Akibat Angga yang mengiriminya foto laknat milik dirinya dan Raline. Adjie melampiaskan amarahnya kepada semua karyawannya di kantor, membuat seluruh karyawan di kantornya tidak betah. Adjie mengamuk di rapat, membentak semua pekerja yang melakukan kesalahan meskipun itu hanya kesalahan sepele. Tapi Adjie benar-benar memarahinya, bahkan anak magang yang baru bekerja dua hari di sana merasa tidak sanggup lagi. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa karyawan yang sudah kebal terhadap Adjie yang seperti ini. Mereka bahkan sudah biasa jika Adjie mengamuk atau membentak mereka, anggap saja itu sepadan dengan gaji yang mereka dapatkan.
Dan Andre yang yang sering mendapat amukan dari Adjie pun hanya bisa bersabar. Angga kembali berulah yang berdampak Adjie semakin menggila, kegilaan Adjie akan ditularkan pada semua karyawannya. Tidak ada yang boleh keluar dari kantor jika pekerjaan mereka belum selesai atau melakukan kesalahan. Yang membuat beberapa dari mereka lembur, jika berstatus singel sih tidak masalah. Tapi jika sudah menikah, urusannya runyam sering dicurigai istri atau suami jika tidak pulang tepat waktu. Tapi sepertinya Adjie tidak peduli, karena jika para karyawan kantornya lembur dia akan tetap memberi bonus lemburan. Adjie tidak sepelit itu, justru dirinya malah loyal maka dari itu banyak dari karyawannya yang betah bekerja di sini meskipun Adjie selalu marah-marah.
"Kenapa kau tidak menyuruh Alanis keluar saja dari kantor Angga?" tanya Andre setelah melihat Adjie yang baru saja memarahi bawahannya.
"Itu sulit, dia sudah lama bekerja dengan Angga. Dan tiba-tiba saja aku menyuruhnya keluar? Tidak, dia akan membunuhku jika aku memintanya keluar."
"Ck menyedihkan, kau benar-benar takut pada wanitamu." ejek Andre yang membuat Adjie mendelik ke arahnya.
"Lalu, bagaimana dengan Angga? Apa dia akan benar-benar memberikan foto tersebut pada Alanis dan Papa mu?" tanya Andre lagi.
Adjie menghela napasnya berat, mendorong tubuhnya kebelakang dengan keras membuat kursinya terantuk tembok.
"Dia pasti akan melakukannya cepat atau lambat, untuk menjadikan Alanis menjadi miliknya dan menghancurkanku."
Andre menghela napasnya kasar, masalah yang dimiliki Adjie begitu pelik. Menjadi musuh Kakak sendiri, Papa yang selalu menuntut sempurna dan selalu membanding-bandingkan Adjie dan Angga. Mungkin hanya sang Mama yang berada di posisi netral, karena mau bagaiamana pun juga Adjie dan Angga anaknya.
"Jadikan Alanis milikmu dan buat kekasihmu itu keluar dari kantor Angga." usul Andre yang membuat Adjie menatapnya dalam.
Menggelengkan kepalanya, Adjie membalas pertanyaan Andre. "Ini rumit, Alanis menginginkan Raline yang menikah terlebih dahulu."
Mata cokelat madu milik Andre membelalak tak percaya. "Astaga! Apa yang dipikirkan kekasihmu itu, bagaimana jika ucapannya terkabul dan kau yang menikah dengan Raline bukan dirinya yang menikah denganmu." serunya heboh yang mendapat tatapan mematikan dari Adjie.
"Tutup mulutmu, b******k! Siapa yang akan menikahi wanita gemuk itu!" sahutnya sengit yang membuat Andre meringis.
"Hei, hei. Kau tidak boleh berbicara seperti itu, siapa yang membuat Raline gemuk? Hah! Kau yang membuatnya, maann... Kau bahkan menidurinya dua kali, ck."
"Aku tidak sadar, jika aku sadar aku tidak mungkin menidurinya." kilahnya sambil mengalihkan pandanganya ke arah lain.
Andre mendengus dengan wajah mengejek, tidak habis pikir dengan jawaban Adjie.
"Apa selama kau tinggal dengan Raline dia selalu meminta yang aneh-aneh padamu?" tanya Andre setelah beberapa saat mereka terdiam.
Adjie berpikir sebentar, mengingat-ingat.
"Tidak, dia tidak menginginkan apa-apa dariku." balasnya sambil mengangkat bahunya acuh.
"Kau beruntung, Raline tidak mengidam. Kau akan kesusahan jika Raline memintamu yang aneh-aneh apalagi jika dia memintamu tengah malam."
"Apa itu yang dilakukan kakak iparmu?" tanya Adjie pada Andre.
"Yeah, Leo selalu mengeluh kepadaku agar masa mengidam istrinya itu segera berakhir."
"Apa yang diminta istrinya?"
"Dia menginginkan sate ayam,"
Kedua alis Adjie saling bertautan, "apa yang salah? Bukankah itu tidak masalah."
"Akan jadi masalah jika dia menginginkan penjual sate nya itu berkumis tebal, dengan pakaian ala boyband Korea."
Untuk beberapa detik Adjie terdiam mendengar ucapan Andre namun sedetik kemudian dia tertawa.
"Kau serius? Istrinya meminta seperti itu?" Andre mengangguk.
"Leo membayar mahal pedagang sate itu."
"Tentu saja, dia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli kostum. Tapi itu tidak seberapa."
"Maksudmu? Ada yang lebih parah dari itu?"
Andre mengangguk.
"Kakak iparku menginginkan bakso Malang. Tapi Mas Leo harus membelikannya dari Malang langsung dan harus balik ke sini dalam keadaan masih panas."
Adjie menggeleng tidak percaya akan perkataan Andre. Apa sebegitu mengerikannya seorang wanita hamil? Dia bersyukur jika Raline tidak seperti itu atau bahkan belum?
"Dan Kakakmu menurutinya?"
"Tentu saja, Mas Leo tidak ingin anaknya terus mengeluarkan air dalam mulutnya."
"Ck kau mempercayai mitos itu?"
"Jelas saja, aku melihatnya sendiri. Sepupu jauhku mempunyai anak yang terus mengeluarkan air dari mulutnya. Ibu nya menginginkan mobil Lamborghini keluaran terbaru, tapi suaminya tidak bisa membelikannya."
Adjie menggeleng masih tidak percaya dengan ucapan Andre tentang mitos tersebut.
Dirinya seketika teringat jika Raline belakangan ini jarang sekali memakan nasi, apakah itu tidak apa-apa bagi bayinya?
"Ehem, apakah Kakak iparmu selalu memakan mie?"
Kini giliran Andre yang berpikir.
"Hm aku tidak tahu, Mas Leo tidak memberitahuku. Dia hanya mengeluh soal istrinya yang mengidam aneh-aneh dan membicarakan jika selama hamil istrinya itu selalu memintanya jatah." jelasnya sambil menaik turun alisnya, menggoda Adjie.
"Apa maksudmu?" sahutnya sengit.
"Ah kau ini, wanita hamil itu lebih agresif. Hormon yang dimilikinya pun lebih tinggi, kau bisa puas dengan hanya menduri Raline." ucap Andre sambil menggoda Adjie.
Wajah Adjie seketika memerah mendengar godaan Andre. Sialan sahabatnya, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu kepadanya.
"Cih aku tidak akan tertarik dengan wanita hamil,"
"Kupikir aku percaya?" ejeknya yang jelas terlihat menyebalkan bagi Adjie.
"b******k! Sebaiknya kau keluar sebelum ku tendang kau dari ruangan ini." serunya kesal sambil bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, membuat Andre segera berdiri meninggalkan kursinya.
"Ku doa'kan kau ketagihan meniduri Raline." serunya masih dengan nada mengejek kemudian berlari meninggalkan Adjie yang mengumpati sahabatnya tersebut.
***
Adjie melangkah masuk ke dalam rumah yang di huni Raline. Dia sebenarnya malas harus bertemu dengan Raline apalagi mengingat perkataan Andre tentang yang dirinya bisa puas jika meniduri Raline. Sahabat macam apa itu berbicara omong kosong, walaupun tak dapat dipungkiri jika ucapan Andre sedikit memengaruhi pikirannya. Jika dirinya tidur di apartement, dia akan merindukan Alanis dan meminta tunangannya itu untuk segera pulang dan sudah di pastikan di akhiri dengan perdebatan. Dan dirinya sudah benar-benar lelah untuk berdebat malam ini.
Adjie berjalan dengan langkah pelan, dirinya benar-benar lelah dan butuh istirahat. Begitu dirinya melangkah hendak melewati dapur, ia melihat lampu dapur menyala. Apa Bu Ani lupa mematikan lampu? Pikir Adjie. Dia pun berjalan menuju dapur untuk mematikan lampu, sambil dirinya mengambil air untuknya di kamar.
Begitu dirinya sampai, ia tertegun melihat Raline yang tengah makan. Ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya, sudah jam 2 dini hari dan ia menemukan wanita hamil yang tengah makan. Dengan pelan ia berjalan menghampiri wanita yang tengah asyik makan itu.

"Kau sedang apa?" tanya Adjie pada Raline.
Raline yang asyik memakan pasta seketika berhenti mengunyah, kemudian mendongak menatap Adjie.
"Kau pulang?"
Adjie berdecak kesal mendengar Raline yang malah balik bertanya.
"Tentu saja, ini rumahku." dengusnya.
"Ah yeah, benar. Untuk pertanyaanmu, apa kau tidak melihat aku sedang makan?"
Adjie menghela napas mendengar nada bicara Raline yang terdengar naik. Kenapa wanit itu selalu berbicara dengan nada naik kepadanya? Apa hormon wanita hamil seperti ini? Karena dulu seingatnya Raline tidak pernah mengeluarkan nada tinggi, dia wanita yang polos, dan lembut bahkan tak pernah berani memandang wajahnya. Tapi sekarang coba lihat? Wanita itu keras kepala, selalu mengeluarkan nada tinggi, dan membantahnya. Sulit dipercaya Raline berubah dalam waktu secepat ini.
"Maksudku kenapa kau makan jam segini? Apa kau tadi tidak makan? Dan lagi-lagi kau memakan makanan seperti itu." desisnya sambil menatap masakan di piring Raline.
"Kenapa kau cerewet sih, Petra saja yang statusnya sebagai Dokter tidak cerewet seperti mu." decaknya sebal sambil terus memakan pasta dengan suapan besar.
"Apa kau tidak ingat juga, kau sedang mengandung pewaris Danis---" ucapan Adjie seketika berhenti di udara melihat Raline yang membanting sendoknya ke atas meja.
Wanita berisi itu bangkit dari duduknya, kemudian membereskan sisa makanan yang berada di piringnya. Lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci bekas makannya. Pasta yang masih tersisa setengah itu ia buang, karena Raline benar-benar tidak berselera lagi untuk makan, ucapan Adjie yang selalu menyebut jika bayinya itu pewaris Daniswara membuatnta muak dan marah. Apa pria itu tidak pernah memikirkan perasaannya, walau sedetik saja? Dan dirinya sudah tahu jawabannya.
"Aku mengerti. Kau tidak usah mengingatkanku terus-menerus, lagi pula belum tentu bayi ini laki-laki." sahutnya kemudian melengos meninggalkan Adjie yang teridam di tengah keheningan malam.
***
Sejak peristiwa malam itu, Adjie kembali ke apartemen miliknya dan Alanis karena sang tunangan tercinta telah kembali. Tentu saja dirinya memilih menghabiskan waktu dengan Alanis ketimbang Raline mengingat interaksi terakhir mereka berdua yang selalu berakhir buruk. Dia pun sengaja untuk tidak sering bertemu Raline karena fakta yang baru diketahui jika belakangan ini Raline terlihat stress dan itu memacu dirinya untuk semakin menjauhi Raline. Karena Petra memintanya untuk tidak membuat Raline stress, akan sangat bahaya bagi Raline mengingat di awal kandungannya yang sedikit lemah.
Kali ini Adjie terpaksa kembali ke rumah Raline setelah dua bulan lamanya dia absen. Bukan apa-apa, tapi Bu Ani yang mendadak tidak bisa bekerja karena dirinya harus pulang kampung untuk menghadiri anak pertamanya menikah. Bisa saja dirinya menyuruh asistennya untuk menemani Raline di dalam rumah, tapi mengingat asisten pribadinya telah berkeluarg. Dan lagi-lagi dirinya ditinggal oleh Alanis yang pergi keluar kota membuat dirinya mau tak mau mengunjungi Raline. Lagi pula dirinya penasaran sebesar apa perut Raline sekarang, apakah yang di ucapkan Mas Leo benar. Jika wanita hamil itu terlihat jauh lebih cantik dan seksi, karena sampai saat ini dirinya tidak pernah melihat wanita cantik atau bahkan seksi dengan perut besar. Karena menurutnya, wanita seksi dan cantik itu seperti Alanis yang mempunyai tubuh bagai model papan atas, dan tutur kata yang lembut yang selalu memikatnya.
Adjie berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Raline. Sebelum mencapai pintu kamarnya, ia terdiam melihat Raline yang tengah memijit kakinya di atas ranjang, karena pintu Raline yang terbuka sedikit lebar memudahkannya melihat aktifitas wanita itu.
Perut Raline terlihat membesar dari yang terakhir dirinya lihat, seakan bayinya itu sudah siap untuk keluar. Tapi dia tahu belum saatnya, masih ada beberapa minggu sampai anaknya itu keluar dari dalam perut.
Adjie mencoba acuh tak memedulikan Raline yang sedang sibuk mengolesi kakinya dengan minyak. Ia berjalan masuk ke dalam kamar membiarkan Raline kesusahan sendiri. Dirinya mengantuk dan kelelahan akibat pekerjaannya yang menyita seluruh waktunya belakangan ini. Perusahaan yang dikelola olehnya meningkat jauh lebih pesat akibat ulahnya, maka amat sangat wajar jika dirinya selalu pulang malam dan jarang mempunyai waktu tidur.
Adjie yang masih capek tanpa berniat mengganti pakaiannya dulu, ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Namun baru beberapa menit terlewati, dirinya mendengar suara langkah kaki yang berjalan bolak-balik di depan kamarnya. Awalnya ia membiarkan, namun lama kelamaan dirinya jengah juga. Dengan kesal dirinya bangkit dari ranjang, ia berjalan keluar kamar dan menemukan Raline dengan langkah pelan berjalan ke arahnya.
Wajah Raline berubah kaget melihat Adjie yang keluar dari kamarnya dengan wajah kesal menghampirinya yang masih berada di dapur.
"Demi Tuhan Raline! Apa yang kau lakukan?" bentaknya kesal terlihat sekali jika dirinya tengah menahan amarah.
"Ma-maafkan aku, belakangan ini aku selalu ingin buang air kecil." jawabnya dengan wajah takut.
Alis Adjie tertarik ke atas mendengar balasan Raline. Heh, wanita itu mulai takut kepadanya?
"Kenapa kau tidak menggunakan kamar mandi di kamarmu?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut?
"Keran air di dalam kamarku rusak."
"Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Dua hari lalu, lagi pula selama di rumahmu ini ada toilet. Aku tidak perlu perbaikan di kamarku."
Adjie mengembuskan napasnya kasar mendengar jawaban Raline yang tidak masuk akal. Apakah ini soal uang? Karena takut membayar tukangnya itu mahal.
"Lalu kenapa kau jalan seperti itu? Kakimu bengkak?" tanya Adjie lagi setengah kaget namun terselip ke khawatiran dalam nada suaranya.
Raline pun segera memandang kedua kakinya yang memang membengkak lalu memandang Adjie lagi.
"Ah, yeah Ibu hamil memang selalu seperti ini."
"Apa tidak sakit?" tanyanya lagi dengan nada penasaran.
"Yeah lumayan, apalagi mengingat perutku sudah membesar." jawabnya sambil membelai perutnya yang terlihat lebih besar.
Adjie menatap perut Raline yang membuncit, tatapan wanita itu yang lembut melihat perutnya mengusik hatinya.
Sial
Raline yang masih mengusap-usap perutnya, seketika terhenti. Digantikan tangannya yang mengelus punggung dan pinggangnya yang kembali terasa pegal dan nyeri, membuat Adjie yang melihatnya mengernyitkan keningnya akan perubahan ekspresi Raline.
"Kenapa?" tanya Adjie yang ternyata mempunyai mulut yang cerewet juga.
"Tidak apa-apa, kalau begitu selamat malam." sahut Raline pamit sambil mengusap-usap punggungnya.
Raline yang baru saja melangkah pelan-pelan, tiba-tiba berteriak ketika tubuhnya melayang ke udara dan berhenti di atas meja makan.
Raline yang masih kaget jelas memegang kerah kemeja pria itu. Dan entah setan dari mana yang membuat Adjie bersikap seperti ini, padahal ia tidak mabuk dan masih waras. Tapi pria itu malah membawa Raline ke atas meja, dengan tubuh mereka yang berdekatan. Wajah Raline yang memerah dan canggung menjadi santapan mata tajam Adjie. Raline yang hanya memakai kimono silver dengan tali yang tidak ia ikat dengan sempurna, sehingga menampakkan sedikit bagian tubuh depan Raline. Terlebih perut Raline yang besar membuat tali kimono tersebut longgar, membuat Raline terlihat seksi di mata Adjie.
Adjie termakan dengan omongannya sendiri, ia benar-benar setuju dengan ucapan Mas Leo jika wanita hamil jauh lebih seksi dari wanita berbadan gitar Spanyol. Karena baru kali ini dirinya benar-benar b*******h melihat Raline di hadapan. Adjie semakin memajukan wajahnya dengan wajah Raline membuat kening mereka bersentuhan. Raline sendiri hanya bisa menundukkan wajahnya sedikit agar tidak bertatapan langsung dengan tatapan tajam milik Adjie. Karena dirinya jelas masih bingung dengan apa yang Adjie perbuat kepadanya. Adjie semakin memajukan wajahnya, memangkas jarak diantara mereka membuat Raline segera menutup matanya. Wajahnya memerah dan perasaannya berdebar semakin cepat begitu mengetahui jika Adjie akan menciumnya. Sampai kemudian ia mendengar suara gedoran pintu rumahnya dengan keras.
***
Tbc