Cacing

1064 Kata
Lara menunda acara memetik daun kangkung yang sedang dia kerjakan, karena ada.suara perempuan di teras rumahnya. Tumben sekali hari ini banyak yang datang ke rumahnya. "Waalaikumsalam," jawab Lara sambil membukakan pintu. Lara kaget. Ternyata yang datang adalah ibu mertuanya, dia mematung, bingung harus bagaimana. Karena sudah lama sekali tidak bertemu. "Kamu gak mau suruh ibu masuk?" tanya ibu mertuanya tegas. "Ah enggak Bu, ayo masuk. Ibu sengaja main ke sini?" tanya Lara berbasa-basi. "Iya, tadi abis dari rumah Mbah kakung. Sepi sekali, Dimas kerja?" Lara bingung, dia kira mertuanya tau, bahwa Dimas sedang sakit. "Enggak Bu, Dimas sakit." Akhirnya Lara jujur. "Sakit?" Kaget mertuanya, yang awalnya ingin duduk kembali berdiri tegak. Lara mengangguk, dan membawanya ke kamar. Dimas masih tertidur efek obat. Ibu mertuanya mengecek keadaan sang anak. "Kenapa bisa sampai sakit?" "Kelelahan mungkin Bu. Abis pulang dari sana, besoknya dia sakit." "Di rumah dia gak ngapa-ngapain kok, malah istirahat terus. Kamu suruh dia kerja sampingan emang?" Kali ini, mertuanya berkata lebih ketus dari sebelumnya. "Enggak Bu," Lara lupa, mertuanya kurang suka padanya, apapun yang dikatakan lara akan terlihat salah di matanya. "Ibu?" tanya Dimas yang merasa heran, kenapa ibunya bisa ada di rumahnya. "Kenapa kamu sakit gak bilang? Sudah merasa hebat ya, bisa berdiri sendiri sekarang?" Dimas meringis, harusnya kata-kata seperti itu untuk anak remaja, bukan untuk anak yang sudah memiliki 3 anak. "Dimas baik-baik aja kok Bu," "Ngeles aja. Kalau baik-baik aja, coba kamu beliin ibu makan ke depan komplek jalan kaki." Dimas menatap ibunya horor. Sementara Lara sedikit tersenyum. "Maaf Bu," "Yasudah kamu tidur lagi aja, ibu mau ke kamar mandi." Ibu mertuanya keluar dari kamar, diikuti Lara dari belakang. "Ngapain kamu ngikutin Ibu? Emang rumah ini seluas apa, sampe takut nyasar," ucapnya karena merasa diikuti oleh menantunya. "Bukan begitu Bu, Lara mau ke dapur." "Alasan." Ibu mertuanya masuk ke dalam kamar mandi, sementara Lara baru bisa mengelus dadanya. Dia harus bisa lebih sabar lagi. Beruntung sudah belanja, jadi dia bisa masak yang enak untuk makan siang. "Masak apa?" tanya Ibu Dimas setelah keluar dari kamar mandi. "Tumis kangkung dan ayam goreng kecap Bu," ucap Lara dia tau kesukaan mertuanya itu. "Kamu gimana sih, Dimas itu sedang sakit. Dia pasti kena tifus deh, jangan diberi makan yang macam-macam dulu." Iya, Dimas punya penyakit tifus, yang akan kambuh ketika dia kelelahan. "Enggak Bu, ini buat yang sehat." "Terus Dimas makan apa?" "Bubur Bu," "Obatnya apa?" "Paracetamol." "Kasih dia cacing!" Tekan mertuanya itu, Lara berusaha tidak mengeluarkan ekspresi anehnya. "Sampai seminggu kamu kasih dia Paracetamol, tetap aja dia gak akan sembuh. Dia itu ampuhnya sama cacing doang." Lara menelan ludahnya susah payah, dia tidak bisa membayangkan Dimas memakan cacing. "Di sini sulit Bu, cari cacing. Paling beli yang sudah jadi ada obat ekstrak cacing." Lara mengeluarkan alternatif lain. "Biar cepat sembuh harus cacing yang masih bagus. Di sini ada tanah merah gak?" Lara mengangguk, dan membuka pintu di sampingnya. "Kamu cari sana sampai dapat, biar ibu yang lanjutin masak." Glek Ngebayangin aja geli, ini suruh buat ngambil. Rasanya Lara ingin melambaikan tangan ke kamera. Andai saja di sini ada pintu kemana saja, Lara pasti akan masuk ke dalam pintu itu. Sudah sudah payah, dia mencari keberadaan cacing, namun nihil hasilnay, benar kata orang. Jika dicari untuk obat pasti sudah, kalau gak sengaja-sengaja, suka tiba-tiba datang sendiri. "Gimana? Udah dapat?" tanya mertuanya yang sudah selesai masak "Belum Bu, susah banget. Gak nemu-nemu." Lara mengutarakan bahwa dia menyerah, semoga saja mertuanya itu paham. Ibu Dimas menajamkan pandangannya, dia mengedarkan ke seluruh penjuru, seakan menelusuri tahan yang hanya 3×2 meret itu. "Di bawah kaki kamu." Mendengar ucapan itu, Lara meloncat dari tempatnya berdiri. Benar saja, cacing itu keluar dari tanah. "Ambil!" Setelah memerintah, beliau masuk ke dalam rumah. Lara dengan perasaan campur aduk, mengambil Cacing tersebut. Dia sampai berteriak dan hampir menangis kala cacing itu sudah ada di tangannya. Lara masuk ke dapur, dan memberikan cacing tersebut. "Kamu masak lah, masa Ibu." "Bu," ucap Lara pelan, air keringatnya sudah mengucur di wajahnya, tangannya pun sudah keringat dingin. "Ya sudah, mandi sana, ngambil cacing di halaman belakang udah kayak abis main tanah." Lara mengangguk dan mengambil handuk. "Kamu kok kotor-kotoran gitu? Abis apa?" tanya Dimas heran. "ABIS AMBIL CA-" Teriak Lara hampir kelepasan. "Ca?" tanya Dimas ingin Lara melanjutkan ucapannya. "Cabe, ah ya cabe. Udah dulu ya, aku mau mandi." Lara meninggalkan Dimas yang sedang penuh tanda tanya. Perasaan pohon cabe mereka belum berbuah. "Kopi? Emang boleh minum kopi lagi sakit gini?" tanya Dimas. "Boleh. Kata siapa gak boleh?" Balik tanya Ibunya. "Gak deh Bu, Dimas lagi gak pengen ngopi." tolak Dimas, karena merasa aneh. Kenapa mau kinum kopi saja harus dipaksa dan dilihatin mereka semua. "Diminum aja Mas, kasian ibu udah bikinin." Bujuk Lara. "Kok kamu kayaknya maksa aku banget, biasanya juga kamu orang pertama yang gak ngebolehin aku minum kopi." "Ya kan Ibu Mas," ucap Lara ngeles. Kedua anaknya harap-harap cemas. Melihat ayahnya akan meminum kopi cacing buatan Oma, mereka tau karena sepulang sekolah tadi, melihat Omanya membakar cacing. Karena kepo, akhrinya merek bertanya dan ternyata untuk obat Ayah. Ekspresi geli keluar dari wajah ibu dan kedua anaknya kala Dimas menghabiskan semua kopi itu sampai tandas, karena memang cangkirnya berukuran kecil. Dimas merasa -rasa kopi tersebut, tidak manis pikirnya. "Kyaaaaa, Ayah minum kopi cacing!" Teriak Senja histeris. Dia tidak bisa menahan diirnya yang meradak jijik, dengan kopi cacaing tersebut. Membuat semuanya kaget. Tidak dengan Dimas, lelaki itu pucat pasi, dia baru ingat sekarang, dulu sewaktu sakit, Dimas pernah dipaksa untuk minum kopi juga, tapi tidak ada yang pernah memberitahukan bahwa ternyata selama ini, kopi yang diminumnya adalah kopi cacing. lelaki itu panik dan ingin memuntahkan isi perutnya. Dia langsung bangun kemudian berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Semuanya terdiam melihat Dimas yang berlari dengan kencang seperti orang sehat pada umumnya samar-samar terdengar suara Dimas yang sedang memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. "Kamu sih, Ayah jadi tau kan." Shaqa memarahi adiknya. "Aku keceplosan. Abisnya aku masih kebayang gimana cacing itu dibakar dan dihaluskan sama oma." "Ibu sih ngasih liat anak-anak." "Kamu lah yang salah, siapa suruh kan Ibu udah bilang, kamu aja yang masak." Mereka saling menyalahkan. Tak lama, Dimas sudah kembali ke kamar. Wajahnya jauh lebih tenang dari sebelumnya. Membuat semua yang melihatnya pun ikut lega. Hanya sebentar rasa lega itu muncul, karena setelahnya Dimas pingsan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN