Angin berbisik pelan, mengembuskan kata-kata pelipur ke telinga Eleanor. Dedaunan pun bergemerisik, mengajak Eleanor agar berpaling dari nestapa. Sayang, gadis berambut pirang itu tidak memperhatikan keindahan yang ada di sekelilingnya; dia menangis, terisak. Hingga sebuah suara menyela, ″Menangis?″ Sejernih air, suara itu menggema dan menarik perhatian Eleanor. Maka gadis itu pun menampakkan wajahnya untuk pertama kalinya dan menatap sosok baru yang ada di depannya. Tepat di bawah pohon—tak jauh dari tempat Eleanor berada—seorang gadis berambut pirang tengah memperhatikan Eleanor. Gadis itu mengenakan pakaian indah yang dihias dengan aneka kuncup bunga mungil; babybreath tersulam di sepanjang rok dan lengan sang gadis. Kedua manik matanya berwarna hijau, tampak bagai oase di tengah pa

