Mereka semua berlari ke arah Dimas, tanpa banyak bertanya, ketiga orang beda usia itu, berusaha untuk membawa Dimas ke kamar. Shaqa keluar sebentar, lalu kembali dengan membawa satu gelas air mineral,
"Diminum dulu Yah," ucap Shaqa. Dimas segera meminum air mineral tersebut, sekarang keadaannya mulai membaik.
"Kamu apa-apaan sih Mas? Ngapain ke belakang segala?" tanya Lara pelan, rasa khawatirnya tidak bisa disembunyikan lagi. Dia memang marah dengan sifat kekanak-kanakan Dimas. Tapi dia sangat sakit ketika melihat Dimas tergolek lemas di pintu tadi.
"Tadinya aku udah mendingan, terus aku pengen ke kamar mandi tanpa ngerepotin kamu, aku kasian liat kamu tidur pulas banget, pas aku mau ke kamar mandi, ada suara kucing teriak-teriak dari balik pintu itu, yaudah aku samperin, takutnya kenapa-kenapa, pas aku liat ternyata gak ada, mungkin perasaan aku aja, tiba-tiba kepalaku tambah sakit, terus pusing banget, sampe gak bisa buat teriak."
Lara mendengar penjelasan Dimas dengan seksama. Dia melirik ke arah Senja yang terlihat ketakutan mendengar cerita Dimas. Lara berinisiatif untuk meminta anak-anak segera siap-siap sekolah.
"Yaudah, Kamu istirahat dulu, ayo Shaqa, Senja, mandi! Mamah buat sarapan dulu," ucap Lara kemudian mengajak anak-anak keluar dari kamar. Sesampainya di dapur Lara bingung harus masak apa, biasanya dia selalu siapkan bahan dan tujuan memasak malam harinya, karena sibuk mengurusi suami, jadi tidak terpikirkan.
Cukup lama terdiam, Lara akhirnya memutuskan untuk memasak roti panggang. Sebenarnya Lara jarang menyediakan roti panggang, karena anak-anak suka mengeluh, belum waktunya jam istirahat mereka sudah kembali lapar. Tapi apa boleh buat, tidak ada nasi, untuk dibuat menjadi nasi goreng.
Lara juga memasakkan Dimas bubur. Beruntung masih ada ayam mentah setengah lagi, untuk membuat kuahnya.
Setelah berkutat di dapur selama setengah jam, akhirnya semua masakan beres, termasuk dengan minumannya juga. Kini tugas anak-anaknya lah yang membawakan makanan itu ke depan untuk disantap bersama-sama.
Sudah tersedia roti panggang, telur ceplok, sayuran rebus, buah, dan minumana kesukaan mereka.
"Ayah gak bisa antarin kita ke sekolah dong?" tanya Senja pada Abangnya.
"Enggak."
"Yah, nanti keringetan dong, padahal masih pagi,"
"Manja," ujar Shaqa kembali pada sifat aslinya, jutek.
"Dasar anak laki-laki tidak tau kebersihan."
"Dasar manja, perempuan selalu merepotkan, cengeng."
"Hey. Kalian gak boleh membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan begitu. Semuanya punya selera masing-masing."
"Aku kesal Mah, Abang selalu meledekku, manja, cengeng, pecicilan, dan banyak lagi, aku kan enggak gitu kan Mah?" Laeanyang ditanyai seperti itu justru ingin sekali berteriak dan bilang iya, anaknya ini mirip sekali dengannya dan Dimas ketika kecil, banyak yang bilang Dimas itu waktu kecil sangat pecicilan, sementara dirinya cengeng dan manja. Tapi jika dia bilang iya, Senja akan ngamuk dan tidak mau bersekolah. Lara cari aman saja.
"Enggak Kok, yaudah kalian lebih baik selesaikan sarapan, lalu pergi ke sekolah. Nanti uang jajannya Mamah tambahin," ujar Lara kemudian berdiri, untuk mengecek apakah buburnya sudahmatang atau belum. Sementara kedua anaknya yang mendengar kabar gembira itu, berteriak kegirangan. Jarang sekali uang jajannya ditambah, kecuali sedang ada acara di sekolah.
"Serius Mah?" tanya mereka setelah memegang uangnya. Lara mengangguk.
"Seribu Mah nambahnya?" tanya mereka barengan. Lara kembali mengangguk.
"Mamah bilang kan nanti ditambahin, gak bilang ditambahin berapa-berapanya."
"Mamah," kesal mereka berdua. Mereka protes dengan wajah yang sangat gemas. Lara mana tega mengerjai anaknya lama-lama. Dia akhirnya memberikan uang kepada mereka masing-masing empat ribu rupiah lagi.
"Yeee, asik makasih Mah," ucap mereka bersamaan, lalu menyalami tangan Lara untuk pamit ke sekolah.
"Belajar yang rajin, jangan nyontek, jadi anak baik ya."
"Siap. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lara menutup pintu, lalu membereskan bekas makan. Dia menyiapkan bubur untuk Dimas.
"Makan dulu Mas, obat lambungnya udah diminum kan?" Dimas mengangguk. Lara menyuapi Dimas makan.
"Mas, bahan-bahan untuk masak usah abis, aku ijin keluar ya?" Dimas yang sedang mengunyah bubur itu seketika menghentikan kunyahannya, dia langsung menelan bubur tersebut, dan menggelengkan kepala pada Lara.
"Enggak. Ayo Aku antar aja." Lara mulai malas, Dimas selalu begini, menyusahkan dirinya sendiri.
"Kamu lagi sakit, aku gak mau bukannya kita sampai ke minimarket malah ke klinik."
"Aku janji bakal pelan-pelan bawanya,"
"Motornya kan belum dibawa kesini sama temanmu."
"Bentar." Dimas memainkan handphonenya, kemudian menelpon seseorang, bisa dipastikan itu Daneil, karena Dimas meminta diantarkan motornya segera.
"Tunggu. Nanti siang kita belanja."
"Tapi aku butuh buat masak makan siang."
"Yaudah, bentar juga motornya datang."
"Gak usah. Aku mau go market aja." Lara kepalang kesal. Kenapa dalam keadaan darurat seperti ini, Dimas masih mementingkan egonya, beruntung sekarang semua serba mudah, jika tidak, mereka bisa sakit kelaparan di rumah tidak ada makanan.
Dimas tidak berpikir ke situ, dia menyesal sudah bernegosiasi dengan Daniel, bahwa dia akan memberikan libur di hari weekend untuk temannya itu, sebagai balasan atas bersedianya Daniel mengantar motor ke rumahnya.
Lara membukakan pintu, dia pikir yang datang adalah kurir pengantar bahan makanan yang dipesan melalui aplikasi supermarket, ternyata bukan. Yang datang adalah Daniel.
"Pagi Mbak Lara," ucap Daniel dengan bahagia. Entah kenapa lelaki itu tampak menikmati hidupnya dibanding kemarin saat mereka pertama kali bertemu.
"Pagi, makasih ya, udah nganterin motor, maaf ngerepotin jadinya."
"Kok gak bilang udah datang?" tanya Dimas yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Eh Pak Dimas, gimana Pak udah sembuhan?" tanya Daniel basa-basi.
"Hmm." Dimas hanya berdehem agak keras, maksudnya dia meminta Lara untuk segera berjauhan dengan Daniel. Lara mengerti tatapan itu, dia berpamitan untuk mengambilkan minum.
"Kamu gak ada kerjaan lain emang?" tanya Dimas halus, dia secara tidak langsung mengusir Daneil. Jujur saja, dia memang tidak begitu suka dengan kedatangam laki-laki pecicilan ini. Dia takut, terus dijahili Daniel dengan cara menggoda istrinya terus. Bisa-bisa, Daniel pulang dia darah tinggi.
"Enggak Pak, tenang aja."
"Tapi Saya butuh istirahat,"
"Yaudah istirahat aja Pak, lagian saya pikir saya akan dibutuhkan di sini."
"Ini di minum dulu Niel,"
"Niel? Siapa?" tanya Dimas heran.
"Daniel kan namanya? Enggak aneh kan kalau aku panggil Niel?"
"Haha Mbak ada-ada aja, tapi keren juga sih."
"Mbak? Siapa yang kamu panggil Mbak?" Kesabaran Dimas mulai menipis.
"Mbak Lara Pak," jawab Daniel santai. Lara hanya tersenyum, baru kali ini ada manusia ngeyel seperti Daniel.
"Kamu panggil saya Pak, giliran Lara Mbak? Kamu pikir saya bapaknya Lara?"
"Haha Kaburrr!" Teriak Daniel segera keluar dari rumah Lara, tak lupa dia mengucapkan salam. Karena Daniel tau Dimas akan marah padanya.
"Udahlah Mas, cuma becanda dia."
"Kenapa? Kamu seneng dipanggil Mbak?" tanya Dimas dengan sewot, lalu kembali ke kamarnya dengan membanting pintu. Lara malah tersenyum, dia merasa senang melihat Daniel kesal, jangan dirinya terus yang dibuat kesal oleh suaminya itu.