Andreas berjalan menyusuri lorong lantai dua rumahnya. Langkahnya mulai berat dan melambat saat mendekati pintu ruang kerja Ayah Andreas. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu yang kokoh. Tangannya ragu untuk mengetuk pintu yang berada tepat di hadapan Andreas. Detak jantung Andreas semakin tak karuan. Ia menghela napas dan memberanikan diri menemui ayahnya. Tok!!! Tok!!! Kreeeekkk!!! “Assalamualaikum.... Ayah.” Andreas memasuki ruang kerja ayahnya. Tampak Wirawan sedang duduk di atas sofa yang menghadap ke jendela. “Wa’ alaikumsalam... Jelaskan semua pada Ayah!” Suara Wirawan ketus, ia menoleh ke arah Andreas. “Semua tidak seperti yang Ayah pikirkan.” Suara Andreas terdengar tegas. Wirawan berdiri dan melangkah ke hadapan Andreas. “Masih tidak mau mengaku? Apa salah Ayah

