Lara sudah menghabiskan dua jam full dengan bermain handphone, mesin cuci yang sudah mati sedari tadi dia biarkan begitu saja. Anaknya bermain kertas dan merobek-robekmya juga dia biarkan. Belum lagi, dia belum masak untuk makan siang anak-anak.
"Assalamualaikum," ucapan salam itu terdengar sangat nyaring dari luar. Lara segera membukakan pintu untuk kedua anaknya.
"Waalaikumsalam," jawabnya sembari membukakan pintu.
"Mamah, kita dapet ini dari ibu guru."
"Surat apa ini?" tanya Lara kala surat itu sudah ada ditangannya.
Sembari menunggu kedua anaknya membuka sepatu, Lara membaca isi surat tersebut.
"Abang mau ikut?"
"Mau Mah!" Jawab Shaqa semangat.
"Nanti bilang Ayah dulu ya," ujar Lara.
"Pasti Ayah gak akan ijinin." Shaqa sudah pesimis duluan. Dia tau, mana boleh jalan sendirian.
"Ya kita coba aja dulu, Senja kenapa kok cemberut gitu?"
"Aku pengen ikut." Senja menangis. Dia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Hey! Jangan nangis dong. Nanti Mamah bilang Ayah. Kita buat sesuatu supaya Ayah ijinin kalian ok." Kedua anaknya tersenyum, dan mulai menyusun recana.
Lara menepuk jidatnya, dia lupa cuciannya belum beres dan belum masak untuk makan siang. Dia segera berlari ke kamar mandi. Anaknya hanya bisa saling tatap. Melihat kelakuan ajaib Mamah mereka.
Di toko, Daniel masil mendumel. Dia kesal pada teman Dimas yang sombong itu, dengan terpaksa Daneil memungut kembali sampah minuman itu, dan memasukannya ke sampah organik.
"Kenapa?" tanya Dimas merasa risih sedari tadi diperhatikan terus gerak geriknya oleh Daniel.
"Mbak yang tadi, temannya Pak Dim?" Daniel penasaran, Dimas kok mau berteman dengan manusia ngeselin begitu.
"Kamu naksir?" tanya Dimas jahil.
"Ogah! Jutek begitu, belagu lagi, untung cantik. Tapi percuma cantik juga, gak ada akhlak."
"Awas nanti jatuh cinta."
"Amit-amit. Saya kan tanya dia teman Pak dim atau bukan?"
"Kepo."
"Jangan-jangan Pak Dim," suara Daniel yang meninggi membuat yang bekerja berhenti sejenak, dan memasang telinga mereka kuat-kuat.
"Kerja Daniel! Atau jatah libur weekend Kamu Saya revisi."
Para karyawan tertawa, mendengar ancaman itu untuk Daniel. Dimas bukan tidak mau memberitahu, Daniel orangnya kepo parah.
Dimas mendapatkan sebuah pesan dari Lara, dia buru-buru membukanya.
My Wife
Kamu mau dimasakin apa malam ini?
Dimas mengerutkan alisnya, tidak biasanya Lara bertanya. Apalagi, akhir-akhir ini, Lara masih sering jutek padanya. Namun Dimas segera membalas pesan tersebut.
Apa aja. Asal Kamu yang masak Aku pasti makan.
My Wife
Yaudah. Kerja yang rajin Ayah.
Dimas tersenyum. Jarang sekai Lara mengirimkannya pesan begini. Namun Dimas segera merubah raut jawahnya menjadi datar, kala Daniel menatapnya dengan penasaran. Lelaki itu sepertinya curiga, jika dirinya berselingkuh dengan Naura.
Dimas menjadi semangat bekerjanya, dia juga memilih lagu untuk diputar ditoko dengan lagu-lagu yang romantis. Karyawan lain, saling bertanya. Namun tidak satupun yang mengetahui jawabannya. Mereka saling menjawab dengan asal, mungkin Dimas baru saja dapat bonus.
Lara menyelesaikan pekerjaannya. Dia bahkan tidak sempat membalas pesan teman barunya di aplikasi itu. Tugasnya sekarang adalah, bagaimana Dimas mau mengijinkan anak-anaknya pergi Study your. Dia bahkan berdandan agar terlihat lebih cantik untuk Dimas. Perjuangan Lara memang luar biasa.
Dimas datang, kedua anaknya menyambut dengan gembira. Dimas masih merasa biasa, karena memang anak-anak selalu menyambutnya begini.
"Ayah cape tidak? Aku pijitin ya?" tanya Senja.
Dari arah dapur Shaqa datang membawakannya teh hangat. "Ini teh buat Ayah."
"Wahh baiknya anak-anak Ayah. Kalian kenapa? Baik banget hari ini?"
"Kami sayang Ayah, selamat hari Ayah." Dimas terharu, dia bahkan tidak ingat bahwa ada hati untuk ayah?
Dia memeluk kedua anaknya. Dia belum juga curiga. Dia teringat Lara yang tiba-tiba mengirimkan pesan tadi siang, mungkinkah karena ini? Dimas bertanya-tanya.
"Makasih Sayang. Kalian manis sekali," ujar Dimas. Sementara kedua anaknya saling mengedipkan satu mata mereka.
"Mamah sama Tian kemana?"
"Mamah lagi sholat, Tian tidur."
Setelah selesai menghabiskan tehnya dan mengajak kedua anaknya bermain. Dimas masuk ke dalam kamar. Dia melihat Lara yang sedang melepaskan mukenanya.
Lara menghampiri kemudian menyalami tangan suaminya.
"Kamu berdoa apa aja, lama banget perasaan?"
"Rahasia dong."
"Oh gitu, jadi sekarang mainnya rahasia-rahasiaan?"
"Bukan gitu..., Kamu udah mandi belum? Aku siapin bajunya ya?"
"Gak sekalian kamu yang mandiin?" tanya Dimas jahil.
"Dimas!" Wajah Lara memerah. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memarahi Dimas yang selalu bisa membuatnya kesal.
Dimas pergi mandi, Lara menyiapkan makan malam mereka. Setelah solat, Dimas bergabung untuk makan malam bersama.
"Wahh..., Tumben makanan kesukaan Ayah semuanya."
"Iya dong, kan spesial buat Ayah."
Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai, Shaqa dan Senja masuk ke kamar untuk mengerjakan PR.
Lara masuk ke dalam kamar, dia mulai memoleskan bedak dan segala yang berhubungan dengan wajah. Terakhir, dia menyemprotkan minyak wangi yang dibelikan oleh Dimas. Lara mendengar ada suara pintu terbuka, ternyata Dimas yang masuk.
"Wangi banget sampe kecium ke luar loh Yang," lelaki itu mulai mendekati Lara. Menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri.
"Jangan buat tanda dileher, nanti anak-anak lihat."
"Bilang aja digigit nyamuk."
"Nyamuk apaan? Kamu mah gajah."
"Dan kamu pawangnya."
Lara tersenyum. Dia bangkit. Kemudian duduk di pinggiran kasur Dimas mengekor.
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Dimas jujur.
"Malam ini doang?"
"Tiap malam, tapi kamu baik banget hari ini, terus tumben banget dandan begini. Ada apa? Anniversary kita masih beberapa bulan lagi."
"Emang gak suka liat istri cantik? Nanti kalau aku jelek terus, bisa-bisa kamu ngelirik perempuan lain."
"Enggak lah!" Teriak Dimas spontan. Dia tidak mungkin melirik perempuan lain. Baginya Lara adalah perempuan yang sangat dia inginkan.
"Santai dong Mas," ucap Lara sembari mengusap bahu Dimas.
"Ya kamu lagian, aneh-aneh aja."
"Aku percaya."
"Makasih sayang," ucap Dimas mengecup punggung tangan Lara.
"Ouh iya Mas, anak-anak dapet surat tadi, katanya mereka harus ikut Study tour."
"Tolong kasih mereka pengertian ya, aku gak bisa ijinin mereka pergi. Nanti biar aku bayar dendaan aja. Lagi pula, aku kan udah cuti banyak karena sakit kemarin."
"Yaudah, gimana kalau aku aja?" Lara mengeluarkan suaranya.
"No!" Tolak Dimas dengan tegas. Dia sebenarnya teringat dengan ucapan Naura tadi siang padanya. Namun, semakin dia mencoba untuk membebaskan Lara, pikiran buruk itu muncul dan membuatnya semakin ketakutan.
Lara menyesal, tidak bisa melunakkan Dimas. Dia masuk ke dalam selimut, dan tidur lebih dulu dibandingkan Dimas.
"Yang, bangun. Kamu beneran tega ini sama aku?" tanya Dimas terus merengek.
"Yang..., Kamu belum tidur kan, baru pura-pura tidur kan?"
Lara terus memejamkan matanya, membuat Dimas pening, dan harus mandi air dingin malam ini.
*Haii semuanya... salam kenal yaaa, semoga kalian suka dengan ceritaku. Jika suka, kalian bisa kasih like dan follow yaaa terima kasih