Alexander dan Tian sudah berada di ruang tempat menyambut para relawan. Mereka sedikit canggung tapi Tian sesekali melirik para perempuan, untuk apa lagi kalau bukan mencari yang bening.
"Mata lo bege, dijaga!" Bisik Alexander
"Nyari yang bening", balas Tian, juga berbisik.
"Nah, adek-adek, ini mas Rendy dan mas Tian, mereka teman dari pemilik panti ini, sama seperti adek-adek, mereka juga tengah menjadi relawan" Jelas bu Sarah, berhasil meraih fokus Alex dan Tian kembali pada acara.
Para mahasiswa itu mengangguk, sesekali beberapa perempuan mencuri pandang pada kedua laki-laki dengan wajah tampan itu.
"Sepertinya tidak perlu berlama-lama lagi, lebih baik kita langsung makan, yang mau saling kenalan biar bisa sekalian" ucap Sarah membuat beberapa perempuan yang menjadi relawan tersebut memiliki semburat merah.
***
Setelah berhasil mengatasi Aga, Rendy langsung segera ke panti.
"Bang Rendy!!!"
Rendy langsung menghentikan langkahnya mendengar teriakkan tersebut.
"Loh, Sea ngapain disini?!" Dengan wajah heran Rendy bertanya.
"Aku salah satu relawan kak, kak Rendy kok ada disini?"
"Iya, aku ada urusan disini. Kamu belum masuk?"
"Udah, tapi tadi aku keluar lagi, ambil barang yang kelupaan"
"Ogitu, ayo masuk dulu"
Sea mengangguk, mengikuti Rendy yang berjalan masuk.
"Ren, makan dulu. Eh- siapa? Neng cantik?" Tanya Tian yang langsung berfokus pada wanita disamping Rendy.
"Sea, sepupunya Kalia"
"Ooohhh, sepupu Kalia, kok gak pernah bilang kalau punya sepupu cantik begini"
Rendy memutar bola matanya "mending lo lanjut makan deh!"
"Ayo Se, kita ambil makan" aja Rendy pada Sea.
***
"Mba Kalia tau kalau bang Rendy ada disini?"
Tanya Sea, ditengah makan bersama Rendy, Tian dan Alexander.
"Tahu kok"
"Rendy mau kemanapun, pasti laporan sama Kalia, bucin udah level darah daging dia" sahut Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rendy.
"Kalian sering ketemu? Kok Kalia gak suka ngajak Sea kalau kumpul sama kita" lanjut Alex
"Beberapa kali aja, kalau lagi ada acara keluarga Kalia" jelas Rendy.
Kalia sendiri adalah pacar Rendy, mereka memulai hubungan saat Rendy dan Kalia masih di bangku perkuliahan, hanya saja Kalia beda jurusan dengan Rendy, wanita itu berada di jurusan Hubungan Internasional. Rendy lupa, yang pasti hubungan dia dan Kalia sudah berumur lebih dari lima tahun. Nanti Rendy tanya lagi ke Kalia, tahun ini mereka merayakan yang keberapa.
"Ini pertama kali apa udah sering ikut kegiatan?" Giliran Alex yang bertanya.
"Aku udah ke tiga kali kak, ikut relawan ini"
"Wih mantep, udah cantik, baik juga, boleh lah jadi-"
"Gak! Gue lempar pala lo kalau sampe godain Sea!" Potong Rendy dengan galaknya.
Meskipun Alex itu jago beladiri, tapu kalau ketegasan Rendy sudah keluar, dia mana berani. Rendy itu bisa menjadi sosok yang menyeramkan, bahkan menurut Tian, marahnya Rendy lebih menakutkan dari Goblin.
"Buset dah Ren, belom juga starter, udah di larang aja" kesal Alex.
***
"Aga gak suka ya, kalau kalian tinggalin Aga sendirian kaya gini! Kalian jahat sama Aga! Kalian tega!!!"
Protes Aga saat Rendy, Tian dan Alex sudah kembali ke paviliun.
"Ya sorry, sengaja sih" canda Tian yang langsung dilempar botol oleh Aga.
"Sakit nyet!!!!"
"Gue mandi dulu" Ucap Rendy dengan santainya, meninggalkan tiga makhluk ajaib itu.
"Anjir, itu anak malah mabur!" Gerutu Alex.
Aga menatap tajam keduanya "kenapa Aga ditinggal sendiri?!" Bentaknya
"Ya lo kenapa gak nyusul?!" Balas Tian juga menyentak
"Ya gimana Aga mau nyusul kalau di kunci nyet!"
"Gak usah pake nyet dong!"
"Tadi Tian duluan yang pake nyet ke Aga!"
"Ya lo ngapain ngikutin gue maleh!"
"Ya suka-suka Aga lah, maleh!!!"
"Anjir! Lo yang urus Lex! Pala gue mau meledak" Tian langsung bangun dan melenggang menuju kamar.
Alex mengehela nafasnya, ditatapnya Aga yang juga tengah menatapnya.
"Apa sih Ga? Gak usah marah-marah. Pala gue pusing" setelahnya, Alex ikut menyusul Tian, dia juga ogah mengurus bayi besar itu sendirian. Apalagi kondisinya sedang marah, benar-benar menjengkelkan!.
"Alex ih, kenapa Aga ditinggal" rengek Aga mengikuti Alex.
"Yaudah, lo jangan marah-marah. Diem! Jadi anak baik, anak soleh, kebanggaan Nusa dan Rara. Maksudnya busa dan bangsa!"
Aga tidak menjawab, hanya menatap jengkel pada Alex dan juga Tian yang tengah rebahan sambil memainkan ponsel.
"Tau ah, Aga kesel!" Menghentakkan kaki, Aga langsung naik ke tempat tidur.
***
"Lho, kamu ngapain Se malem-malem masih diluar, gak dingin?"
"Bang Rendy juga ngapain? Aku cuma lagi nge teh aja bang"
Rendy duduk di kursi depan Sea "aku mau bikin s**u" jawab Rendy
Sea mengangguk "mau teh juga? Aku bikinin"
"Gak perlu Se, kamu sendirian di luar gini ngapain? Bukannya istirahat. Emang gak cape?"
"Ini bukan yang pertama bang, jadi udah mulai terbiasa"
"Ohgitu"
"Oh iya bang, mau bikin s**u diet?"
"Bukan, mau bikin buat yang di paviliun"
"Kak Alex sama kak Tian?"
"Bukan mereka berdua"
"Lho, ada lagi? Emang berapa orang?"
"Ada satu orang lagi"
"Kok tadi gak ikut pas acara makan-makan"
"Lagi sakit dia, jadi sengaja diem disana"
Sea mengangguk, mengerti. "Sakit parah? Atau bang Rendy kesini karena temen bang Rendy yang sakit itu?"
Harus Rendy akui, sepupu pacarnya ini memang cerdas, dia cukup pintar menerka sesuatu. Bahkan tanpa berfikir lama, dia bisa memberi pertanyaan perihal maksud dirinya yang ada disini.
"Iya, itu alasannya"
"Ohgitu, jadi lagi penyembuhan ya bang, emang sakitnya parah?"
"Gak parah kok, cuma unik aja"
"Kok unik? Aku baru denger kalau sakit bisa unik juga"
"Ada pokoknya, tapi gak menular kok, tenang aja"
"Ih bang Rendy, sakit apa? Aku penasaran!"
"Kamu penasaran?"
Sea mengangguk mantap sebagai jawaban
"Tapi kamu bisa abang percaya gak?"
"Tenang! Aku gak pernah ingkar janji orangnya"
"Oke, cukup kamu yang abang kasih tahu ya Se"
"Siap bang, jadi gimana?" Tanya Sea yang cukup penasaran
"Temen abang ada sedikit kelainan, belum tahu pastinya, tapi dia mengalami perubahan mental yang drastis. Dari sosok dewasa seperti abang dan orang yang seumurannya jadi ke umur yang jauh berbeda"
"Kaya bayi gede gitu?!" Tebak Sea langsung
"Betul, mungkin baby banget juga engga, karena temen kakak ini lancar banget kalau ngomong"
"Iya, aku ngerti bayi disini kan cuma perumpamaan"
"Pinter kamu Se"
"Hahaha, iya dong, oh iya, aku pengen dong ketemu temennya kak Rendy itu"
"Buat apaan?"
"Buat kenalan, pengen tahu aja. Soalnya aku kira, hal kaya gitu cuma ada di film aja"
"Beneran pengen ketemu?"
"Iya, beneran bang! Bang Rendy nanya mulu ih"
"Cuma mastiin. Tapi kamu harus sabar kalau ketemu dia"
"Kenapa?"
"Dia suka aneh banget dan galak kalau ketemu orang baru, gak beda jauh macem topeng monyet"
"Dih bang Rendy jahat! Hahaha"
***