permainan 4

796 Kata
"Tante siapa Kak Sean? Siapa yang di maksud Tante? "dengan cepat Shela melempar Sean dengan kalimat tanya saat mendengar Sean memanggil dengan panggilan tante. mendengar pertanyaan Sheila, Sean langsung kelabakan, karena ia tidak sempat mencari alasan saat dirinya keceplosan menyebut kata tante. "Dari mana saja? "tanya Sean tidak punya jawaban atas pertanyaan Shela, akhirnya Sean menjawab pertanyaan Shela dengan kalimat tanya juga untuk mencari alasan, atau untuk mengalihkan pertanyaan Shela. "Tadi aku main ke kantin, ingin lihat-lihat suasana kantin di kantor Kak Sean, ternyata di kantin seru juga ya. "Jawab Shela yang membuat Sean bernafas lega karena Shela bisa mengalihkan pembicaraan soal pertanyaan Shela tadi. "Tidak sekalian makan? "tanya Sean, ya sebenarnya bukan pertanyaan itu yang ingin tanyakan, Tapi demi mencari aman, akhirnya meski pertanyaan yang tidak penting Sean tanyakan. "Kan masih sore, Kak. Belum laper. "Jawab Shela "Ya sudah, kalau kamu sudah merasa puas keliling kantor ini, kamu bisa bersantai di ruangan ini. Tidak papa kan aku tinggal kerja . "Kata Sean dengan penuh kelembutan. "Tidak apa-apa , Kak. Kalau gitu, Aku keluar aja. Kak Sean kerja yang fokus. "Kata Shela yang langsung keluar dari ruangan Sean, dan Sean langsung bernafas lega setelah melihat kepergian Shela. "Shela, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Tapi kamu tidak perlu khawatir, sekalipun aku tergoda, terpesona, terpikat akan pesona mama kamu, aku akan berusaha untuk tetap setia sama kamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengkhianati wanita yang begitu tulus mencintai aku. "Gumam Sean yang entah kenapa ia merasa sangat bersalah pada Shela karena pikiran Sean saat ini di penuhi oleh Devina, calon mertuanya. Padahal Sean tidak mengkhianati Shela, tapi rasanya Sean sudah begitu sangat melakukan kesalahan fatal karena telah mengkhianati Shela. Disaat Sean tengah berusaha mengusir bayangan Devina dari otaknya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, dan Sean yang mendengarnya hanya diam saja, dan terus memijat kepalanya yang terasa berdenyut. "Kalau sakit, biar aku bantu untuk meredakan rasa sakit itu. "Ujar Devina seraya menyentuh kepala Sean lembut, membuat Sean langsung mendongak karena terkejut mendengar suara Devina. "Tan-tante... Mau apa Tante ke sini, dan bagaimana bisa Tante masuk kesini? "tanya Sean dengan nada terbata, dan tentunya selain karena Sean terkejut akan kedatangan Devina ke ruangannya, Sean juga takut Shela akan tau kalau di ruangannya ada Tante Devina. "Yah mau apalagi kalau bukan bertemu kamu, Sayang. "Jawab Devina seraya memijat pundak Sean dengan penuh godaan, namun dengan cepat Sean berdiri untuk menghindari Devina. "Tante, tolong jaga sikap. Aku ini calon menantu Tante. "Ujar Sean dengan penuh ketegasan meminta agar Devina tidak sampai melewati batas. "Sikap yang mana yang harus aku jaga, Sean? Katakan sikap yang mana. Demi kamu akan aku jaga sikap ku, asal... Devina sengaja menjeda kalimatnya, dan kembali mendekati Sean, lalu memeluk pinggang Sean dengan penuh hasrat. "Asal apa, Tante? "tanya Sean berharap ia segera lepas dari gangguan gairah calon mertua. "Asal kau bisa membagi waktumu untuk ku dan untuk Shela, atau kalau nggak, waktumu full buat aku. "Ujar Devina yang membuat Sean langsung melepaskan tangan Devina yang sejak tadi melingkar erat di pinggangnya secara kasar. "Tante jangan gila ya, jaga kehormatan Tante sebagai calon mertua! "kali ini Sean sudah tidak bisa bersikap sopan lagi pada Devina saat Sean mendengar keinginan atau syarat dari Devina agar dirinya terlepas dari Devina, Sean langsung menunjuk wajah Devina penuh kemarahan. "Tidak perlu main emosi, Sayang. Lebih enak main di ranjang dari pada main emosi. "Ujar Devina seraya mendekati Sean lagi, dan kembali mengelus d**a Sean dari posisi belakang, hingga membuat Sean langsung memejamkan matanya saat merasa tubuhnya mulai hangat dalam pelukan Devina. "Tante, jangan lakukan kesalahan besar ini. Ini salah besar. "Kata Sean dengan susah payah menahan gejolak yang mulai bangkit karena sentuhan Devina. "Ini nikmat besar, bukan kesalahan besar. "Kata Devina seraya menekan gunung kembarnya yang sangat menonjol pada punggung Sean, hingga Sean langsung membalikkan badannya dan mencengkram kuat kedua pundak Devina. "Berhenti memancingku, Tante. Aku calon menantu Tante. Kalau Shela melihat apa yang Tante lakukan sama aku, kita juga tidak tau seperti apa kecewanya dia. Dan aku tidak mau mengkhianati dia. Aku lebih baik mencari wanita lain, dibandingkan menerima sentuhan dari Tante! "ujar Sean dengan penuh kemarahan, karena kali ini Sean benar-benar tidak bisa mengendalikan gairahnya saat Devina terus memancingnya. Devina hanya tersenyum menanggapi ucapan Sean, tidak merasa harga dirinya jatuh karena penolakan Sean, bahkan tidak merasa sakit hati sedikit pun, dan dengan perlahan tangan Devina bergerak cepat menyentuh pusaka Sean, hingga membuat Sean langsung mendesah. "Ahhhh.... Tante... Desah Sean merasa kenikmatan saat Devina menyentuh pusakanya tanpa permisi. "Jangan sok kuat, Sayang. Tubuh mu tidak bisa menolak. "Ujar Devina yang semakin bersemangat untuk memberi sentuhan pada pusaka Sean, hingga Sean kehilangan kesadarannya, dan melumat bibir Devina dengan penuh hasrat. Devina membalas lumatan bibir Sean dengan tak kalah beringasnya dari Sean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN