"Ada paket hadiah untukmu, tadaaa!" seru Rizal ceria seraya menyodorkan satu paper bag berwarna hitam pada Eliza pagi itu.
Dahi Eliza mengkerut bingung, "apa itu?" tanyanya namun tak urung juga menerima paper bag yang di sodorkan Rizal.
"Langsung buka saja kalau kamu penasaran Eliza." titah Rizal tersenyum tidak sabar. "Nih, ambilah!"
"Dari siapa?"
"Temanku," sahut Rizal nyengir. "Lebih tepatnya temanku yang semalam, Derri."
"Ayo ambilah," Rizal meraih sebelah tangan Eliza lalu menyerahkan paper bag tersebut ke tangan gadis itu.
"Jadi ini dari Derri?"
"Yupss! Dan berhentilah bertanya ini itu, ayo langsung buka saja." cegah Rizal saat melihat Eliza yang hendak membuka mulut ingin bertanya sesuatu hal lagi.
Eliza menurut patuh dan membuka paper bag terkejut. Eliza langsung dibuat terkejut ketika melihat isi di dalamnya.
Rizal meringis begitu mendapati reaksi Eliza yang kini menatapnya tajam. "Apa maksudnya ini?" tanyanya tidak mengerti.
"Ah, itu ponsel." sahut Rizal setelah Eliza membuka kotak ponsel tersebut.
"Iya aku tahu jika ini ponsel. Yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa Derri memberikan ini padaku."
"Uhm, i-itu karena dia pikir ponselmu rusak jadi dia membelikannya untukmu." jawab Rizal terbata-bata.
"Lalu apa hubungannya ponselku rusak sama dia?"
"Ya tentu saja ada hubungannya. Sebab kan ponsel adalah benda yang penting untuk berkomunikasi dengan keluarga dan sanak-saudara yang tinggal jauh. Apalagi dalam masa pendemi begini, iya 'kan?"
Eliza menghela nafas lelah mendengar jawaban panjang yang diberikan Rizal. "Ini," tukasnya seraya memasukkan ponsel itu kembali ke tempatnya.
"Tolong kembalikan padanya, aku tidak bisa menerima pemberian dia ini."
"Loh, k-kenapa Liz? Padahal ini ponsel keluaran baru loh."
Eliza merinding mendengarnya, "justru karena ini baru makanya aku tidak bisa menerimanya. Pasti ini harganya sangat mahal, jadi maaf aku tidak bisa."
"Ta-tapi Liz, Derri pasti akan kecewa dan sedih jika kamu menolak pemberiannya."
"Lalu bagaimana denganku? Aku tidak ingin di kasihani hanya karena ponselku rusak. Meskipun tidak kaya tetapi aku masih bisa dan mampu membeli ponsel baru meskipun harus menghabiskan seluruh uang tabunganku." tukas Liza dengan mata berkaca-kaca. Sedikit banyaknya gadis itu merasa harga dirinya terluka.
"Tapi Derri tulus dan ikhlas memberikannya padamu Liz. Sedikitpun dia tidak ada maksud untuk mengejek ataupun menghinamu."
"Maaf, aku tetap tidak bisa menerimanya." sekali lagi Eliza menolak sampai Rizal merasa lelah membujuknya.
"Liz—" ucapan Rizal tersendat, pria itu mengurungkan niatnya yang hendak bicara lagi saat dilihatnya kini Eliza yang bersiap-siap untuk memulai siaran paginya.
Rizal melangkah lemas keluar dari ruangan studio sembari menenteng paper bag di tangannya. Setelahnya ia memutuskan untuk menemui Derri di kantornya saja.
****
Raut wajah Derri terlihat kecewa sekaligus bercampur sedih. Niatnya tulus dan ikhlas memberikan hadiah kejutan ini untuk Eliza melalui Rizal.
Firasatnya mengatakan benar jika usahanya ini sepertinya tidak akan mudah. Sedari awal ia sudah menebak jika Eliza pastilah akan menolak hadiah pemberiannya ini.
Derri menghela nafas sabar seraya matanya menatap lekat benda itu di atas mejanya. Berpikir keras bagaimana caranya agar Eliza mau menerima pemberiannya ini.
"Apakah harus aku langsung yang memberikan ponsel ini padanya?" tanya Derri mengusulkan sebuah ide untuk memberi langsung hadiah ponsel ini pada Eliza.
"Hah?" Rizal yang masih ada di situ pun terkejut mendengarnya. "Kamu ingin memberikan langsung?"
"Iya, kira-kira apakah akan berhasil?"
"Entahlah. Aku meragukannya."
"Hei! Berilah kepercayaan diri dan semangat untuk temanmu ini. Bukannya malah semakin membuatku putus asa." cibir Derri kembali lemas, padahal tadinya pria itu sudah mulai bersemangat.
"Lalu aku harus bagaimana? Menghadapi Eliza bukanlah hal yang mudah. Apa kau pikir Eliza sama dengan wanita yang lainnya? Yang akan dengan senang hati dan bahagia menerima hadiah mahal-mahal dari pria kaya?"
"Tidak sama sekali."
"Ya sudah."
"Arggh!" Rizal terlonjak kaget saat tiba-tiba Derri menggeram melampiaskan perasaan kesalnya.
"Lagian seperti tidak ada wanita lainnya saja. Kalau Eliza tidak mau ya sudahlah tinggalkan saja. Der, masih banyak tahu wanita yang lainnya."
Rizal menelan ludahnya dan sepertinya harus menarik kata-katanya kembali saat melihat tatapan tajam nan sengit milik Derri.
"Kau bisa mengatakan ini karena kau tidak merasakannya. Tidak merasakan saat hatimu merasa berbunga-bunga dan bahagia setiap kali mengingat ataupun melihat wajahnya. Tidak pernah merasakan saat dirimu merasa sulit bernafas ketika di dekatnya." ucap Derri berang. "Dan tidak pernah merasakan saat sulit tidur karena terus memikirkannya."
Rizal terdiam dengan mulut terkatup rapat. Rizal juga tidak akan menyangka jika temannya akan bicara seperti ini.
Apakah memang seperti ini efek dari jatuh cinta?
"Aku pernah merasakannya," lirih Rizal. "Tetapi aku mempunyai cara lain dalam mengagumi wanita yang ku sukai. Mungkin kamu lebih berani tetapi aku tidak, aku lebih memilih untuk mencintai dalam diam."
"Ya, itu karena kamu pengecut dan takut merasa kecewa sepertiku bukan?"
"Tidak!" elak Rizal.
"Lalu?"
"Aishh, kenapa jadi membahas tentangku sih?" tukas Rizal sadar dan berdecak kesal, kemudian ia tersenyum. "Baiklah, ayo semangat! Aku akan membantumu Bro."
Derri pun turut tersenyum, entah menguap kemana kekesalannya tadi setelah mendengar cerita temannya ini yang ternyata jauh lebih menyedihkan.
"Terima kasih dan maaf atas perkataanku tadi. Zal, aku—"
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti." sahut Rizal yang lagi-lagi tersenyum.
"Uhm, baiklah. Kalau gitu aku pamit pergi ya, udah siang bentar lagi mau siaran."
"Eh, tunggu Zal!" cegah Derri mencegah Rizal yang ingin pergi. "Kita makan siang dulu, kamu belum makan kan?" Rizal menggeleng.
"Bagus, ayo!" ajak Derri melangkah duluan, namun tiba-tiba mendadak berhenti. "Tapi, kamu yang nyetir ya?"
"Hufffh, Dasar kampret!" dengkus Rizal menggeram kesal.
"Jangan mengumpat dan mengomel. Aku bisa mendengarnya, kawan." kekeh Derri merasa geli.
Tbc....