Sudah hampir empat bulan sejak kejadian malam itu, aku tak pernah bertemu dengan Amanda. Bahkan, ketika aku berusaha keluar dari rumah untuk mengunjungi tempat Amanda berada, Ibuku akan melarangku sekuat tenaga bahkan tak peduli jika aku menangis tersedu-sedu. Aku memeluk kakiku seraya menatap layar televisi di hadapanku yang sama sekali tak menarik. “Bella,” panggil Ibu. Aku menolehkan kepalaku dengan malas. “Ibu akan pergi ke warung sebentar. Kamu jangan pergi kemana-mana ya.” Aku tidak menjawab ucapan Ibu dan memilih diam. Ibu berjalan mendekati pintu dan keluar dari rumah tanpa mengunci pintu seperti biasanya. Aku tersenyum sumringah menyadari bahwa aku tidak terkunci lagi sendirian di rumah. Saat ini rumah sangat sepi. Ayah sedang bekerja sedangkan Ibu pergi ke warung. Hanya aku
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


