Dengan hati-hati Qiana menuruni tangga rumahnya. Bahkan dia sangat tidak nyaman dengan gaun yang dia kenakan. Qiana pikir ini terlalu berlebihan jika untuk menyambut tamu. Tidak mungkin kan presiden datang kerumahnya? Hingga dia harus memakai pakain seperti ini. Helaan nafas berat terus keluar dari bibir Qiana, bagaimana tidak? Sudah beberapa kali dia hambir terjatuh gara-gara sepatunya yang menurutnya terlalu tinggi. Qiana bisa melihat papa dan mamanya yang sedang berbincang kepada seseorang. Tapi bukan itu yang Qiana permasalahkan sekarang. Mama dan papanya terlihat sangat serius. Bahkan mereka sampai tidak menyadari kedatangannya. "Widih, adik kakak cakep banget." Puji Ken sambil berdiri. Seakan mengisaratkan lewat tangannya untuk mempersilahkan Qiana duduk. Cowok yang duduk membe

