Nay merasa gugup karena malam ini ia akan tidur satu ranjang dengan Andreas yang dulu ia sebut si berandal konyol yang kini menjadi suaminya. Nay berjalan mondar-mandir ke sana kemari dan memutuskan berdiri di depan jendela kamarnya untuk menatap bintang malam yang mungkin akan bisa mengurangi perasaan gugupnya. Ia tatap langit malam itu, tapi tetap saja tidak bisa mengalihkan pikirannya untuk tidak memikirkan malam pertama. “Aku sangat bersyukur menjadi istri Andreas, lelaki tampan yang baik hati, tapi aku takut tidak bisa melayani dan menjadi istri yang baik... Lalu bagaimana jika nanti Andreas sudah masuk ke kamar ini? Nervous banget perasaan!” Nay sedang berbicara dalam hatinya untuk mengusir resahnya. Tiba-tiba suara pintu terbuka dan seseorang memasuki kamarnya. Terdengar pula suar

