Di tengah kepanikan akan kepungan serigala hitam, tiba-tiba muncul seorang pemuda. Anehnya, para serigala memilih mundur dan menggeram jengkel ke arah si pendatang. Eleanor bisa melihat kilat kesal di mata hewan buas itu. Makhluk-makhluk itu kembali membaur bersama kegelapan, menghilang dan meninggalkan gema riuh geraman.
Tidak mengerti, namun Eleanor merasa lega karena serigala-serigala tersebut memilih meninggalkannya.
Eleanor bangkit dan bermaksud mengucapkan terima kasih, namun si pemuda berkata dengan nada posesif, ″Milikku.″
″Maaf?″
Pemuda itu melangkah keluar dari balik bayangan pohon, dan ketika cahaya matahari berhasil lolos di antara celah dedaunan rimbun dan menyentuh si pemuda dengan sinarnya, Eleanor menatap takjub. Pemuda itu memiliki warna rambut bagaikan bara api, helaian rambutnya seperti ujung rumput yang tajam. Dan yang lebih membuat Eleanor terpana adalah mata si pemuda. Sorot mata violet yang begitu menghipnotis, seolah tak satu pun makhluk di dunia ini yang sanggup berpaling darinya. Kerupawanan yang dimiliki pemuda itu terlihat ganjil, seolah dia merupakan perwujudan dari dewa yang turun ke bumi. Tak satu pun cela menghias wajahnya, semua terlihat sempurna. Terlalu sempurna untuk ukuran seorang fana.
″Kau membawa milikku,″ ucap si pemuda sembari menunjuk kelinci putih yang ada dalam gendongan Eleanor.
″Oh, apakah dia peliharaanmu?″
″Bukan,″ jawabnya. ″Dia makananku.″
Seakan paham dengan maksud si pemuda, kelinci itu kembali meronta.
″Apa?″ pekik Eleanor
″Itu milikku,″ ucap si pemuda sembari mengulurkan tangan. ″Kembalikan.″
″Tidak,″ ucap Eleanor defensif. Kedua lengannya memeluk erat si kelinci putih. Dia tak akan membiarkan pemuda itu mengambil kelinci itu darinya. ″Aku tak akan memberikannya padamu.″
Eleanor berlari menjauh meninggalkan pemuda itu, tak peduli jika dia bertemu kembali dengan para serigala, Eleanor hanya ingin menyelamatkan teman barunya. Angin menyibak tudung merah Eleanor, menampakkan helaian rambut berwarna pirang keemasan. Napas Eleanor tersengal karena tak terbiasa mengolah fisik. Dia benar-benar mengutuk keberadaan Bukit Berduri dan segala makhluk yang menghuninya. Lalu, Eleanor merasa sesuatu yang kuat menarik kerah roquelaire-nya. Tanpa daya dia tertarik ke belakang dan secara tidak sengaja melepaskan si kelinci putih. Makhluk mungil itu langsung meloncat bebas dan menyembunyikan diri di antara semak-semak, meninggalkan sang penolong jauh di belakang.
Kini tinggallah Eleanor di tangan si pemuda. Jantung Eleanor berdegub kencang memompa darah ke seluruh tubuh. Pemuda itu mencengkeram erat kerah roquelaire, dibaliknya tubuh Eleanor hingga ia menatap kedua mata sebiru langit. ″Dan,″ katanya dengan nada yang dipenuhi ancaman. ″Apa yang harus kulakukan? Makananku hilang.″
Eleanor berusaha terlihat tenang, walaupun itu mustahil. ″Yah, kau bisa mencari buah-buahan.″ Buru-buru Eleanor menambahkan, ″Mungkin.″
Senyum sinis menghias wajah rupawan si pemuda. ″Mungkin?″
″Dia terlalu kecil. Tidak akan mengenyangkan.″
″Ya,″ ucap si pemuda membenarkan. ″Dia terlalu kecil, sementara kau bisa menggantikannya.″
Panik kembali melanda. Ingin sekali Eleanor segera terbebas dari cengkeraman si orang asing. Entah bagaimana, dia tahu bahwa si pemuda tidak bercanda. Ada sesuatu yang terasa purba dalam diri si pemuda. ″A-aku,″ ucap Eleanor terbata. ″Aku tidak bisa.″
″Mengapa tidak?″
″Karena aku bukan makanan,″ tukas Eleanor.
Pemuda itu mendorong Eleanor hingga punggung Eleanor membentur permukaan pohon. Eleanor meringis merasakan nyeri yang berdenyut di punggung. Lalu tangan yang mencengkeram kedua lengan Eleanor; rasanya panas, meski tiada api yang membakar kulit lengan Eleanor.
″Manusia,″ tekan si pemuda. Sorot matanya begitu menghunjam, seolah hanya dengan tatapan saja pemuda itu mampu membakar Eleanor. ″Bagiku, kau tak ada bedanya dengan makanan.″
Eleanor ingin bertukar posisi dengan kelinci putih. Sesal, mengapa dia berbuat bodoh dengan menantang manusia yang lebih kuat darinya. ″Aku tidak mengerti.″
Eleanor memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan si pemuda. Namun pemuda itu tak membiarkan Eleanor berbuat demikian, jemari ramping memaksa Eleanor kembali menatap dua sorot tajam berwarna violet. Dari dalam kedua mata itu Eleanor mendapat kilasan; sesosok naga perkasa berwarna merah yang terbang bebas ke angkasa, dia menguasai lautan dan daratan yang ditinggalinya. Lalu api membakar bangunan, membunuh manusia yang berusaha melawan sang naga, menghancurkan pegunungan hijau, dan merubah istana megah menjadi serpihan debu. Kilasan berganti dengan sosok naga putih yang menjatuhkan naga merah tersebut ke dalam samudra. Naga itu kembali ke permukaan dalam wujud seorang pemuda tampan.
Naga ... naga yang ada dalam mimpiku.
Dengan sekali lihat saja Eleanor mengenali kilasan yang didapatnya. Mimpi di padang bersalju, dan mahluk menawan yang memandang Eleanor dengan penuh keagungan. Sosok dalam mimpinya kini berdiri di hadapannya. Begitu dekat ... begitu nyata. Gigilan dingin menjalari tulung punggung Eleanor, mengetahui arti dari mimpinya sendiri membuatnya gundah. Bimbang, tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan amarah sang naga.
″Manusia,″ panggil si pemuda dengan suara emas.
Eleanor kembali tersentak ke dunia nyata, dunia di mana ia kini berada dalam cengkeraman sang naga yang berwujud manusia. Kedua kaki Eleanor seolah kehilangan kekuatan, meski kedua lututnya ingin sekali roboh dan menghantam tanah yang ada di bawahnya, tubuh Eleanor terkunci dalam cengkeraman sang naga.
Pahamlah sekarang dia, alasan kepergiaan para serigala.
″Naga,″ kata Eleanor. ″Naga merah.″
Pemuda itu mengerutkan kening. Sorot lapar yang tadinya berputar di dalam matanya kini berganti dengan rasa penasaran. ″Bagaimana kau tahu?″ Jemarinya masih tak beranjak dari dagu Eleanor, ujung jemari terasa menekan kulit Eleanor. Sementara tangan yang lain mencengkeram erat lengan Eleanor.
″Aku melihatnya,″ jawab Eleanor.
″Benarkah?″ Pemuda itu semakin menghimpit Eleanor. Tidak memberikan sedikit pun ruang bagi Eleanor untuk bergerak.
Mati-matian Eleanor mengabaikan perasaan panik yang menyerang. Dia tak berani mendorong sang pemuda, takut akan kekuatan kuno yang ada di dalam raga fana sang naga. ″Aku berkata jujur. Dahulu wujudmu tidak seperti ini ... lalu datang seekor naga putih dia—″ Belum sampai Eleanor menyelesaikan ucapannya, pemuda itu menyusuri lengan Eleanor dan kemudian menekankan ibu jarinya. Rasa panas menjalar di tengkuk Eleanor. ″Hentikan!″
″Memangnya kenapa?″
″Kau menyakitiku.″ Eleanor berusaha meronta, namun dia kalah tenaga. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Hidupnya ada di dalam genggaman si pemuda. ″Hentikan! Bukankah naga mahluk yang dipenuhi dengan kebijaksanaan?″
″Yah, kebijaksanaanku berbeda dengan kebijaksanaan yang kauharapkan.″
Eleanor harus melakukan sesuatu. Apa pun, asalkan dia bisa bebas. ″Tidakkah kau berharap kembali ke wujud aslimu?″
Pemuda itu kembali menampilkan senyum sinis. Anehnya senyum itu justru membuatnya terlihat semakin tampan. Eleanor bimbang, apakah kerupawanan sang pemuda yang membuatnya gemetar? Atau mungkin karena wibawa agung yang dimiliki sang naga?
″Manusia,″ kata si pemuda. ″Kau berusaha merayuku?″ Telunjuknya mulai menelusuri pelipis Eleanor. Dia bisa merasakan denyut di bawah kulit yang disentuhnya.
″Aku tidak merayumu,″ tukas Eleanor.
Sebagai seorang gadis yang hidup di antara nun, dia tidak pernah diajari untuk melakukan hal-hal tak terpuji. Dia tidak pernah berinteraksi dengan lelaki mana pun, kecuali, saat Alaskus memanggilnya untuk membacakan masa depan melalui cermin kebenaran. Lalu, tiba-tiba saja Eleanor teringat dengan Arkie. Pemuda yang memiliki tempat istimewa di hatinya. Eleanor teringat saat di mana mereka bertemu secara diam-diam di bawah pohon persik. Ingatan itu membuat kedua pipi Eleanor merona.
Melihat rona merah yang muncul di wajah Eleanor, pemuda itu pun berkata, ″Jangan berdusta.″
″Aku dibesarkan di kalangan nun, aku tidak pernah diajari untuk berkata dusta. aku—″
″Kau tertarik padaku.″
Eleanor ingin sekali mengubur dirinya sendiri. Bagaimana bisa pemuda itu berpikir demikian mengenai Eleanor? ″Aku?″ ucapnya terkejut. ″Tidak!″
Pemuda itu mengerutkan kening, tidak menyadari penolakan Eleanor. ″Kalian begitu mudah dibaca.″
″Sudah kukatakan kau salah sangka. Tolong, lepaskan aku. Ada hal penting yang harus kulakukan. Aku adalah nun.″ Ragu, rasanya dia tak ingin bercerita perihal masa lalunya. Lalu rasa nyeri kembali melanda tangannya. ″Hentikan! Jangan menyentuhku!″
″Nun,″ katanya. Pemuda itu mencoba menerawang sesuatu di dalam benak Eleanor. ″Aku tak pernah berjumpa mereka. Dan kau tak terlihat seperti seorang wanita pemuja Serenity.″
″Akankah kau melepaskanku jika kukatakan bahwa kau bisa kembali ke wujud aslimu?″
Pemuda itu tersenyum. Dingin dan memikat. ″Memangnya, apa yang bisa kautawarkan padaku?″
″Kebebasan,″ jawab Eleanor.
Pemuda itu terlihat sangsi dengan keyakinan Eleanor. Ibu jarinya menekan pelan dagu Eleanor. Dia bisa melihat sorot mata biru yang tak tergoyahkan. ″Kebebasan?″
″Aku manusia yang dikutuk dengan mata dewa. Berkat terang pemberian sang dewi agung, dewi pemilik terang, Serenity. Aku menginginkan kutukan ini diangkat dariku. Aku melarikan diri dari Winterland dan berusaha mencari sebuah bunga bernama elysium. Jika bunga ini bisa menyelamatkanku, aku yakin bunga ini juga bisa mengangkat kutukan sang naga putih.″
Penawaran inilah yang bisa diberikan Eleanor. Dia berharap sang naga akan tertarik dan bersedia melepaskannya, dan mungkin, bisa saja sang naga membantu Eleanor menemukan elysium.
″Kau percaya pada sebuah dongeng?″ sindir pemuda itu.
″Aku percaya pada sebuah harapan.″
Pemuda itu mulai sedikit melonggarkan cengkeraman tangannya. ″Dan kau percaya bahwa elysium akan mengangkat berkat terang Serenity?″
″Aku percaya,″ jawab Eleanor mantap.
″Dan kau berharap aku percaya sebagaimana dirimu memercayainya?″
″Aku tidak ingin melarikan diri lagi. Tidak kali ini. Aku kehilangan seseorang yang begitu penting. Itu semua karena aku tidak melakukan apa pun, dan kali ini aku memutuskan untuk tidak melarikan diri. Aku akan bertanggung jawab atas hidupku. Aku ingin bebas. Dan aku yakin, kau pun akan kembali ke wujud hakikimu, bukan sebagi seorang manusia, melainkan naga.″
Mereka berdua saling memandang. Pemuda itu mencoba menilik Eleanor, menimbang tiap ucapan yang keluar dari bibir mungilnya. Hingga akhirnya dia melepaskan Eleanor dan berkata, ″Menarik. Naga yang dikutuk dan seorang gadis yang terkutuk. Tampaknya ini akan menjadi perjalanan yang tak terlupakan.″
Lega. Akhirnya Eleanor bisa merasakan kedua tangannya yang bebas. Tidak ada lagi tatapan yang membuat pipi panas dan yang terpenting: pemuda itu tidak akan memakannya.
″Jadi,″ tanya Eleanor, ″kau akan ikut bersamaku?″
″Tentu saja.″
Eleanor bingung harus bereaksi seperti apa. Awalnya dia membayangkan menempuh perjalanan seorang diri, namun kini dia mendapatkan teman baru dalam perjalanan.
″Manusia,″ panggil si pemuda. ″Panggil aku Natas.″