Awal Perkelahian

2083 Kata
Tak ingin berlama-lama berdiam seperti ini akhirnya Barra dan Jin Young memulai membuka obrolan agar mereka berempat fokus pada pembahasan kasus ini tapi Jun Cheol merasa ada yang aneh dari apa yang di sampaikan oleh Xin Qian. "Waktu itu berharga jadi lebih baik kita mulai saja pembahasannya!" ujar Barra tegas. "Benar! Kita disini untuk meeting bukan berkelahi jadi cepat mulai Xin Qian," ucap Jin Young. "Baiklah, baik! Berkas hasil autopsi dicuri jadi sebaiknya Jun Cheol menyerahkan kembali berkas hasil autopsi kepada kami karena tidak seharusnya ada di tangan anda," ujar Xin Qian tegas. "Di curi? Apa tidak ada salinannya? Kenapa harus menyerahkan kembali berkas penting yang tidak bisa dijaga dengan baik? Bagaimana jika pencuri itu kembali mengambil berkas hasil autopsi lalu melenyapkannya? Dengan begitu bukti menghilang," sahut Jun Cheol dingin. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Barra dan Jin Young mengangguk-anggukkan kepala mereka tanda mereka setuju dengan ucapan Jun Cheol, tak lama Jun Cheol pun menceritakan tentang orang yang mencoba mencuri berkas hasil autopsi yang ada pada dirinya. "Terlebih kemarin baru saja ada pencuri yang mencoba mengambil map yang ada di saya jadi kalo di kembalikan pada pihak yang tidak bisa menjaganya berarti semakin memudahkan pencuri mengambilnya, jika ada di saya dia tidak akan tau dimana map itu berada karena kemarin saya berhasil melindungi map yang cukup penting ini!" tutur Jun Cheol menjelaskan. Barra mengangguk-anggukkan kepalanya setuju lalu pembahasan pun kembali di mulai tapi kali ini Xin Qian malah membicarakan hal yang ngawur dan tidak jelas, semakin membuat Jun Cheol merasa curiga dengan apa yang Xin Qian katakan. "Gue setuju sama lu Jun Cheol, map itu tetep di lu aja! Ada yang mau dibahas lagi? Atau sebatas tadi aja terus selesai?" tanya Barra serius. "Kalo kemarin mapnya sudah diincar bukankah lebih baik map itu di pindah tangan? Atau pak detektif mau bertanggung jawab jika map itu hilang? Tentu saja kita masih perlu membahas soal map ini karena keberadaannya cukup penting," sahut Xin Qian kesal. "Apa jaminannya jika pindah tangan maka map ini akan aman? Tentu saya akan bertanggung jawab karena ini kasus yang diberikan pada saya! Tentu ini penting makanya saya tidak akan membiarkan map ini jatuh ke tangan orang yang salah," tutur Jun Cheol dingin. "Apakah perlu jaminan saat anda tau siapa saya? Untuk itu anda perlu menyerahkan map itu pada orang yang tepat Jun Cheol! Jika sampai hilang anda mau mencari kemana Jun Cheol? Pilihannya hanya ada dua ingin menyesal atau mencegah hal buruk terjadi," ujar Xin Qian datar. "Apakah anda lupa kesalahan anda dalam menjaga map itu? Jadi berhentilah menyalahkan orang lain dan mulailah membahas yang lebih jelas Xin Qian! Disini anda sebenarnya sebagai rekan atau lawan? Kenapa malah mempermasalahkan soal map?" sahut Jun Cheol dingin. Suasana pun berubah menjadi hening setelah mendengar ucapan Jun Cheol yang terdengar lebih masuk akal, sedangkan Xin Qian yang merasa tak mendapatkan apa yang ia mau akhirnya Xin Qian memilih mengganti topik seakan-akan tidak terjadi apapun disana. "Perlukah anda mempertanyakan saya disaat kita ada di tim yang sama? Oh iya kemarin saya mendapat laporan perihal mobil anda yang bermasalah pak Barra, teknisi bilang mobil anda sengaja dirusak karena ada bagian yang hilang lalu apa benar begitu?" ujar Xin Qian bingung. Mendengar ucapan Xin Qian membuat Jun Cheol dan Jin Young menatap lekat Xin Qian, lalu Barra yang memang mengalami hal yang terlihat aneh menurutnya pun membahasnya tapi di saat mereka berempat sedang membahas masalah mobil. "Memang benar mobil saya sempat bermasalah tapi teknisi tidak mengatakan sengaja dirusak atau ada bagian yang hilang, darimana laporan itu berasal?" tanya Barra bingung. "Kenapa laporan yang diterima oleh Xin Qian dan yang dikatakan ke Barra berbeda? Pasti salah satunya ada yang berbohong," sahut Jin Young bingung. "Bisa jadi salah satunya mengada-ngada atau mencoba menutupi satu hal," ujar Jun Cheol datar. "Kalo kalian berpikir gue berbohong atau mengada-ngada silahkan ...," ucap Xin Qian terhenti. "Bar! Sekop! Jin Young! Gue ke toilet bentar dulu ya," sahut Ajeng lembut. "Oke," tutur Jun Cheol, Barra dan Jin Young bersamaan. "Sampe mana tadi eh bentar gue jawab panggilan telpon dulu!" ujar Xin Qian panik. Tak Lama Ajeng pamit ingin pergi ke kamar mandi lalu Xin Qian juga pamit keluar karena ia mendapatkan telpon, awalnya Jun Cheol khawatir melihat hal ini tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan jika mereka berdua masih belum juga kembali dirinya akan menghampiri Ajeng. Mereka bertiga pun kembali mengobrol meski pikiran Jun Cheol sedang tak ada disisinya saat ini, sedangkan Ajeng yang telah selesai dari toilet berjalan mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci tangannya lalu tiba-tiba Xin Qian sudah berada di belakang Ajeng dan menatap Ajeng tajam seakan dirinya membenci Ajeng. Sementara Ajeng yang tak mengerti mengapa Xin Qian menatapnya seperti ini membuatnya tak memperdulikan Xin Qian yang berusaha mengajaknya berkelahi dan Ajeng lebih memilih pergi dari sana tapi Xin Qian menahan tangan Ajeng, tak butuh waktu Ajeng pun menghempaskan tangan Xin Qian dari tangannya dan mereka berdua pun berdebat dengan cukup hebat. "Siapapun lu, mending gak usah ganggu Jun Cheol deh!" geram Xin Qian marah. "Mata lu buta hah! Ganggu Jun Cheol apaan sih, lu siapa aja gue gak kenal! Terus ngapain lu nemuin gue kalo cuma mau ngancam-ngancam doang mah gue gak takut!" balas Ajeng kesal. "Gak usah sok kecantikan deh! Jun Cheol itu perlu kerja bukan malah ngurusin cewek gak jelas kayak lu! Ngerti lu!" omel Xin Qian semakin kesal. "Kalo gue emang cantik kenapa lu yang repot hah! Eh asal lu tau aja gue gak minta diurusin tuh sama sekop! Emang dia care aja sama gue! Lu kalo cemburu gak usah kayak gini deh! Sekop aja biasa aja kok malah lu yang sewot sih!" maki Ajeng semakin kesal. "Cih! Oke liat aja siapa yang Jun Cheol tanya pertama kali!" ujar Xin Qian menantang. "Oke siapa takut! Kalo dia nanya gue lebih dulu mau apa lu hah!" balas Ajeng ikut menantang. "Gak usah ngimpi deh lu!" sahut Xin Qian kesal. "Lu yang gak usah berkhayal terlalu tinggi!" geram Ajeng marah. Setelah perdebatan mereka berdua akhirnya Ajeng dan Xin Qian berjalan kembali ke ruangan Barra dan tak lama Jun Cheol menatap tajam ke arah Xin Qian lalu menatap tangan Ajeng yang memerah, melihat Ajeng yang terlihat tenang membuat Jun Cheol mempertanyakan apa yang terjadi pada Ajeng selama dirinya keluar ruangan tadi. "Tangan anda kenapa Ajeng? Merah gitu, apa yang terjadi disana?" tanya Jun Cheol khawatir. "Itu dia nahan tangan gue pas gue mau keluar dari toilet sekop! Kurang kerjaan banget emang! Siapa sih dia rusuh banget!" omel Ajeng kesal. Mendengar ucapan Ajeng membuat Jun Cheol memarahi Xin Qian, sedangkan Xin Qian yang di marahi Jun Cheol justru balik memarahi Jun Cheol hingga perkelahian tak terelakkan karena Xin Qian berusaha menendang Ajeng tapi Jun Cheol yang tak melepaskan pandangan dari Ajeng membuat Jun Cheol segera menarik Ajeng ke dalam pelukkannya. "Anda ada masalah apa sih sampe nahan tangan orang sembarangan! Anda itu seorang aparat keamanan harusnya anda lebih bisa menjaga orang lain bukan malah melukai orang lain seperti ini! Anda berilmu tapi mengapa anda tidak beretika, memalukan!" murka Jun Cheol marah. "Kenapa lu marahin gue Jun Cheol! Dia bukan bagian dari tim kita jadi ya gak salah lah kalo gue peringatin dia buat gak ganggu lu! Lu apaan sih marah-marah kayak gini!" geram Xin Qian kesal. Tak lama suara benturan pun terdengar saat Xin Qian menendang meja karena dirinya tak berhasil menendang Ajeng tapi tak lama melihat Ajeng berada dalam pelukkan Jun Cheol justru semakin membuatnya marah dan hendak memukul Ajeng. Namun Jun Cheol melindungi Ajeng di belakang punggungnya dan Jun Cheol menahan tangan Xin Qian yang masih memukul-mukul, melihat hal ini Barra pun menelpon pihak keamanan untuk membawa pergi Xin Qian dari ruangannya karena Barra tidak ingin ada yang terluka di kantornya. Sesampainya pihak keamanan di ruangan Barra, mereka bergegas menarik Xin Qian menjauhi ruangan tapi Xin Qian justru berteriak-teriak marah hingga membuat Jun Cheol, Jin Young dan Barra menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti dengan tingkah absurd Xin Qian tadi. "Kalo kalian berpikir apa yang gue lakuin salah! Kalian bakal liat sendiri kalo yang salah itu dia bukan gue! Lepasin heh! Lepasin gue sekarang!" maki Xin Qian kesal. Setelah kepergian Xin Qian membuat Barra dan Jun Cheol menghembuskan nafasnya lega lalu mereka berdua meminta maaf di saat yang bersamaan, hingga akhirnya Jun Cheol mengalah dan membiarkan Barra duluan yang mengatakan apa yang ingin ia katakan lalu setelahnya baru dirinya yang mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak tadi. "Saya minta maaf atas ...," ucap Barra terhenti. "Maaf karena saya tidak ...," ujar Jun Cheol terhenti. "Oke anda duluan Barra nanti setelah anda baru saya yang berbicara," tutur Jun Cheol datar. "Baiklah, saya minta maaf atas apa yang terjadi seharusnya saya lebih bisa mengendalikan apa yang terjadi bukan malah terjadi perkelahian seperti tadi ... sekali lagi saya minta maaf atas kurang maksimalnya usaha saya," ucap Barra lembut. "Ah tidak kok Barra anda sudah bertindak cepat," tutur Jin Young menenangkan. "Kadang memang ada hal di luar kendali kita Barra ... tidak apa-apa anda tidak perlu meminta maaf karena bukan masalah yang besar kok," ujar Jun Cheol lembut. "Iya Bar! Bukan salah lu kok emang dia aja yang rusuh," sahut Ajeng menenangkan. "Oke lain kali saya akan lebih baik lagi, oh iya Jun Cheol ingin bilang apa?" tanya Barra lembut. "Maaf karena saya tidak melindungi Ajeng hingga tangan Ajeng memerah, padahal seharusnya saya lebih waspada lagi dengan Xin Qian yang tidak bisa kita remehkan!" ujar Jun Cheol datar. "Anda sudah melindungi Ajeng sebaik mungkin kok Jun Cheol! Kalo bukan anda yang menarik Ajeng mungkin Ajeng bisa cidera karena hampir di tendang seperti itu," ujar Barra lembut. "Bener Jun! Perihal tangan Ajeng yang memerah sih bukan salah anda Jun tapi emang Xin Qian aja yang kebangetan dalam bertindak," tutur Jin Young menenangkan. "Lu gak salah kok sekop! Lu gak perlu minta maaf emang dia aja yang rusuh," ujar Ajeng sebal. Mendengar ucapan Jin Young, Ajeng dan Barra membuat Jun Cheol mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti karena tadi Jun Cheol hanya merasa bersalah jadi ia meminta maaf, lalu tak lama mereka berempat memilih menyudahi meeting kali ini. "Kayaknya meeting kali ini gak jelas ya, gimana kalo kita udahin aja?" tanya Barra tak enak hati. "Iya Bar! Gara-gara cewek rusuh itu jadi gak jelas deh kalian ngobrolin apa!" omel Ajeng kesal. "Bener Barra kita udahin aja meeting kali ini tapi next harus lebih jelas lagi," ujar Jin Young serius. "Iya mending udahin aja sekarang kedepannya lebih jelas lagi Barra," sahut Jun Cheol dingin. Setelah mendengar ucapan mereka bertiga akhirnya meetingpun di sudahi, lalu tak lama Ajeng, Jun Cheol dan Jin Young berjalan meninggalkan kantor Barra. Lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam taxi untuk mengantar Ajeng kembali ke cafenya, tak butuh waktu lama mereka bertiga sampai cafe Ajeng dengan selamat dan aman. Sesampainya di cafe Ajeng, Ajeng mengajak Jun Cheol dan Jin Young untuk istirahat sejenak di cafenya karena Ajeng pikir mereka berdua mungkin lapar. Mendengar ajakan Ajeng membuat Jin Young merasa semangat, lalu tanpa pikir panjang Jin Young pun menyetujui ajakan Ajeng dan mereka berdua masuk ke dalam cafe. "Sekop! Jin Young mau istirahat bentar gak? Siapa tau kalian laper kan?" tanya Ajeng lembut. "Wah boleh-boleh tuh Ajeng! Emang saya laper banget sih, Yuk Jun makan dulu! Anda laper juga bukan?" ujar Jin Young semangat. "Boleh Jin Young," ucap Jun Cheol datar. Jin Young pun memesankan makanan untuk dirinya dan Jun Cheol, lalu selama menunggu makanan selesai dibuat. Mereka berdua pun mengobrol santai agar mengulur waktu untuk tetap melindungi Ajeng selama mereka masih disini, karena Jun Cheol masih khawatir jika Xin Qian kembali membahayakan Ajeng. "Duh yang tadi meluk anak orang! Wah saya kalah nih Jun," canda Jin Young senang. "Itu narik ya bukan meluk! Ini bukan game gak usah ngerasa kalah deh," sahut Jun Cheol datar. "Tau nih Jin Young alay! Ahahaha," sahut Ajeng senang. "Iya deh iya yang lagi kasmaran mah! Jun lain kali kalo meluk cewek tuh yang lembut bukan kayak gitu dong Jun," canda Jin Young semakin senang. "Iya entar saya peluk bantal ke muka anda mau Jin Young!" sahut Jun Cheol dingin. Jika Jun Cheol boleh jujur dirinya khawatir dengan Ajeng yang sendirian disini sedangkan musuh sudah tahu tempat tinggal Ajeng tetapi Jun Cheol tak mungkin untuk ikut tinggal disini, karena pasti akan semakin membahayakan mereka berdua nantinya. Tiba-tiba Jun Cheol teringat jika dirinya dan Jin Young perlu pindah karena saat ini mereka berdua sedang diincar oleh musuh yang menginginkan map yang ada pada Jun Cheol, setelah merasa mendapat ide akhirnya Jun Cheol mencoba mendiskusikannya dengan Ajeng dan Jin Young perihal tempat tinggal mereka yang baru untuk menghindari musuh saat ini. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN