Hari menjelang malam, selepas makan malam, Rendy, Alex, Tian dan Aga kembali ke paviliun. Sea yang hari ini menjadi baby sitter Aga bahkan sudah terlelap karena lelah. Aga benar-benar manja kepadanya, sebentar-sebentar memanggilnya, meminta tolong ini dan itu, melarang Sea berjauhan dan antar kesana-kesini.
Rendy juga sudah menjelaskan kondisi Aga sekarang ini kepada Sea jadi wanita itu cukup mengerti dan mulai memaklumi karakter Aga. Sepertinya, jika wanita itu tidak terlelap dia pasti akan di repotkan lagi oleh Aga.
"heh! itu bibir udah macem p****t ayam, ngerucut mulu" ledek Tian pada Aga yang tengah kesal.
"muka Tian yang p****t ayam!" sentak Aga
"biasa aja keleuuss"
buk
"anjir! lo emang ya! gak pake lempar-lempar remot tv gak bisa lo?!" Tian mengusap-usap kepalanya yang dilempar remot oleh Aga.
"nih s**u lo!" Alexander memberikan botol berisi s**u yang baru dibuatnya pada Aga.
"ini siapa yang bikin?"
"setan pohon mangga depan!"
"oh Alex" Aga menganggukan kepalanya
"s****n! bukan gue setannya!" kesal Alex. Wajah tampan dan memikat miliknya tidak boleh disamakan dengan setan.
"Sea gak ada ya?" tanya Aga dengan lirihnya
Alex menghela nafas, sedang Tian memutar bola matanya mendengar ucapan Aga. lebay, pikir mereka.
"lo tahu sendiri kalau Sea udah tidur!" sinis Alex
Aga menghela nafas, tidak semangat. "padahal masih siang, masa Sea udah tidur"
"ya elo sadar kutil! ini si Sea capek ngadepin lo seharian. Heran deh gue. Otak lu macem anak kecil yang keluar dari perut dajal. banyak tingkah! banyak mau!" kesal Tian.
Aga langsung menatap tajam pada Tian, omongan Tian selalu menyebalkan untuknya.
"udah, ribut mulu lo berdua! mending Tidur. remuk badan gue abis kerja bakti tadi" Alex meninggalkan keduanya, masuk kedalam kamar. Dia butuh istirahat.
"ngapain Ren?"
Rendy sejenak mengalihkan pandangannya dari ponsel "chat Kalia"
Aleh mengangguk, lalu merebahkan dirinya di samping Rendy.
"Cape banget gue. lebih cape dari sparing" keluh Alexander yang sudah membenamkan wajahnya pada bantal.
"tidur sana! jangan ngorok!"
"penghinaan! kapan gue ngorok Ren!"
"pas lo tidur lah bege!"
"gue tidur gak ngorok ya sat!"
"lo emang tahu gimana tidur lo? lo kan tidur bege!"
Alex diam, dia berbikir. benar juga yang dikatakan Rendy. diakan tidur, mana bisa liat kondisi tidurnya sendiri.
"mikir kan lo?! udah sana tidur. gue juga mau tidur! awas ganggu!" peringat Rendy yang sudah membalikan tubuhnya membelakangi Alex.
***
Tian menggelengkan kepalanya melihat Aga yang tengah kesal. kaadang dia berpikir, apakah dia sudah menghancurkan bumi ketika di masa lalu sampe memiliki teman sejenis Aga. Dosa apa dirinya! eh tapi seingatnya dosa dia memang banyak.
"Ga" panggil Tian.
"hmm"
"Ga"
Aga tidak menjawab, kini hanya melirik kesal pada Tian.
"biasa aja dong. sinis amat lo sama gue, cuma manggil doang"
"Tian monyet nyebelin"
"gila! enak aja gue dipanggil monyet! dapet darimana lo?! gue gunting ya itu bibir!"
"dari temen-temen Aga"
"astaga! itu bocah-bocah mulutnya udah kotor! dosa apa gue, sampe dibilang monyet! ganteng begini. s****n!" kesal Tian.
"kenapa Tian, Tian gak seneng dibilang monyet? kan cocok sama Tian" tanya Aga dengan wajah polosnya.
"jangan sekate-kate lo ye, bilang gue monyet. kalau gue monyet, lo apa? bagong?" sewot Tian. dia sudah tidak kuat jika harus berlama-lama lagi dengan Aga, apalagi hanya berdua. Bisa modar duluan dia. Belum juga nikah, kalau kawin sih sering, muehehehe.
***
"Ngantuk lo?" tanya Alexander.
Tian langsung menghempaskan tubuhnya pada kasur. bukan ngantuk, lebih tepatnya lelah.
"cape gue"
"sama gue juga cape, badan gue remuk rasanya"
"Rendy tidur?"
"kayanya. udah masuk sesi mimpi kali dia, si Aga lagi ngapain? gak lo suruh masuk?"
"bodo amat. Bisa mati muda kalau gue deketan dia mulu"
Saat Tian menguap, Aga masuk kedalam kamar, wajahnya masih cemberut, kesalnya belum hilang.
"tutup pintunya sekalian!" perintah Alex
BRAK
"pelan-pelan Ga, itu pintu roboh kalau lo banting begitu!" tegur Alex.
"Awas, Aga mau tidur ditengah!"
Baru Aga akan menaiki kasur, suara Tian yang menyuruhnya membuat dirinya makin kesal.
"sekalian ganti lampu tidur"
Menghentakan kaki, Aga melaksanakan apa yang Tian perintahkan.
"nah Pinter" puji Alex
"diem! Aga lagi kesel!"
***
Sudah dua jam lebih Aga hanya terdiam, matanya tidak bisa terpejam karena dia tidak merasa kantuk sedikitpun. Melihat kanan, Alex dan Rendy sudah terlelap, berbalik melihat kiri, Tian juga sudah terlelap. Hanya dia saja yang masih terjaga.
Aga mencoba mencari posisi nyaman, balik kanan atau kiri demi mendapatkan rasa kantuknya.
"diem Ga! banyak gerak banget sih!" protes Alexander. Matanya masih tertutup tapi kenyamanan tidurnya terganggu Aga.
"Aga gak bisa tidur Lek" lirih Aga
"merem" dengan mata yang masih terpejam Alex menjawab.
Aga mendengus, mana bisa merem kalau tidak mengantuk.
"sama aja, Aga belum ngantuk. Alex bangun dong. temenin Aga"
Bukan menjawab, Alex malah membalikan badannya memunggungi Aga. Membuat pria itu mendengus kesal. Dia diabaikan!
Aga kembali melanjutkan aksinya, berbalik kanan dan kiri, berharap menemukan posisi enak untuk tidur.
plak
mata Aga langsung melotot, saat sebuah tangan mendarat di wajahnya. ditatapnya Tian sang pemilik tangan yang masih pulas. Aga kesal, sudah tidak bisa tidur, tidak ada yang menemani, dapat tamparan pula!
Aga langsung bangun, meraih raket nyamuk yang ada disamping Rendy. Dalam hati dia mulai menghitung, satu, dua, tiga
Tak
"IIIIBAAAABBBBBB" Teriak Tian mengejutkan Alex dan Rendy.
"gila! ada apaan?!" tanya Alex yang terkejut.
"NOH! lo tanya sama teman laknat lo! ngapain masa depan gue ditampol! udah sakit bonus setrum juga. s****n!!!!!!!!" Amuk Tian sambil memegang selangkangannya.
"kenapa Ga?" tanya Rendy langsung.
"Aga cuma bantuin Tian! Aga liat celana Tiang ngembung! Aga pikir ada hewan masuk celana Tian. daripada Tian mati. jadi aga pukul aja hewannya. kayanya ular deh" dengan polos Aga bercerita.
Rendy dan Alex seketika langsung menatap Tian.
"HAHAHAHAHAHA" Tawa keduanya pecah, sedangkan Tian yang ditertawakan malah menatap marah pada mereka. s****n, dia kesakitan malah ditertawakan!
"lo berdua berhenti ketawa atau gue cekik leher lo semua!" geram Tian.
"hahah, sorry Ian, kacau. Jangan bilang lo lagi ngimpi?" tanya Alex sambil berusaha menahan tawanya.
Tian langsung menatap sinis pada Aga "emang! gue lagi ngimpi enak-enak, baru juga mau tahap inti udah di geplak! s****n!" kesal Tian. Selangkangnya juga masih terasa sakit. Sepertinya Aga bukan berniat membunuh ular, tapi berniat membunuh dirinya.
"sabar Ian, sabar! yang penting telornya gak pecah" Lanjut Rendy
"hah! didalemnya ada telor juga?" tanya Aga dengan wajah terkejut
"iya, lo gak tahu kalau dia punya telor?" sahut Alex
"s****n. Kalian juga punya ya sat!"
"Aga baru tahu, ternyata Tian bukan monyet, tapi bebek"
"gak lucu lo!" bentak Tian
"siapa juga yang ngelucu" Wajah Aga kembali cemberut. Tian itu sepertinya memang suka sekali memarahi dia. Padahal dia kan berniat baik. Menolong Tian dari kematian.
Tian menghela nafasnya, "semoga gue gak impoten" ucapnya dengan lirih yang berhasil mengundang tawa Rendy dan Alex lagi.
***