Chapter Sepuluh

1085 Kata
Rutinitas panti di minggu pagi hari. Semua sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rendy dengan relawan laki-laki yang berjumlah empat orang sibuk mengurus kebun di belakang panti. Alexander yang tak kalah sibuknya menemani anak-anak untuk membuat prakarya. Sebuah kegiatan yang memang wajib dilakukan satu minggu sekali guna mengasah kemampuan kreativitas anak-anak. Meskipun tinggal di panti, anak-anak dijamin segalanya, mulai dari pendidikan yang bagus, juga fasilitas lain yang mendukung, mulai dari ruang musik yang cukup lengkap dengan banyak alat musik hingga labolatorium mini. Ayahnya Aga, atau Julian memang ingin setiap anak panti tidak kekurangan, mereka harus sama dengan anak-anak yang memiliki orang tua lengkap. Julian tidak ingin ada anak panti yang minder dengan statusnya yang tinggal di panti asuhan. Mereka sama dengan anak yang lain. Tian tengah sibuk membuat s**u untuk Aga, meskipun kesal karena selalu diperintahkan membuat s**u, roh pada akhirnya dia akan menurut. Sedangkan Aga sendiri memilih untuk berdiam di ayunan daripada ikut dengan yang lain membuat prakarya. "Nih susunya" Tian menyerahkan botol s**u pada Aga, laki-laki di ayunan itu menerima dengan senang. "Seneng lo! Nyusu mulu" "Seneng dong, Tian emang terbaik kalau bikin s**u" "Lebay lo ah, orang s**u pabrikan!" "Tapi ini better, daripada bikinan Alex yang gak manis" kesal Aga, dia ingat sekali dimana setiap Alex yang membuatkan s**u untuknya, pasti hambar, terlalu banyak air. Aga tidak suka. "Tian, Aga mau tanya dong" "Apaan?!" "Ish, Tian marah-marah mulu ya. Cepet tua lho!" Tian menghela nafas, yang ada alasan Tian cepat tua adalah si Aga ini, sahabat lucknut-nya. "Yaudah, mau tanya apaan?" "Kok Aga kalau minum s**u harus di botol?" Tian memutar bola matanya, sebuah pertanyaan yang tidak bermanfaat menahan kesabaran. Pertanyaan yang tidak berfaedah sedikitpun. "ya lo udah gede Ga!" "ish, Aga itu masih imut!" protes Aga. Tian langsung bergaya seolah ingin muntah mendengar ucapan Aga, imut dari Hongkong! "terus lo mau minum s**u di baskom? mangkok? atau piring hadiah sabun cuci?" "gak mau! maksud Aga tuh, kan Aga itu sama kaya dedek bayi yang Aga liat sama-sama imut. Tapi dede bayi gak minum s**u di botol kaya Aga" Tian mengerutkan dahinya, masih mencerna setiap ucapan unfaedah dari Aga "terus?" Aga mencebik, kesal karena Tian sangat bodoh tidak langsung mengerti apa yang dia katakan. "Ya Aga juga mau kaya dedek bayi! bukan minum s**u dibotol!" teriak Aga. Tian mengusap telinganya yang berdengung karena teriakan si anak menyebalkan Aga. Untung saja dia tidak jantungan, bisa koit ditempat dia. Nikah juga belum masa sudah koit, kan amit-amit. "bilang dong kalau lo mau minum di tete! mana boleh lo!" bentak Tian. "woy! lo ngapain ngomong tete! masih pagi udah ngomong sampah aja lo Ian"  Tian langsung menatap sebal pada Alexander yang baru datang, siapa juga yang ngomong sampah wong dia lagi ngadepin monster menyebalkan, Aga. "otak lo yang sampah lex!"  "lah, kenapa jadi gue. inget-inget aja, si Aga otaknya lagi jumpalitan, jadi macem anak polos, lo pagi-pagi udah ngomong jorok aje, Ian Ian" Alexander menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah dia orang pali benar disini. Tian langsung memberikan toyoran dikepala Alex "otak lo yang jorok Lex! bangke! gue cuma jawab si degem ini Lex! katanya ngapa dia minumnya gak di tete langsung, macem bayi baru brojol"  "anjaaaaayyyy!!! gue juga mau kalau itu!!!!!"   plak   "sakit Ian! gak usah geplak pala gue bisa gak sih!" bentak Alex tidak terima dengan perbuatan Tian, tadi di toyor sekarang di geplak, lama-lama bisa gelinding kepalanya karena di aniaya Tian. "mulut lo gak bener!" bentak Tian balik.  "haha, sorry, keceplosan gue Ian" Tian hanya memutar bola matanya, itu burung kalau gak disempakin juga lepas kali! "oh, jadi itu namanya tete?!" Pertanyaan Aga langsung menarik Tian dan Alex untuk menatapnya. Mereka lupa kalau masih ada Aga. "iya! padahal enak lo kalau minum s**u di tete, gak bakal abis"   plak   "Anjrit! sakit Tian!!!" teriak Alex yang lagi-lagi dapat pukulan di kepalanya "ya ngapain lo lanjutin b**o!" "terus Aga bisa gak minum s**u langsung dari tete?"  "bisalah, asal ada yang mau netein lo!" plak "b*****t, SAKIT TIAN KEPALA GUE!" "ya lo b**o!!! masih aja lo sautin itu omongan si Aga! sampah lo!" Aga mengangguk, menyerahkan botol berisi s**u yang sebelumnya diberikan Tian kepadanya. Detik berikutnya Aga balik kanan dan melangkah cukup cepat, meninggalkan Tian dan Alex yang keheranan. "woy!! mau kenapa lo?!" teriak Alex "MAU KE KAKAK CANTIK! MAU MINTA NETEIN AGA!" teriak Aga yang memang sudah berjalan lebih jauh. Mata Alex melotot dan langsung berlari menyusul Aga. "k*****t! BALIK WOY!" teriak Alex pada Aga. Tian hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya. mampus, siap-siap aja Alex dimarahin Rendy yang kalau sudah marah mirip gozila.   *** Tian meminum tehnya dengan damai, siang ini menurutnya menjadi siang paling menyenangkan, minum teh sambil melihat Alex dan Aga yang tengah dimarahi Rendy. Apa Tian bilang, kalau Rendy marah, siap-siap aja.  Zombie di train to Busan aja kalau liat Rendy marah, boro-boro mau nyerang, paling itu zombie lewat doang sambil bungkuk dan bilang punten sama Rendy. Memang se-menakutkan itu si Rendy. Tapi untung aja ada yang mau, mana di Kalia pacarnya Rendy baik banget, pinter, terus cantik juga, telalu sempurna lah buat si Rendy. "LO t***l!" Bantak Rendy pada Aga yang dihadapannya hanya menunduk "LO LEBIH t***l!" kali ini Alex  Rendy menatap Aga penuh kesal "masih untung lo cuma ditampar Sea, udah berapa kali gue bilang. mikir kalau mau bertindak! t***l lo jangan sampe nempel!" Siang tadi Sea mengadu kepadanya jika dia menampar Aga karena berbicara hal menyebalkan, Sea tahu jika otak Aga sedang sakit, tapi dia tetap saja tidak terima, dan refleks menampar Aga, masalahnya adalah mau segila apapun otaknya, tetap saja yang berdiri di hadapan Sea itu sosok laki-laki yang dewasa. Rendy menghela nafas, mencoba menurunkan sedikit emosinya "Lo juga Lex. kurang-kurangin ngelakuin hal t***l yang bisa mancing ketololan Aga" "Lo juga harusnya bisa memilah mana yang emang perlu lo lakuin dan mana yang engga perlu lo lakuin. Gue gak mau tahu, ini terakhir lo bikin keributan" tegas Rendy pada Aga. Sementara itu Tian yang bertugas sebagai penonton hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rendy sudah tahu otaknya jungkir balik, mana bisa pilih mana yang perlu dan engga buat dilakuin. Sakit juga nih si Rendy. "gue harap kalian bisa kerjasama sama gue agar semuanya cepet selesai, apalagi keadaan rumah sakit sekarang makin parah dihari pertama Zion yang ambil alih. gimanapun, gue juga harus bantu dia, dan kalau terus menghadapi hasil kebegoan kalian setiap harinya, kepala gue bisa pecah!" Alex menghela nafas, apa yang ucapkan Rendy benar toh memang pada dasarnya Rendy itu lord, mana pernah salah dia kalau ngomong. Dia udah banyak kerjaan, ditambah ngurusin manusia berotak alien macem Aga, Alex jadi kasian, jangan sampe laik-laki itu mati muda. Kasian Kalia, pacarnya baru di kasih janji mau dinikahin masa udah ditinggal mati aja. "sekarang lo siap-siap, bentar lagi ada psikolog yang datang! inget Ga, gue tahu otak lo bisa pilih mana hal bodol yang gak perlu lo lakuin" ucap Rendy lalu meninggalkan mereka ke kamar. "enak lo pada disembur api naga Anglingdarma?" ledek Tian pada keduanya. "bacot lo diem!" kesal Alex. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN