5

1054 Kata
Pria itu menggeram kesal karena sejak tadi malam ia tidak bisa menghubungi wanita yang di sukainya. "Hei, tenanglah kawan." ucap Rizal menenangkan pria itu. Rizal memang sengaja menemani pria itu sebab ia khawatir dan takut jika temannya ini berbuat nekat saat suasana hatinya buruk. "Kau sudah melihat sendiri dan baca isi pesan dari Linda bukan? Jadi, tenanglah." Pria itu sama sekali tidak menanggapi ucapan Rizal, perasaannya sudah terlampau kesal dan marah. "Hei, ponsel Eliza rusak. Sudahlah, jangan berlebihan begini seperti kau habis memergoki kekasihmu berselingkuh saja." kata Rizal lama-lama geram melihat tingkah pria itu. "Aku mengkhawatirkannya." "Sama, aku juga khawatir padanya." timpal Rizal. Pria itu tanpa bicara apapun lagi tiba-tiba saja bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan Rizal yang berseru menjerit memanggil namanya. Tak ingin ambil pusing Rizal pun sedikit berlari kecil mengejar pria itu dan ikut masuk ke dalam mobilnya. "Hei, mau kemana?" tanya Rizal bingung. "Ke suatu tempat." "Iya kemana? Lebih spesifik coba." pinta Rizal yang kali ini kembali tak mendapatkan respon dari pria itu. "Shitt!" umpat Rizal pelan. Temannya ini benar-benar membuatnya kesal. Namun meskipun begitu, Rizal tetap menurut kemanapun temannya itu ingin membawanya pergi. "Coba tanya Linda lagi, dimana posisi mereka saat ini?" titah pria itu seenaknya saja menyuruh Rizal. "Chat lagi, maksudmu?" pria itu mengangguk. "Tidak," tolak Rizal sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau." "Oh, kawan ayolah!" "Aku tidak mau, Derri." Mendengar itu tiba-tiba Derri memberhentikan secara mendadak laju mobilnya. Untunglah saat ini jalanan sepi hingga tak menimbulkan kecelakaan. Tapi tetap saja hal ini membuat kaget Rizal. "Apa kau gila, Der?!" umpat Rizal merah, "ya Tuhan! Jantungku serasa ingin copot dari tempatnya." racau Rizal dengan nafas tersengal-sengal. "Turun!" "What?!" pekik Rizal luar biasa kaget. "Kau menyuruh keluar? Itu artinya mengusirku?!" "Turun!" peringatan kedua dari pria yang bernama Derri itu. "Astaga! Aku tidak percaya dengan sikapmu ini. Kau menyuruhku turun?" "Ya!" sahut Derri lantang. "Aku tidak mau Der." kata Rizal yang lagi-lagi menolak keinginannya. "Ya sudah, kalau begitu chat Linda." "Aku tidak mau—ah, iya baiklah." cepat-cepat Rizal meralat ucapannya yang ingin menolak lagi saat melihat tatapan mata Derri yang begitu mengerikan. Hufffh! Untung teman. Ya, walaupun teman edan! "Posisi mereka saat ini sedang di mall." ucap Rizal memberitahu setelah mendapatkan informasi balasan chat dari Linda. Tepat setelah mendengar itu Derri kembali melajukan mobilnya namun kali ini dengan kecepatan yang cukup tinggi. Rizal pun kembali dibuat jantungan dengan cara mengemudi Derri. **** Eliza mengkerut bingung saat Linda mengatakan jika ada yang ingin datang ke mall juga untuk janjian temu dengannya. Ya, Rizal kembali mengirimkan pesan chat pada Linda untuk lebih lama disana sebab ia dan Derri akan datang menemui mereka. Linda yang tanpa meminta persetujuan dari Eliza pun mengiyakan ajakan Rizal. "Siapa?" tanya Eliza merasa tak enak. "Rizal dan temannya." "Iya siapa?" "Rizal tidak memberitahukan padaku siapa nama temannya. Dia hanya mengatakan untuk tetap lebih lama disini karena mereka ingin menemui kita." sahut Linda santai. Eliza berdecak kesal, "seharusnya kamu mengatakan lebih dulu padaku, Lin. Apakah aku setuju atau tidak." "Uhm, maaf." sesal Linda merasa tak enak. "Lain kali aku akan bertanya dulu padamu." Satu alasan yang membuat Linda berani mengambil keputusan lancang seperti itu adalah ... Eliza yang tak pernah marah. Tapi kali ini Eliza marah dan itu membuat Linda merasa ketakutan. Ah, orang yang tidak pernah atau jarang marah ternyata lebih mengerikan. Contohnya saja seperti ini. Linda benar-benar dibuat tak berkutik alias mati kutu. "Liz, maafkan aku." ucap Linda pelan. "Hmm, ya sudahlah. Sudah terlanjur juga kan?" "Kamu masih marah?" tanya Linda takut-takut. Eliza menghela nafas sabar kemudian tersenyum pada Linda. "Lain kali tanya aku dulu ya." Linda mengangguk semangat. "Kalau gitu, makan yuk." ajak Eliza membuat Linda ternganga mendengarnya. "Liz, bukannya sebelum kemari kita sudah makan siang ya?" Eliza tersenyum kikuk seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali. "Aku lapar lagi," ucapnya yang tak lama disusul cengiran. "Huh, dasar!" ejek Linda namun tak ayal juga di turutinya keinginan temannya itu. Akhirnya keduanya makan di food court yang ada di lantai paling atas mall ini. Food court adalah Pujasera yang merupakan kependekan dari Pusat Jajanan Serba Ada adalah sebuah tempat makan yang terdiri dari gerai-gerai makanan yang menawarkan aneka menu yang variati. Saat tengah menikmati makanannya, ponsel Linda kembali berbunyi. Ternyata satu notifikasi pesan chat dari Rizal lagi yang mengabarkan jika ia sudah sampai di mall. Kemudian jari-jari lentik dan indah Linda pun dengan lihai mengetik balasan pesan chat untuk Rizal. Eliza sama sekali tak berpaling dari kegiatannya yang saat ini tengah asyik melahap dan menikmati makanannya. Linda sampai mendengkus melihat tingkah temannya ini yang sebenarnya doyan makan tetapi beruntungnya tetap memiliki tubuh yang aduhai langsingnya. Terkadang Linda jadi iri, makan seberapa banyak pun Eliza tidak pernah gemuk. Berbeda sekali dengan dirinya yang masih harus membatasi diri pada makanan. Jika dirasa mulai berat badannya naik dengan pesat maka Linda dengan cepat pula melakukan program diet. Satu kata yang membuat Linda frustasi dan berakhir stress berat. "Hai." Linda dan Eliza kompak menoleh ke arah sumber suara dan tersentak kaget menemukan sosok Rizal yang tersenyum menyapa dengan ramah. "Duduk," tawar Eliza pada Rizal. "Eh, mana teman lu?" tanya Linda celingukan. "Ada kok," Rizal ikut celingukan. "Nah, itu dia." Eliza dan Linda ikut melihat ke arah jari telunjuk Rizal yang mengarah pada seorang pria tampan yang berjalan dengan gagahnya ke arah mereka. Derri yang tau tengah di perhatikan justru titik fokusnya malah tertuju pada Eliza seorang. Sedikit pun Derri tidak mengalihkan perhatiannya intens dari Eliza, dan itu sungguh membuat Eliza menjadi risih sendiri. Dan Eliza semakin dibuat risih manakala Derri telah sampai di dekatnya dengan tatapan intens pria itu yang tak berkurang sedikitpun. Eliza memalingkan wajah ke arah lain sebab ia mulai di rundung perasaan tak nyaman. "Ini dia temanku, namanya Derri." ucap Rizal memperkenalkan Derri pada kedua wanita itu. "Hai, kamu masih ingat aku?" tanya Derri dengan lancang berbisik di telinga Eliza yang tentunya saja tersentak kaget. Eliza tak nyaman dan kesal dengan sikap Derri, tapi demi menghormati Rizal maka Eliza pun berusaha bersabar dan bersikap ramah padanya. "Tidak," sahut Eliza yang tak lama mulai tampak berpikir. "Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?" Derri tertawa kecil, "ternyata kamu tidak ingat denganku." Eliza langsung menoleh pada Rizal yang gelagapan seraya mengendikkan kedua bahunya tanda tak acuh. Kemudian tatapan Eliza beralih pada Linda yang juga memberikan respon yang sama seperti Rizal tadi. Astaga! Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN