Adjie mengerang begitu merasakan kepalanya berdenyut nyeri, alkohol sialan dan Angga sialan. Dua perpaduan sialan yang membuat malamnya begitu buruk. Angga selalu menjadi ancaman baginya dari dulu, apalagi pria itu yang selalu menjadi kebanggan Papa nya. Dia selalu menjadi nomor dua di keluarganya, sampai-sampai dia berpikir jika dirinya hanya anak angkat. Tapi wajah dan sifatnya menyerupai sang Papa akan sangat tidak mungkin jika dirinya anak adopsi.
Dia tidak percaya jika Angga bisa selicik itu, memanipulasi kliennya untuk berpindah pada perusahaannya. Dan sang Papa tentu saja marah kepadanya, belum lagi dirinya yang terus di desak untuk segera menikahi Alanis. Alanis yang bekerja untuk perusahaan Angga membuat Adjie semakin uring-uringan, belum lagi wanitanya itu sekarang ini mengikuti Angga bisnis keluar kota. Semakin Angga mempunyai kesempatan untuk merebut Alanis darinya, terlebih Alanis wanita yang disukai Angga dari dulu. Tidak menutup kemungkinan Angga bisa merebutnya dengan mudah. Jadi dengan amarah yang seakan mengacaukan pikirannya, dirinya pergi ke bar bersama Andre. Dan sudah tertebak bukan, dirinya berakhir di sini meniduri Raline kembali.
Pikirannya segera tersadar ketika mendengar suara orang muntahan, dia seketika melirik tubuhnya yang berada di kasur--polos tanpa mengenakan apapun.
Sialan
Dirinya benar-benar sudah gila meniduri Raline untuk yang kedua kalinya. Padahal dirinya sudah bersumpah untuk tidak akan menyentuh Raline karena jelas saja untuk yang pertama kalinya itu sebuah kecelakaan. Dan sekarang yang kedua? Entah lah sebuah kecelakaan atau kenikmatan?
Adjie segera menyibak selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, masih dengan kepala yang berdengung dirinya bangkit dari ranjangnya. Dia mengambil bokser yang tergeletak di bawah lantai, memakainya cepat lalu berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya Raline hanya memakai piyama super tipis berwarna putih tanpa dalaman, yang jelas sekali membuat lekuk tubuh Raline terlihat. Apalagi wanita itu tengah menunduk menampakkan p****t sekalnya, sehingga tubuh bagian bawahnya merespon dengan cepat. Sial hanya melihat begitu saja, membuat dirinya b*******h. Dirinya segera mengalihkan pikiran kotornya, dengan langkah mantap ia berjalan menghampiri Raline yang sedang membungkuk sambil terus memuntahkan isi perutnya, tapi yang dia lihat hanya cairan putih saja.
Entah ada angin apa yang membuat Adjie datang menghampiri Raline dari belakang, bahkan pria itu malah menekan-nekan pelan tengkuk Raline. Raline sendiri yang kaget akan sikap Adjie kepadanya membuat tubuhnya menegang, namun rasa mual di perutnya membiarkan Adjie menyentuh tengkuknya. Sampai kemudian Raline merasa jika perutnya merasa lebih baik, dia menegakkan tubuhnya.
"Aku bisa sendiri." ujar Raline lirih begitu Adjie yang akan menuntunnya, Adjie melepaskan lengannya yang melilit lengan Raline. Karena wanita itu yang meminta, maka ia kabulkan dia tidak ingin mood paginya kacau karena wanita itu yang marah-marah kepadanya. Dengan langkah tertatih-tatih Raline berjalan meninggalkan kamar mandi.
Dia menundudukan tubuhnya di atas ranjang, wajahnya terlihat pucat.
"Kau perlu sesuatu?" tanya Adjie yang berdiri menjulang di depan Raline.
Raline hanya diam tidak membalas, dia marah pada pria di depannya. Setelah apa yang dilakukan Adjie kepadanya semalam dan sekarang pria itu seolah-olah peduli kepadanya. Cih dia tidak butuh perhatian pria itu, menidurinya yang tengah hamil seperti orang gila, dan di akhiri dengan kata-kata cinta dan permohonan maaf untuk Alanis, karena menidurinya jelas saja dirinya sakit hati. Seakan-akan dirinya yang bersalah di sini, benar-benar b******n pria itu.
Karena Raline yang diam saja tidak membalas perkataannya dan juga Adjie yang sudah bosan didiamkan akhirnya kembali buka suara.
"Soal tadi malam---"
"Lupakan, aku sudah melupakannya." potong Raline cepat sambil terus menunduk tak ingin melihat wajah Adjie. Jelas saja dirinya masih marah.
Ucapan Raline yang memotong perkataannya membuat dirinya kaget, dan entah mengapa membuat dirinya kesal. Seharusnya dia yang berbicara seperti itu bukan Raline karena jelas saja itu memang harus dilupakan. Tapi sial, dia tidak bisa melupakannya. Meskipun dia dalam keadaan tidak sadar tapi tubuh bagian bawahnya jelas sadar dan dapat bereaksi. Ia juga masih bisa mengingat suara erangan seksi Raline yang memanggil namanya saat ia menyentuhnya semalam.
Dan dirinya pun merasakan hal yang sama, bagaimana tubuh bagian bawah Raline memuaskannya. Ia sendiri pun ikut menggila mengerangkan nama Alanis saat mencapai pelepasannya.
Double shit
Adjie seakan tersadar kesalahannya, pantas saja Raline terlihat kesal atau bahkan mungkin marah karena malah menyebut wanita lain saat dirinya meniduri wanita itu. Meskipun sebenarnya itu tidak masalah, toh dirinya tidak sadar dan dia pikir ia menduri tunangannya bukan Raline. Pantas saja ia merasa berbeda saat menyentuh Raline wanita yang hamil anaknya tersebut terasa lebih... Entahlah dia tidak ingin membandingkan Raline atau Alanis saat di ranjangnya, takut menjadi sebuah boomerang baginya.
Menghela napasnya kasar, Adjie kembali berujar. "Kau harus makan, aku akan panggilkan Bu Ani untuk membuatkan kau makanan."
Raline mendengus kemudian membalas masih dengan wajah yang ia tundukkan. "Aku tidak lapar, sebaiknya kau segera pergi ke kantor." balas Raline acuh tak acuh.
"Setidaknya kau harus memikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Kau harus ingat, kau mengandung calon pewaris Daniswara." tekan Adjie menatap Raline dingin.
"Ya jika anak ini laki-laki, tapi aku yakin jika anak ini perempuan." tandasnya sambil menatap Adjie nyalang.
Sudut bibir Adjie tertarik ke atas melihat Raline yang kembali menantangnya.
"Ck jangan melucu, Petra bahkan belum memberi kabar jenis kelaminnya. Apa jangan-jangan dia merahasiakannya dariku dan itu atas permintaanmu?" selidik Adjie dengan mata memicing tajam ke arahnya, membuat kedua mata Raline seketika membulat mendengar perkataan Adjie yang benar adanya.
Tak ingin Adjie mengetahui yang sebenarnya dari ekspresi wajahnya, Raline segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Untuk apa tidak ada gunanya, mau dia laki-laki atau perempuan dia tetap anakku. Tapi lain halnya denganmu, jika bayi ini perempuan kau tidak akan menganggapnya bukan? Dan aku benar-benar berharap bayi ini perempuan, tidak peduli jika dia tidak dianggap oleh mu. Karena aku Ibu-nya yang jauh lebih mencintainya, kau hanya penyumbang s****a tidak lebih." balas Raline panjang lebar yang membuat Adjie tersentak kaget dengan ucapan tidak terduga Raline.
Raline bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Adjie yang masih mematung.
***
Raline begitu asyik memakan mie goreng dengan porsi besar, di usia kehamilannya yang menginjak 12 minggu membuat nafsu makannya meningkat. Lihat saja, piringnya yang menumpuk berisi tiga bungkus mie goreng, dengan dua buah telur mata sapi yang setengah matang masih terlihat baik belum tersentuh. Karena Raline lebih menyukai memakannya setelah menghabiskan mie. Belum lagi di samping piring mie ada piring kecil yang berisi kentang kukus dengan bumbu sambal kacang.
Adjie yang baru selesai bersih-bersih begitu takjub melihat porsi makan Raline. Dia pun mengalihkan pandangan matanya ke arah perut Raline yang terlihat membuncit, entah ini hanya perasaannya saja atau memang perut Raline yang sudah membesar. Seingatnya kandungan Raline baru berjalan 12 minggu yang sama aetunya dengan 3 bulan. Tapi yang menjadi masalahnya, apakah normal bayi yang berusia tiga bulan sebesar itu di perut Raline? Mungkin saja bayinya itu gemuk sehingga terlihat besar di perut Raline mengingat wanita itu yang memakan dengan porsi di atas normal.
Adjie berjalan dengan cepat begitu melihat Raline yang akan memakan telur setengah matang, pria yang akan menjadi seorang Papa itu segera menghentikan aksi Raline dengan merebut piringnya. Membuat Raline tersentak kaget lalu memicing Adjie tajam.
"Apa yang kau lakukan?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau tidak tahu bahayanya memakan telur setengah matang?!" balas Adjie sengit.
"Itu hanya telur, dan bukan sushi atau daging mentah lainnya. Kau tidak usah berlebihan seperti itu." balas Raline marah. Wajar saja jika dirinya marah, dia benar-benar menginginkan telur setengah matang dengan mie goreng. Tapi Adjie merusak segalanya.
"Kau tahu, telur setengah matang itu mengandung bakteri salmonella. Jika kau memakannya kau akan terus muntah, bahkan sampai diare!" jelas Adjie sengit yang membuat Raline seketika terdiam menunduk.
Perkataan Adjie yang benar adanya menyadarkannya, terlebih nada suara Adjie yang tegas terkesan marah membuat dirinya ingin menangis. Hormon sialan! Kenapa dirimya menjadi cengeng seperti ini, biasanya setiap dirinya di marahi oleh atasannya atau Ibu nya yang sering memaki, bahkan Mas Frans yang tak jarang selalu mengumpatinya dengan kejam. Dirinya tidak pernah menangis, tapi sekarang. Hanya bentakan Adjie yang sepenuhnya benar, membuat dirinya merasa buruk menjadi seorang Mama. Kenapa dirinya tidak tahu? Dan kenapa malah Adjie yang tahu, seolah-olah pria itu peduli saja kepadanya.
"Dengar Raline. Kau bisa membahayakan bayimu atau bahkan calon pewaris Daniswara---"
Bayimu?
Calon pewaris Daniswara.
Dan Raline tidak mendengarkan lagi kalimat selanjutnya, karena dirinya malah memikirkan perkataam Adjie mengenai 'bayimu' dan 'calon pewaris Daniswara'. Bukan bayiku atau bayi kita? Adjie benar-benar tidak menganggap janin yang berada di dalam kandungan anaknya. Ck apa yang kau pikirkan Raline sampai kapan pun Adjie tidak akan pernah menganggap bayi yang dikandungnya anakmu. Mungkin jika bayi itu laki-laki dia akan menganggapnya ada, dan mungkin hanya sebatas pion. Lain halnya jika yang mengandung itu Alanis sudah dipastikan Adjie akan membanggakannya.
"Jadi berhentilah untuk memakan makanan yang berbahaya, mungkin itu sebabnya kau sering muntah. Jika kau ingin anakmu selamat, maka berhentilah memakannya." ujarnya lagi yang tidak di idahkan oleh Raline.
Menghela napasnya berat, Raline menatap Adjie dingin. "Jangan salahkan aku jika nanti anakmu ileran. Asal kau tahu, anakmu yang akan menjadi pewaris Daniswara Corp itu yang ingin aku memakannya. Sejak masih perawan saja aku tidak menyukainya, gara-gara aku yang mengandung anakmu inilah aku memakannya." balasnya sinis sambil kembali memakan makanannya kini yang tersisa kentang kukus saja.
Perkataan Raline masih terngiang-ngiang ditelinga Adjie. Itu tidak mungkin kan? Bagaimana mungkin hanya tidak menuruti apa yang ingin dimakan si Ibu hamil anaknya akan ileran? Cih sangat konyol dan jelas saja dirinya tidak percaya. Tapi jika itu benar apa yang harus dilakukannya? Ah yah, dirinya tinggal pergi ke dokter mahal saja dan membuat anaknya itu normal tanpa cairan basah di sudut bibirnya. Yah dia akan melakukannya, pewaris Daniswara tidak boleh ternoda sedikitpun.
Mengambil tempat duduk di seberang Raline ia pun meminta Bu Ani untuk menyiapkan kopi nya. Baik Raline maupun Adjie sibuk dengan sarapannya masing-masing. Sampai kemudian ponsel Raline bergetar pertanda pesan masuk, Raline yang baru menyelesaikan minumnya segera membuka pesan tersebut yang berasal dari Mas Frans. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat, keringat dingin seketika keluar dari kedua tangannya. Adjie yang tidak sengaja mengalihkan tatapannya ke arah Raline seketika kedua alisnya menyatu, melihat Raline yang terlihat cemas.
Mas Frans
Aku perlu bantuanmu, Adik. Kau tahu, gitar di studio milikku sudah rusak. Kau bisa memberikanku uang kan?
Sudah dia duga, jika Mas Frans yang memberinya pesan, pasti kakaknya itu hanya ingin meminta uang. Dan dia benar-benar sudah lelah dengan sikap kakak dan Ibu nya.
Aku tidak punya uang.
Send
Mas Frans
Dasar adik bodoh! Aku tidak percaya jika kau tidak punya uang. Kau harus ingat, jika bukan karena Ayah kau tidak akan berada di sini! Kau itu harusnya tahu diri.
Lagi dan lagi dirinya selalu disudutkan seperti ini, jika dirinya tidak memberi uang kepada sang kakak. Kakaknya itu akan selalu mengungkitnya hal seperti itu, sampai rasanya ingin menyerah saja. Baik Ibu dan kakaknya, sedari dirinya masih kecil dirinya selalu dikucilkan dan Ibu nya itu bahkan terang-terangan selalu mengasingkannya.
Mas Frans
Ingat Ra, kau yang menyebabkan Ayah seperti ini. Seharusnya kau tahu itu!
Raline tidak tahan lagi, dirinya selalu di salahkan oleh Ibu dan kakaknya. Ia oun segera membalas pesan kakaknya
Berapa? Berapa yang Mas minta.
Send
Mas Frans
Hanya 10 juta, sedikit bukan?
Mata Raline melotot dengan sempurna begitu membaca balasan pesan sang kakak. Apa kakaknya itu gila? Dari mana dia bisa mendapatkam uang 10 juta? Apakah dirinya harus menggadaikan tubuhnya terlebih dahulu untuk mendapatkan uang yang diminta? Tapi mana ada pria yang mau menidurinya jika dirinya tengah hamil. Lalu dari mana pikiran sintingnya itu berada? Cukup dirinya yang menjadi wanita jalang Adjie saja tapi tidak dengan pria lain.
Beri aku waktu, Mas. Aku tidak mungkin mendapatkan uang sebesar itu.
Send
Mas Frans
Dua hari, jika sampai kau tidak mendapatkannya dalam dua hari. Kau tahu sendiri akibatnya.
Adjie yang telah selesai memakan sarapannya sedari tadi melihat Raline yang sedang memainkan ponselnya dengan wajah yang terlihat cemas. Dirinya ingin bertanya, karena rasanya gatal sekali jika dirinya tidak berkomentar. Namun, belum sempat dirinya akan mengeluarkan suara. Ponsel yang berada di atas meja bergetar dan berbunyi, seketika dirinya mengalihkan pandanganya ke arah ponsel.
Tiba-tiba saja wajahnya mengeras begitu melihat satu buah pesan masuk tanpa nama, tapi dia sudah tahu pengirim pesan tersebut.
081657xxx
Aku tidak tahu kau begitu bernafsu 😜
Tulis Angga pada foto pertama. Seketika wajah Adjie memerah, kaget akan fotonya dengan Raline. Belum terkejut rasa shocknya, Angga kembali mengirimkan foto kedua.
Sepertinya kau menikmatinya. Eh?
Adjie seketika meremas ponselnya erat, belum sempat dirinya membalas pesan Adjie ingin menanyakan apa yang pria itu maksudkan dengan mengirimkan foto tersebut. Angga kembali mengirimkan foto yang lebih parah dari dua foto sebelumnya. Foto tersebut menampilkan wajah Raline yang menyamping tidak terlihat ke kamera, tubuh bagian atasnya terbuka karena gaun bagian atasnya bermodel sabrina. Sehingga jika dirinya menarik sedikit tubuh bagian atasnya menampilkan leher jenjangnya yang dipenuhi kiss mark olehnya. Raline yang berbaring pasrah di bawahnya, terlihat begitu menggiurkan dengan bagian bawah gaun yang menggulung ke atas menampilkan paha terbuka Raline. Salah satu pahanya dipegang Adjie agar terbuka lebar, wajahnya yang diselimuti oleh nafsu memandang wajah Raline di bawahnya dengan tatapan lapar. Kemeja yang dipakai olehnya sudah terbuka lebar, bahkan dasi yang dipakainya pun kini hanya menempel di kedua sisi kerahnya. Foto tersebut menjelaskan jika dirinya akan memakan Raline detik itu juga. Dan dirinya ingat betul, kejadian tersebut 3 bulan lalu di mana malam pertunangan dirinya dan Raline.
081657xxxx
Apa kau sudah melihatnya? Aku benar-benar kaget jika wanita yang berada di foto itu sama dengan wanita yang menjadi simpananmu selama ini. Benar-benar WOW.
Adjie benar-benar marah, dia pun segera membalas pesan dari Angga.
Apa maumu b******k!
Tak berapa lama pesan balasan dari Angga muncul.
081657xxxx
Wow apakah begini balasan untuk kakakmu? Kau seharusnya tidak bertanya apa yang aku inginkan. Karena kau sudah tahu dengan benar, lepaskan Alanis dan aku akan meminta Papa untuk mengembalikan sahammu.
Adjie benar-benar murka kali ini, Angga sudah salah memancing emosinya. Dengan amarah dia pun kembali membalas pesannya.
Bajingan b******k. Aku tidak akan melepaskan Alanis untukmu, lagi pula tanpa bantuanmu atau Papa aku bisa.
081657xxxx
Oh yeah? Lalu bagaimana jika Alanis tahu kau meniduri sahabatnya sendiri? Atau mungkin Papa mengetahuinya? Aku benar-benar menunggu ekspresi mereka.
"b******k!" umpatnya murka sambil membanting ponsel mahalnya ke lantai sehingga ponsel itu keluar berceceran, dengan layar hancur total. Adjie benar-benar murka kali ini, membuat Raline yang duduk di seberang mejanya berjenggit kaget.
***
Tbc