LOVE ME, SINGLE DADDY! -- 6

1143 Kata
*** Naya masih bersama Biru, membujuknya untuk bicara dengannya. Jika Naya terus saja mengeluarkan suara, maka lain dengan Biru yang sama sekali tak berniat membuka mulutnya. Dari luar Opi, pengasuh Biru tergopoh menghampiri. “Den Biru kenapa, Bunda?” tanyanya sambil menggapai tangan Biru. Bunda Nay tersenyum tipis. Ia menggeleng sebagai jawaban. “Sepertinya mau ikut bermain bersama Nana dan Akira, Mbak Opi,” ucapnya. Opi tampak mengernyitkan dahi. Pasalnya ia tak mengenal siapa itu Nana dan Akira. Naya pun menyadarinya. Naya mencoba menjelaskan siapa itu Nana dan Akira. “Itu! Yang satu Nana dan yang lainnya Akira. Mungkin Biru ingin bermain bersama mereka!” ujarnya. “Nggak! Aku nggak sudi bermain bersama anak perempuan!” balas Biru. Naya ingin tertawa melihat tingkah Biru yang sepertinya sama keras kepalanya seperti Nakira. Ia melirik Opi yang sejak pertama kali memperkenalkan diri sebagai pengasuhnya sudah Naya hafal namanya. Mereka diam-diam menertawakan Biru yang bertingkah seolah berteman dengan anak perempuan adalah kesalahan. Bisa Naya tebak tak akan lama lagi Biru akan berteman dengan kedua murid cantiknya. Biru akan menjadi penjaga keduanya. Lihat saja nanti, Naya akan membuktikannya sendiri. “Maafin den Biru ya, Bun. Dia memang susah diatur, tapi anaknya baik kok sebenarnya,” ucap Opi kepada Naya. Naya mengangguk singkat. “Pi, kapan aku bisa bicara sama orang tuanya, Biru?” tanyanya. Opi terlihat serba salah. Rasanya akan sulit bertemu dengan orang tua majikan kecilnya karena Papa dan mamanya sama-sama sibuk. “Emhh, mereka sibuk ya?” tanya Bunda Nay. Opi mengangguk. “Bisa kita bicara di sana saja, Bun?” Opi menunjuk meja guru yang biasa Naya gunakan. Naya menoleh ke sana dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Sepertinya Opi tak ingin Biru mendengar pembicaraan mereka. Naya membawa Opi ke meja kerjanya. “Ada yang mau kamu sampaikan, Pi?” tanyanya. Opi menganggukkan kepala. “Iya, Bun. Sebenarnya, sejak kedua orang tua den Biru bercerai, den Biru seperti kekurangan kasih sayang terutama dari ibunya. Den Biru jadi galak seperti ini, Bun,” terangnya. Bunda Nay dapat melihatnya. Sejak awal ia sudah tahu bahwa Biru korban dari perceraian orang tuanya. Bersyukur nilai dari setiap pelajaran yang ia berikan tak pernah mengecewakan. Biru tetap dapat menggunakan otaknya dengan baik. Ia tidak malas dalam belajar. “Seperti yang aku duga, Biru adalah korban dari perceraian Mama dan Papanya. Tapi dia akan baik-baik saja Pi, karena ada kamu di sisinya,” ucap Naya. Menurutnya Opi adalah pengasuh yang baik. Biru juga terlihat sangat dekat dengannya. Naya tak perlu khawatir akan Biru bila bersama Opi. Hanya saja, memang sikap yang Biru miliki sedikit mengecewakan. Ia tampak angkuh dan terkesan tidak peduli terhadap sekitarnya. Akan sangat menyenangkan bila si angkuh Biru bisa berteman dengan kedua murid cantiknya, Akira dan Nakira. Namun, sepertinya akan sulit, mengingat Biru bukan type bocah lelaki yang centil terhadap anak perempuan. “Aku juga akan berusaha untuk mendekatinya, Pi. Aku akan menjaganya di sini,” “Wahh, terima kasih banyak, Bunda. Saya yakin den Biru nggak akan keberatan dijaga oleh Bunda,” ucap Opi. Naya mengangguk singkat. Sebenarnya ia masih ingin bertemu dengan kedua orang tua Biru, tapi kalau tidak memungkinkan yam au bagaimana lagi. “Soal orang tuanya, jika mereka ada waktu tolong kabarin aku ya Pi. Aku mau bahas tentang Biru bersama mereka,” ucap Naya. “Kalau mamanya saja bisa nggak, Bun? Soalnya papanya nggak mungkin bisa. Sibuk banget di kantornya,” Naya menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa. Justru bagus kalau bisa bertemu dengan mamanya Biru,” balasnya. Sementara itu, Opi sangsi Bunda Nay tak menyesali ucapannya mengenai kata ‘bagus’ bertemu dengan mantan nyonyanya tersebut. Pasalnya, mantan nyonyanya tak seperti kebanyakan ibu lainnya. Benar-benar buruk di mata Opi jika ia diizinkan untuk menilai. Obrolan itu tak lagi berlanjut, sebab bel masuk telah berbunyi. Opi berlari keluar kelas setelah sempat menghampiri Biru dan memberinya semangat. Sementara itu, Akira dan Nakira kembali duduk di bangku masing-masing. Anak-anak yang tadi bermain di luar pun berlarian masuk ke dalam kelas. Bunda Nay senang sekali melihat pemandangan ini. Ia tak pernah bosan melihat wajah-wajah menggemaskan dari murid-muridnya. Ada yang sebal lantaran terpaksa menghentikan permainan. Ada pula yang tampak gembira karena setelah pelajaran selesai, maka jam pulang pun datang. Melihat tingkah mereka membuat Naya merasa lucu. “Baik lah anak-anak, apakah semuanya sudah masuk kelas?” tanya Naya. “Sudah Bundaaaaaa,” jawab mereka secara serempak. Naya memperhatikan muridnya satu persatu. Ada yang masih mengipasi diri karena kepanasa, ada pula yang sibuk mengeluarkan alat tulis dari dalam tas. Namun, ada yang tidak melakukan apapun. Membiarkan meja tetap kosong lantaran malas melanjutkan pelajaran. “Simpan kembali buku kalian ya, karena siang ini Bunda hanya akan mengajak kalian bermain di kelas!” ujar Naya. Tentu saja permainan yang akan ia tunjukan ini mengandung pembelajaran. Naya tak ingin membuang waktu dan makan gaji buta karena tak memberikan ilmu yang maksimal untuk murid-muridnya. Sekalipun hanya bermain, tetapi Nay selalu menyelipkan pembelajaran di sana. “Yeyyyyyyy!!!!” Betapa senangnya para murid karena akan bermain. Hanya Dua orang yang memiliki ekspresi datar yaitu Akira dan Biru. Naya tahu apa isi pikiran keduanya. Akira pasti berpikir tak bisa ikut bermain lantaran ia memiliki penyakit yang serius. Sedangkan Biru, memang bukan anak lelaki yang lebih mengutamakan main daripada belajar. Namun, kali ini Naya akan membuat keduanya ikut bermain bersama yang lainnya karena permainan ini tak membutuhkan tenaga. Tak perlu berlarian ke sana kemari. Permainan ini justru membutuhkan otak untuk berpikir. Lihat saja apa yang akan Naya lakukan! Ia tak akan membuat murid-muridnya kepayahan karena berlarian. Keringat yang mungkin akan murid-muridnya hasilkan adalah dari hasil berpikir dalam memecahkan persoalan yang nanti akan Nay bungkus dalam permainan. “Baiklah, bisa kita mulai anak-anak?” tanya Nay menghentikan gerasak-gerusuk yang timbulkan oleh murid-muridnya. “Bisa Bundaaaaaaa!” balas mereka secara bersamaan. Akira masih lesu. Ia tampak menautkan alis matanya karena takut tak bisa ikut bermain. Sedih rasanya bila hanya dirinya saja yang tidak ikut bermain bersama teman-temannya. Pasti akan sangat menyenangkan bila dirinya berada di antara mereka. Namun, apa lah daya sebab fisiknya tak terlalu kuat melakukan permainan itu. “Bunda akan membagi kalian menjadi Tiga kelompok!” ujar Nay memecah lamunan Akira. Gadis kecil itu tampak menggigit bibirnya, sudah ingin menangis saat sebagian nama teman-temannya sudah disebutkan. Bahkan Nakira saja sudah memiliki kelompoknya sendiri. Begitu juga dengan Biru, bocah itu pun sudah memiliki kelompok. “Akira Lintang Kanagara masuk kelompok Tiga ya, kamu jadi ketuanya!” Betapa terkejutnya Akira ketika Bunda Nay menyebut namanya dan menjadikannya sebagai ketua kelompok di kelompok Tiga. Selain senang, ada pula kekhawatiran yang melandanya. Ia takut tak bisa menjadi ketua yang baik karena penyakitnya. Akira ragu semua orang akan menyukainya jika tahu mereka akan kalah karena ia tak pandai berlari. Setidaknya begitu lah yang Akira pikirkan sebelum tahu jenis permainan yang akan mereka mainkan. Namun, ia dapat bernapas lega ketika permainan tersebut tak membutuhkan tenaga melainkan sangat memerlukan otak untuk berpikir. *** To be continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN