dia takut, Lara benar-benar melakukannya.
"Enggak Sayang, bukan gitu." Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Solat!" Perintah Lara. Perempuan itu bangun, lalu keluar kamar untuk mengecek apakah anak-anak sudah solat atau belum.
"Shaqa, Senja, sudah jam lima sayang, ayo bangun! Waktunya solat subuh!" Teriak Lara dari luar kamar mereka. Tak lama mereka bangun, dan membuka pintu.
"Yah, kesiangan deh." Keluh Shaqa yang keduluan lari oleh sang adik.
"Makanya tidur jangan malam-malam, jangan kebanyakan main." Teguran dari Lara, membuat Shaqa tersenyum. Mamahnya sudah tidak marah lagi. Dia kurang gerak cepat tadi, Shaqa seharusnya masuk ke dalam kamar mandi duluan. Karena Senja, bisa menghabiskan waktu yang lebih lama di kamar mandi.
Shaqa baru bisa bernafas lega, kala Lara berjalan ke arah dapur.
"Ayah baru bangun?" tanya Shaqa yang melihat ayahnya keluar dari kamar dalam keadaan yang masih bermalas-malasan.
"Iya, Ayah kelelahan," ujarnya sambil menguap.
"Ayah abis ngapain emang?" tanya Shaqa, karena setaunya kemarin seharian di rumah Oma, ayah istirahat.
"Enggak, Ayah gak ngapa-ngapain kok sama Mamah," jawab Dimas sembari bersender ke tembok.
"Aku kan cuma tanya, Ayah abis ngapain, bukan nanya Ayah ngapain sama Mamah."
Dimas langsung segar, dia berdiri tegap, Shaqa berlalu dari hadapan ayahnya, yang sedang memukul kepalnya sendiri. Akibat masih ngantuk membuat ucapannya melantur. sosok ayah berwibawa di mata anaknya, sepertinya sudah hilang. Dimas terlalu konyol.
"Senja Buru! Matahari udah mau terbit." Teriak Shaqa dari depan kamar mandi. Karena sudah lima menit berlalu, sang adik belum juga keluar.
"Kamu ketiduran ya? Senjaaa!" Teriak Shaqa lagi.
"Sabar Kak, bentar-bentar," ucap Senja sembari membukakan pintu. Sementara Lara memperhatikan mereka dari dapur. Nasib punya rumah minim tanahnya, mau ditambah sudah tidak bisa, selain ke atas. Kalau buat tingkat, akan memakan banyak biaya. Tidak mungkin, dia menggadaikan uang masa depan anaknya untuk kamar mandi.
"Lelet." Kesal Shaqa.
"Mah, Abang tuh bicara kasar."
"Abang, gak baik bicara begitu."
"Iya Mah, Maaf. Ngadu mulu." Cibir Shaqa pada adiknya pelan, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Senja tersenyum penuh kemenangan, lalu berlari ke kamar.
"Ayah baru bangun?" tanya Senja yang melihat ayahnya bersender pada tembok kamar.
"Iya, Kesiangan." Kali ini Dimas tidak ingin terjebak dalam pertanyaan anaknya.
"Bergadang?"
"Sama mamah?"
"Enggak. Ngapain bergadang sama Mamah?"
"Santai dong Yah, aku kan cuma nanya, siapa tau kalian nonton pertandingan bulu tangkis. Soalnya Mamah juga kesiangan." Senja masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi, Dimas menepuk jidatnya. Ada yang salah dengan isi otaknya pagi ini, mungkin karena belum tertuntaskan, maksudnya dari tadi dia menahan buang air kecil, jadi tidak konsen saat ditanya.
"Ayah!" Shaqa yang sudah wudhu terlihat dari rambutnya yang basah. Menyapa Ayahnya, dia tidak paham jika Dimas sensitif.
"Apa?" Tanya Dimas was-was.
"Ada juga ayah yang kenapa, goyang-goyang di depan pintu kamar?" Tanya Shaqa keheranan.
"Ayah pengen buang air kecil," ucap Dimas sembari berlari ke kamar mandi. Lara tersenyum, kala Dimas menendang pintu kamar mandi yang sulit dibuka.
Suara jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi, seakan menjadi alarm untuk ketiga orang yang sibuk menyiapkan peralatan sekolah dan kerjanya.
"Mamah bilang apa, siapin perlengkapan buat sekolah. Kan udah mamah cuciin, gosokin,beresin, masa harus Mamah juga yang nyediain?"
"Maaf Mah, gak ulangi lagi," ucap mereka berdua. Sementara Dimas, dia sibuk memakai ikat pinggangnya.
"Dari taun lalu, begitu terus. Awas ya, kalau mamah denger, kalian belum kerjain pr." Senja membulatkan matanya, seakan ingat bahwa dirinya belum mengisi pr.
"Kenapa Senja? Kamu belum isi pr?" tanya Lara tegas.
"Enggak Mah, udah kok." Jawab Senja lancar, karena kakinya diinjak Shaqa.
"Kalau ada pr, nanti Abang bantuin, sebelum upacara." Shaqa benar-benar Abang idaman.
"Yaudah, kalian siap-siap sarapan!" Perintah Lara, yang berlari, kala mendengar suara tangisan Tian.
Dengan satu kali gerakan Lara bisa mengangkat Tian yang sudah mencapai 11 kilo bobotnya. Dia menenangkan anaknya terlebih dahulu.
"Sisir di mana Mah?"
"Tukang jepitan," ujar Lara santai, padahal dia sudah melihatnya. Ada di meja rias.
"Mah," tegur Dimas.
"Kamu ngaca bisa, Kok sisir sebesar itu gak kelihatan? Pojok lirik kotak ke dua." Tepatnya sejajar dengan tangan Dimas.
Lelaki itu tersenyum,
"Makasih Sayang," ucapnya dengan tulus. Lara tidak lagi mendengar tangis Tian, saat dilihat ternyata Tian kembali tertidur.
Lara mengembalikan Tian ke kasur, lalu dia melanjutkan pekerjaannya, yaitu menyalakan mesin cuci dan mencuci perabotan yang tadi di pakainya.
"Mamah mana?" tanya Dimas pada anaknya yang sedang memakan nasi goreng kecap dan telur ceplok.
"Di dapur, lagi nyuci."
"Kok kalian makan duluan?"
"Mamah yang suruh, soalnya udah siang."
"Ouh yaudah," ucap Dimas santai.
"Ayah gak makan?" Tanya Senja.
"Nanti, Nunggu Mamah." Kedua anaknya menagngguk, tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah mereka yang selalu menunggu Mamah untuk makan.
Lima menit berlalu, Dimas hanya menghabiskan teh manisnya, sementara kedua anaknya sudah selesai sarapan.
"Yaudah, kalian ambil tas, Ayah antar ke sekolah."
"Baik Yah," ucap mereka kompak, sehabis sarapan perut kenyang, hati senang, semangat banget.
"Kamu gak makan?" tanya Lara yang melihat isi piring Dimas masih penuh.
"Aku nunggu Kamu," ucap Dimas sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapih dan putih, karena tidak merokok.
"Aku udah sarapan," ucap Lara tak kalah santai, lalu kembali ke dapur membawa piring kotor bekas makan anak mereka.
Glek
Teh manis tadi, terasa pahit di lambung. Tunggu, emang lambung bisa ngerasa pahit?