Chapter Lima

1893 Kata
Alex dan Tian pikir Aga akan menghadapi kesulitan untuk beradaptasi di Panti Asuhan Saling Asih. tapi kekhawatiran mereka seiring wkatu hilang saat melihat Aga yang mudah membaur dengan anak panti yang lain.  kondisi penghuni panti memang beragam, tidak hanya anak yang diberkahi normal, disini juga ada anak berkebutuhan khusus, jadi saat melihat sifat Aga, anak-anak yang lain tidak terganggu maupun heran, mereka cenderung biasa saja, menilai Aga sama seperti teman-temannya. meskipun begitu, sekarang ini dibandingkan rasa khawatir, Alexander dan Tian lebih sering merasa kesal kepada Aga. bukan tanpa alasan, sering kali Aga bertengkar dengan anak panti lain perihal mainan atau bahkan cekcok karena obrolan siapa yang lebih keren upin atau ipin, atau siapa yang akan dipilih Mail menjadi pacarnya, Susanti atau Mei-mei? Pengobatan Aga juga sudah berjalan, meskipun belum nampak perubahan sedikitpun yang terjadi pada Aga, Alexander dan Tian sendiri hingga saat ini belum tahu pasti istilah apa yang cocok untuk penyakit Aga, karena Rendy sendiri tidak pernah menjelaskan detailnya kepada mereka. "Demi Tuhan Aga, itu anak orang kenapa kamu guyur s**u!" bentak Alexander saat berhasil menghentikan perdebatan yang kembali terjadi. Saat akan pergi ke dapur melewati ruang televisi, mata Alexander rasanya sudah akan keluar melihat salah satu anak panti tubuhnya penuh dengan s**u coklat dan beberapa sereal tersangkut dikepala Aga. "Deni duluan yang mulai Lek!" kesal Aga pada Alexander yang tengah menariknya keluar ruang tv, entah mau dibawa kemana dirinya. "tapi dia itu bocah! gak usah lo ladenin!" "tapi Aga juga bukan orang tua! Aga gak terima kalau dia mau Tayo berubah warna jadi pink. Aga gak suka!" Setak Aga sambil melepaskan tarikan Alexander. mereka berhenti melangkah, Alexander menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan, mencoba bersabar. Teringat kondisi Aga saat ini. "iya Aga, tapi gak boleh sampe siram-siram s**u sama Deni" ucap Alexander dengan suara yang lebih rendah "Tapi Deni lebih dulu lempar Aga pake sereal! masa Aga diem aja!"  Alexander kembali menghela nafas, berbicara pada anak kecil itu sulit, apalagi anak kecil yang keras kepala seperti Aga. Double kill! "yaudah lah terserah kamu! ayo ganti baju!" Alexander kembali menarik Aga untuk berjalan, mengganti pakaiannya yang kotor "gak usah narik Aga! emang Aga kerbau!" protesnya sambil menghentakan tangan Alexander lagi. Alexander sudah mengepalkan tangannya, kalau Aga sudah dalam kembali normal, Alexander akan dengan senang hati langsung memberikan tinjuan. Tapi sekarang beda, Aga itu anak kecil yang terjebak pada tubuh dewasa. "kalau kerbau pake tambang. ayo cepet! banyak bacot banget kamu Ga, pantes pas gede jadi orang nyebelin!" gerutu Alexander. *** "lah, ini bocah kenapa? udah macem donat pake toping sereal aja" ledek Tian saat Alexander dan Aga sudah masuk paviliun. "gelut lagi dia sama bocah lain" "sekarang gara-gara apa?" "si Tayo. bocah sampe di siram s**u sama dia" Tian menggelengkan kepala mendengar penjelasan Alexander. Ajaib sekali sahabatnya yang sakit ini. "udah sana bersih-bersih. ntar disemutin sampe pedang lo bisa di juga gondol " "si k*****t, sampah mulu omongan lo!" "Aga gak punya pedang kok" sahut Aga dengan polosnya "punya, pedang lunak" sahut Tian lagi. "gak usah di sahutin bege!" sentak Alex yang mendapat respon tidak perduli dari Tian. "udah sana mandi lagi Ga, rambutnya di shampoo, biar wangi" suruh Alex Aga mengangguk, menuruti perintah Alexander. "tumben nurut omongan gue"  *** "Lek, Rendy kemana?" "pergi" "kemana? kok Aga gak diajak?" "emang siapa Lo!" Bibir Aga langsung mengerucut karena kesal dengan jawaban Kelek. Aga kan cuma tanya kemana Rendy. "Terus s**u Aga mana?" "masih dibuat sama Tian" Aga menatap kesal pada ALexander yang terus fokus pada ponselnya sejak tadi, bahkan menjawab pertanyaan Aga mata Alexander tetap melihat ponsel. Menyebalkan! "Anjrit! balikin ponsel gue!" protes Alexander saat tiba-tiba ponselnya direbut Aga. "gak mau!" tolak Aga lalu menyembunyikan ponsel milik Alexander dibalik tubuhnya "Balikin Ga! gue sleding pala lo gelinding ya!" "gak mau! hp nya mau Aga buang aja!" "lah gila! balikin Aga!" "GAK MAU!" "buset dah, baru ditinggal bentaran bikin s**u udah ribut aja lo berdua. tobat Lex, ntar otak lo ikutan geser macem Aga repot dah, ogah gue ngurusin" Tian datang dengan botol s**u untuk Aga.  Awalnya Aga ingin minum menggunakan dot, tapi langsung dimarahi Tian dan Alexander hingga Aga kesal dan marah kepada mereka beberapa hari, akhinya Rendy memberi saran untuk Aga menggunakan botol minum saja. "Ini bocah bertingkah lagi, masa main rebut hp gue" "Lo ngebokep ya Lex?!" Curiga Tian "Kagalah! Siang bolong begini. Ntar malem kalau mau liat itu" "Bokep apaan?" Tanya Aga dengan polosnya "Sejenis kacang-kacangan" jawab Tian sekenanya. "Oh, Aga mau dong bokep" "Ntar, minta sama Rendy" sahut Tian "Bege! Lo di cekik Rendy sampe mampus yang ada!" Bentak Alex "Sebelum gue, dia cekik lo duluan yang ada!" "Serah deh, susulo! Suka-suka lo!" "Btw itu anak sampe sekarang belum nongol aja, masih belum balik?" "Belom kayanya" "Kepasar udah kaya nyebrang lautan, lama banget!" "Rendy kepasar? Kok gak ajak Aga?"  Sedih Aga. Alex hanya memutar bola matanya, itu Rendy udah kaya mamanya Aga, dicari mulu. "Lo ribet sih kalau di ajak, bisa-bisa ngerepotin" sahut Tian "Aga gak pernah ngerepotin!" "Iya, gak pernah sekali" "Udah bege, si Aga ngamuk ribet lagi urusan" ucap Alex menengahi. *** "Gila banyak banget ini masak, mau ada pesta atau bagaimana?" Ucap Alex terkejut saat memasuki dapur. Jika hari biasanya makanan yang disajikan memang cukup banyak, kali ini jumlahnya lebih banyak lagi. "Nak Alex belum tahu?" Tanya Bu Surti, orang yang bertanggung jawab terhadap dapur dan makanan di Panti. Alex menggeleng, melangkahkan kakinya mendekati Samsul yang tengah menyusun gelas. "Gak perlu bang, Samsul bisa sendiri" tolak Samsul ketika Alex akan membantunya "Elah gini doang, gue bantu. Kalau gue bantu masak, bisa ancur semua" Alex langsung membantu Samsul menyusun gelas yang jumlahnya memang cukup banyak. "Jadi ada acara apaan bu?" Tanya Alex lagi pada Surti "Ini, nanti mau ada tamu. Orang yang suka jadi relawan disini" Jawab Surti yang tengah bersiap memblender bumbu. "Ogitu, mereka sering kesini atau pertama kali?" "Sering bang, biasanya tiga bulan sekali mereka kesini" Samsul menimpali "Terus ngapain aja?" "Banyak, mereka ngajarin anak-anak, terus games sama santunan juga" lanjut Samsul "Abang Aleeeeeexxxxx, Bang Aga jahaaat" Teriak seorang anak yang masuk ke dapur. Alex menghampiri anak tersebut, berjongkok menyesuaikan tinggi badan si anak. "Aga ngapain lagi?" "Pesawat aku di patahin" jawab si anak yang Alex tahu bernama Agus dengan wajah sedihnya. "Haduh, bocah itu!! Yuk samperin"  Menggandeng tangan Agus, Alex pergi dari dapur, menemui si pembuat onar. "itu, lihat, pesawat Agus sayapnya copot" Adu Agus sambil menunjuk Aga yang tengah sibuk dengan pesawat Agus, entah sedang apa. "Ga! mainan anak lain jangan lo rusak dong!" tegus Alex langsung. Aga menatap Alexander dengan wajah sendu " Aga gak sengaja, ini mau Aga benerin"  "Aga emang gak suka sama Agus kan? makanya pesawat Agus kamu rusakin!" "engga! Agus gak boleh nuduh Aga gitu dong, kan Aga bilang gak sengaja. Aga udah minta maaf sama Agus" "Aga bohong! Aga pasti sengaja!" "engga! Aga gak bohong, emang gak sengaja. Aga udah minta maaf sama Agus, Aga juga mau benerin ini kok!" "BOHONG!!! AGA BOHONG!" "STOPPP!" teriak Alexander yang geram dengan perdebatan keduanya.  "sengaja dirusakin atau engga?!" atanya Alex dengan tegas pada Aga. Aga menggelengkan kepalanya "engga, Aga gak sengaja Lek. beneran, Aga gak bohong" jawab Aga dengan suara parau, menahan tangis. Alex menghela nafas, belum juga menikah, belum juga punya anak, sudah pusing duluan ngurus anak orang. nasib. Alex kembali mensejajarkan tingginya dengan Agus "Aga gak sengaja rusakin, maafin Aga ya. Aga nya mau benerin lagi kok pesawat punya Agus, kalau gak bisa dibenerin, nanti beli yang baru. Agus maafin Aga ya?" jelas Alexander. Entah kenapa setelah berbicara itu, dia merasa jadi orang benar ayng berwibawa, keren banget deh. Emang udah cocok cari istri kayanya. "Aga, sini lo"  "salaman sama Agus, minta maaf lagi!" tanpa menunggu, Aga langsung menyodorkan tangannya yang di sambut oleh Agus. "udah baikan, awas kalau berantem lagi. tidur di pohon mangga nanti malem!" ancam Alex "gak mau, ada setannya!" tolak Agus langsung. "makanya, yang akur. jangan berantem lagi. Aga juga jangan cari masalah mulu"   *** Semua hidangan sudah tertata di meja. dengan konsep perasmanan bu Surti kembali memastikan jika semua sudah sempurna. "emang berapa orang bu yang mau datang?" tanya Alex yang tengah memakan buah potong.  "sekitar tujuh orang nak Alex" Alex mengangguk, menyuapkan potongan buah melon ke mulutnya "oh iya, bu Surti liat Rendy?" "Nak Rendy tadi ibu liat mau mandi, sepertinya baru selesai bantu pak Jarwo di kebun belakang. kalau den Aga dimana sekarang?" "lagi sama Tian, tadi minta dibikinin s**u terus dibacain cerita"  Setelah dirasa semuanya oke, Surti bejalan mendekati Alex. "mau bu?" Alex menawari Surti yang kini duduk dihadapannya "engga Nak Alex, ibu gak terlalu suka buah melon" tolak Surti halus "nak Alex, bu Surti mau tanya" ucap Surti dengan wajah ragu. Alex menghentikan makannya "tanya apa bu Surti?" "itu, den Aga itu sebenernya kenapa? Gila?" "oalah, kupikir ada apa Bu, mukanya tegang gitu" "hehehe, Abisnya bu Surti takut tanya-nya" "santai aja bu. oh iya, Aga itu gak gila bu, dia cuma sakit aja, abis kecelakaan, otaknya kepalanya kebentur, jadi begitu" bohong Alex. Rendy, Alex, Tian dan kepala panti sepakat untuk memberi tahu jika kondisi Aga memang terjadi karena kecelakaan. Selain alasannya terdengar masuk akal, alasan tersebut juga mudah di pahami oleh orang sekitar dibandingkan dengan alasan medis yang sulit dimengerti. "ogitu, tapi itu bisa sembuh?"  "bisa bu, dia lagi berobat. Bu Surti doain aja biar dia cepet sembuh. Meskipun Aga itu orangnya nyebelin banget, tetep aja saya kadang gak tega liat dia yang kaya gitu" "hayoooooo!!! gibahhhhh teroooooossss" suara Tian mengagetkan Surti dan Alex. "s****n lo, ngagetin gue aja! si Aga mana?" "tidur, capek katanya" "macem orang sibuk aja capek" "dia orang sibuk Lex" "sibuk apaan" "sibuk ngerepotin" "Bu Surti pamit kedepan dulu ya, mau cek tamunya sudah datang atau belum" pamit Bu Surti "iya Bu, tapi kaya belum deh, saoalnya tadi kaya masih sepi gitu" ucap Tian "gapapa, ibu mau nunggu disana saja" "sip deh, nyaman bu Surti aja"    *** "kalian masih disini?" tanya Rendy yang baru muncul di ruang makan, dibelakang Rendy ada Aga yang membuntuti "emang kenapa? lo ngapain lewat pintu belakang?" Tanya Alex balik "gak ikut nyambut tamu-tamu?"  "harus ikut Ren?" tanya Balik Tian "suka-suka lo aja" "yaudah, gue mau disini aja" putus Tian "gue juga ah, sini aja, enak banyak makanan" ikut Alex "terserah deh, sana duduk samping Tian" perintah Rendy pada Aga. Tanpa menjawab, Aga langsung duduk di samping tian, matanya masih sedikit merah, sepertinya Aga baru bangun dan langsung mengikuti Rendy. "itu para relawan panti masih pada sekolah atau udah kerja, lo tahu Ren?" tanya Tian saat Rendy ikut duduk di samping Alexander yang ada dihadapannya setelah membuat secangkir teh. "katanya anak kuliah semester akhir" jawab Rendy "wihhhh, dedek gemushh" "Alay lo Lex!" "Tian sirik aja njir!" "lo diem aja naber?" tanya Tian pada Aga yang ada disebelahnya "naber apaan?" tanya balik Alex "nahan b***k!" Rendy hanya menggelengkan kepala dengan tingkah laku ketiga temannya. Rendy jadi ingin tahu dikehidupan dulu dia orang seperti apa sehingga memiliki teman-teman yang cukup aneh ini. Tapi sialnya lagi, meskipun mereka aneh, Rendy bisa menerima itu hingga akhirnya kini mereka sedekat saudara kandung sendiri. apakah itu tetap disebut s**l? Ah, Rendy tidak tahu.   *** "bang Rendy sama yang lain, di panggil ibu, katanya mau dikenalin ke kakak relawan" ucap Samsul kepada mereka ber-empat yang masih berada di ruang makan. "iya Sul, nanti kita kesana" jawab Rendy. Samsul mengangguk lalu pergi.  "kalian berdua masuk, gue anter Aga dulu" perintah Rendy "lah, si Aga gak diajak Ren?" tanya Tian "belom sekarang, gue takut itu mahasiswa ada yang kenal Aga" Tian mengangguk, mengerti dan juga setuju dengan pikiran Rendy.  "Yaudah, gue sama Alex kesana dulu. semoga aja itu para relawan gak ada yang tahu Aga itu siapa. Repot kalau sampe ada yang tahu si Aga, sia-sia kita ngumpet disini" "iya, makanya, kalau memungkinkan untuk Aga keluar, mungkin gue harus nyiapin identitas lain buat Aga, tahu sendiri orang sekarang banyak keponya" "betul. yaudah cepet sana pergi, lewat pintu belakang lagi" ujar Axel "ayo Ga" "kita mau kemana Rendy?" tanya Aga dengan polosnya "ke surga" sahut Tian "mampus dong! jahat lo Ti!" balas Alex sambil memukul pundak Tian "Ayo Ga! cepet!"  "tapi mau kemana Rendy?" "udah, mending lo bangun dan nurut sama Rendy, jangan sampe Rendy marah. ntar burung lo ilang"  "Apasih Tian! gak jelas deh kalau ngomong" protes Aga "bangun  atau gue tinggal!" ancam Rendy dengan suara dingin. Dengan bibir mengerut, Aga bangun mengikuti perintah Rendy untuk bangun dan mengikutinya untuk pergi dari ruang makan. entah mau kemana, Aga gak ngerti.      ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN