Matahari mulai menampakkan wajahnya, sinar berwarna jingga menghias angkasa raya. Burung-burung bercicit riang sambil mengepak-ngepakkan sayap. Para petani mulai berangkat menuju ladang. Pasar tampak riuh dengan aneka penjaja dan pedagang yang menawarkan dagangan mereka. Pemandangan inilah yang lama tak pernah dilihat Eleanor. Dia bisa mencium aroma manis roti panggang yang bercampur dengan udara basah di pagi hari. Semua orang terlihat wajar, tidak ada wajah berkabung atas berita duka yang diperkirakan Eleanor. Tampaknya Alaskus belum mengetahui berita palsu mengenai kematian gadis bermata dewanya. Itu cukup menguntungkan Eleanor, dia bisa mengulur waktu untuk meninggalkan Winterland. Tidak ada satu pun orang yang mengenal Eleanor sebagai gadis terang sang pemilik berkat Serenity. Itu tidak mengejutkan mengingat bagaimana Alaskus melarang Eleanor meninggalkan biara. Itu juga merupakan keuntungan lain yang didapat Eleanor, rasa aman berbaur dengan masyarakat.
Eleanor menyempatkan diri bertanya pada salah seorang pedagang roti mengenai kereta kuda yang akan berangkat menuju barat. Si pedagang roti mengarahkan Eleanor kepada salah seorang pedagang tembikar. Pria pemilik kereta itu bersedia mengantar Eleanor sampai ke perbatasan, kebetulan pria itu juga ingin mengantar guci keramik pesanan seorang saudagar di Kota Silva. Maka, Eleanor pun menumpang kereta pedagang tersebut. Gadis itu hampir terkena serangan jantung saat dua penjaga menghentikan kereta di gerbang. Eleanor menarik tudungnya maju, berharap penampilannya tidak terlalu mencurigakan.
″Apa yang kaubawa?″ tanya salah seorang penjaga bertubuh tambun. Baju zirahnya tampak berkilau terkena sinar matahari pagi.
″Guci, piring, gelas, dan beberapa benda seni yang kubuat sendiri,″ jawab si pedagang mantap.
Penjaga yang bertubuh kurus menatap curiga ke arah Eleanor. ″Dan, siapa dia?″
Deg! Saat itu juga Eleanor merasa darah terkuras habis dari tubuhnya. Jika sampai si penjaga mengenali Eleanor, maka, segala upaya yang Nun Tua lakukan akan tersia-siakan.
Si pedagang tertawa dan berkata, ″Dia keponakanku yang ingin ikut berkunjung ke Silva. Katanya dia ingin melihat gaun-gaun cantik yang tidak ada di Near River.″
Dia berbohong? Dia menyelamatkanku?
Si penjaga tampak percaya saja dengan apa yang diucapkan pedagang itu. Tanpa ragu dia membiarkan rekannya untuk berteriak, ″Lewat!″ Membiarkan kereta itu melanjutkan perjalanannya. Begitu kereta berada jauh dari jarak dengar kedua penjaga itu, barulah Eleanor memberanikan diri untuk bertanya, ″Mengapa Anda berbohong?″
Pria itu mengelus janggut hitamnya yang lebat. ″Karena,″ jawabnya dengan nada tenang, ″jika aku berkata sebenarnya kepada mereka berdua, aku rasa itu bukan perbuatan yang bijak.″
Eleanor mengerutkan dahi. ″Aku tak mengerti.″
Tawa menggelegar keluar dari mulut si pria. Perut gendutnya bergetar ketika dia berusaha menghentikan tawa. ″Nak, ada begitu banyak hal di dunia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kenapa begini? Kenapa begitu? Yang kau tahu, kau hanya perlu melakukannya. Semudah itu.″
Tetap saja, Eleanor tidak mengerti alasan pria itu menolongnya. Sama halnya dengan alasan Nun Tua menolong Eleanor, gadis itu masih tak bisa memahami alasan di balik kerelaan wanita tua itu. Meski Eleanor hanya berkenalan dengan segelintir manusia, itu semua sudah cukup baginya untuk menilai manusia sebagai mahluk yang membutuhkan sebuah tujuan untuk menolong sesamanya. Entah tujuan itu bersifat murni, atau sekedar ilusi saja.
″Lagi pula,″ tambah si pria. ″Kau terlihat begitu ingin pergi ke barat.″
Eleanor tidak berkata apa pun, dia memilih diam dan memandang jalanan yang ada di depannya. Suara derap kaki kuda memenuhi kekosongan di antara mereka berdua. Terkadang pria itu bernyanyi dengan suara seraknya mengenai naga-naga yang mengikuti jalan seorang gadis. Melindungi mereka dari bahaya dan membebaskan gadis itu dari cengkeraman penjahat.
Andai saja aku memiliki naga yang seperti itu, batin Eleanor, naga yang bisa membebaskanku dari penderitaan.
***
Sesuai janji, pria itu mengantar Eleanor sampai ke tujuan. Awalnya Eleanor bermaksud untuk turun di perbatasan, namun pria itu menyarankan Eleanor untuk ikut bersamanya hingga ke Silva. Dan memang ada baiknya Eleanor mematuhi nasihat sang pedagang, waktu yang dibutuhkan bagi mereka berdua untuk menempuh perjalanan adalah sehari penuh. Di Silva, Eleanor setidaknya bisa mencari penginapan untuk bermalam sebelum ia kembali meneruskan perjalanan.
″Ini,″ ucap Eleanor sembari memberikan tiga keping perak yang dijanjikannya pada si pedagang.
″Tidak,″ katanya menolak. ″Kau lebih membutuhkannya daripada aku.″
Eleanor tidak mengerti. Pria itu menolak tiga keping yang menjadi haknya. Tapi Eleanor tidak ingin berutang budi, dia merasa perlu melakukan sesuatu untuk pria itu. Lalu, kilasan itu datang menghampiri Eleanor. Gadis itu bisa melihat si pria pergi seorang diri dan hanya ditemani dua ekor kuda cokelat yang menarik keretanya. Gerabah yang ada di keretanya sudah habis terjual. Pundi-pundi uang mengisi kantong-kantong sakunya. Kuda tiba-tiba meringkik dan segerombolan manusia bersenjata menghentikan pedagang itu. Suasana sekitar terlihat remang, Eleanor menebak peristiwa itu terjadi di malam hari. Terdengar suara teriakan si pedagang, dia terjatuh dari kereta dengan perut menganga. Pemandangan berganti dengan raut muram wanita bergaun hijau. Kedua putrinya menangis pilu mendapati sepucuk surat yang berasal dari seorang prajurit.
Kilasan menghilang dan Eleanor kembali ke ruang waktunya. ″Tuan, jika besok Anda berencana pulang. Saranku, usahakan Anda berangkat saat matahari ada di atas sana. Akan lebih baik jika Anda menyewa dua pengawal.″
″Memangnya kenapa?″
″Jika Anda tidak melakukan apa yang kusarankan barusan, maka Anda akan berakhir dengan pedang bersarang di perut. Tolong, tak apa jika Anda tidak peduli dengan ucapanku, namun lakukan ini demi istri dan kedua putri Anda.″
Sontak, pria itu langsung memucat begitu mengetahui bagaimana Eleanor menyebut kedua putrinya. ″Ba-bagaimana kau?″
″Anggap saja aku utusan dewa yang menginginkan salah satu manusia kesayangannya diselamatkan.″
Setelah berkata demikian, Eleanor berbalik dan menghilang dari pandangan pedagang itu.
***
Silva di malam hari terlihat mengagumkan, kota itu ramai dengan pedagang yang menawarkan beraneka benda; makanan manis, senjata, cermin dengan bingkai perak, pemerah bibir dan pipi, gaun beledu cantik, dan jepit rambut berbentuk bunga dahlia. Eleanor menyempatkan diri menghampiri salah satu kios. Pemilik kios tersebut adalah seorang wanita paruh baya berbadan subur. Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna cokelat. Kedua matanya berbinar bahagia melihat kedatangan Eleanor.
″Nona, lihatlah,″ katanya. ″Yang satu ini sangat serasi dengan kedua matamu.″
Wanita itu menunjuk sebuah jepit berbentuk hati dengan hiasan batu berwarna biru laut. ″Ini dipesan langsung dari kawasan utara,″ tambah si wanita. ″Batu-batu di sana terkenal cantik. Kau tidak akan menemukan yang seperti ini di mana pun juga.″
Eleanor hanya tersenyum mendengar celoteh riang si penjual. Benda itu memang sangat cantik, namun Eleanor tidak ingin membelinya. Uang yang dimilikinya terbatas, dia tidak bisa menghabiskannya secara serampangan.
″Benar,″ ujar Eleanor, ″ini memang sangat cantik. Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu.″
Selesai. Wajah riang penjual itu berubah masam mendengar ″tidak memiliki uang sebanyak itu″. Tanpa ada percekcokan, penjual itu membiarkan Eleanor pergi begitu saja.
Asing. Suasana perkotaan di malam hari terasa baru bagi Eleanor. Di Near River, Eleanor biasa menghabiskan waktu di dalam biara dan istana. Berdoa pada Serenity dan membersihkan altar sucinya. Kehidupan nun tidak ada yang istimewa, sedangkan hiruk-pikuk istana terasa menyesakkan. Raja yang ingin menguasai dataran Euthoria, perang akan terus dikumandangkan bagi siapa saja yang menolak kehendak Alaskus. Dan tampaknya, Silva sudah jatuh ke tangan Winterland, terlihat dari panji-panji yang menghias kota. Beruang putih berlatar biru tua, simbol kebesaran Winterland.
Andai saja mereka tahu alasan di balik kemenangan sang raja, mungkin mereka akan beramai-ramai menyerbu Near River dan membumihanguskan Winterland. Lalu, bagaimana dengan nasib para nun dan dirinya? Akankah raja yang baru bersikap arif dan adil? Atau, dia tak ada bedanya dengan Alaskus? Memaksa Eleanor untuk mengintip waktu.
Segera Eleanor menepis pikiran itu dari benaknya. Dia sudah bukan alat sang raja. Dia berada jauh dari Winterland. Tidak ada yang bisa memanfaatkan Eleanor lagi. Dia aman.
Eleanor memilih sebuah penginapan dan membayar untuk menginap semalam. Wanita pemilik penginapan itu bertubuh ramping dengan t**i lalat di ujung bibirnya. Wajahnya nampak ramah dan bersahaja.
″Apa ini pertama kalinya bagimu datang ke Silva?″ tanyanya kepada Eleanor.
Eleanor mengangguk. ″Iya.″
Eleanor merasa risih dengan tatapan beberapa pengunjung. Di istana, tak seorang pun berani menatap langsung Eleanor, kecuali Arkie. Ada sesuatu yang lain dari pemuda itu. Tak pernah satu kali pun Eleanor mendapati pandangan menuduh ataupun tatapan nakal tersemat di kedua mata hitam Arkie. Pemuda itu selalu bersahaja dan menyenangkan. Hanya saat berada di samping Arkie, Eleanor merasa menjadi manusia seutuhnya. Tidak ada pertanyaan mengenai masa depan, tidak ada yang meminta Eleanor untuk membaca takdir dari cermin kebenaran, dan tidak ada persyaratan apa pun. Hanya Eleanor dan Arkie. Namun itu sudah tidak ada lagi, yang tertinggal kini hanyalah bayangan dan kenangan memilukan.
″Dan kau pergi seorang diri?″
Pertanyaan wanita itu mengembalikan Eleanor dari lamunannya. ″Iya,″ jawabnya singkat.
Wanita itu mengerutkan kening. ″Wah, kau gadis yang sangat berani. Apa kau ingin mengunjungi seseorang?″
Biasanya Eleanor menganggap rasa penasaran seseorang itu merepotkan. ″Apa kau ingin ini?″, ″Apa kau ingin itu?″ Eleanor tidak tahu apa yang disukainya, namun satu hal yang dia pahami: dia tidak menyukai pertanyaan mengenai masa depan. Jadi, pertanyaan basa-basi yang dilontarkan si wanita pemilik penginapan terasa jauh lebih baik daripada pertanyaan Alaskus.
″Aku ingin menemui pamanku,″ dusta Eleanor. ″Jadi, aku tak bisa berlama-lama di sini.″
″Harusnya kau menghabiskan dua malam lagi. Besok dan lusa akan diadakan pesta kembang api untuk merayakan kemenangan Baginda Alaskus.″
Cairan empedu terasa naik ke tenggorokkan ketika wanita itu menyebut nama Alaskus di depan Eleanor. Sejauh ini pun nama itu masih menghantui kehidupan Eleanor.
Andai saja ada seseorang yang bisa menghentikan sepak terjangnya, pikir Eleanor muram.
Selepas itu, Eleanor meninggalkan si wanita pemilik penginapan. Dia memilih mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar yang dipesannya. Kamar itu sedikit lebih kecil dibanding dengan kamar Eleanor yang ada di biara. Kasurnya pun terasa keras dan sedikit berbau seperti kutu. Eleanor curiga ada mahluk lain yang menghuni ranjang tersebut. Eleanor kemudian membentangkan peta yang didapatnya dari Nun Tua. Cahaya dari lampu minyak cukup memberikan penerangan untuk Eleanor membaca tanda-tanda yang ada di peta. Nun Tua hanya menyebutkan sebuah nama yakni, Dataran Hijau. Telunjuk Eleanor menyusuri gambaran sungai dan pegunungan yang mengelilingi Winterland, lalu dia berhenti pada suatu titik.
″Dataran Hijau,″ bisiknya.
Letaknya cukup jauh dari Silva, sementara Eleanor baru menempuh perjalan tak sampai setengahnya. Jarak tidak menyiutkan nyali Eleanor, yang menjadi masalah adalah tempat-tempat yang harus dilewatinya. Bukit Berduri, namanya saja cukup membuat Eleanor merasa mulas. Dia pernah membaca perihal buruk mengenai tempat yang tak terjamah tangan manusia.
Makhluk-makhluk pucat dengan wajah rupawan menghuni dataran itu.
Serigala perak berburu dan membaui udara dengan rasa takut.
Di sana sunyi, tidak ada yang menyangka apa yang disembunyikan oleh kesunyian itu.
Siang hanya dipenuhi oleh aroma pekat kematian.
Sedang malam hanya diisi dengan perjamuan darah.
Di sinilah semua ditentukan.
Eleanor membenci hobi membacanya. Seharusnya dia memilih buku yang lebih bermanfaat daripada sekadar fabel.