Andreas masih merasa takjub melihat kemampuan bela diri perempuan itu. Penampilannya sederhana, tubuhnya ramping, tapi kemampuannya bagaikan Wonder Woman. “Pak... Pak... Apakah Anda baik-baik saja?” perempuan itu bertanya. “Oh... Iya maaf saya... Tadi siapa nama kamu?” Andreas bertanya lagi. “Tadi sudah saya jawab... Ya sudah saya permisi, Pak! Terima kasih.” Perempuan tadi berpamitan pada Andreas. “Hei... Wonder Woman! Oke... Karena gue enggak tahu namanya, kalau bertemu lagi, gue panggil Wonder Woman saja!” Andreas masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Sesampainya di rumah, ia melakukan rutinitas seperti biasanya. Hingga ia mengunjungi Jasmine di kamarnya. “Sayang... Apakah hari ini menyenangkan?” Andreas duduk di samping putrinya yang sedang bersiap tidur sambil me

