BAB 29

1062 Kata
Nada tidak dapat mempercayai siapa yang berdiri di hadapannya sekarang. Seorang wanita berambut panjang yang terlihat sedikit tidak terurus belakangan ini dengan gadis kecil bernama Tasya di sampingnya. Wajah wanita itu terlihat sangat sedih. "Saya tahu tidak seharusnya saya berani-beraninya nemuin kamu begini," ucapnya dengan suara yang bergetar. Nada mendengus, tidak tahu apa yang sebenarnya wanita itu maksud. Sekarang wanita itu berdiri di depan rumah Nada. Rina sedang bekerja seperti biasa dan kebetulan Nada keluar rumah saat dirinya hendak pergi ke kampus. "Papa kamu sakit, dan saya berpikir harus memberi tahu kamu." Hati Nada langsung terasa aneh mendengar kabar itu, seperti ada yang runtuh begitu saja. "Bukan urusan saya," jawabnya yang kemudian hendak beranjak dari sana, benar-benar tidak ingin peduli lagi dengan Papanya walau sebenarnya dia sangat khawatir. Wanita itu kemudian menahan Nada. Dia menyentuh lengannya dan berkata dengan suaranya yang masih gemetar. "Sudah satu minggu, dan dia selalu mengigau memanggil Nada dan Nino." Mendengar itu mata Nada langsung memanas. "Saya tahu kamu pasti benci dengan Papamu, tapi saya mohon kali ini saja turuti permintaan saya, jika hal buruk terjadi, setidaknya dia bisa melihat anak-anak tersayangnya sebelum itu terjadi." "Ibu jangan nangis," ujar Tasya yang memeluk ibunya di sana. Wanita itu benar-benar menangis. "Dia divonis gagal ginjal akut." Suara wanita itu semakin bergetar. Dunia Nada benar-benar terasa runtuh. Air matanya bahkan tidak bisa dia tahan lagi. Lantas tasya dengan wajah polosnya memeluk Nada. "Kakak juga jangan nangis," ujarnya yang kemudian ikut memasang ekspresi sedih. Tasya yang hatinya masih bersih itu ikut sedih dan menangis melihat dua orang di sekitarnya itu menangis. "Please ...." Wanita itu benar-benar memohon di sana. "Jangan lupa ajak Nino, alamatnya nanti saya kirim ke nomor kamu." Lantas wanita itu mengajak Tasya pergi dari sana. Memberi Nada waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Dia sangat menyesali apa yang diperbuatnya yang membuat sebuah keluarga menjadi hancur. Namun apa daya, masa lalunya yang begitu pedih tiba-tiba menghilang begitu saja ketika dia bertemu dengan Dion lima tahun yang lalu. Dia sangat tahu apa yang dilakukannya salah, dan sekarang dia berusaha keras untuk membayar semua yang telah dia lakukan. Tidak ada wanita yang ingin disakiti di dunia ini, begitu yang sangat sering dia pikirkan tentang Rina beberapa waktu belakangan ini. Hari ini rasanya Nada seakan tersambar petir. Keadaan Papanya sangat membuatnya sedih. Dia sangat membenci Dion namun ketika mendengar keadaan Dion seperti ini dia sangat sedih sekaligus bingung rasa apa sebenarnya yang dia rasakan. Matanya benar-benar memanas saat itu dan tidak dipungkiri jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Dia hanya bingung bagaimana caranya mengabari hal ini kepada Mamanya dan Nino. *** Nada datang ke kampus dengan suasana hati yang kurang baik. Hari ini adalah mata kuliah Perkembangan Sastra Indonesia. Ibu Dosen menjelaskan dnegan luwes di sana. Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra. Ilmu sastra adalah ilmu yang mempelajari tentang sastra dengan berbagai permasalahannya.  Di dalamnya tercakup teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga bagian ilmu sastra tersebut saling berkaitan.  Teori sastra tidak dapat dilepaskan dari sejarah sastra dan kritik sastra demikian pula sebaiknya.  Sejarah sastra adalah ilmu yang memperlihatkan perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu, para penulis memilih karya-karya yang menonjol, karya-karya puncak dalam suatu kurun waktu, ciri-ciri dari 4 Zulfanur Z.F dan Sayuti Kurnia, Sejarah Sastra (Jakarta : Universitas Terbuka, 2005) hlm. 1.4 5 A. Teeuw, Tergantung pada Kata (Jakarta : Pustaka Jaya, 1980) hlm. 22 8 | Sejarah Sastra Indonesia setiap kurun waktu perkembangannya, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra.  Untuk dapat melihat karya sastra yang menonjol dan merupakan karya-karya puncak kurun waktu tertentu sejarah sastra perlu melibatkan kritik sastra. Sedangkan ciri-ciri dan sifat karya sastra pada suatu waktu dapat diketahui melalui teori sastra. Dengan demikian sejarah sastra sangat penting untuk kritik sastra, kalau kritik hendak bergerak lebih jauh dari sekadar pernyataan suka dan tidak suka. Seorang kritikus yang peduli pada hubungan sejarah akan meleset penilaiaiannya. Ia tidak akan tahu apakah karya itu asli atau tiruan. Dan karena buta sejarah, ia cenderung salah dalam pehamanannya atas karya sastra. Kritikus yang tidak dibekali pengetahuan sejarah yang cukup cendrung membuat tebakan yang sembrono, atau berpuas diri dengan pengalamannya membaca atau “bertualang di antara mahakarya”.   Oleh karena itu mempelajari sejarah sastra atau perkembangannya dari zaman ke zaman sangatlah penting. Bahkan penjelasan Ibu Dosen yang biasanya sangat dia perhatikan dan dengarkan itu rasanya tidak masuk ke kepalanya sama sekali, dia benar-benar murung di kelas. "Na, lo kenapa?" Sandra berbisik pada Nada lantaran menyadari jika ada yang tidak beres pada sahabatnya itu. Nada bahkan seolah baru sadar jika dirinya sedang berada di kelas saat Sandra menyenggol lengan kanannya. Nada hanya bisa emnggeleng dan tersenyum, padahal senyumnya saat itu sangat terlihat jika bukan senyum yang selayaknya namun senyum terpaksa yang bahkan tidak mencapai matanya. "Yakin?" tanya Sandra lagi yang malah semakin khawatir ketika melihat Nada tersenyum. Nada berusaha menenangkan diri dan terlihat baik-baik saja, namun ekspresinya tidak bisa berbohong. Lantas cewek itu menuliskan di buku catatannya karena sedang ada kelas yang tidak mungkin jika dia terus-terusan mengobrol dengan Sandra. San, habis ini lo mau temenin gue ke rumah sakit? Papa gue sakit. Sandra langsung mengangguk begitu membaca apa yang dituliskan Nada di buku catatan itu dan tidak bertanya lebih jauh lagi, karena dia sangat tahu jika Nada perlu waktu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. *** Kedua cewek itu berdiri di depan sebuah rumah sakit. Nada masoh ragu melangkahkan kakinya ke dalam atau tidak. "Ayo, Na, nggak jadi masuk?" tanya Sandra yang mulai merasakan teriknya matahari di sana. Nada masih diam, dia sangat bingung sekarang. "Apa gue nggak usah datang aja ya, San?" Sandra menggandeng lengan Nada di sana. "Na, kita sudah sampai sini, tandanya lo harus masuk nggak peduli apapun. Kalau lo udah tinggal selangkah lagi menuju sesuatu itu artinya tekad lo kuat dan sekarang berarti lo sangat ingin jenguk Papa." Apa yang dikatakan Sandra sangat benar sekarang. "Ayok, gue akan selalu genggam tangan lo Na, baik suka maupun duka." Kata-kata Sandra benar-benar membuat Nada merasa sedih sekaligus bersyukur memiliki seorang teman sepertinya. "Nggak salah rumah sakit kan?" Sempat-sempatnya Sandra menanyakan hal itu. Nada lantas langsung membuka kembali ponselnya dan melihat pesan dari Ibunya Tasya yang memberikan alamat rumah sakit. "Bener kok, Rumah Sakit Utomo, kamar Dahlia," ujarnya membaca ulang pesannya. Sandra mengangguk dan merasa sedikit kikuk lantaran apa yang baru saja dia lontarkan adalah sebuah candaan dan usahanya untuk melucu gagal karena suasana hati Nada benar-benar belum bisa rileks. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN