Pagi ini, gantian justru Dimaslah yang mendiami Lara, setelah solat, dia duduk di depan televisi, tidak mengindahkan ucapan Lara yang memintanya untuk membantu menggelarkan karpet. Lara masih belum sadar, bahwa suaminya ini sedang marah.
"Mas, nanti sore Kamu kan gajian, sekalian kita belanja. Keperluan rumah sudah pada habis. Sabun mandi, odol juga sudah pada habis, buat cuci piring apalagi, sudah kucampur air terus dari kemarin." Lara bermonolog sendiri. Karena Dimas masih fokus pada televisi yang menayangkan acara berita.
"Mas, kenapa? Kok diem aja? Kamu sakit lagi?" Dimas masih diam. Lelaki itu masuk ke dalam kamar lalu, berganti pakaian.
Anak-anak sudah siap dengan seragam sekolah mereka.
"Ayah mana Mah?" tanya Senja.
"Di kamar."
"Semalam mamah jadi kan, bilang Ayah supaya kita jadi pergi?" tanya Shaqa penasaran.
"Maaf ya..., Ayah kalian gak ijinin," ujar Lara dengan penuh penyesalan.
"Yahhh..." Keluh mereka. Awalnya, mereka sudah semangat. Sekarang, jadi lemas dan malas. Permasalahan ini selalu datang tiap tahun, jika dulu mereka belum terlalu mengerti, tapi setelah mendapatkan cerita dari teman-teman bagaimana serunya Study tour. Mereka juga jadi ingin merasakannya.
"Ayo anak-anak kita berangkat sekolah." Ajak Dimas kala anak-anaknya selesai makan.
"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Lara.
"Nanti saja,"
"Nanti sakit lagi kayak kemarin."
Dimas tidak menjawab, lelaki itu memanaskan motor dan mengantarkan anaknya ke sekolahan. Senja selalu minta duduk di depan. Dan Shaqa akan memeluk ayahnya dari belakang.
"Senja udah dong, jangan dimainin terus kaca spionnya," ucao Dimas, karena Senja, selalu mengaca di spion.
"Aku cantik kan Ayah?" Pertanyaan polos dari sang anak mempu membuat Dimas tertawa.
"Jelek." Itu bukan Dimas yang menjawab, melainkan Shaqa.
"Abang!" Jerit Senja.
"Hey, ayolah. Masa berantem sih. Nanti jatuh loh kita. Senja anak ayah yang paling cantik pokoknya." Senja tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, dia menjulurkan lidahnya pada Shaqa, dan dibalas begitu juga oleh Shaqa.
"Anak Ayah!" Ledek Shaqa.
"Emang Abang anak siapa?" tanya Dimas iseng.
"Anak Mamah lah," jawab Shaqa dengan bangga.
"Tapi, kata mamah anaknya Tian, bukan Abang. Gimana dong?"
"Ayah!" Shaqa mengeratkan pelukannya pada sang Ayah. Dimas tau, dibalik sikap dan perilaku Shaqa yang sudah mulai remaja dan memgerti, dia tetaplah Shaqa yang ada di gendongannya 10 tahun yang lalu. Shaqa yang tidak bisa tidur, jika Dimas tidak ada di sampingnya. Dulu, ketika baru memiliki Dimas dia sangat kelimpungan, karena anak pertama. Dia selalu takut salah dalam memberikan asupan ataupun memperlakukan Shaqa. Dia takut, anaknya tidak tumbuh kembang dengan baik. Bahkan Dimas membeli buku panduan khusus mengurus anak pertama dan menjadi orangtua yang benar. .
Saat Lara mengandung Shaqa, dia mabok berat, susah untuk makan, benci dengan wangi-wangian. Beruntungnya tidak mengidam yang aneh-aneh. Hanya saja, hormonal ya sangat kuat. Dimas sih senang-senang saja.
"Sampai!"
"Kalian hati-hati ya, jangan berantem terus. Shaqa jagain adiknya."
"Siap Ayah," ucap mereka berdua kompak. Setelah keduanya masuk ke dalam sekoalh, barulah Dimas meninggalkan sekolah mereka.
Dimas terus berpikir keras, bagaimana membuat Lara kembali menjadi perempuan yang menurut lagi. Dia mengenal Lara bukan setahun dua tahun. Tapi sifat pembangkangnya kali ini, sulit untuk ditoleransi.
Dimas mampir ke rumah ibunya dulu, sekalian ikut sarapan di sana. Kebetulan ibunya masak banyak, karena siang hari akan ada tamu, sodaranjauh dari Bandung.
"Wahh rendang."
"Kamu ini, kayak gak pernah makan rendang aja,"
"Emang jarang, Lara biasanya bikin empal."
"Ya kan bisa beli."
"Malas, aku gak suka jajan."
"Enak banget ya Lara dapetin kamu, udah gak ngerokok, gak suka jajan, gak pernah neko-neko."
"Aku juga beruntung Bu, Lara itu istri dan ibu yang baik."
"Dulu, bapa Kamu kalau kasih ibu uang, ya cukup buat belanja, ibu juga gak pernah tuh dapat uang jajan sendiri. Makanya ibu selalu nurut sama bapakmu, supaya apa-apa diturutin."
"Jadi, kalau uangnya dipegang suami, istri akan nurut sama suami."
"Ya iya, apalagi kalau istrinya gak usaha kayak ibu waktu itu."
Seketika Dimas tercerahkan. Dia akan memakai cara ini, untuk membuat Lara kembali menurut padanya. Kebetulan, hari ini dia akan gajian.
Sementara itu, Lara menunggu di rumah. Dia belum merapihkan makanannya, teh manis hangat untuk Dimas juga masih utuh, dia pikir Dimas akan kembali setelah mengantarkan anak-anak sekolah. Tapi sudah satu jam lebih, Dimas belum kembali.
Lara kesal dengan sifat kekanak-kanakan Dimas. Akhir-akhir ini, Lara semakin merasa bosan dengan aktivitas yang dijalaninya. Lara juga jadi berpikir negatif terus. Dia mencari hiburan dengan bermain aplikasi itu. Diantara banyak teman, ada satu orang yang menurutnya sangat asik untuk diajak mengobrol dan bercanda.
Dari pesan-pesan singkat mereka, Lara merasa orang itu adalah orang yang baik, juga sopan. Dan yang jelas sangat humoris. Membuat Lara selalu tertawa. Dia merasa tehibur.
Dimas datang ke kantor. Dia memimpin apel pagi ini. Semua orang di toko tampak bahagia dan bersemangat. Karena hari ini gajian.
"Tumben Kamu rajin banget hari ini."
"Biasa gajian pak, handphone saya panas ditelpon dealer Mulu, mana kontrakan belum bayar, adik saya yang sekolah juga belum lunasin buat Study tour."
"Pantesan kamu semangat banget. Adik kamu Study tour? Masih SD?" Dia teringat anaknya.
"Iya, ngerengek terus dia. Untungnya udah biasa pergi sendiri kalau Study tour, jadi cuma bayar buat satu orang."
"Sd? Study tour sendiri? Yang benar kamu?" Tanya Dimas kaget.
"Kok bapak ngegas gitu, santai kali pak, kan biasa itu mah, saya juga waktu kecil begitu, emang bapak enggak? Atau jangan-jangan gak pernah ikut Study tour lagi?" Ledek Daniel pada Dimas.
Seketika Dimas diam. Dia mengingat-ingat, apakah dulu dia juga pernah Study tour atau tidak. Ya, dia pernah. Dan tidak didampingi ibunya, tapi kan Dimas bisa jaga diri, dia laki-laki. kalau Shaqa. Ya dia laki-laki juga, tapi Dimas sangat keberatan melepaskan anak sulungnya pergi sendiri.
"Pak Dim! Hello!" Daniel menggerak-gerakkan tangannyanya di depan Dimas yang terbengong.
"Kerja Daneil!" Perintah Dimas kemudian berlalu dari hadapannya. Daniel ingin sekali mengumpat. Yang mengajaknya berbicara itu kan Dimas, bukan dia, kenapa dia yang ditegur. Dasar bapak-bapak, umpatnya.
Sementara itu, Lara di rumah panik. Dia yang sedang chatingan dengan orang yang ber-user name Mr J itu, tiba-tiba orangnya menelpon. Lara bingung, harus mengangkatnya atau tidak. Ada rasa ingin mengangkatnya, namun dia takut jika dihipnotis. Kan banyak kejadian, ujung-ujungnya minta pulsa. Ada juga yang minta nomor rekening. Lara diam, berpikir sebentar. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Lara akhirnya menghilangkan pikiran-pikiran negatif, dia yakin bahwa orang itu adalah orang baik-baik. Akhirnya, Lara mengangkat telepon tersebut
#Hayooo kira-kira bicara apa ya?