Sudah seminggu semenjak kejadian itu, mereka sudah hidup normal. Ibu mertuanya sudah pulang ke rumahnya. Dimas juga sudah kembali bekerja. Dan Lara kembali disibukan dengan kegiatan rumah yang cukup melelahkan.
Sekarang, dia sedang merapihkan buku-buku di rak. Karena sudah cukup lama tidak dibersihkan, ada debu-debu menempel di sekitaran sampul buku dan pinggiran rak. Lara senang membaca, lebih tepatnya satu keluarga senang membaca. Dimas juga, ya walaupun yang dibacanya hanya komik. Sedangkan Shaqa sama dengan Lara senang baca buku non fiksi, dan Senja sama dengan ayahnya.
Lara menemukan buku kumpulan motivasi. Apa mungkin, rasa tidak bersyukur yang akhir-akhir ini dia alami adalah karena dirinya kurang memiliki pemikiran yang luas. Dia kurang tercerahkan. Lara membuka satu persatu lembaran buku berisi kata-kata bijak itu. Sampai dia berhenti sejenak, ketika satu kata motivasi itu terasa sama dengan apa yang sedang dialaminya saat ini.
Jika kamu ditakdirkan untuk jadi hujan, maka tidak perlu iri dengan pelangi. Karena bosan bukan alasan, dan kebahagian kesemuan yang sesungguhnya.
Lara memaknai setiap kata demi kata. Jika dia ditakdirkan untuk jadi Lara, ya mungkin kehidupannya yang sekarang memang takdirnya, sebagai ibu rumah tangga dan seorang istri yang tidak bisa kemana-mana. Dia tidak perlu iri dengan mereka yang bisa melihat dunia. Karena porsinya memang beda. Dia juga tidak pernah tau, yang diluar terlihat bahagia apakah di dalamnya juga sama.
"Mamam," ucap Tian yang sedang memainkan robot-robotan.
"Apa sayang? Mau makan? Bentar ya, sebentar lagi selesai." Lara menutup buka tersebut, dia segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo, Aaaa," ucap Lara sembari menaik taurunkan sendok berisi makanan.
"Ada helikopter, jalannya muter-muter," Lara bersenandung, membuat Tian tertawa kegirangan. Tian sudah tidak mau makan dari suapan ke limanya. Anak itu sudah mulai malas makan. Biasanya Lara akan mengakali dengan vitamin. Agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi dan anaknya tumbuh dengan sehat.
Lare berlari ke arah bupet, kala mendengar suara handphone yang berbunyi, dia hafal suara ini adalah suara orang menelpon ke handphonenya. Dia mencabut charger yang menempel. Lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo," ucap Lara menyapa seseorang yang menelponnya.
"Iya, Belum. Nanti deh, jangan! Yaudah deh. Gue masih penasaran soalnya. Oke-oke. Bye." Lara menyudahi sesi teleponannya. Yang menghubungi ternyata Naura, dia pikir Lara sudah selesai menggunakan akun aplikasinya, karena Maura berniat untuk memberikannya pada teman kantor yang ingin meminjamnya. Sementara, Lara masih penasaran.
Lara membuka handphonenya, dia meng-klik aplikasi yang dimaksud, dan memasukan akun milik Naura. Dia menyakinkan dirinya bahwa dia hanya butuh hiburan. Hanya hiburan, tekan Lara dalam dirinya.
Di lain tempat, Dimas sedang mengatur jadwal kerja karyawan.
"Pak, Jangan lupa! Minggu ini saya libur weekend," ucap Daniel dengan wajah yang jumawa. Dimas tidak menanggapi, dia juga sudah tau, tidak perlu diingatkan, karena Daniel ini kacau sekali. Seminggu sudah, Dimas diteror Daniel untuk memberikannya libur di hari weekend.
"Ngapain sih, pengen libur weekend segala. Bukannya kamu gak punya pacar. Percuma libur juga."
"Pak Dimas. Sekalinya ngomong masuk sampe jantung. Jleb banget," sahut rekan kerjanya yang lain. Kemudian menertawakan Daniel.
"Woy, Lu oada inget ya semuanya. Tahun depan, gue bakal punya istri!" Teriak Daniel kesal. Umurnya masih muda, tapi selalu diledek teman-temannya karena belum menikah. Padahal bukan dia yang nikahnya ketuaan, tapi mereka nikahnya kecepatan.
Daniel tidak sadar, bahwa saat dia teriak. Ada seseorang yang masuk dan mendengarkan doanya.
"Kenapa Mbak lihat-lihat? Mau jadi istri saya?" sewot Daniel, karena wanita itu melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi Daniel menganggapnya wanita itu mengejek ucapannya.
"Hai Nau!" Sapa Dimas santai, membuat yang lain terdiam dengan raut wajah terheran-heran. Ternyata temannya Dimas, Daniel menepuk jidat. Bisa gugur jatah libur weekendnya kalau begini caranya.
Di sekolah, di kelas yang berbeda. Waktu menunjukan pukul 12:00 WIB artinya murid-murid waktunya pulang sekolah.
Shaqa dan Senja sedang mendengarkan pengumuman dari gurunya masing-masing. Bahwa sekolah akan mengadakan studi tour ke Bandung. Khusus untuk anak kelas enam dibebaskan untuk tidak perlu membawa orangtua. Namun kelas 1-5 wajib didampingi orangtua. Artinya, Senja harus meminta Ayah atau mamahnya mengantar Study tour.
Shaqa yang keluar kelas lebih dulu, menghampiri kelas Senja. Adiknya itu keluar dari kelas dengan wajah yang murung.
"Kamu kenapa?" tanya Shaqa yang merasa bingung, dengan adiknya yang tidak cerewet dan semangat seperti biasanya.
Senja memberikan surat dari Bu guru pada Abangnya. Shaqa juga mendapatkan surat yang sama, tapi dia sudah menaruhnya di tas, diselipkan diantara buku-buku, karena takut kusut dan kotor.
"Abang juga dapat Kok, terus kenapa?"
"Aku pasti gak dibolehin ikut sama Ayah."
"Loh kenapa?"
"Kan anak kelas 1-5 itu harus bawa orang tua Abang!" Anak perempuan itu berteriak dan menghentakkan kakinya. Shaqa mengerti dan menepuk jidatnya. Beruntung dia sudah kelas enam.
Keempat karyawan yang berjaga hari itu, mendadak kepo dengan pembicaraan Dimas beserta Naura. Mereka samai berpikir Naura adalah mantannya Dimas. Atau selingkuhan Dimas. Tapi sebagian tidak percaya, karena mereka saksi bisu bagaimana Dimas sangat bucin pada Lara.
Dimas merasa sangat risih, dengan tingkah rekan kerjanya itu.
"Mereka semua mata-mata Lara?"
"Enggak. Cuma Daniel yang pernah ketemu Lara."
"Oh iya, gue lupa, mana mau Lo ngebiarin Lara ketemu orang lain." Kata-kata sindiran itu masuk kuping kiri dan balik lagi keluar dari kuping kiri.
"Tumben banget Lo pengen bicara sama gue."
"Gue cuma pengen ngingetin Lo Bang."
"Soal?"
"Lara. Emang gak capek Bang? Lo jalanin rumah tangga dengan konsep begitu terus? Ingat Bang sesuatu yang digenggam terlalu erat bisa aja hancur." Naura berkata dengan serius.
"Berhenti ikut campur." Dimas bangkit. Dia selalu merasa terintimidasi oleh Naura, perempuan tomboy satu itu sangat menjengkelkan baginya. Kenapa sekarang seolah semuanya meminta untuk Dimas membebaskan Lara. Mereka tidak berpikir bahwa Lara itu adalah istrinya. Dan haknya untuk membebaskan Lara atau tidak. Toh, bukan mereka yang memberi makan. Kenapa seakan-akan semua berhak masuk dan ikut suara dalam rumah tangganya? Dimas berpikir keras.
Para karyawan mulai bubar, saat melihat Dimas berdiri kemudian masuk ke dalam ruangan. Mereka berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tapi mata mereka seakan sedang bergibah.
Daniel keluar, kemudian naik ke atas gas, berpura-pura mengecek apakah token listrik masih penuh atau tidak. Dia melihat perempuan berambut sebahu sang poni yang lurus itu menghabiskan minumannya, kemudian bangkit dan membuang sampah bekas minuman tersebut.
"Mbak!" Panggil Daniel yang turun dari tumpukan gas itu. Naura menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa?"
"Maaf Mbak, tadi mbaknya buang sampah ke tempat sampah organik, harusnya dibuang ke tempat sampah non organik."
"Terus?"
"Maaf banget, mbaknya harus ambil lagi dan pindahin sampah itu."
"Kamu aja sendiri situ." Ketus Naura kemudian masuk ke dalam mobilnya