permainan 3

643 Kata
"Ahh, Sean... Devina mendesah sambil menatap foto Sean, serta tangannya yang bergerak untuk memberi pijatan lembut pada gunung kembarnya sendiri, merasakan sensasi yang mulai aneh pada tubuhnya, dan itu karena menghayal Sean yang tengah meraba dan memberi sentuhan lembut terhadap tubuhnya. Entah kenapa, hanya dengan menggunakan foto Sean saja, Devina merasa terhipnotis, merasa gairahnya tidak bisa dikendalikan, padahal hanya sebatas foto saja, tapi meski hanya sebatas foto, Jika Itu foto Sean, gairah Devina langsung bangkit meski hanya sebuah foto Sean. Entah apakah alasan Devina menginginkan Sean untuk menjadi miliknya itu karena hanya Sean yang bisa membangkitkan gairahnya, atau memang ada alasan lain Kenapa Devina menginginkan Sean, padahal Devina sangat sadar kalau Sean adalah calon suami anaknya, semuanya masih menjadi teka-teki sampai saat ini kenapa Devina menginginkan calon menantunya sendiri. Disaat Devina sedang berusaha untuk menuntaskan hasratnya dengan menggunakan bantuan foto Sean, berbeda halnya dengan Sean yang saat ini sedang berusaha untuk fokus menemani Shela jalan-jalan, karena entah kenapa, sejak kepulangan Sean dari rumah Shela, Sean terus dibayangkan oleh sentuhan-sentuhan dari calon Mama mertuanya. "Kak Sean, apa Kakak lapar, atau ada masalah? "tanya Shela saat melihat Sean seperti tidak tenang. "Tidak ada masalah, hanya saja pekerjaan di kantor cukup padat. "Jawab Sean berbohong yang membuat Shela tersenyum karena shella mengerti kalau pekerjaan Sean sangat penting. "Kalau begitu kita langsung ke kantor saja, biar aku temani Kak Sean bekerja. "Kata Shela yang membuat Sean langsung tersenyum, karena Shela sudah mau mengerti dirinya. "Memangnya tidak apa-apa kita jalannya hanya sebentar saja ? "tanya Sean untuk memastikan terlebih dahulu. "Tidak masalah. Mau lama ataupun sebentar, yang penting aku masih bisa ada di dekat Kak Sean dengan waktu yang lama. Jadi langsung aja ke kantor. "Jawab Shela yang langsung disetujui oleh Sean, karena Sean juga melihat Shela sama sekali terlihat tidak keberatan jika mereka Langsung ke kantor. Akhirnya mereka pun langsung memutuskan untuk ke kantor, dan sesampainya di kantor, Sean meminta Shela untuk keliling di kantornya, atau melakukan apapun yang ingin dilakukan oleh Shela, yang terpenting tidak mengganggu pekerjaan dirinya. Shela pun keliling di kantor Sean, dan sesekali juga masuk ke ruangan Sean, dan disaat Sean terlihat sangat sibuk, Shela Kembali keluar dari ruangan Sean, dan Sean juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh Shela di luar ruangannya. Di tengah kesibukan Sean, tiba-tiba pikiran Sean terganggu karena ada seorang wanita yang melintas dalam pikirannya, Namun bukan Shela. Siapa lagi wanita yang melintas atau mengganggu pikiran Sean jika bukan Shela, sudah pasti wanita itu adalah Devina, calon Mama mertuanya. "Sial, kenapa harus dia. Kenapa! "Sean memukul kepalanya hingga berulang kali, karena bayangan Devina terus terlintas dalam benaknya, bahkan sampai mengganggu pekerjaan Sean. Sean menutup berkasnya secara kasar, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya, memejamkan matanya, berharap ia bisa menghapus bayangan Devina. Sayangnya hingga dalam waktu yang cukup lama, Sean masih belum berhasil mengusir Devina dalam bayangannya, hingga membuat Sean kesal sendiri. "Aaa! "teriak Sean sambil memukul meja kerjanya dengan kasar, Karena ia benar-benar merasa sangat kesal saat membayangkan sentuhan Devina, bahkan mengingat kaki jenjang Devina yang terlihat sangat mulus meraba dadanya. "Sadarlah Sean, dia itu calon mertuamu, Kamu adalah calon menantunya. Pertahankan prinsipmu untuk menjadi laki-laki setia. "Ujar Sean mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri, agar tidak terlalu memanjakan pikirannya yang selalu tertuju pada Devina. Sayangnya semakin Sean mengusir bayangan Devina, ternyata bayangan Devina semakin terlintas jelas di benaknya, bahkan sampai Sean membayangkan hal-hal m***m tentang Devina. "Sial, tidak bayangannya, tidak orangnya, benar-benar menguji kesabaranku! "Sean berulang kali mengumpat kasar karena ia sulit untuk mengendalikan diri agar tidak membayangkan Devina, yang ternyata semakin ia mengusir bayangan Devina, ternyata pikirannya semakin liar untuk membayangkan Devina. "Kak Sean kenapa? "tanya Shela yang tiba-tiba masuk ke ruangan Sean dan melihat Sean seperti sedang frustasi, membuat Sean terkejut dengan kedatangan Shela yang tiba-tiba, hingga Sean tidak sengaja menyebut Shela dengan panggilan Tante, karena mengira wanita itu adalah Devina. "Tante... "Tante siapa Kak Sean...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN