Tidak Waras

1057 Kata
Lara menyesali keputusannya, demi Dimas dia rela keluar rumah dengan pakaian seperti buronan. Dia tau Dimas tidak ingin dia bertemu dengan orang-orang nb yang kenal dengannya, maka dari itu, dia berinisiatif untuk keluar dengan menggunakan jaket parka, dengan kupluknya di pakai ke kepala, belum lagi masker, satu lagi, kaca mata hitam. Dia bahkan menggunakan handset, supaya tidak banyak orang yang menegurnya. Tapi satu hal yang dibenci Lara adalah dia lupa, untuk pakai sendal yang sedikit lebih bagus, agar tidak terlihat seperti orang tidak waras. Banyangkan diterik matahari, yang berjalan hampir di atas kepala, Lara pergi dengan pakaian seperti itu, dan alasnya sendal jepit kamar mandi, ingin menangis saja rasanya. Bagaimana jika ada orang jahil, dan memotret, dimasukan ke media sosial lalu viral, Lara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terima. "Mbak, buburnya berapa porsi?" Lara kembali sadar, bahwa dia sudah ada di tukang bubur, dengan hampir semua pasang mata melihat ke arahnya. Bahkan ada yang berbisik pada teman sebangkunya. Mengatakan bahwa orang itu yang dimaksud Lara tidak waras lah, aneh lah, dan lain sebagainya. Setelah mendapatkan pesanannya, Lara segera pergi dari warung bubur itu, dengan rasa kesal dan marah. Awalnya dia berpikir, ini akan menjadi hal yang paling menyenangkan, dalam hari-harinya setelah menikah, baru hari ini dia keluar sendirian. Namun yang terjadi justru sebaliknya, nasib jadi istri Dimas, gerutunya. Lara melihat kedua anaknya yang sedang berjalan, mereka pulang sekolah. Lara segera menghampiri mereka yang jaraknya cukup jauh dari pandangannya, setengah berlari akhirnya sampai. "Shaqa, Senja, tunggu!" Teriaknya dari dekat, kedua anak itu berhenti dan memperhatikannya. Lara lega, akhirnya dia sampai juga. Melahirkan tiga anak, dan tidak pernah olahraga selain bebenah rumah, membuat kinarja otot-ototnya seperti melemah. "Kaburrrr!" Teriak mereka kompak, kala Lara sudah sampai dihadapan mereka. Lara membuka kacamata, terlihat matanya membulat sempurna, kenapa harus kabur, ini kan mamahnya. "Shaqa! Senja! Tunggu!" Teriak Lara, lalu mengejar meraka. Yang lari dua kali lipat darinya. Shaqa dan Senja, datang lebih dulu ke rumah, tanpa mengucapkan salam karena panik. Mereka masuk ke dalam rumah lalu mencari mamahnya. "Kok Ayah udah pulang? Mamah mana?" Tanya Shaqa. "Lagi beli bubur keluar," jawab Dimas. "Kalian datang kok gak beri salam." Tegur Dimas. "Maaf Ayah, kami panik, tadi ada seseorang yang kami kira penculik, mengejar kami." "Dimana?" Dimas yang masih lemas berusaha untuk bangkit. "Ayah sakit? Ayah istirahat saja," ujar Senja. Anak itu, sangat dekat dengan Ayahnya. Mungkin bukan mitos lagi, jika anak perempuan biasanya lebih dekat dengan Ayahnya. Dimas menurut, dan tidak memaksakan diri untuk bangun. "Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru saja masuk. Shaqa dan Senja hapal dengan suara ini, mereka segera keluar dari kamar untuk mengadukan perihal tadi pada mamahnya. "Mamah!" Teriak mereka berdua kompak. "Apa? Kalian tidak mengenali mamah? Dasar." Gerutu Lara. Kedua anaknya justru langsung memeluknya. "Maaf Mah, kami kira penculik, mamah kan tidak pernah keluar." "Iya, mamah lupa buka masker tadi," ucap Lara pelan. Konyol sekali hari ini. "Mamah dari mana?" tanya Senja. "Beli bubur buat Ayah, yaudah kalian ganti baju dulu, terus istirahat, tunggu mamah masak makan siang dulu," "Baik," mereka berdua hormat lalu bubar barisan. Lara membuka jaketnya ketika sampai di kamar, dia menggantungnya di jemuran berdiri. "Gak gerah yang?" "Gerah banget malah, apalagi pas dikatain gak waras lah, aneh lah, dan yang paling nyebelin masa anak sendiri sampai gak ngenalin mamahnya." Gerutu Lara. Dimas menahan tawanya, bukan menahan sih, dia ingin tertawa tapi tidak bisa karena lemas, dan punggungnya sakit jika dibawa tertawa. "Kamu masih panas banget Mas, kedokter aja ya?" tanya Lara, setelah menempelkan tangannya, ke kening dan leher. "Aku cuma butuh istirahat aja, besok juga sembuh." Dimas tidak suka bau rumah sakit, apalagi jarum suntiknya. "Yaudah, makan dulu." Lara pasrah, membujuk Dimas ke rumah sakit, sama saja seperti menjalankan motor tapi gak ada bensinya. "Suapin." "Manja," cibir Lara. "Sama istri sendiri ini," jawab Dimas tak mau kalah. Lara menurut, supaya cepat. Karena sebentar lagi dia harus masak. "Jangan banyak-banyak Mah," protes Dimas. "Iya, enggak." Lara begitu sabar, sampai bubur itu habis tak tersisa, Dimas makannya seperti orang kelaparan bukan sakit. Setelah minum obat, Lara meminta Dimas istirahat. Ketika Lara hendak pergi, tangannya digapai Dimas. "Yang, makasih ya," ucap Dimas lemah. Lara melihat ke arah tangannya yang dipegang dimas. Dia tersenyum, lalu berkata. "Cepat sembuh." Dimas melepaskan tangannya dari Lara. Kemudian perempuan itu pergi dari kamar. Ketika sampai di pintu kamar dia melihat Senja berdiri di samping pintu. "Ada apa Kak?" tanya Lara pada anaknya. Senja bukan menjawab malah menangis. "Kok nangis? Kamu ada yang galakin di sekolah?" tanya Lara dan mendapatkan gelengan kepala dari Senja. "Terus kenapa? Lupa isi PR?" Lara mengusap air mata Senja. "Dia menangis karena Ayah sakit Mah." Shaqa yang menyahut, entah sejak kapan anak lelakinya itu berdiri di depan kamarnya. "Aduh sayang, tenang yah. Ayah cuma butuh istirahat. Besok pagi juga udah sembuh lagi." Lara mengerti, Senja ini sangat dekat dengan Dimas, dari Lahir malah. Dia sering menangis jika tidak tidur dengan Dimas. Tidak seperti kedua anaknya yang lain, cuek. "Dasar cengeng, Ayah gak akan suka anak yang cengeng." Shaqa kembali masuk ke dalam kamar. Tidak diketahui siapapun anak lelaki itu menangis di balik pintu, dia tidak mengeluarkan suara, tapi air matanya turun begitu deras. Dimas adalah lelaki yang kuat, dia jarang sakit, bahkan masuk angin sekali pun. Jadi, anak-anaknya sangat khawatir ketika melihat Ayah mereka sakit. Lara membujuk Senja agar berhenti nangis dengan mengajaknya memasak di dapur. Senja tersenyum lagi, lalu sangat antusias. Pergi ke dapur bersama Mamahnya. Hari ini Lara memasak capcay dan ayam goreng. Karena lebih hemat waktu dan bahan-bahan sudah siap di kulkas. Senja bantu mengupas bawang putih dan merah. "Mah kenapa laki-laki gak bisa masak?" "Enggak semua kok, ada juga laki-laki yang bisa masak." "Berarti itu laki-laki atau perempuan? Kata Abang, lelaki itu gak perlu bisa masak." "Maksudnya gini, laki-laki itu, boleh bisa masak, boleh enggak." "Enak banget jadi laki-laki," ujar Senja tanpa pikir panjang. "Lah, kamu gak enak emang jadi perempuan? Bersyukur dong sayang," "Alhamdulillah," ucap Senja membuat Lara gemas dibuatnya. Mereka memasak sambil mengobrol-ngobrol ringan. Tak terasa nasi sudah matang, dan sebentar lagi sayur dan lauknya juga matang. Senja ijin ke kamar untuk mengajak Tian bermain, Lara pun sama, dia melihat keadaan Dimas di kamar. Lelaki itu tertidur setelah minum obat Paracetamol. Dimas mengeluarkan banyak keringat saat tidur, sebenarnya perasaan Lara mengatakan Dimas bukan terkena magh biasa, tapi penyakit lama lelaki itu kambuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN