Hari ini Dimas bekerja dengan tidak semangat, padahal sebelumnya dia tidak pernah bermalas-malasan saat bekerja. Dia bahkan memotivasi teman-temannya agar selalu semangat. Maka dari itulah, Dimas menjadi kepala toko yang diidam-idamkan oleh para rekan kerjanya.
"Kenapa Pak, tumben lemes banget?" tanya Daniel selaku teman kerja yang paling dekat dengannya.
Daniel itu orangnya pecicilan, jahil, berisik, dan suka banget ngelawak. Kantor terasa sepi kalau gak ada dia. Tapi kalau ada, bawaannya emosian mulu. Dia juga yang ngehibur kalau ada orang-orang kurang asupan bahagia. Sekalipun akhirnya, tetap dia yang jadi bahan ledekan teman-teman yang lain karena masih jomblo sampai hari ini.
"Belum sarapan Saya." Jawab Dimas apa adanya.
"Kirain ditinggal istri," ucap Daniel sekenanya.
"Ngawur kamu." Dimas tau, temannya itu suka asal bicara tapi kan ucapan adalah doa.
"Lagian tumben banget, kan Bu Lara orangnya rajin banget Pak. Bahkan Ceu Hea, tukang nasi uduk langganan saya, yang ada di gang kostan juga kalah. Dia nih ya, kalau Saya mau beli sarapan pasti uduknya belum jadi, padahal udah jam 7. Heran kesiangan mulu. Enak banget jadi bapak, istrinya rajin banget, tiap hari selalu sediain sarapan."
"Yang kamu puji itu, suaminya ada di hadapan Kamu." Tegas Dimas. Dia tidak suka istrinya dipuji-puji, sekalipun oleh teman dekatnya, itulah alasan kenapa Dimas malas mengajak Lara berkenalan dengan mereka.
"Ya ampun, posesif banget Pak, Saya kasih tau yah, perempuan itu senang diperhatiin, tapi kalau terlalu dikekang, ingat satu hal, mereka juga butuh nafas. Kalau bapak gak bisa kasih itu, maka dia akan cari cara untuk mendapatkan nafasnya sendiri."
"Maksud Kamu?" tanya Dimas sampai menghentikan kerjaannya, karena tertarik dengan ucapan Daniel. Dimas mendekat ke arah Daniel.
"Kaburrrr!" Teriak Daniel yang berlari ke arah gudang, karena dia pikir sudah membangunkan macan tidur.
Sementara itu, di rumah. Lara baru bisa menyelonjorkan kakinya di sofa, sembari memainkan handphone, setelah menjemur pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel dan banyak lagi. Dia memotret Tian yang sedang asik dengan mainannya. Entahlah, anak kecil itu terkadang tertawa sampai terbahak-bahak. Padahal hanya bermain sendiri. Lara memakluminya sebagai anak kecil. Walaupun kedua anaknya yang lain, tidak pernah begitu waktu kecil.
Sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi anak-anaknya akan pulang sekolah, masih ada waktu untuk bersantai, sebelum masak untuk makan siang. Dia teringat dengan aplikasi yang direkomendasikan Naura padanya. Namun dia merasa bimbang, takut jika salah menggunakannya, bagaimana jika dia berkenalan dengan orang yang salah, atau bahkan seorang penjahat. Lara sedikit paranoid, karena banyaknya berita tentang kriminalitas, dengan penyebabnya adalah perkenalan di media sosial.
Lara bergidik ngeri, tapi dia juga penasaran, kata Naura aplikasi ini sangat seru untuk mencari hiburan semata. Tidak ada yang salah sepertinya, toh dia tidak memakai akunnya sendiri, pikir Lara. Dia hendak login dari aplikasi tersebut, jika saja tidak ada suara orang mengetuk pintu dan memberi salam yang berasal dari teras rumah. Lara bangun, lalu mengintip di jendela, karena tidak mungkin langsung membukakan pintu. Dimas selalu berpesan untuk mengecek dulu dari jendela. Saat di intip dia melihat dua orang memakai seragam kerja seperti Dimas. Lara segera menjawab salam dan membukakan pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Lara sembari membukakan pintu. Lara terlihat panik, kala melihat wajah suaminya yang sangat pucat, dan keringat bercucuran dari pelipisnya.
Sementara itu, Daniel merasa beruntung sudah memaksa untuk ikut mengantarkan Dimas, untuk pertama kalinya Daniel bisa melihat istri dari atasannya itu. Istri yang selalu disumput-sumputkan dari dunia. Daniel terpukau dengan Lara, dia heran bagaimana bisa Lara yang sudaj memiliki 3 anak, masih terlihat awet muda, bahkan masih seperti gadis umur dua puluhan. Dimas yang melihat temannya menatap Lara dengan tatapan memuja pun menyikut perut Daniel. Membuat lelaki itu meringis.
"Sakit tau Pak," ucap Daniel lalu memegangi perutnya. Lara belum tahu betul siapa nama lelaki itu, tapi dari ciri-cirinya, seperti yang sering diceritakan Dimas, kalau tidak salah Daniel, pikir Lara.
"Beruntung bukan masa depan Kamu yang Saya sikut." Ketus Dimas, sekalipun dengan suara yang lemah, tapi Daniel tau lelaki itu tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Hey kok berantem. Kamu kenapa Mas kok pucet gitu? Bukannya tadi pagi sehat-sehat aja?" tanya Lara beruntut. Dia sangat khawatir dengan suaminya.
"Aku pusing banget," ucap Dimas lebih lemah dari sebelumnya.
"Yaudah ayo masuk." Lara membukakan jalan, lalu membantu Daniel memapah Dimas.
Setelah merebahkan Dimas, Daneil pamit pulang, Lara yang ingin mengantar Daneil keluar rumah ditahan oleh Dimas.
"Dia punya kaki, sama mata gak perlu dianter-anter." Sewot Dimas. Lara mencoba mencari alasan.
"Aku mau kunci pintu takut ada maling."setelah itu, Lara segera menyusul Daniel. Bukan kecentilan atau apa. Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih. Jika Daniel sampai dibawa ke rumah mereka, artinya Dimas sudah sangat percaya dengan lelaki itu. Siapa tau, dia bisa mencari info tentang Dimas padanya.
"Makasih ya...," Ucap Lara ragu memanggil namanya. Takut salah.
"Daniel Mbak."
"Oh iya, Daneil. Maaf sudah merepotkan."
"Santai Mbak, kalau begitu saya pamit dulu." Lara mengangguk lalu mengunci pintu kala Daniel sudah pergi membawa motor Dimas, dia berjanji nanti malam akan ke sini untuk mengembalikan motornya.
Lara masuk ke dalam kamar Dimas dengan membawa satu teh manis hangat.
"Minum obat dulu Mas!" Perintah Lara.
"Nanti deh, lagian aku belum makan." Dimas yang sakit adalah Dimas versi anak kecil yang sangat amat manja. Lara sudah sangat hafal itu.
"Iya tau, makanya ini aku bawain obat lambung, diminumnya sebelum makan."
"Emang gak ada yang cair?" tanya Dimas, seperti sebuah tawar menawar. Lara hanya bisa meredam kekesalannya, andai saja tidak sakit, Lara sudah pasti memarahi kemanjaan Dimas ini.
"Yaudah tunggu, Aku hancurkan dulu."
Lara terpaksa, menghancurkan obat itu, dan membuatnya menjadi puyer.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas setelah menelan obat.
"Mau beli bubur buat Kamu, aku belum masak soalnya."
"Jangan. Aku gak apa-apa kok nunggu sampai kamu selesai masak."
"Kamu kan harus makan yang lembut-lembut dulu Mas. Nanti sore baru aku buatin, kalau sekarang gak akan keburu."
"Sayang," ucap Dimas lemah tapi penuh penekanan.
"Dimas, Aku cuma mau cari bubur bukan cari laki-laki lain."
"Tapi...,"
"Kecuali Kamu mau tetep nahan laper yang mungkin bisa aja, nanti tambah sakit dan harus di infus."
"Ok, hati-hati di jalan." Dengan berat hati, Dimas akhirnya mengijinkan Lara untuk pergi.
"Yang," ucap Dimas untuk ke tiga kali, ketika Lara hendak membuka pintu kamar.
Lara menghela nafas berat, lalu berbalik dan melakukan sesuatu di luar dugaan Dimas sebelumnya. Membuat lelaki itu tersenyum.
"Puas?"
Dimas mengangguk, dia sedikit lebih tenang sekarang.
"Hati-hati di jalan Sayang, love you," ucap Dimas dengan tulus