Tetangga

1258 Kata
Lara mengumpat, dia baru saja hendak mengangkatnya, panggilan telepon itu terputus. Dan orang yang bernama Mr J itu mengatakan bahwa dia tidak sengaja menelpon, touchscreennya bergesekan dengan benda lain di dalam tas, berakhir dengan menelpon Lara, karena dia belum sempat mengeluarkan aplikasi tersebut, saat terakhir chatingan dengan Lara. Mr J berulang kali, meminta maaf, karena dia merasa telah mengganggu Lara. Dengan jahil, Lara berpura-pura marah. Semakin membuat Mr J merasa bersalah, padahal aslinya Lara tertawa bahagia, bisa menjahili orang itu. Wajar saja sih, jika Mr J ini tertarik dengan akun yang sedang dipegangnya. Foto yang dipajang juga foto Naura yang sedang duduk di cafe bagus. Dan yang pasti Naura itu cantik, dia selalu perawatan wajah dan rambutnya. Baju yang dipakai juga, baju-baju mahal. Dan yang pasti, Naura masih single. Lara berpikir, akankah nanti Mr J ini akan marah padanya. Karena telah dibohongi, atau malah jatuh cinta pada Naura. Karena dia pikir Lara adalah Naura. Belum juga diomongin. Si Naura telpon Lara. Katanya mau mampir ke rumah. Segala pake nanya Lara ada di rumah atau enggak. Padahal kan, tiap hari juga ada. Kata Naura, dia udah ada di depan perumahan. Tak lama, suara mobil terdengar berhenti di halaman rumahnya. Lara segera melihat ke jendela, dugaannya benar, itu suara mobil Naura. Lara kemudian membukakan pintu dan menyambut sahabat karibnya itu. "Ayo masuk Nau," ajak Lara. "Di sini aja Ra, nyaman di sini juga." "Jangan! Tetangga gue rese orangnya." Naura menengok kanan dan kiri. Perasaan tidak rumah sebelah pada sepi semua. "Masa sih, orang sepi banget gini." "Eh Bu Lara, tumben Bu ada di luar?" tanya ibu-ibu yang biasa kepo ke rumahnya. Tetangganya itu, baru pulang dari tukang sayur. Ajaibnya, tukang sayur datang jam 8, tetangganya itu pergi jam setengah delapan, pulang dari beli sayurnya jam 11. Bayangin dua jam setengah, cuma buat beli kangkung, tempe, ikan sama cabe doang. "Iya Bu," jawab Lara santai, dia tidak menjelaskan hanya tersenyum ramah. "Bu Lara takut banget ya sama kecoa, waktu itu sampai teriak-teriak, saya sampe kaget loh, pas ke sini, yang keluarnya pak Dimas. Pak Dimas kok keliatan kurusan ya sekarang, emang jarang makan di rumah. Hati-hati loh Bu," ujar tidak tetangganya sembari melirik ke arah Naura, dia sih santai banget. Karena gak merasa ngapa-ngapain. Lara hanya bisa menghela nafasnya. "Permisi ya Bu, Saya masuk ke rumah dulu, ayo Nau!" Ajak Lara, sembari menarik tangan Naura. "Mau ngapain emang Bu?" tetangganya yang kepo terus menanyainya. Padahal terserah lah, suka-suka dia, rumah-rumah dia. "Ngusir kecoa!" Teriak Lara, kemudian segera menutup pintu, Naura tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini, dia melihat ada tetangga sekepo itu. Lara memutar bola matanya. "Jadi, Lo percaya kan?" "Banget. Gue kalau punya tetangga begitu, mending pindah sih, mana bicaranya kayak petasan sunatan. Gak ada jeda begitu." "Makanya, biasanya Dimas terus yang ngeladenin kalau dia suka cari-cari perhatian ke sini. Biasa buat diomongin ke ibu-ibu komplek." "Kocak banget." "Udahlah, malah jadi bahas dia kan, tadi Lo mau ngomongin apa? Eh tunggu gue buatin air minum dulu." "Ya ampun Nau, kayak sama tamu aja. Yang berasa dan berwarna ya." "Bilao mau?" tanya Lara pura-pura kesal. "sekalian kalau punya cemilan atau kue di kulkas keluarin aja. Kebetulan belum sarapan nih." "Bangkrut gue, kalau punya tamu modelan Lo begitu," sindir Lara sinis. Dia bercanda, Naura juga tau itu. Lara membuatkan es teh manis. Dan cemilan yang dia olah sendiri dari tepung tapioka. "Cireng? Aduh tau aja sahabatnya suka banget ini." "Terpaksa." Naura justru tertawa melihat Lara yang terlihat kesal. Karena dia tau, jika Lara itu, baiknya bukan bercanda. "Jadi, Lo mau cerita apa nih?" tanya Lara penasaran. "LARA BANTUIN GUE. BAYANGIN SAMA LO GUE MAU DIJODOHIN. SUMPAH GAK MAU!" teriak Naura menggema di ruangan ini. Lara sampai tutup kuping. "Naura! Kalem dong. Emang laki-laki mana yang kurang beruntung itu, harus dijodohin sama Lo?" "Woy. Kok jahat sih, gue kan gak jelek-jelek amat," ujar Naura sembari mengambil kaca dari tasnya dan langsung mengaca. "Elah baperan amat." "Lagian. Gue tuh bener-bener kesel tau gak. Gimana dong Lara..., Bantuin gue dong, bilang sama Bunda Gue. Kalau anaknya belum mau nikah." "Naura. Lo kan udah kepala tiga. Emang udah saatnya. Jangan ditunda-tunda lagi, kasian nanti kalau Lo punya anak, anak Lo masih butuh ditemenin sama Lo, tapi Lonya udah tua." "Lara..., Gue takut." "Pernikahan itu Allah yang ngatur, panjang dan pendeknya hubungan. Sekalipun harus gagal, Lo maupun siapapun pendamping Lo kelak. Ya udah takdirnya. Asal Lo bener-bener yakin." "Lo sih enak, udah bisa lewatin 10 tahun itu. Kata orang, kalau udah bisa lewatin 10 tahun pernikahan. Semuanya jadi lebih mudah." "Omongan orang didengerin." "Lah, Lo juga orang kan?" "Naura! Gue serius." "Ya maaf, gue kesel deh. Kok ga ada yang berpihak ke gue sih. Pada jahat banget emang." "Bukan gitu, gue dan keluarga Lo, gak akan ngebiarin lo menua sendirian. Kami peduli, makanya pengen Lo segera nikah " "Andai ada pangeran, yang mau ngelamar gue, dan gue langsung suka sama orang itu. Gue mau deh." "Ngehayal terus. Mending terima aja perjodohan itu. Siapa tau orangnya seperti yang Lo bayangkan. Jodohkan jalannya dari mana aja." "Ogah. Masa iya, gue mau dijodohin sama duda, anaknya pertamanya aja udh SMA." "Siapa tau, dia waktu itu nikah muda." "Tetep gak mau, gak apa-apa deh, sama berondong aja mendingan daripada duda." "Jangan begitu loh, ucapan adalah doa." "Ya ampun, maafin-maafin." Naura panik sendiri, gimana kalau dia beneran dapet berondong. Dia akan dibuly teman-teman kantornya. Belum lagi, kalau jalan-jalan berdua pasti dilihatin, dan kalau ada acara sekolah anaknya nanti dia diomongin, nikah sama berondong. "Si oneng, malah bengong. Woy!" Lara mengagetkan Naura. "Gak mau." "Ngehayal melulu, heran deh. Udah, mending Lo makan cirengnya, keburu dingin." Naura mengangguk, lalu mulai memakan cireng itu, pada dasarnya Naura memang suka makanan yang digoreng-goreng. Dia suka yang garing dan pedas. "Lo gimana, jadi pakai akun gue?" tanya Naura sembari terus mengunyah cireng itu. "Jadi, ternyata bener ya, lumayan seru juga. Jehun gue sedikit terobati." "Emang sampe sekarang Dimas belom ngebolehin Lo keluar?" "Bulum." "Batu banget sih tuh orang, udah dibilangin juga." "Hah? Maksudnya Lo ngomong ke Dimas?" "Eum Dimas ngomong ke Lo?" "Enggak." Nuara jadi salah tingkah, dia tidak ingin Lara mengetahui kebaikannya yang satu ini. "Ouh, terus gimana? Lo gak bikin macem-macem kan? Kalau bisa kenalannya sama yang ganteng. "Gue gak tau, namnya Mr J. Tapi foto propilnya di pantai, kameranya menghadap ke dia, kesilau matahari. Dari tingginya ok, tapi rambutnya panjang, soalnya dikuncir gitu." "Anak indie?" "Gak tau, solnya kalau pagi, sama sore gue kan gak chatingan. Gue gak tau, dia suka ngopi atau enggak." "Terus?" "Gak ada terus, orangnya asik, humoris, dan berkarakter " "Kok bisa bilang gitu?" "Dari cara dia bicara aja tuh, keliatan. Apalagi sudut pandang dia terhadap sesuatu tuh luas. Gue suka." "Astaghfirullah, Lo gak niat selingkuh kan? Awas Lo ya!" "Ya enggak lah, sadar diri gue. Lagian gue cuma penasaran aja." "Hati-hati, semua berasal dari rasa penasaran, terus lama-lama pakai hati." "Kalau dia ganteng, gue akan kasih buat Lo, anggap aja. Lagi gue seleksi." "Masuk jadi pegawai negeri kali, segala diseleksi." Mereka berdua tertawa, dan saling melemparkan candaan. Lara tidak menyangka, baru Minggu lalu Naura datang, dengan bilang dia belum mau menikah. Tapi hari ini, sepertinya hati Naura sudah mulai melunak. Sebagai sahabat, Lara ingin melihat sahabatnya menikah dan punya anak. Kasian Naura, dia selalu dihantu rasa ketakutan untuk menikah. Padahal, tidak semenakutkan itu. Justru menyenangkan, jika keduanya bisa saling mengerti dan menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Dulu awal menikah Lara merasakan itu, sekarang saja, Dimas berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN