[6] Brownies

1463 Kata
Mata Sarah memicing ketika ia tiba di rumahnya dengan sinar matahari yang masih mengikuti setiap langkah kakinya. Tangannya sengaja diangkat ke atas guna menahan sinar matahari yang mulai menganggu pandangannya. Hari ini, Sarah memutuskan untuk pergi dengan menggunakan angkutan umum dan dengan sukarela ia harus jalan dari depan komplek perumahannya hingga ke rumahnya yang membutuhkan waktu sekitar 15 menit karena tidak ada pangkalan ojek disana. Di bawah teriknya sinar matahari, Sarah melantunkan nyanyian yang menyemangati dirinya dan mengisi setiap langkahan kakinya hingga akhirnya ia tiba di depan rumah dengan cat berwarna krem lengkap dengan pagar berwarna putih. Tangannya pun meraih pada knop pintu pagar dan mulai mendorongnya. “Huft, sampai juga,” gumam Sarah. Ia pun kembali menutup pintu pagar dan mengunci pintu pagar. Langkahan Sarah terhenti ketika ia melihat sebuah ruangan yang berada di samping rumahnya lengkap dengan pintu besi lebar yang menutupinya. Sarah berjalan menuju tempat yang disebut garasi itu dan melihat ke sekitarnya, “Sepertinya aku melupakan satu spot disini,” gumamnya. Sarah mengedarkan pandangannya, ia melihat beberapa tanaman kesayangannya yang tumbuh tak terawatt di samping garasi itu. Tanpa berpikir panjang, Sarah pun membuka pintu garasi perlahan. Matanya memicing dan berpikir sejenak, “Sejak kapan ada mobil disini?” tanya Sarah pada dirinya sendiri. “Seingatku, mobil mas Adi ia bawa ke Yogya, kan,” lanjutnya.        Suara ponsel berdering terdengar begitu jelas dari dalam tas Sarah. Sarah yang panic segera mencari keberadaan ponsel itu di dalam tas nya yang kini suaranya semakin nyaring karena ia berada di dalam garasi mobil yang sudah jelas-jelas suaranya akan menggema ke penjuru ruangan. “Aduh mana ya,” gumam Sarah. Setelah menemukan benda dengan bentuk kotak yang terus berdering, Sarah langsung mengambil benda tanpa keyboard itu dan menggeser tombol berwarna hijau ke arah kiri. “Halo,” sapa Sarah pada orang di sebrang telepon. “Apa kabar, Sar? Kamu baik-baik aja, kan? Kapan mau ke rumah?” sahut seseorang dari sebrang sana. “Ah, Mama. Sarah baik-baik kok disini. Maaf Sarah belum mampir lagi ke rumah. Nanti akhir minggu Sarah bisa ke sana kok,” jawab Sarah. “Adi udah berangkat?” “Udah, Ma. Tadi pagi baru aja berangkat. Memangnya mas Adi ga bilang ke Mama?” “Enggak. Semenjak Adi bekerja, Adi sangat sulit dihubungi, jadi Mama hanya bisa menanyakan kabarnya melalui kamu.” “Maaf, Ma. Nanti akan Sarah ingatkan lagi pada mas Adi untuk sering menghubungi Mama. Mungkin mas Adi lupa,” jawab Sarah. “Bukan salah kamu kok, Sarah. Jadi jangan minta maaf ya. Mungkin Mama aja yang manja jadi maunya dihubungi sama anaknya terus, padahal anaknya sedang sibuk.” “Enggak, Ma. Sesibuk apapun mas Adi seharusnya mas Adi selalu memberi kabar pada Mama.” “Kamu benar-benar menantu idaman Mama. Yasudah kalau begitu Mama tutup telepon nya ya.” Belum sempat Sarah menjawab ucapan pamit dari mertuanya, sambungan telepon sudah diakhiri. Sarah pun kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas Sarah pun keluar dari garasi dan menutup pintu itu seperti semula lalu beralih menuju rumahnya. Sarah merogoh tas nya dan membuka pintu rumahnya. Sepi. Itulah kesan pertama yang Sarah rasakan. “Aku harus terbiasa dengan rumah sepi. Setidaknya untuk dua bulan ke depan,” ujar Sarah. Sarah meletakkan tas nya di atas meja makan dan beralih membuka kulkas, menyiapkan makan siang untuk dirinya. “Masak apa ya enaknya,” gumam Sarah. Sarah memilih sayuran serta lauk yang ada di dalam kulkas. Dan pilihan perutnya jatuh pada capcay kesukaannya. Ia mengambil satu ikat kangkung beserta beberapa bumbu lainnya dan mulai mempersiapkan diri untuk memasak. Tak lupa, Sarah mengambil celemek yang sudah tergantung tepat di samping kulkas. Drrtttt~ Drrrtttt~ Terdengar suara ponsel bergetar. Raut wajah Sarah pun berbinar, ia berharap suaminya lah yang menelponnya. “Mas Adi,” gumam Sarah penuh harap. Dengan berbalutkan celemek yang sudah menutupi bagian depan tubuhnya, Sarah mengambil ponsel yang ada di dalam tas nya dan melihat layar ponselnya. “Halo, mas,” ujar Sarah. Rasa senang dalam hati Sarah benar-benar memuncak ketika orang yang ia harapkan kini menghubungi Sarah. “Halo, sayang. Ini aku udah sampai Yogyakarta,” ujar Adi dari seberang telepon. “Alhamdulillah kalau begitu. Mas udah di kamar? Atau masih menunggu giliran di kantor?” “Aku masih menunggu tempat kontrakan yang aku tempati, Sar. Karena sebelumnya masih ada orang disini, tapi dia pergi tanpa membayar uang sewa selama 4 bulan. Jadi aku harus menunggu sebentar agar barang-barangnya dikeluarkan dan dibersihkan,” jawab Adi. “Yaudah, kalau gitu nanti mas langsung istirahat ya. Jangan lupa makan siang. Inget, mas itu punya magh loh.” Sarah mengingatkan. “Iya istriku yang bawel.” Sarah terkekeh mendengarnya. “Mas aku mau minta izin sama kamu, apa mobil di garasi boleh aku pakai? Aku gak sengaja lihat mobil itu pas beresin garasi dan aku baru tau loh mas kalau di garasi ada mobil lain selain yang mas pakai,” tanya Sarah. “Ya ampun aku lupa kasih tau ke kamu. Iya itu tuh hadiah pernikahan kita yang aku kasih untuk kamu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai aku lupa kalau aku beliin kamu mobil. Bodoh sekali ya aku ini.” “Mas ini terlalu banyak duit atau gimana toh? Ada mobil baru di garasi sampai gak sadar gitu,” jawab Sarah terkekeh. “Hehe maaf sayang. Kamu pakai aja mobil itu. Gimana? Kamu suka?” tanya Adi. “Sangat suka! Makasih banyak yang mas,” jawab Sarah. Senyuman di bibir Sarah semakin mengembang. Ia bahagia bukan main. Ia pikir mobil yang ia lihat di garasi adalah mobil milik orang lain yang dititipkan pada suaminya. “Oh ya sayang,” sambung Adi. “Nanti teman aku ada yang baru datang dari Kalimantan. Mereka mau menetap selama beberapa hari di Jakarta. Kan di rumah kamu sendirian, daripada mereka harus sewa hotel lagi yang lebih mahal, gimana kalau tinggal di rumah kita aja? Hitung-hitung bisa nemenin kamu.” “Teman kamu? Siapa? Kok kamu ga pernah cerita.” “Ya ngapain juga aku cerita. Memangnya mereka siapa. Mereka itu perempuan, ada dua orang. Rere sama Isti. Gak apa-apa kan?” “Ya aku sih gak apa-apa. Kalau kamu yang minta aku nurut aja, mas.” “Nanti aku kabarin lagi ya. Mereka sih baru mau berangkat sore ini, jadi mungkin bisa sampai sana malam. Nanti ponsel kamu jangan dimatikan, biar aku kasih nomor kamu ke mereka dan mereka bisa nelpon kamu.” “Iya mas. Mungkin kalau terlalu larut, pintu belakang ga akan aku kunci. Jadi kalau mau mas kasih tau aja ke mereka ya.” “Oh ya, kontrakannya udah selesai dibersihin. Aku masuk dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Jaga kesehatan juga. I love you.” “Oh ya mas jangan lupa-” Tut Sarah mengerucutkan bibirnya. Ia lupa bahwa dirinya belum memberitahu Adi untuk segera berkabar pada Mamanya. “Ah mungkin lain kali kalau mas Adi telepon bisa aku kasih tau,” gumam Sarah. Sarah kembali meletakkan ponselnya dan pergi menuju dapur untuk mempersiapkan makan siangnya. * * * * *  Usai menyelesaikan makan siangnya. Sarah segera merapikan sisa piring yang ia gunakan tadi dan diletakannya ke dalam tempat cucian piring. Dddrrrtt Suara getaran ponsel terdengar begitu nyaring di telinga Sarah. Buru-buru Sarah mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan lalu menyalakan layar ponselnya untuk melihat notifikasi yang masuk. 1 pesan masuk             Sarah membuka lockscreen ponselnya lalu membaca pesan masuk. * * * * * From : Mas Adi Oh ya aku lupa bilang ke kamu, kalau di kulkas ada brownies cokelat almond kesukaan Ibu kamu. Itu oleh - oleh dari temanku yang baru saja pulang dari Bandung. Kamu kapan mau ke rumah Ibu? Jangan lupa dibawa brownies itu untuk Ibu ya. * * * * * To : Mas Adi Wah? Alhamdulillah. Besok aku ke rumah Ibu, Mas. Makasih banyak ya, Mas. Nanti aku akan sampaikan ke Ibu. * * * * * From : Mas Adi Titip salam juga buat Ibu. Maaf belum sempat pamit ke Mama, Ibu dan Bapak. * * * * *  To : Mas Adi Iya mas, akan Sarah sampaikan. Jangan lupa makan siang di sana. Tetap jaga kesehatan selama gak ada aku dan selama di sana ya, Mas! Istirahat yang cukup! Ingat pesan Sarah tadi pagi, kan? * * * * * From : Mas Adi Siap sayang! * * * * *  Sarah segera melihat ke arah kulkas dan membuka benda berwarna putih itu. Di dalam sana ia melihat kantung plastik lengkap dengan dua buah kotak brownies seperti yang dikatakan oleh Adi. Sarah menghela napasnya. Ia teringat, selama satu bulan menikah sekalipun Sarah belum mengunjungi orang tuanya. Besok adalah waktu yang tepat bagi Sarah untuk pulang ke rumah. Ke tempat yang menjadi saksi tumbuhnya Sarah dan tempat Sarah mencurahkan segala rasa bahagia, marah dan sedihnya. “Sampai jumpa besok, Bu,” gumam Sarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN