6

859 Kata
"Jadi, kita pernah bertemu sebelumnya?" pekik Liza merasa tidak yakin. Derri mengangguk, "sudah lumayan lama. Dan aku yakin bahkan kamu pasti tidak ingat jika aku pernah menjadi penyiar radio di tempatmu bekerja." Eliza terperangah dan lebih kaget lagi dari sebelumnya. "Serius?" "Aisshh, ternyata benar dugaanku jika kamu tidak mengingatnya." Derri berdecak pura-pura merasa kesal. "Tapi ya wajar sih, sebab jadwal siaran diantara kita dulu nyaris jarang bertemu. Lagian aku juga hanya sebentar menjadi penyiar radio disana." "Oh ya?" Derri mengangguk. "Sebentar," Eliza meminta sedikit waktu untuk dirinya mengingat tentang Derri dan juga pertemuannya dengan lelaki itu. "Hah, aku tidak bisa mengingatnya." desah Eliza merasa kecewa karena dirinya tak bisa mengingat Derri. "Apa kamu mengalami amnesia?" "A-apa?!" "Kamu pernah mengalami benturan pada kepala atau kecelakaan gitu?" Eliza melongo tidak percaya mendengarnya, "kalau memang seperti itu seharusnya aku tidak tau namaku." Derri terkekeh, "lalu kenapa hanya aku yang tidak kamu ingat?" "Entahlah!" Eliza mengendikkan kedua bahunya, "Rizal juga tidak ada cerita tentang kamu." "Iya, memang aku melarangnya untuk bercerita sama kamu mengenaiku." "Kenapa?" tanya Eliza tersentak kaget. "Tidak ada alasan. Hanya saja aku ingin bicara banyak berdua denganmu, seperti ini." Ya, memang saat ini mereka tengah berduaan saja sebab Rizal dan Linda tadi sengaja meninggalkan Eliza dan Derri agar bisa berduaan. "Lalu, kenapa kamu berhenti bekerja menjadi penyiar radio?" tanya Eliza lagi. "Keluarga," sahut Derri singkat. "Maksudnya keluarga kamu gak setuju kalau kamu jadi penyiar radio, begitu?" "Bukan," Derri mengulum senyum geli mendengar kesimpulan Eliza yang asal menebak. "Lalu apa?" "Mungkin hampir sama seperti tidak setuju. Tetapi, keluargaku memintaku untuk berhenti bermain-main hanya karena seorang wanita dan kembali fokus pada bisnis kami." "Bermain-main karena seorang wanita?" Derri mengangguk. "Maksudnya, kamu menyukai seorang wanita yang juga bekerja sebagai penyiar radio juga?" Derri mengangguk. "Kamu tahu, wanita itu adalah wanita yang spesial bagiku. Karena...." "Karena apa?" Eliza terlihat penasaran dan penuh antusias pada kelanjutan kalimat Derri yang menggantung. "Karena dia telah berhasil membuatku terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama." "Wow, keren sekali!" "Ya, begitulah. Dan wanita itu adalah ... kamu!" Byuurr! Tepat setelah mengatakan itu Derri mendapatkan semburan air yang langsung muncrat keluar dari mulut Eliza. Bukan tanpa sebab, waktunya sangat tidak pas sekali bagi Derri saat mengatakan itu bertepatan dengan Eliza yang masih menyeruput minumannya. Jadilah wajah Derri basah oleh jus jeruk. "Ma-maaf," gugup Eliza merasa tak enak dan terbata ketika melihat wajah Derri. "Aduh, aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh, maafkan aku." "Tidak apa-apa. Santai dan tenang saja," sahut Derri kalem seraya mengambil sapu tangan dari saku celananya. Derri mulai melap wajahnya yang basah kecipratan jus jeruk tadi sampai bersih. Setelahnya ia menatap lembut dan hangat Eliza yang masih tampak takut-takut dan tak enak. "Sudah ku bilang, tidak apa-apa Eliza." "T-tapi, kamu basah." "Memang, lalu kenapa?" "Kamu tidak marah?" tanya Eliza begitu polosnya. Sungguh, Derri ingin terbahak saja mendengarnya. "Sebenarnya aku sedikit kesal." goda Derri sengaja memasang raut wajah cemberut dan kesal. "Maaf." "Aishh, berhentilah mengatakan kata itu. Aku tidak suka mendengarnya." "Tidak, aku yang salah jadi akulah yang memang harus minta maaf." kata Eliza dengan wajah menunduk penuh penyesalan. Derri yang melihat itu sampai geleng-geleng kepala. Wanita di depannya ini sangat unik menurutnya. Eliza tidak akan berhenti meminta maaf hanya karena kesalahan kecil yang tidak sengaja dibuatnya. "Sudahlah, mari kita lupakan saja. Lagian hanya masalah kecil saja." pinta Derri tak ingin memperpanjang hal ini. "Jangankan ini, lebih dari ini pun aku tidak akan marah jika kamu yang melakukannya Liz." batin Derri tersenyum. "Derri?" "Hmm." "Mengenai ucapan kamu yang tadi, maksudnya apa ya? "Ya?" "I-itu, yang tadi." "Yang mana, Liz?" "Wanita keren yang sudah buat kamu terpesona dan jatuh cinta. Kenapa kamu bilang aku?" "Ya karena wanita itu memang kamu." Eliza terdiam dengan eskpresi raut wajah tak percaya. "Sungguh!" timpal Derri dengan mimik wajah serius. "Ini tidak lucu, Der!" Eliza berusaha tersenyum meskipun agak sulit. "Jadi jangan bercanda seperti ini lagi. Karena, sungguh tidak lucu." "Well, aku memang tidak sedang bercanda Eliza. Aku serius!" Satu detik Dua detik Tiga detik "Ahaha, terserah kamu sajalah Der." ucap Eliza berusaha mencairkan suasana diantara mereka yang mulai tampak kaku dan canggung. "Aku ingin kamu percaya, karena apa yang aku katakan sungguh benar dan serius. Walau mungkin ini terdengar tidak mungkin dan konyol bagi kamu." kata Derri menutup percakapan diantara mereka, karena setelahnya Eliza memutuskan untuk pulang. Derri bahkan terkejut saat melihat reaksi spontan Eliza menolak tawarannya yang hendak mengantarkan gadis itu pulang. Meskipun kecewa, namun Derri berusaha mengerti. Pastilah Eliza syok luar biasa saat mendapati kenyataan seperti itu darinya. "Yang sabar ya, Bro." ucap Rizal berusaha menenangkan sekaligus menggodanya. "Wanita memang seperti itu, Der. Susah ditebak." "Oho! Bijak sekali kata-kata anda, Tuan Rizal. Seakan-akan anda sudah sering melaluinya." "Tepat sekali!" ringis Rizal membenarkan ucapan Derri. Derri tersenyum seraya menepuk pelan bahu Rizal, "yang sabar ya, Bro." Setelahnya Derri melangkah pergi meninggalkan Rizal yang meratapi nasib asmara dirinya yang jauh lebih sial menurutnya ketimbang Derri. Setidaknya Derri sudah berusaha dengan berani dan gentel mengungkapkan perasaannya pada wanita yang di sukainya. Sedangkan Rizal? Jangankan melakukan itu. Wanita yang di sukai dan di incarnya saja belum tentu mau bertemu dan berduaan dengannya. Poor, Rizal! Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN