Babak Empat

1648 Kata
Bentangan padang putih terlihat menyatu dengan langit kelabu yang ada di angkasa. Tidak ada tanaman, yang ada hanya salju dan awan berwarna muram. Lalu di antara langit dan dataran dingin, berdirilah seorang gadis berambut pirang. Eleanor menatap langit, kemudian dia menunduk melihat kedua kakinya yang tak beralas. Salju terasa hangat di kulit. Tiada kedinginan yang membekukan, atau mungkin tak terasa. Yang mana pun, Eleanor tidak peduli. Gaun merahnya terlihat mencolok di antara warna putih yang mengitarinya. Semerah kelopak mawar yang mekar di musim panas. Semerah darah yang mengalir di nadi. Semerah nyala api. Semerah api. Api.... Lalu Eleanor melangkah maju mengikuti percikan api yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Percikan berbentuk bunga-bunga mungil nan indah. Perlahan tetapi pasti, Eleanor mengikuti jejak-jejak kecil yang tercipta untuknya. Hanya untuknya. Percikan pun menghilang berganti dengan percikan lainnya. Dari setitik api mungil kemudian berubah menjadi kumparan api besar. Dari dalamnya Eleanor melihat sepasang sayap berwarna merah. Sepasang sayap megah yang membentang luas, seolah langit akan runtuh jika tersentuh ujung sayap itu. Sisik-sisik yang berkilau bagai cahaya senja, memancarkan sinar bak mutiara. Sepasang mata berwarna violet menatap langsung ke arah Eleanor. Indah dan menakutkan. Eleanor hanya bisa terdiam melihat pesona yang dipancarkan mahluk tersebut. Dia maju selangkah demi selangkah, mencoba menyentuh ujung kepala si mahluk agung. Rasa hangat merambat melalui jemari Eleanor. Hangat.... Hangat.... Hangat.... Kedua sayap itu memunculkan titik-titik cahaya berwarna merah. Cahaya itu menari-nari di sekitar Eleanor. Berpendar lembut bagai kunang-kunang. ″Siapa kau?″ tanya Eleanor. Mahluk itu diam tak bergeming. Kedua matanya menatap Eleanor. ″Siapa kau?″ Sosok itu tiba-tiba memudar lalu menghilang dalam kehampaan udara, meninggalkan Eleanor seorang diri. Lalu Eleanor mendengar suara lain, suara seorang wanita. ″Eleanor,″ panggil suara halus tersebut. Gadis berambut pirang itu pun berbalik, dan tepat di hadapannya, muncullah sesosok wanita bersayap. Rambut panjangnya melayang di sekitar tubuh rampingnya. Kedua mata hijaunya menatap sendu Eleanor. Bulu-bulu putih menyilaukan yang ada di sayapnya seolah akan gugur meninggalkan kerangka sayap yang ada di punggungnya. ″Bukan seperti ini caranya,″ ucap sang wanita bersayap. ″Siapa kau?″ Angin dingin menerpa wajah Eleanor, lalu tangan-tangan tak kasatmata menarik Eleanor ke dalam bumi. Tubuhnya terasa berat, seolah tenaga yang ada di dalam dirinya telah sirna. Perlahan-lahan, cahaya menghilang dan Eleanor hanya bisa melihat.... Kegelapan! Eleanor terbangun di pagi hari dengan keringat dingin yang membanjiri tubuh. Kilasan singkat dalam mimpi yang terasa membingungkan. Bukan masa depan, bukan pula masa lalu. Tak tahu harus menerjemahkan mimpi itu ke dalam apa. Sebuah pertanda? Peringatan? Ataukah jawaban dari doanya? Rasa rapuh kembali menyerang Eleanor. Dia tidak ingin kembali ke istana. Bagaimanapun juga, inilah keputusan yang telah diambilnya. Dia tidak bisa kembali berjalan memutar. *** Silva di pagi berikutnya terlihat berbeda. Mawar putih nampak menghias jendela dan ambang pintu. Mawar putih, penanda kesedihan ... belasungkawa. Tak perlu kemampuan dewa untuk menebak gerangan maksud dari penempatan mawar-mawar tersebut, Eleanor tahu maknanya: Alaskus tengah berduka. Lega, semua berjalan sesuai dengan arahan Nun Tua. Anehnya Eleanor merasa gelisah, apa pun bisa terjadi, hal buruk bisa saja datang menghampiri. Tanpa perlu berpikir dua kali, Eleanor segera meninggalkan penginapan dan bergegas menuju Bukit Berduri. Menyusuri jalan setapak menuju Barat, dia berjalan kaki dan berusaha menikmati udara pagi. Walaupun tidak ada gerbang penjagaan yang memisahkan wilayah Silva dengan daerah selanjutnya, Eleanor yakin bahwa perjalanannya tak akan mudah. Andai saja Eleanor memiliki kemampuan bela diri, mungkin dia tidak akan merasa khawatir. Beberapa pemuda yang melihat Eleanor, mereka tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari paras rupawan gadis itu. Tatapan mereka terasa begitu menusuk, tak nyaman. Eleanor menaikkan tudung roquelaire-nya, berharap manusia-manusia itu segera mengalihkan pandangan. Tas kain tersembunyi di balik roquelaire merahnya, jemari Eleanor meraba kertas kusam yang ada di dalam tas. Harapanku, ucapnya dalam hati, satu-satunya harapanku. Jika Eleanor bisa berkuda, mungkin perjalanannya tidak akan begitu berat. Beberapa kali dia mengeluh mengenai kedua kakinya yang mulai berdenyut hebat, namun rasa sakit itu hilang ketika ia melihat sebuah gerobak kayu yang ditarik dua ekor keledai. Pemilik gerobak mempersilakan Eleanor untuk menumpang. Eleanor tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia duduk di antara jerami kering yang ada di dalam gerobak. ″Terima kasih,″ katanya pada si pria tua. ″Nona, ke manakah tujuanmu?″ tanya si pria renta. Pria itu bertubuh kurus dengan jaringan kulit yang terlihat lembek. Eleanor merasa pria itu bukan tipikal manusia yang tega memberikan derita pada orang lain. ″Aku ingin pergi ke Barat,″ jawab Eleanor. ″Itu jauh sekali. Kau harus melewati Bukit Berduri. Percayalah, kau tidak akan menyukai tempat itu.″ ″Aku tahu.″ Eleanor merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya, rasanya hangat dan menyejukkan. Pepohonan yang ada di kanan dan kiri terasa bagai lorong tak berdasar, ranting-ranting terbentang luas di atas kepala Eleanor, dan daun-daunnya berwarna oranye. ″Setidaknya tempat itu tidak seburuk Winterland.″ Si pria terkekeh. ″Nona, wali kota Silva menyerah tanpa syarat kepada Winterland. Orang-orang menyebut keputusan sang wali kota sebagai tindakan pengecut, namun aku berpikir berbeda. Untuk apa pertumpahan darah? Pemimpin itu hanya menginginkan kekuasaan, dan itu hal wajar yang dimiliki manusia.″ ″Raja Winterland tidak menyerang Silva?″ ″Tidak,″ jawabnya. ″Silva tidak memiliki prajurit cakap. Ah, lupakan perbincangan mengenai Alaskus. Aku baru ingat bahwa Winterland tengah berduka, entah untuk siapa.″ Untukku, ucap Eleanor dalam hati. *** Pria itu tidak berani memasuki kawasan Bukit Berduri. Terpaksa Eleanor meneruskan perjalanan seorang diri. Padahal jika dilihat lebih dalam, bukit itu tampak tak berbeda dengan bukit lainnya; hanya ditumbuhi pepohonan biasa dan semak belukar. Hutan, hanya hutan biasa. Eleanor melangkah masuk ke dalam hutan. Udara sekitar terasa dingin, namun Eleanor memaksakan diri untuk berpikir positif. Sayang, bait-bait murung mengenai dunia yang tak tersentuh fana kembali terngiang. Tersembunyi di balik semak hitam. Sesuatu yang pekam. Langkahmu akan diawasi. Kebahagianmu akan ditangisi. Kau bertanya pada gerangan yang murung itu. Apakah dia mengenalmu? Apakah dia menginginkanmu? Sayang, dia tak menjawab. Dan air mata hitam yang jatuh di atas bumi. Menyebar dan meresap ke dalam akar. Bertumbuh menjadi sebatang keraguan. Ya ... keraguan yang akan membutakan jalanmu. Inilah pertama kalinya Eleanor menyesal menghabiskan waktu di perpustakaan. Dari sekian banyak tulisan yang bisa diingat, kenapa bait muram itu terus melekat di kepala Eleanor? Eleanor menepuk pelan kedua pipinya, berusaha mengusir pikiran jahat yang bersarang di benaknya. Ini hanya hutan, tegasnya, hutan biasa. Pepohonan besar menghalangi cahaya surya menyentuh bumi. Bebatuan berlumut membuat Eleanor harus melangkah berhati-hati, dia tidak ingin membuat dirinya jatuh terpeleset. Dan yang terpenting: dia tidak ingin bermalam di dalam bukit. Tak peduli meski harus berjalan sepanjang hari, Eleanor ingin segera keluar dari hutan tersebut. Samar-samar Eleanor mendengar suara gemerisik. Sensasi dingin menyentuh pundaknya, kedua kaki Eleanor tak mampu bergerak. Suara gemerisik itu terdengar semakin kencang, mau tak mau Eleanor menoleh ke sumber suara. Sesemakan rimbun bergerak-gerak. Napas Eleanor terasa terhenti, bahkan ia bisa mendengar suara degub jantungnya. Apa pun itu, Eleanor bersiap dengan kedatangan mahluk tak diundang itu. Dan ternyata yang keluar dari dalam semak hanyalah seekor kelinci putih. Kelinci putih yang sangat gemuk dengan mata berwarna merah. Eleanor mendesah lega, bukan beruang. ″Ternyata kau,″ katanya. Eleanor mengangkat kelinci putih itu ke dalam gendongannya. Bulu-bulunya terasa lembut. Ini pertama kalinya setelah sekian lama dia tak menyentuh binatang berbulu putih dan mungil, di biara dia tak pernah diizinkan memelihara kucing, anjing, hewan apa pun. Para nun menganggap hewan-hewan itu akan mengotori biara. ″Yah, setidaknya kau bisa menemaniku.″ Kumis kelinci itu bergerak-gerak seolah setuju dengan permintaan Eleanor. Eleanor kembali melanjutkan perjalanan bersama teman barunya: si kelinci putih. Pemandangan yang didapatnya hanyalah pohon satu, pohon dua, pohon tiga, pohon empat, dan pohon lagi. Meski malu untuk mengakui, Eleanor tahu bahwa dia tersesat. Tak tahu sudah berapa lama dia berada di dalam sana. Ingin rasanya Eleanor memanjat pohon tertinggi dan memastikan jalan keluar yang harus dipilihnya, namun kulit pohon yang mengitarinya ditumbuhi dengan lumut dan tanaman berbunga kuning. Dia tak tega merusak vegetasi yang ada di hutan. Mencoba peruntungan, Eleanor memilih jalan lain dengan harapan jalan yang dipilihnya adalah jalan keluar. Ujung roquelaire-nya bergesekkan dengan sesemakkan yang ada di sekitarnya. Beberapa kali dia harus menarik ujung roquelaire-nya yang tersangkut. Rasanya seolah hutan tidak ingin melepaskan Eleanor. Lalu, ketika roquelaire-nya tersangkut untuk sekian kalinya, Eleanor membatu. Di sekelilingnya terdengar suara geraman, awalnya rendah namun kian lama terdengar nyaring. Eleanor memeluk erat kelinci putih yang ada dalam gendongannya, seolah kelinci itu akan berubah menjadi pahlawan yang akan menyelamatkannya. Lalu, Eleanor bisa melihat sinar merah di antara pepohonan. Berpasang sinar merah yang terlihat seperti sorot mata, memandang Eleanor dengan penuh minat. Beberapa kali Eleanor menelan ludah, kedua kakinya gemetar. Dia semakin erat memeluk kelinci putih yang ada dalam gendongan. Tak lama kemudian suara lolongan terdengar saling sahut-menyahut. Itu merupakan tanda bagi Eleanor untuk segera berlari. Dengan napas terengah-engah, Eleanor berusaha menyelamatkan diri dari makhluk-makhluk yang menginginkannya. Kain roquelaire-nya berserobot dengan sesemakan ketika Eleanor berusaha melewati sesemakan. Suara salakan terdengar riuh membahana, dan Eleanor tahu apa pun yang mengejarnya tak akan melepaskan Eleanor begitu saja. Kelinci putih hanya menatap sendu gadis yang berusaha menyelamatkan diri. Mata Eleanor menatap nyalang kala dia mendapati tebing yang berdiri kukuh di depannya. Terpojok. Eleanor membalikkan badan, berusaha berlari memutar namun... dia terlambat. Para pengejarnya telah berkumpul dan mulai menampakkan diri. Sosok-sosok berwarna hitam keluar dari dalam semak-semak. Serigala, tebak Eleanor. Mahluk itu menggeram jengkel kepada Eleanor. Taring putih yang siap mengoyak daging itu tampak lapar akan tetesan darah. Mereka mengelilingi Eleanor, bersiap menyerang. Kelinci pun bergerak-gerak gelisah dalam dekapan Eleanor. Lumpuh. Eleanor duduk bersimpuh sembari memeluk erat si kelinci putih. Salah satu serigala mendekati Eleanor. Pada saat itu, Eleanor hanya bisa diam ketika si serigala mencondongkan diri mendekati Eleanor. Gadis itu bisa melihat betapa pekamnya bulu-bulu sang serigala. Moncong hidung si serigala mengendus aroma Eleanor, mengira-ngira rasa si manusia. Kedua mata biru Eleanor menatap horor kedua sorot merah menyala. Dia bahkan bisa mencium aroma darah yang menempel di tubuh serigala tersebut. Tidak, jerit Eleanor, tidak! ″Dia milikku,″ ucap sebuah suara memecah keheningan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN