Jun Cheol berjalan pulang dengan gontai, perasaannya terasa campur aduk dan ia tak tau harus seperti apa agar perasaannya membaik. Sejenak ia menghentikan langkahnya lalu tak lama ia terdiam menatap terangnya rembulan malam ini yang seakan-akan meledek hatinya yang terasa mendung bagi Jun Cheol.
Tak lama Jun Cheol memilih untuk beranjak dari lamunannya saat ini, karena bagaimanapun juga tak ada gunanya bila Jun Cheol seperti ini. Jun Cheol perlu menyelesaikan apa yang telah diberikan padanya, setelah sadar apa yang perlu ia lakukan akhirnya Jun Cheol kembali berjalan pulang masih dengan perasaan yang tak ia mengerti.
Sesampainya di tempat tinggal mereka berdua, Jun Cheol segera menyandarkan punggungnya di sofa dengan pikirannya yang masih melayang entah kemana. Disaat Jun Cheol melamun tak lama Jin Young berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air karena ia merasa haus, tapi baru beberapa langkah Jin Young keluar dari kamarnya ia malah melihat Jun Cheol yang melamun.
"Jun? Anda ngapain ngelamun disini? Ajeng udah sampe cafenya?" tanya Jin Young khawatir.
Mendengar ucapan Jin Young membuat Jun Cheol tersadar dari lamunannya, lalu tak lama Jun Cheol memilih untuk menenangkan Jin Young dan mengalihkan pembicaraan karena Jun Cheol tak ingin membahas hal yang dirinya sendiri pun tak bisa menjelaskannya.
"Gak ngapa-ngapain, udahlah Jin Young ya kali saya tinggal dijalan oh iya saya ngeliat hal aneh di cafe Ajeng masa! Menurut anda itu apa?" tutur Jun Cheol datar.
"Bener Jun? Ya barangkali aja Jun ... hah? Hal aneh apa emangnya?" ujar Jin Young bingung.
"Iya ... ngapain juga saya nganterin kalo saya tinggal Ajeng dijalan? wallpaper di dinding cafe Ajeng ada yang terlihat aneh," tutur Jun Cheol bingung.
"Bener juga Jun! Anehnya tuh seperti apa Jun?" tanya Jin Young ikut bingung.
"Lapisannya kayak tebal gitu Jin Young, besok mau kita periksa?" ucap Jun Cheol serius.
"Kenapa bisa gitu? Yaudah besok kita periksa, mending sekarang kita istirahat dulu biar besok kita fokus oke?" ujar Jin Young lembut.
Jun Cheol pun hanya membalas ucapan Jin Young dengan gumaman karena jujur dirinya juga lelah dengan apa yang ia rasakan tapi entah mengapa seperti ada hal yang tak terjelaskan oleh Jun Cheol saat ini, tak ingin berlama-lama Jun Cheol pun memilih masuk ke kamarnya lalu ia menenggalamkan dirinya dalam alam mimpinya yang mungkin terasa lebih baik.
Gelapnya langit perlahan-lahan berubah menjadi terang dan sinar mentari mulai menganggu tidur lelap Jun Cheol yang masih bergelung dalam selimutnya, hingga Jin Young mengetuk-ngetuk kamar pintu Jun Cheol untuk membangunkannya.
"Jun Cheol! Jun bangun! Kita harus berangkat woy!" teriak Jin Young semangat.
"Tunggu lima menit lagi!" sahut Jun Cheol malas.
"Cepetan Jun! Jangan tidur lagi!" omel Jin Young datar.
"Hm ...," gumam Jun Cheol malas.
"Buruan Jun! Jangan tidur lagi Jun!" teriak Jin Young kesal.
"Baiklah, baik Jin Young!" tutur Jun Cheol datar.
Setelah tak mendengar teriakan Jin Young lagi, akhirnya Jun Cheol segera bangkit dari kasurnya untuk segera mandi dan bersiap-siap karena pasti sebentar lagi Jin Young akan meneriaki Jun Cheol jika Jun Cheol masih belum siap pergi.
Menit berganti menit hingga Jun Cheol sudah selesai bersiap-siap, tiba-tiba ponsel Jun Cheol berdering dan tertera nama "Braveheart" menelponnya. Entah mengapa Jun Cheol merasa ada yang tidak beres sedang terjadi, dengan sigap Jun Cheol menjawab panggilan teleponnya.
"Halo? Ada apa Ajeng?" tanya Jun Cheol khawatir.
Sejenak tak ada sahutan dari Ajeng membuat Jun Cheol semakin merasa khawatir, lalu tak lama Ajeng terdengar panik dan ketakutan dan keduanya mengobrol dengan perasaan yang campur aduk bahkan Jun Cheol menelpon Ajeng sambil bolak-balik saking ia merasa tidak tenang.
"Sekop! Gue takut banget sekop," lirih Ajeng sendu.
"Apa Ajeng? Anda takut kenapa? Ada sesuatu yang terjadi disana?" tanya Jun Cheol khawatir.
"Tadi malem gue liat ada orang bolak-balik depan cafe gue sekop! Gue takut soalnya itu orang masih bolak-balik aja daritadi," tutur Ajeng ketakutan.
"Hah?! Kenapa anda gak nelpon dari semalam? Sekarang orang itu masih ada disana? Atau sudah pergi Ajeng?" tanya Jun Cheol semakin panik.
"Ya masa lu malem-malem kesini, coba gue liat dari jendela ...," lirih Ajeng bingung.
"Kalo bahaya gitu ya pasti saya bakal datang! Gimana? Ada?" ucap Jun Cheol semakin khawatir.
"Ssst! Ada sekop dia duduk di pinggir jalan ya ampun! Gimana nih sekop?" tanya Ajeng panik.
"Anda diam disana jangan keluar! Saya dan Jin Young akan segera sampai disana secepatnya, ingat anda jangan keluar sedikitpun! Mengerti?" tutur Jun Cheol serius.
"Oke, cepetan ya sekop!" lirih Ajeng ketakutan.
"Iya Ajeng ... anda tenang ya," ucap Jun Cheol menenangkan.
Jun Cheol yang tak ingin hal buruk terjadi pada Ajeng membuat Jun Cheol segera berjalan pergi ke tempat
Ajeng hingga menghiraukan Jin Young yang masih sibuk mengunyah sarapan yang telah Jin Young siapkan sejak tadi.
Sementara Jin Young yang melihat Jun Cheol yang terburu-buru seperti ini seperti bukan dirinya yang biasanya Jin Young lihat, tak lama Jin Young pun meneriaki Jun Cheol untuk sarapan dulu tapi Jun Cheol justru Jin Young untuk segera menyusulnya ke cafe Ajeng.
"Jun sarapan dulu! Lu mau kemana Jun Cheol! Makan dulu Jun," teriak Jin Young mengingatkan.
"Saya duluan ... anda jangan lupa susul saya di cafe Ajeng, Jin Young!" ujar Jun Cheol serius.
Jin Young yang mendengar ucapan Jun Cheol membuatnya terdiam sejenak lalu tak butuh waktu lama ia sudah berlari menyusul Jun Cheol dan tak lupa Jin Young mengunci tempat tinggal mereka berdua dan dirinya berlari sambil mengunyah makanan yang tersisa dimulutnya.
Hati Jun Cheol semakin terasa tak karuan dan pikirannya semakin membuat Jun Cheol khawatir dan tak fokus disaat yang bersamaan, tak jauh dari tempat Jun Cheol berlari ia melihat orang yang terlihat mencurigakan sedang menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri seakan sedang memastikan keadaan sekitar.
Melihat hal ini membuat Jun Cheol semakin mempercepat langkahnya, dengan sigap Jun Cheol menarik kerah orang yang saat ini terlihat terkejut dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Jun Cheol yang terlihat begitu kuat.
Orang itu semakin ketakutan dan kehilangan keberaniannya saat menatap mata Jun Cheol yang terlihat tajam dan seakan-akan menusuk dirinya disaat bersamaan, Jun Cheol yang melihat raut orang di hadapannya ketakutan membuat Jun Cheol semakin menatap orang itu tajam.
Tak ingin diperlakukan seperti ini membuat orang itu memarahi Jun Cheol dan berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari cengkraman Jun Cheol, sedangkan Jun Cheol balik memarahinya dan perdebatan pun tak terelakkan.
"Lu siapa! Sampe berani-beraninya cengkram orang sembarangan!" murka orang itu kesal.
"Anda yang siapa! Berani-beraninya anda keluyuran sembarangan! Anda disuruh atau memang seorang penguntit?" sahut Jun Cheol marah.
"Gak usah balik bertanya kalo ternyata anda juga orang jahat! Penguntit bilang penguntit! Tidak tau malu sekali anda ya," sindir orang itu ikut marah.
"Jadi anda ingin melemparkan kesalahan seperti orang yang menyuruh anda? Bagus! Bagus sekali! Lalu apa ada orang yang bisa menjamin anda jika anda orang baik? Kalau saya ada ... dia bisa menjamin saya orang yang baik," balas Jun Cheol dingin.
Sejenak orang itu menelan ludahnya kasar dan ia merasa tak bisa berkutik lagi hingga Jun Cheol kembali mempertanyakan apa yang dia lakukan disini, merasa dirinya tak bisa berbuat banyak akhirnya ia hanya mengatakan apa yang ia tau lalu ia memberontak dan berlari menjauhi Jun Cheol yang memikirkan ucapannya.
"Sekali lagi saya tanya kenapa anda keluyuran disini? Kenapa anda bolak-balik seakan sedang memastikan keadaan sekitar? Siapa yang menyuruh anda?" tanya Jun Cheol serius.
"Manusia hidup perlu uang jadi saya melakukan ini karena uang dan yang saya tau saya disuruh untuk melukai seorang gadis tapi saya tertangkap jadi berpikirlah siapa yang ingin gadis ini terluka, musuhkah? Atau orang yang tidak anda ketahui?" ujar orang itu dingin.
Sejak tadi Jin Young sudah memperhatikan Jun Cheol dan orang yang terlihat mencurigakan, lalu ketika orang itu memberontak dan berlari pergi. Jin Young dengan sigap mengejarnya karena bisa jadi orang itu memberi salah petunjuk dalam kasus mereka, sedangkan Jun Cheol masih bergulat dengan pikirannya yang mencoba memahami apa yang dikatakan orang tadi.
Di saat Jun Cheol masih melamun, tak lama dering ponselnya membuat Jun Cheol tersadar dari lamunannya hingga akhirnya Jun Cheol menjawab telpon dari Ajeng dan mereka berdua pun mengobrol lalu Jun Cheol menenangkan Ajeng bahwa dirinya ada di depan cafe Ajeng.
"Sekop!! Lu dimana? Lama banget," tanya Ajeng ketakutan.
"Tenang aja saya di depan cafe anda kok ... tadi saya abis ngomong sama orang aneh itu tapi sekarang dia udah lari terus dikejar Jin Young," ucap Jun Cheol datar.
"Beneran sekop? Jangan bercanda deh gak lucu," sahut Ajeng sebal.
"Benerlah! Ngapain saya bohong Ajeng? Saya gak bercanda, coba aja kamu liat dari jendela ada saya gak di depan cafe kamu?" tutur Jun Cheol datar.
"Oke bentar saya liat ...," lirih Ajeng takut.
Perlahan-lahan Ajeng membuka tirai jendelanya dan ia melihat Jun Cheol yang menatapnya ke arahnya lembut, melihat hal ini membuat Ajeng merasa lega dan tak butuh waktu lama Ajeng berlari menghampiri Jun Cheol yang terlihat bingung.
Karena terlalu takut Ajeng memeluk Jun Cheol saat ia melihat Jun Cheol menatapnya lembut, sedangkan Jun Cheol yang dipeluk tiba-tiba membuatnya tersentak tapi hatinya tak sanggup untuk melepaskan pelukan Ajeng.
Jun Cheol mengerti Ajeng sedang shock dan ketakutan jadi dirinya hanya bisa menepuk-nepuk punggung Ajeng lembut agar gadis dihadapannya menjadi lebih tenang, setelah melihat Ajeng tak lagi ketakutan Jun Cheol mengajak Ajeng untuk masuk ke cafenya karena jujur Jun Cheol tak suka dipandangi orang-orang yang lewat karena memang cafe Ajeng berada di pinggir jalan.
"Udah membaik? Duduk dulu di dalam cafe ini, kamu pasti lemes karena shock tadi kan? It's okay Ajeng sekarang udah aman kok ayok masuk ke cafe dulu," tutur Jun Cheol datar.
Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu mereka berdua masuk ke dalam cafe, setelah membantu Ajeng duduk. Jun Cheol segera mengambil air minum agar Ajeng merasa lebih tenang.
"Nih kamu minum dulu," tutur Jun Cheol lembut.
Ajeng pun menganggukkan kepalanya mengerti, setelah Ajeng merasa tenang Jun Cheol pun mengajak
ngobrol Ajeng. Lalu tak butuh waktu lama Jin Young datang dengan nafas tersengal-sengal dan mereka bertiga pun mengobrol dengan wajah yang terlihat bingung.
"Udah mendingan Ajeng? Are you okay?" tanya Jun Cheol khawatir.
"Lumayan sekop! Iya gue udah mendingan kok," ucap Ajeng lembut.
"Jun! Ajeng! Sorry ya," ujar Jin Young kelelahan.
"Lu kenapa Jin Young? Kenapa ngos-ngosan gitu?" tanya Ajeng bingung.
"Are you okay Jin Young? Kenapa nafas anda tersengal-sengal gitu?" tanya Jun Cheol bingung.
"Gini loh Ajeng, Jun Cheol ... gue ngejer itu orang aneh tadi tapi gue udah lari jauh gue gak bisa ngejer dia jadi gue kayak gini deh maaf ya!" tutur Jin Young menjelaskan.
"Ya ampun Jin Young ... sampe segitunya usaha lu! Gak apa-apa kok asal dia gak ganggu gue bersyukur kok! Gak harus di tangkep kalo emang dia pergi yaudah," ujar Ajeng lembut.
"Bukan salah anda Jin Young ... karena sepertinya dia tidak bekerja sendirian dan sudah pasti ada yang membantunya selama pengejaran tadi jadi dia bisa lolos dari anda Jin Young! Tenang saja mereka tidak akan selamanya berhasil lolos dari kesalahan," ujar Jun Cheol menjelaskan.
Jin Young dan Ajeng yang mendengar ucapan Jun Cheol membuat mereka berdua mengangguk-anggukkan kepala mereka mengerti, sedangkan Jun Cheol memilih berkeliling-keliling menatap sekitar cafe Ajeng dengan pandangan serius.
Pandangan Jun Cheol tak luput dari setiap sudut cafe yang memiliki corak wallpaper yang tak biasanya, meski kesan cafe ini menenangkan tapi entah mengapa Jun Cheol merasa ada yang tidak benar disini.
Terlebih entah mengapa Jun Cheol merasa seakan ada hal yang tak terjelaskan di tempat ini, begitu juga dengan perasaan Jun Cheol terhadap pemilik cafe ini yang tak dapat Jun Cheol mengerti bagaimana bisa dirinya merasa se-takut itu disaat dirinya bukan siapapun untuk Ajeng.
Di saat Jun Cheol sibuk memikirkan segala hal yang belum ia pahami, tiba-tiba saja obrolan Ajeng dan Jin Young mengenai Barra justru mengalihkan pandangan Jun Cheol dari apa yang sedang ia pikirkan tadi.
Disana Jun Cheol mendengar Ajeng dan Jin Young bercerita perihal masa lalu Ajeng dan Barra yang terdengar menyentuh hati dan menghangatkan di masa remaja, entah mengapa rasanya Jun Cheol merasa sudut hatinya memanas dengan perasaan kesal Jun Cheol menghampiri dua orang itu yang masih sibuk membahas segala kenangan yang terdengar memuakkan untuk Jun Cheol dengar saat ini.
Jin Young yang melihat Jun Cheol menghampiri mereka berdua dengan wajah masamnya membuat Jin Young mencoba meledek Jun Cheol karena ia terlihat cemburu tapi pasti Jun Cheol tidak akan mengakui hal itu.
|Bersambung|