Chapter Tujuh

988 Kata
Pagi ini Rendy memutuskan untuk berbicara dengan Sea, memastikan bahwa Sea bahwa dia tidak mengenalin siapa itu Aga. "bener kamu gak kenal dia?" Rendy memastikan "iya, Sea gak kenal. emang siapa sih?" yakin Sea. Rendy mengangguk, memasukan ponsel miliknya yang tadi dia gunakan untuk menunjukan poto Aga.  "kalau temen-temen kamu ada yang tahu dia?" lanjut Rendy, ini Rendy lakukan demi menjamin status Aga, memastikan bahwa orang-orang disini tidak tahu siapa itu Aga yang sebenarnya. Jika sudah pasti aman, maka Rendy juga akan membolehkan Aga keluar paviliun dan sebaliknya, jika salah satu diantara mereka mengenali sosok Aga. Sepertinya mengurung manusia lacknut itu di paviliun adalah opsi terbaik. "mana aku tahu, coba deh tanya langsung" saran Sea "coba kamu tolong panggilin temen-temen kamu" "mau ngapain?" "tadi katanya suruh nanya langsung" "lah beneran?" "emang bang Rendy keliatan bohong?" "iya" "udah cepet, panggil temennya" "seriusan nih?" "iyaa" "tapi serius mau ngapain?" "mau nanya" "dih bang, yang bener aja kali cuma nanya begitu doang. kaya orang penting aja" "udah kamu cerewet, cepet panggilin temen-temen kamu. Sebentar"  Dengan wajah heran Sea mengikuti permintaan Rendy untuk memanggil teman-temannya, dan tidak butuh banyak waktu, kini mereka sudah berkumpul dihadapan Rendy. "kenapa kak?" tanya salah satu mahasiswa yang Rendy belum hafal namanya. "engga, cuma mau nanya aja" jawab Rendy santai lalu mengotak-atik ponselnya "ada yang kenal ini siapa?" "ihhhhh ganteng banget!!!" seru salah satu mahasiswi dengan hebohnya "Gina, Mata lo, tolong!" tegur Sea "jadi gimana, ada yang kenal sama dia?" Tanya Rendy memastikan. Semua menggeleng, memberi jawaban. "emang kenapa kak? anak ilang?" tanya perempuan yang kini Rendy tahu bernama Gina itu "engga, cuma mau kasih tahu aja, kalau ketemu dia, jangan deket-deket. dia punya penyakit menular" jelas Rendy. "kalau menularkan cinta dan kasih sayang, Gina gak keberatan kak, ganteng banget abisnya" Rendy menghela nafas mendengar jawaban Gina, sepertinya ada yang salah pada otak perempuan ini, atau dia termasuk Perikas, perempuan rindu kasih sayang? "initinya, daripada nanti kalian darah tinggi. mending gak usah deket-deket" putus Rendy. "oh iya, ini buat kalian beli bakso" lanjut Rendy sambil meletakan beberapa lembar uang seratus ribu dihadapan mereka.  Gina yang matanya langsung melotot, segera mengambil uang tersebut. Kalau ada rezeki itu harus cepat, sebelum di patok tangan orang. "bagi-bagi Gin, saya gak kasih buat kamu aja" peringat Rendy. "Siap Bos, aman. nanti Gina bagi-bagi duitnya"   ***  "kak, mau ngapain?" bingun Sea saat Rendy membawanya kearah Paviliun "bentar, aku mau minta tolong kamu" Sea menatap Rendy bingung. "minta tolong apa?" "jadi wasit" jawab rendy cepat lalu masuk paviliun. Sea yang bingung hanya menunggu didepan, dia tidak berani masuk karena bagaimanapun paviliun ini bersifat pribadi, bukan tempat yang bebas dimasuki siapapun. sayup-sayup Sea menangkap suara, seperti perdebatan. karena penasaran, Sea melangkahkan kakinya lebih maju, berdiri tepat didepan pintu paviliun yang terbuka. "Eh, Sea! kamu disuruh Rendy ya?" tanya Alex yang mengejutkan Sea. Sea mangangguk ragu "kak Rendy lagi apa? masih lama?" "sabar ya, bentar lagi juga datang" jawab Alex. Sea mengangguk, dia tetap menunggu didepan bersama Alex. "pokonya Aga tetep masih marah! jangan goda-goda Aga ya!" suara Kencang dari dalam kembali mengejutkan Sea. "kaget ya? nanti harus biasa" ujar ALex. Sea masih diam, dia masih bingun dengan apa yang terjadi dan kenapa dirinya diminta untuk datang kesini. "nah, Sea. bang Rendy minta tolong ya, jagain ini orang" Rendy datang sambil menarik seseorang.  Sea diam, menatap orang yang Rendy tarik keluar, Sea masih ingat jika orang tersebut adalah orang yang tadi pagi Rendy perlihatkan potonya, yang Rendy bilang memiliki penyakit dan harus dijauhi. Detik berikutnya Tian keluar dengan wajah kusut, sepetinya sudah terjadi pertengkaran dan Tian menjadi tim yang kalah. "Sea"  Panggilan Rendy langsung membuat Sea kembali fokus. "kenapa bang?" "tolong jagain dia, hari ini mau ada kerja bakti, bang Rendy, Tian sama Alex mau bantu" Sea diam, dia bingung. Kenapa orang yang Sea anggap sudah dewasa harus dia jaga.  "Nanti Bang Rendy jelasin" ucap Rendy yang mengerti dengan raut bingung Sea. "dia Aga" lanjut Rendy mengenalkan. "heh! kenapa lo diem! tadi lo bacot dari a sampe z, sampe gue mual dan telinga gue  rasanya pegen gue gadai" sentak Tian pada Aga. Aga langsung menatap sinis pada Tian.  "Apa lo?! mau gue colok itu mata?" Sentak Tian. "lo mau terus ribut sama dia Ian?" tanya Alex yang sudah mulai jengah. "yaudah yuk siap siap" Ajak Tian "Ga, lo sama Sea dulu. Jangan bikin ribut!" tegas Tian. "Yok ah, kita lets Go" dengan semangat Tian langsung berjalan ke arah panti, disusuk Rendy lalu Alex.  Sea yang melihat yang lain pergi juga ikut menyusul. Baru lima langkah, Sea kembali membalikan tubuhnya, menatap Aga dengan baingung karena hanya dia. pergerakan Sea yang berhenti disadari oleh tiga pria yang sudah berjalan beberapa langkah didepan Sea. Mereka juga diam, menatap apa yang sedang terjadi.  "kamu gak pergi?" tanya Sea pada Aga. Aga mengangguk pelan.  "terus kenapa masih diem aja?"  Aga masih diam, wajahnya nampak seperti malu. sedangkan tiga orang lain tengah menatapnya dengan bingung. "Aga, jalannya mau di gandeng kakak cantik" ucap Aga sambil malu-malu. Sea diam terkejut, begitu juga Rendy, Alex dan Tian. "apa?" Sea memastikan indra pendengarannya "Aga mau di gandeng kakak cantik" ucapnya lagi masih malu-malu "HAH?! APA?!" Wajah Sea terkejut, indra pendengarannya tidak salah.  Aga memberengut, kenapa respon Sea seolah melihat hantu. Menyebalkan. Sambil menghentakan langkahnya, Aga segera menyusul Sea. meraih tangan perempuan itu untuk dia genggam. "Aga mau di gandeng, kaya gini, Sea gak tahu kalau gandengan itu begini?" dengan wajah polosnya Aga bertanya sambil mengangkat tangannya dan tangan Sea yang sudah bertautan. "yuk jalan, Aga belum sarapan. laper nih" Ajak Aga sambil menarik Sea yang masih cukup terkejut. "apa liat-liat!" Galak Aga saat melewati Rendy, Alex dan Tian. "Gila! itu otaknya udah balik jadi orok, tapi tahu aja cewe cantik!" Dengan wajah terkejut Tian ALex berbicara saat Aga dan Sea sudah mulai jauh. "FIX! udah gedenya jadi fucek boy!" lanjut Tian. "tiap hari liat kelakuan dia, bisa-bisa gue ikut gila. haduuuhhh, aing sieun! (aku takut)" Alex menggelengkan kepalanya berulang, mencoba mengusir bayangan mengerikan itu. "tapi Baguslah, Sea bisa jadi pawangnya mulai hari ini" lanjut Rendy. "jelaslah itu bocah mau! pawangnya cantik begitu!! heran deh, otak geser juga masih bisa aja pilih-pilih, Herman aing. Giliran bu Surti dia gak nurut!" Tian kembali bersuara. "ya dari bu Surti ke Sea, jauhlah! umur aja udah beda jauh!" sentak Alex "biasa aja, gak usah sewot!"  "lagian perbandingan lo gak bagus gitu" "jijik lo!" Tian langsung meninggalkan Alex. Sedangkan Rendy yang melihat perdebatan keduanya hanya bisa menghela nafas. Nasib sekali dirinya dikelilingin manusia luar biasa ini. Semoga dia tidak memiliki darah tinggi dan berumur panjang. Amin.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN