Chapter Empat

555 Kata
Mereka berempat sudah memasuki paviliun yang disediakan, cukup luas untuk menampung mereka berempat, meskipun hanya ada satu kamar tapi ukuran kamar juga terbilang cukup dan tidak sumpek untuk mereka tempati. "tempatnya enak, kasurnya juga gak keras" ucap Alexander. "iya, betahlah gue kalau disini lama-lama juga" sahut Tian "gue ke bu Sarah dulu" ujar Rendy lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. "Ga, diem aja lo. selain otak lo geser mulut lo ke-lem?" Aga langsung menatap tajam Tian, membuat nyali Tian seketika mengkerut. s****n, dalam kondisi seperti ini, aura Aga tetap menakutkan! "makanya tong, kalau ngomong di rem dikitlah, apalagi sama bocah ciliki" peringat Alexander yang sudah mendaratkan bokongnya di kasur "Aga gak suka tinggal sama kalian" protes Aga, dia langsung berjalan ke arah kasur, menjatuhkan tubuhnya hingga wajahnya terbenam di bantal. Percis adegan sinetron. "gila, udah kaya anak perawan aja si Aga tingkahnya" ujar Tian sambil menggelengkan kepalanya. "jadi nanti kita tidur disini semua?" tanya Alexander yang kini sudah mengganti posisinya menjadi rebahan. "iya, ini kasur lebarnya tiga meter, cukuplah buat kita ber empat. kecuali lo mau tidur di atas pohon mangga yang didepan, sok aja" jawab Tian.  "ogah, macem setan gue tidur diatas pohon" "kelek, buatin Aga s**u coklat" dengan nada manjanya Aga berucap. "apaan? kenapa minta ke gue?" "terus Aga harus minta ke siapa?" "noh, ke Tian aja" "nanti aja, sekarang Aga minta kelek dulu yang buatin, baru nanti giliran Tian" "ogah, emang gue baby sitter maneh? no way!" Tolok Alexander "kelek orangnya jahat ya Tian, gak bisa di mintain tolong. nanti pas kelek mati, Aga gak mau dateng ah"  mendengar ucapan Aga dengan nada begitu polos, Tian tidak bisa menahan tawanya lagi. mungkin benar kalau anak-anak itu pikirannya tidak bisa ditebak, termasuk Aga yang sekarang berpikir seperti anak-anak. "s****n! gak usah bawa-bawa mati! GUE BUATIN SUSUNYA! LO JUGA JANGAN KETAWA AJA SETAN! PUAS LO!" Betak Alexander. Meskipun begitu, Tian tetap saja tertawa, bahkan lebih keras. wajah Alesander benar-benar tidak menyeramkan sedikitpun. "nah gitu doang. kan Aga jadi enak" "Enak p****t lo rata!" kesal Alexander lalu pergi, membuatkan s**u pesanan Aga si otak geser.   *** "lo abis ngapain ketemu bu Sarah?" tanya Tian yang tengah memasukan pakaianya ke lemari. Alexander dan Aga sudah satu jam lalu tertidur. "ngurus biaya hidup" Tian mengangguk, melanjutkan pekerjaannya merapihkan pakain. Rendy juga sudah mulai membongkar koper bawannya, bersiap untuk memindahkannya ke lemari juga. "terus si Aga mulai pengobatannya kapan?" "mungkin dua hari lagi, dokter yang di minta masih di Singapur" "moga aja itu bocah bisa cepet balik lagi otaknya. meskipun gue suka kesel sama kelakuan dia tapi gimanapun banyak tanggung jawab yang dia emban" "dia emang ngeselin" "tuhkan, gue yang gak tiap hari ketemu dia aja kesel. apalagi lo yang jadi asisten dia. lu gak punya penyakit darah tinggi aja udah bagus banget" "tapi kepala gue botak"  "hahahaha. sabar-sabar. kelakuan dia emang minta di razam. untung aja temen sendiri" "tapi lo pribadi gak masalah buat ikut tinggal disini?" Tian mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rendy "engga. kenapa masalah? gue anggapnya ini liburan" "perusahan lo?" "santai. Om Julian udah ngejamin perusahaan gue aman kalau gue ikut disini. mantep kan Ren, liburan yang menghasilkan namanya" "bisa aja lo. moga aja lo betah dan malem-malem gak nangis minta pulang" "k*****t. dikata gue bocah lima tahun. Noh, yang ada si Aga yang bakal nangis minta digantiin popok pas tengah malem" "ya elo yang gantiin" "terus lo yang nyusuin?!" "gila lo!" "lagian, lo duluan yang mulai!" "biasa aja, gak usah pake nyolot!" "gue biasa aja ya Ren!" "hmmm" "nyebelin lo! udah ah. gue mau mandi. intinya gue harap si Aga bisa adaptasi ditempat ini dangak ada drama nangis pengen pulang. kecuali dia udah sembuh" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN