Zion Gusti Raharja, anak pertama dari pasangan Julian Raharja dan Stephanie. Meskipun terlahir dari keluarga kaya raya, Zion tidak pernah memperlihatkannya. Bahkan sering kali Zion marah jika mobil mewah yang menjemputnya itu parkir depan sekolah. Dia hanya kurang nyaman dan tidak ingin mendapatkan pandangan berbeda dari teman-temannya.
Dia hanya ingin terliihat sama dengan yang lain dan tidak ingin terlihat lebih diatas mereka. Zion tumbuh dengan jalan yang dia pilih sendiri, tidak seperti Aga yang akan menuruti setiap rencana masa depan yang dibuat ayah mereka, Julian. Zion lebih senang merancang masa depannya sendiri.
Karena terlalu sering tidak menuruti kemauan Julian, hubungan Zion maupun Julian memang tidak sedekat Aga dengan Julian. Tapi bukan berarti mereka bermusuhan dan berada dalam hubungan yang buruk. Tidak. hanya saja karena Zion yang memilih jalan sendiri, Julian akhirnya terbiasa menyerahkan semua urusan kepada Aga.
Sejak kuliah, Zion sudah tidak tinggal dirumah. Dia memilih untuk tinggal di kosan bersama teman-temannya dan akan pulan pada weekend. hal tersebut terus berjalan hingga kini, Zion memilih untuk tinggal di apatemen dan akan pulang pada weekend.
Jika Aga menjadi seorang dokter sesuai keinginan Julian, maka Zion menjadi seorang wartawan sesuai keinginannya. Mungkin dengan latar belakang itu, wajar jika Julian memang tidak begitu mengenal Zion dengan baik, terbiasa menyerahkan segala urusan pada Aga, membuat Julian terkadang meragukan Zion yang menurutnya hanya seorang wartawan.
Bukan maksud Zion untuk menyerahkan tanggung jawabnya kepada Aga dan tidak mengikuti perintah Julian. Zion hanya ingin dia menerima segala tanggung jawab yang akan dia dapatkan dengan jalannya sendiri. Dia bukan anak yang benar-benar tidak perduli pada perusahaan ayahnya. Dia sadar bahwa dia adalah anak pertama, seorang kakak yang diarapkan oleh Aga untuk dapat mengemban tahta sang ayah, meskipun Julian sendiri lebih mempercayai Aga. Julian hanya tidak tahu, bahwa selama ini, Zion juga tertarik mengenai ekonomi dan bisnis.
Memang Zion sendiri tidak pernah memberi tahu jika dia bahkan melanjutkan pendidikan S2 nya yang ke dua di bidang ekonomi. Selain kuliah, Zion juga tidak memberitahu jika dia adalah orang yang sering menulis perihal perkembangan ekonomi dan bisnis di majalah yang sering Julian baca. Karena kenyataannya, Julian memang tahunya Zion berada di devisi politik luar negeri.
Keraguan Julian dan hal-hal yang Zion sembunyikan memang bisa dibilang karena keduanya memang saling tertutup dan tidak dekat, semakin Julian mempercayai Aga, maka semakin Julian tidak mengenal Zion.
Hubungan Aga dengannya tidak bisa dibilang buruk, Aga sering datang ke apartemen Zion, entah untuk menginap atau mengobrol banyak hal, mereka akrab.
***
"lo seriusan harus resign Zi?" tanya Andre lagi, teman satu devisi Zion
"iya Dre, gue harus resign" Jawab Zion yang tengah sibuk merapihkan mejanya, memasukan barang-barang miliknya kedalam box.
"tapi kok mendadak gini Zi, seenggaknya nunggu sampe ada pengganti lo datang"
"gak bisa, gue bener-bener harus pergi sekarang"
"tapi lo di denda! lo tahu sendiri, prosesnya satu bulan baru bisa keluar"
"gue tahu, tapi gue bener-bener harus out Dre"
"lagian lo kenapa sih, tiba-tiba gini!"
"rahasia"
"jangan bilang kalau lo mau nikah?! parah sih kalau sampe lo gak ngasih tahu gue"
Zion memutar bola matanya, temannya ini memang selain kepo dengan urusan orang lain, dia juga selalu lebay. "engga! gue gak nikah"
"terus kenapa? masa sama temen sendiri lo gak bilang sih Zi"
"lo kepo banget dah!"
"wajar, gue wartawan kalau lo lupa"
"bacot lo!" Zion melempar pulpen pada Andre, telinganya sudah cukup panas mendengar suaranya.
"kesel lo, gue tanya mulu?"
"berisik!" Zion menutup box yang berisi barang-barangnya. Akhirnya acara mengemasnya selesai juga.
"ayo, lo mau makan gak?" Ajak Zion
"lo yang traktir!" sahut Andre langsung mengikuti langkah Zion
***
"terus, lo masih tinggal di apartemen itu gak Zi?" keduanya memilih untuk makan siang di salah satu restoran yang menjual masakan China.
"engga. cuma gue gak bakal sering di apartemen"
"gue kiraa lo jual juga itu apartemen, bakal modal"
"engga lah!"
"bagus deh, gue berarti masih bisa nebeng nginep"
Zion memutar bola matanya. Dasar Andre. "iya boleh, kalau gue juga lagi di apartemen. bisa-bisa lo pake yang engga-engga apart gue kalau gak ada gue"
"anjir, emang mau gue pake apaan Zi. guemah anak baik-baik. minum es teh manis aja mabok!"
"ya lo minum satu teko, gimana gak mabok!"
"hahahah. bisa aja loh Zi!"
"tapi serius lo berhenti bukan karena mau nikah?"
"engga! gue colok ya mata lu kalau ngomong lagi gue mau nikah!"
"ya gue kan cuma mastiin aja Zi. lagian gak ada angin, gempa sama gunung meletus lo tiba-tiba resign. kan gak masuk di otak"
"makanya, gedein kapasitas otak lo!"
"anjir, otak gue udah gede ya kapasitasnya"
"iya, cuma loadingnya aja kebangetan!"
"sue! gue nambah lagi boleh gak nih?"
Zion menghela nafas, sebenernya dia jengkel tapi bagaimanapun Andre ini teman dekatnya, pahit manis mereka rasakan bersama sejak kuliah. Kalau mereka tidak sedekat itu, sudah Zion siram kuah pedas wajah Andre.
"pesen deh, pesen. Karepmu aja lah Dre" Zion langsung melanjutkan makannya, sedang Andre bersorak dan memanggil pelayan untuk memesan kembali.
***
"papa ada didalam?" Tanya Zion pada sekretaris Julian, Steve. Selepas makan dengan Andre, Zion langsung berpamitan dengan yang lain dan setelahnya Zion segera menuju kantor sang ayah.
"pak bos ada didalam, langsung masuk boleh"
Zion mengangguk lalu masuk keruangan Julian.
"papa sehat?" pertaan pertama yang Zion berikan pada Julian.
"papa sehat, kamu duduk dulu. papa tanda tangan dulu sebentar"
Zion langsung duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu di ruangan Julian. Ruangan ayahnya itu memang cukup besar. Bahkan memiliki ruang tidur untuk istirahat, atau untuk ruang tunggu yang digunakan sang mama jika sedang menemani papanya itu.
"jadi gimana Zi, kamu bener udah resign?" Julian duduk dihadapan Zion
"udah pa, aku udah resign sesuai perintah papa tempo hari"
Tepat setelah Aga pergi untuk disembunyikan, Julian memang langsung memanggil Zion, menjelsakan semuanya kepada sang anak sulung dan juga meminta anak sulung untuk berhenti bekerja dan fokus kepada perusahaan.
"bagus, terima kasih sudah mau mendengarkan papa" Julian tersenyum tulus, dia sendiri memang merasa jika hungannya dengan Zion tidak sedekat seperti hubungannya dengan Aga.
"engga pa, sudah kewajiban aku bantu papa"
Julian mengangguk, berharap anak sulungnya itu bisa diandalkan, agar kelak dia bisa merubah rencanya yang akan meberikan tahta nya kepada Aga menjadi kepada Zion.
"oke, berati kamu siap untuk besok langsung bekerja"
Zion mengangguk mantap. "siap pa, Zion siap" tegasnya
"bagus, mengkin kamu akan papa langsung tempatkan di Rumah Sakit yang saat ini punya masalah mengenai malpraktek. karena kasus itu, nama rumah sakit kita memburuk. Papa harapkan kamu bisa menyelesaikan itu dan kembali membersihkan nama Rumah Sakit kita. tapi ingat jangan dengan cara kotor. apalagi menyangut pasien, pastikan keadilan untuk semua belah pihak"
Zion mengangguk, mengerti dengan perintah yang papanya berikan, hal yang dia banggakan dari sang papa adalah papanya selalu jujur dalam berbisnis. Maka tidak heran jika kerajaan bisnis sang papa terus membesar.
"siap pa, Zion akan lakukan sesuai perintah papa"
"bagus, sekarang kamu temui mama kamu, dia terus berpesan untuk kamu menemuinya"
Zion tersenyum geli, mamanya itu memang selalu cerewet dan menyuruh dia pulang karena weekend kemarin Zion libur pulang ke rumah. "siap pa"
***