Malam harinya, Senja merengek ingin tidur di samping Dimas. Anak perempuan satu-satunya itu, menangisi Ayahnya yang belum kunjung sembuh, padahal dari siang sudah istirahat. Senja bahkan bermalas-malasan ketika makan malam. Dari tadi siang, dia terus bolak balik ke kamar untuk mengecek keadaan Ayahnya.
"Sayang, Ayah sedang demam, kalau kamu dekat-dekat, nanti kamu juga ikut demam," ucap Lara penuh pengertian. Itu memang benar, banyak yang bilang, demam bisa menular.
"Ayo Senja, kita besok harus sekolah," ujar Shaqa, kali ini dia turun tangan, anak sulung itu mengerti, bahwa mamahnya sudah kelelahan. Dia tidak akan membiarkan Senja sakit.
"Iya Sayang, nanti besok Ayah anterin kamu ke sekolah ya, jadi kamu harus tidur di kamar bareng Abang." Dimas berusaha meyakinkan anaknya, bahwa dia baik-baik saja.
Senja akhirnya setuju, dan keluar dari kamar bersama Shaqa, setelah mengucapkan selamat malam. Shaqa dan Senja masuk ke dalam kamarnya.
"Udah, Kamu tidur sekarang, besok pagi Ayah udah sembuh kok."
"Beneran Kak?" Shaqa mengangguk, dia yang biasanya ketus pada sang adik, harus mengeluarkan sifat aslinya yaitu penyayang.
Pernah waktu di sekolah, Senja kehilangan uang jajannya, Shaqa lah yang memberikan semua uang jajannya untuk Senja. Padahal dia tidak membawa air minum kala itu. Lagi-lagi dia ingat ucapan Ayahnya agar bisa menjadi, Kakak yang baik untuk adik-adiknya. Karena tugas laki-laki bukan hanya menjaga ibu dan menghormati Ayah. Namun harus bisa diandalkan.
Sementara itu Lara kembali mengompres Dimas.
"Kamu bener gak mau ke rumah sakit?" tanya Lara lagi-lagi pada Dimas.
"Enggak, Aku cuma butuh istirahat," ujarnya dengan jawaban yang sama.
"Tapi panasnya gak turun-turun Mas," kesal Lara. Dia khawatir Dimas kenapa-kenapa.
"Aku pengen tidur, maaf tolong usapin punggung aku ya," pinta Dimas, dia tidak mau bernegosiasi lagi soal rumah sakit. Bukan takut tidak bisa membayar rumah sakit, Dimas punya kartu kesehatan yang selalu dia bayar tiap bulan, sekalipun tidak pernah dipakainya. Selain malas bertemu jarum suntik, Dimas juga kasihan pada Lara yang akan kerepotan, menjaganya dan harus mengurus ketiga anak mereka. Lara menurut, dia mengusap-usap punggung Dimas. Tak lama, lelaki itu tertidur, sekalipun Dimas tidur, dia tidak bisa ikut tidur, apalagi suhu badan suaminya itu masih 38°C. Minimal suhu badannya itu di 36°C.
lara terus mengompres Dimas, dia menghentikan elusan pada punggung Dimas, kala suaminya itu sudah tertidur lelap. Beberapakali Dimas mengigau, tapi segera lara tenangkan dengan mengusap-usap kepalanya. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari, Lara juga sudah ketiduran selama lima belas menit. Lara bersyukur, karena suhu badan suaminya sudah mulai menurun.
"Mah," ucap seseorang yang mengetuk pintu kamar. Lara sedikit merinding dibuatnya, dia ragu harus membukakan pintu atau tidak. Karena anak-anak pasti masih tidur jam segini. Lara berjalan dengan hati-hati, sudah sampai di depan pintu, dia kembali mundur.
"Mah, ini Shaqa," Lara mengelus dadanya lega, lalu membuka pintu kamar.
"Mamah kira siapa, nakutin aja kamu, ada apa Bang?" Tanya Lara ketika sudah berhadapan dengan anaknya.
"Mamah mending tidur dulu, biar Abang yang jagain Ayah."
"Jangan. Kamu besok harus sekolah, nanti malah ngantuk di sekolah."
"Aku udah terbiasa bangun jam segini Mah,"
"Oh sholat tahajud?"
"Main game Mah," ucapnya sembari menunduk takut mamahnya marah.
"Lain kali, solat dulu Bang." Shaqa mengangguk.
"Ayah udah turun panasnya Mah?"
"Sudah, dulu juga begitu Bang, kalau pagi suhu badannya menurun, kalau sore baru meningkat lagi, Ayahmu kan gak mau dibawa ke dokter."
"Yaudah, mamah tidur dulu, nanti adzan subuh Abang bangunin," ujar Shaqa.
"Iya, bentar mamah ambil cemilan dulu untuk kamu," Lara mengambil cemilan dari kulkas dan diberikan pada Shaqa. Tak lupa dia mengecek keadaan Tian, yang sedang tertidur pulas, barulah dia tidur.
Shaqa sendiri, tidak sedang mengompres dia cukup menjaga Ayahnya, sembari memainkan game online. Shaqa memang anak yang baik, dia banyak mendapatkan wejangan dari ayahnya bahwa lelaki harus begini dan begitu, tanpa membebani sang anak.
Shaqa malah sudah berniat untuk mengambil sekolah yang ada asramanya ketika sekolah menengah ke atas nanti. Dia juga sudah bilang pada kedua orangtuanya. Namun Lara belum memberikan lampu hijau, sementara Dimas dia ikut bagaimana Lara,.karena Dimas sendiri mengijinkan anak sulungnya itu untuk mandiri.
Suara adzan subuh sangat terdengar merdu, dan saling bersahutan, hanya saja di sini tidak terdengar suara ayam jago, karena tetangganya yang lama, yang memiliki ayam jago bangkok, sudah pindah sebab sering diprotes warga sekitar.
Dimas yang mendengar suara adzan pun bangun, dia kaget melihat anak sulungnya yang sedang duduk sembari memainkan handphone.
"Abang, kok enggak tidur?" tanya Dimas dengan suara yang serak karena sakit, bukan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ayah udah bangun, hehe aku jagain ayah gantiin mamah Yah."
"Baiknyaa, nanti kamu ngantuk di sekolah Nak," khawatir Dimas.
"Enggak, aku gantiin mamah pukul 3 pagi, Abang udah kenyang tidur kok,"
"Yaudah, sekarang kamu sholat gih, kan udah adzan."
"Iya, Shaqa sholat dulu Yah,"
Dimas merasa terharu, dulu dia tidak bisa merasakan menjaga seorang Ayah yang sedang sakit, bahkan berbahagia bersamanya sekalipun. Bapa Dimas seorang anggota kemiliteran, yang gugur kala sedang bertugas. Dimas ngirimkan doa untuk Bapanya kala dia ingat Bapanya. Dari situlah Dimas berangkat, bertekad selalu ada untuk anak-anaknya dan memberikan seluruh kasih sayangnya untuk mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak yang penuh dengan kebahagiaan, tidak seperti dirinya.
Lara tiba-tiba saja bangun, dia seperti orang yang kelupaan matiin air, atau kompor. Setelah sadar, bahwa itu hanya mimpi, Lara melihat ke sebelahnya. Dimas dan Shaqa tidak ada di sampingnya
Lara turun dari tempat tidur, dan mencari keduanya. Dia mengecek ke kamar anaknya, ternyata Shaqa sedang sholat, lalu dia ke kamar mandi, pintu kamar mandi terkunci.
"Mas, kamu di dalam?" tanya Lara dengan suara sedikit keras, dia takut Dimas tidak mendengar karena ada suara air keran yang mengalir.
Tidak ada jawaban. Lara kembali bertanya hal yang sama. Sampai akhirnya dia panik, dan berusaha membuka pintu kamar mandi yang terkunci. Namun sulit, Lara terus berusaha, dia mencari kunci cadangan, tetap tidak bisa terbuka, sepertinya terslot dari dalam.
"Shaqa, bantu mamah dobrak kamar mandi!" Teriak Lara menggema di rumah itu, membuat Shaqa dan Senja menghampirinya. karena Lara panik mereka berdua ikut panik. Mereka mengeluarkan semua tenaganya. Supaya bisa mendobrak pintu, mungkin karena baru bangun tidur, dan belum sarapan, jadi masih lemas.
"Ayah ada di dalam mah?" tanya Shaqa memastikan.
"Kemungkinan Iya, soalnya di kamar gak ada."
"Yaudah, ayo sekali lagi Mah." Mereka berdua berusaha membuka pintu kamar mandi.
Brak
Bukan, itu pintu dapur menuju belakang rumah, tempat biasanya untuk menjemur pakaian, pintu itu terbuka dan di sana ada Dimas yang kesusahan untuk bangun.
Semua mata tertuju pada Dimas.
"Mas!"
"Ayah!"