LOVE ME, SINGLE DADDY! -- 7

1098 Kata
*** Tahu permainan apa yang Bunda Nay lakukan bersama murid-muridnya? Tebak gambar. Siapa cepat akan mendapatkan poin. Kelak poin yang terkumpul paling banyak akan menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah dari Bunda. Namun, yang paling kecil poinnya akan mendapatkan hukuman. Bukan hukuman yang akan membuat murid-muridnya menderita. Tenang saja! Hukuman tersebut ialah meminta murid yang kalah berhitung Satu sampai dengan Dua Puluh. Bunda Nay tentu tak ingin memaksa murid-muridnya sebab masih ada beberapa murid yang belum begitu lancar berhitung hingga angka Dua Puluh. Bunda ingin setiap kelompok menjadi kompak. Jika ada yang tidak bisa berhitung, maka yang lainnya harus membantu. Intinya begitu. “Kalian sudah siap anak-anak? Bunda akan memulai permainan ini,” ucap Naya kepada murid-muridnya setelah memberitahu mereka jenis permainan apa yang akan dimainkan. “Siap Bunda!” jawab mereka yang lagi-lagi terdengar sangat kompak di telinga Naya. Nay semakin semangat memulai permainan tebak gambar ini. Ia sudah menyiapkan beberapa kertas bergambar yang akan dirinya tempel di papan tulis. Para murid sudah duduk berkumpul berdasarkan dengan kelompok masing-masing. Dapat Naya lihat Akira tak lagi murung meskipun ia sedikit canggung berkumpul bersama teman-temannya. Naya senang melihatnya. Ia ikut bahagia untuk Akira. “Jangan dijawab dulu sebelum Bunda bertanya ya anak-anak!” ujar Naya memberi intruksi. Kembali jawaban dari anak-anak menggema di seluruh ruangan. Untung saja jarak kelas yang satu dengan yang lainnya tak berdempetan sehingga suara anak-anak tak begitu mengganggu kelas yang lainnya. Bunda Nay telah selesai menempel salah satu kertas gambar yang telah diwarnai di papan tulis. Ia menggunakan isolasi agar memudahkannya dalam menempel dan melepasnya nanti. Bunda menghadap murid-muridnya. Tampak masing-masing kelompok berbisik-bisik, tak terkecuali kelompok Akira. Sebagai ketua, Akira banyak berinteraksi dengan teman-temannya. Mereka saling memberi usulan atau jawaban mengenai gambar apakah yang ada di depan sana. Bunda Nay juga meminta muridnya menuliskan jawaban mereka di sebuah kertas yang nanti akan diperiksa olehnya. Hal itu juga akan menjadi poin untuk kelompok yang menang bagi kelompok yang dapat menuliskan huruf demi huruf dengan baik. “Anak-anak mohon perhatiannya!” tutur Bunda Nay kepada murid-muridnya masih saja sibuk berdiskusi. Sesungguhnya ia senang melihat pemandangan ini. Dengan adanya kelompok bermain sekaligus belajar ini, murid-muridnya dapat saling berinteraksi dan bertukar pikiran satu dengan yang lainnya. Sebenarnya dari apa yang Naya lihat selama ini mengajar di kelas ini, tak hanya Akira yang memiliki sifat pendiam dan pemalu, tetapi beberapa anak pun mengalami hal serupa. Namun, mereka selalu keluar kelas untuk setidaknya duduk-duduk di teras atau koridor. Tujuan Nay mengajak muridnya bermain adalah agar mereka semakin aktif dalam berinteraksi. Setidaknya di kelas ini. “Bunda akan bertanya sebentar lagi. Kalian harus mengangkat tangan dengan cepat begitu Bunda menyelesaikan pertanyaan. Ingat, siapa cepat dia yang akan Bunda minta jawabannya. Kalian paham, anak-anak?” Naya melanjutkan. “Pahammmmmm!” Lagi-lagi para murid menjawab dengan kompak. Mereka tampaknya mengerti apa yang Naya maksudkan. Meski tak semuanya, tetapi Nay yakin masing-masing ketua kelompok antara kelompok satu, dua dan tiga memahami maksudnya karena ketiganya adalah murid jenius di kelasnya. Siapa lagi jika bukan Akira Lintang Kanagara, Biru Lazuardi Abimanyu dan Nakira Agdijaya. Naya percaya ketiganya mengerti penjelasannya. Naya memperhatikan anggota setiap kelompok sebelum mengudarakan pertanyaannya. “Siapakah yang tahu gambar apa yang Bunda pajang di depan?” tanyanya. Semua murid mengangkat tangan. Namun, Naya tahu hanya beberapa saja yang benar-benar memiliki jawaban. Ia memilih siapa yang lebih dulu mengangkat tangan. “Baiklah, Bunda lihat yang lebih dahulu mengangkat tangan adalah dari kelompok Satu!” ujarnya. Kelompok Satu diketuai oleh Nakira. “Apa jawabannya?” tanya Bunda. Sebagai ketua kelompok, Nakira pun menjelaskan bahwa gambar di depan sana adalah gambar seekor ayam. “Tulisannya seperti ini, Bunda!” ujar Nakira setelah menyebutkan jawaban dari kelompoknya. Ia menunjuk huruf demi huruf hingga terbaca menjadi Ayam. Naya tersenyum lembut. Jawaban dari kelompok Nakira memang sudah benar, dan huruf-huruf yang terbentuk pun betul. Namun, Naya akan mengatakan bahwa jawaban tersebut belum tepat. “Apa benar jawabannya Ayam, Nana?” tanya Bunda Nay menggoyahkan kelompok Nakira. Mereka saling berpandangan sembari ikut bertanya-tanya satu sama lain. “Benar Bunda,” jawab Nakira yakin. Bunda Nay kembali menarik sudut bibirnya. Nakira yang keras kepala ternyata teguh akan pendiriannya meskipun masih kecil. Nay juga salut akan tulisan tangan Nakira yang terbilang rapi meskipun umurnya belum mencapai angka Enam tahun. Naya mengangguk singkat, tetapi kemudian menggeleng. “Apa ada yang memiliki jawaban lain?” tanyanya kepada kelompok lain. Namun, kebanyakan menggelengkan kepala masing-masing. Mereka juga melafalkan kata ayam berkali-kali. Berbeda dengan Akira yang diam saja seperti biasa. Murid Naya yang satu itu tampak memandangi gambar ayam di depan dengan mata tajamnya. Akira seperti memiliki jawaban lain, tetapi tampak tidak berani mengutarakannya. Bunda Nay dapat melihat itu hingga ia mendekati Akira. “Bagaimana denganmu, Akira? Apakah kamu dan kelompokmu memiliki jawaban lain selain Ayam?” tanyanya memancing. Akira tampak ragu. Ia melirik anggota kelompoknya yang ia tahu yakin sekali bahwa itu adalah Ayam. Dirinya pun yakin gambar di depan sana ialah ayam, tapi ada yang mengganjal sejak tadi di dalam benaknya. “Be … benar Bunda, tapi … ” Akira terbata. Ia takut salah dan berakhir disalahkan oleh anggota kelompoknya. “Ayo bilang! Nggak apa-apa walaupun salah,” ucap Bunda Nay menyemangati. Namun, Akira bungkam. Ia benar-benar takut disalahkan. Di saat Bunda Nay terus meminta Akira untuk mengutarakan pendapatnya, Biru beranjak dari tempatnya duduk. Ia mendekati kelompok Tiga tanpa peduli pada pandangan teman-temannya yang merasa penasaran. Sejak tadi Biru memperhatikan kegelisahan Akira. Ia tahu jawaban yang Akira miliki berbeda dengan yang dimiliki oleh Nakira karena Akira menulis cukup panjang di atas bukunya. Dengan berani Biru menarik buku Akira yang Akira simpan di atas mejanya. “Jangan … ” Akira berusaha menggapai bukunya lagi, tetapi Biru menghindarinya. Akira seakan ingin menangis akibat ulah Biru yang berani sekali mengganggunya di depan Bunda Naya. Namun, yang Biru lakukan selanjutnya justru membuat Akira tertkesan. “Dia menjawab di sini ayam betina, Bunda. Dan, menurutku jawabannya benar karena aku pun menjawab seperti itu!” ujar Biru dengan percaya diri. Ia mengembalikan buku Akira dan mengambil bukunya sendiri, lalu menunjukan hasil kerjanya kepada Bunda Naya. Anak-anak lain ikut berkerumun di sana untuk melihat jawaban Akira dan Biru. Nayanika Candramawa pun melebarkan senyumnya. “Kalau boleh tahu apa alasan kalian berdua menjawab ayam betina?” tanyanya silih berganti menatap Akira dan Biru. “Teman-teman kalian ingin tahu, coba ceritakan,” pinta Bunda Nay sebab Biru dan Akira tampak ragu-ragu. “Akira?” Bunda Nay meminta Akira lebih dulu karena ia tahu Biru pasti dengan berani menjelaskan jawabannya. Namun, Akira butuh dorongan lebih untuk melakukan itu. Nay tidak pilih kasih, tetapi ia hanya ingin semua muridnya maju dan menjadi pemberani. *** To be continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN