***
Akira meremas tangannya, mencoba kuat dan tidak gugup. Ia harus menjawab pertanyaan Bunda Naya. “Mbak Selia pernah membacakan dongeng untukku tentang ayam betina yang suka bertelur, dan gambarnya mirip dengan itu, Bunda!” ujarnya cepat.
Naya sedikit terkejut mendengar penjelasan Akira. Ternyata ia mendapatkan jawaban yang berbeda dari dongeng yang pernah dibacakan oleh pengasuhnya. Namun, Nay cukup memuji Akira karena mengingat setiap detail dari dongeng itu hingga bisa menemukan jawaban yang benar dari pertanyaannya.
Naya mengacungkan kedua jempolnya. Ia kini beralih menatap Biru. “Bagaimana denganmu, Biru?” tanyanya. “Kenapa kamu memiliki jawaban yang berbeda?”
Biru melirik Akira. Jawabannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Akira. Ia hanya pernah menonton serial anak-anak yang menceritakan tentang ayam jantan dan betina. Berdasarkan ciri-cirinya, Biru pun menebak bahwa gambar yang Bunda Nay tunjukan adalah ayam betina. Selain itu, di rumahnya juga ada kandang ayam yang dijaga oleh Bibi. Isinya ada ayam betina dan jantan. Dia pernah bertemu ayam betina yang sedang bertelur ketika tak sengaja bermain ke halaman belakang rumahnya.
Bibi menjelaskan bahwa ayam betina yang sedang bertelur tak boleh diganggu. Terlebih ketika nanti telurnya menetas. Dari apa yang Biru lihat, gambar yang Bunda Nay pajang tampak sangat mirip dengan penampakan ayam betina yang sedang bertelur.
“Aku hanya pernah melihatnya di kandang ayam yang Bibi jaga di rumahku!” ujar Biru tanpa mau repot-repot menjelaskan semua yang pernah dirinya alami kepada Bunda Naya.
Nay tercengang. Ia pikir jawaban Biru akan jauh lebih baik dari jawaban Akira, tetapi ternyata dirinya salah. Nay terkekeh, memangnya apa yang ia harapkan dari anak TK seumuran Biru dan Akira? Jawaban yang mereka miliki sudah cukup sebenarnya meskipun taka da satu pun yang menjawab berdasarkan dari apa yang pernah buku jelaskan tentang ciri-ciri ayam betina.
Tck! Tentu saja. Akira dan Biru masih belum cukup umur untuk mengetahui banyak hal seperti itu tanpa bimbingan darinya.
“Baiklah, baiklah, jawaban kalian berdua benar. Jawaban yang Nakira dan kelompoknya berikan juga benar, tetapi kurang tepat. Gambar yang ada di depan sana adalah gambar dari seekor ayam betina,” ucap Naya kepada seluruh muridnya.
“Yahhhhhhhhh,” Terdengar keluhan dari kelompok yang diketuai oleh Nakira. Mereka tampak kecewa karena jawaban yang mereka miliki kurang tepat.
Naya tersenyum melihatnya. “Tapi, kalian tenang saja! Setiap kelompok akan tetap mendapatkan hadiah dari Bunda!” ujarnya.
“Horeeeeeee!” Kembali kelompok Nakira bersorak gembira. Tak hanya mereka saja sebenarnya, kelompok yang lainnya juga ikut meramaikan.
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu. “Tapi, Bunda akan menjelaskan ciri-ciri ayam betina terlebih dahulu sebelum memberikan hadiah untuk masing-masing kelompok!” tegasnya.
“Silakan murid-murid kembali ke tempat duduk masing-masing ya,” ucap Naya kepada seluruh muridnya.
“Baik Bunda!” Masing-masing dari mereka berlarian menemukan bangku masing-masing.
Naya pun mulai menjelaskan seperti apa sebenarnya ayam betina tersebut. Murid-muridnya menyimak dengan baik penjelasan ayam betina yang Naya rangkum menjadi sebuah cerita. Naya benar-benar pintar membuat murid-muridnya memperhatikannya. Ia layak disebut sebagai seorang guru karena dapat membawa diri di mana pun ia berada. Bahkan, penjelasan mengenai ciri-ciri ayam betina pun dapat ia rangkai menjadi sebuah cerita yang tentu saja akan disukai oleh anak-anak seumuran murid-muridnya.
Lalu, setelah menjelaskan ciri-ciri ayam betina tersebut, Naya tak lupa memberikan hadiah untuk semua muridnya. Ia melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya terlebih dahulu. Senyumnya mengembang ketika waktunya begitu tepat. Hadiah yang akan ia berikan kepada murid-muridnya adalah menyelesaikan waktu sekolah Lima menit lebih cepat dari seharusnya. Hal ini kebetulan memang dibolehkan di TK Cinta Bunda.
“Terima kasih sudah mendengarkan penjelasan dari Bunda. Hadiah yang Bunda janjikan adalah kita bisa pulang lebih awal dari jam seharusnya,” ucap Bunda Nay yang diikuti sorakan gembira dari para murid. Mereka tidak sadar saja jam pulang sekolah hanya kurang dari Lima menit saja. Bukan Bunda Nay bermaksud untuk mengelabui murid-muridnya, tapi ia hanya ingin memanfaatkan keadaan sebaik mungkin sebagai seorang guru.
Sudah pasti anak-anak malas belajar bila tadi dirinya memaksa, tetapi dengan diiringi permainan, mereka bisa sedikit lenggang sekaligus mendapatkan ilmu baru.
“Kalau gitu kalian sudah boleh pulang. Bagi anak-anak yang jemputannya belum sampai ditunggu di lingkungan sekola saja ya,” ucap Bunda Nay. Namun, biasanya jemputan anak-anak selalu lebih cepat datang. Kebanyakan juga seperti Akira, Biru dan Nakira yang didampingi oleh babysitter sehingga Nay tak perlu khawatir anak-anak berkeliaran selagi menunggu jemputan.
Anak-anak tak lupa mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih kepada Bunda Nay sebelum mereka keluar ruangan. Mereka juga diwajibkan untuk menyalimi guru kelas sebelum pulang.
Naya menyunggingkan senyumnya. Bersyukur karena bisa menjadi bagian dari TK Cinta Bunda ini. Anak-anak yang dirinya ajarkan pun tidak nakal-nakal. Mereka bersahabat dengannya. Menurut apa katanya.
“Kalian hati-hati ya, jangan lari-larian!” ujar Nay memberi nasihat kepada murid-muridnya.
Kini, yang terakhir akan menyaliminya adalah Akira. Gadis itu memang selalu menjadi yang terakhir, sebab ia tak suka rebutan.
“Gimana hari ini, Cantik? Senang?” tanya Naya begitu Akira selesai menyalimi tangannya.
Akira tampak menganggukkan kepala. Senyumnya mengembang seolah menggambarkan betapa bahagianya ia hari ini. Bisa bermain sekaligus belajar bersama teman-temannya. Juga, mendapatkan sahabat baru yaitu Nakira. “Terima kasih, Bunda,” ucapnya tulus.
Naya terkekeh mendengarnya. “Sama-sama. Kamu harus janjinya, jangan sedih-sedih lagi,” pintanya.
“Iya, sekarang aku bahagia karena punya Bunda dan Nana,”
“Nah gitu dong! Pokoknya kamu harus selalu bahagia, Sayang!”
Akira terkekeh. “Bunda,” panggilnya agak sedikit ragu.
“Iya?” Naya penasaran kenapa Akira memanggilnya seperti itu.
“Emhh, Bunda mau nggak makan malam bersama di rumahku?” tanya Akira takut-takut. Ia khawatir telah meminta sesuatu yang berlebihan kepada Bunda Naya.
“Makan malam?” Terang saja Nay terkejut mendengar pertanyaan Akira.
“Iya,” Akira mengangguk.
Naya sedikit tak enak hati, tetapi ia harus menolaknya. Tak mungkin dirinya makan malam di rumah Akira. Di sana tentu saja ada orang tua tunggal Akira yang Nay kenal dengan nama Lintang Kanagara. Akan sangat canggung bila tiba-tiba dirinya makan malam di sana tanpa mengenal Lintang sama sekali. “Ehmm, maafin Bunda ya Sayang, tapi Bunda nggak bisa terima ajakan makan malam kamu. Bunda kan nggak kenal sama papamu,” ucapnya hati-hati agar Akira tak terlalu kecewa.
Namun, sepertinya Akira sudah kecewa, sebab ajakan makan malamnya tak bisa diiyakan oleh Bunda Naya.
“Kamu jangan sedih dong, kita kan bisa makan siang bareng setiap hari,” ucap Naya menenangkan. Ia berjongkok agar bisa memeluk Akira. Entah bagaimana dirinya menjelaskan perihal ini kepada Akira, sebab benar-benar tak mungkin baginya menerima ajakan makan malam dari muridnya yang masih berumur kurang dari Enam tahun tersebut.
Tentu Nay akan mengiyakan andai ia mengenal Lintang. Namun, karena dirinya hanya tahu nama saja, maka sulit baginya untuk menerima ajakan makan malam tersebut. Situasi akan sangat canggung bila ia memaksa.
***
To be continued.