Bel istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit lalu. Tapi Qiana masih saja enggan untuk mengangkat kepalanya dari kedua lipatan tangannya. Revan yang duduk disamping bangku Qiana hanya memperhatikan saja tanpa berniat untuk bertanya atau mengganggu tunangannya itu. Dengan sabar Revan menunggu Qiana mengangkat kepalanya dan berbicara padanya. "Huffff..." Helaan nafas berat keluar dari bibir mungil Qiana. Dia mengangkat kepalanya dengan malas. "Ahem," Dehem Revan sambil melirik Qiana. Dengan malas Qiana menoleh kesamping, sontak dia langsung berdiri. "Ngapain lo ada disini?" Tanya Qiana kepada Revan yang sekarang tengah bersandar pada pintu kelas Xll IPA. "Kamu?" Ucap Revan Ambigu. "Hah? Gue gak ngerti lo ngomong apa." Tanya Qiana sambil mencibikkan bibirnya. Perlahan Revan berjalan mend

