***
Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berlarian keluar untuk bermain bersama. Namun, sekali lagi tidak dengan Akira. Baru saja menyimpan buku tulisnya ke dalam tas, kini ia tengah mengeluarkan bekal yang dia bawa dari rumah. Si gadis cilik tengah menunggu Bunda Nay menyelesaikan urusannya sehingga mereka bisa makan bersama.
Akira tersenyum sumbringah saat Naya menghampiri. Wanita yang memiliki profesi sebagai guru TK tersebut juga membawa bekalnya.
“Apa yang kamu bawa hari ini, Cantik?” tanya Nay begitu ia duduk di depan Akira.
Si gadis kecil pun terkekeh. Ia membuka bekalnya dan menunjukan hasil kerjanya sepagian ini bersama pengasuhnya. Bento dengan kreasi yang lucu terpampang di depan Nay. Pupil mata si Bunda pun membesar.
“Lucu sekali.” Bukan Naya yang memberi komentar, tetapi ada suara lain yang mendahuluinya. Naya dan Akira menoleh secara bersamaan. Dua pasang mata yang memiliki usia jauh berbeda tersebut melihat senyum ceria miliki anak perempuan yang juga menjadi penghuni kelas. Nakira, namanya. Aktif dan pemberani, begitulah Naya menilai si manis yang satu ini.
“Boleh aku bergabung?” tanya Nakira. Seperti yang Naya duga, Nakira adalah anak yang pemberani. Dia tidak akan menahan diri bila menginginkan sesuatu. Namun, lihat lah betapa sopannya dia dalam meminta. Semua itu dirinya lakukan agar tak ada yang merasakan ketidaknyamanan akan kehadirannya.
Bunda Nay tersenyum lembut kepada Nakira yang ceria. Ia mengangguk singkat sembari mempersilakan Nakira duduk di samping Akira. Meskipun Naya dapat melihat bahwa Akira keberatan, tetapi ia tak bisa membandingkan muridnya yang Satu dan yang lainnya. Terlebih ketika Nakira meminta sendiri.
Naya akan berusaha menempatkan dirinya pada tempat yang tepat agar tidak ada kecemburuan yang akhirnya menjadi permusuhan. “Wahhhh, nama kalian berdua sangat mirip!” ujarnya memecah keheningan.
“Nakira, Akira, benar-benar mirip,”
Hanya Nakira yang terkekeh menanggapi, sedangkan Akira tampak diam tak bersemangat. Bunda Nay tentu tahu apa penyebabnya. Akira pasti sedang merasa tidak nyaman akan kehadiran si manis Nakira.
“Bunda boleh panggil aku Nana biar ada pembeda. Mama Tisha yang kasih panggilan itu dan aku suka,” Nakira mengedikan bahunya.
Naya ingat siapa Tisha. Perempuan itu pernah memperkenalkan dirinya beberapa waktu yang lalu. Dia mengaku sebagai calon ibu sambungnya Nakira. Syukur lah bila Tisha menyayangi Nakira. Artinya perempuan itu tak hanya menginginkan Ayah Nakira saja.
“Baiklah. Kamu Bunda dan Akira panggil Nana saja kalau begitu!”
“Kamu setuju, Akira?” Sengaja Bunda Nay mengajak Akira bicara.
Akira tampak terkejut. Mungkin dirinya tengah melamun beberapa saat yang lalu. Namun, kepalanya mengangguk setuju. “Nana,” katanya.
“Emm, gimana kalau mulai sekarang kalian berteman?” Bunda Nay mengusulkan. Nakira dan Akira saling berpandangan. Nakira mengangguk setuju, tetapi Akira hanya menatapnya kebingungan.
Bunda Nay tahu apa yang membuat Akira ragu, tetapi ia ingin Akira memiliki teman seperti Nakira yang ceria. Dapat Bunda Nay rasakan pula betapa Nakira ini cocok berteman dengan Akira. Mereka pasti akan saling melengkapi.
“Akira nggak mau berteman denganku, ya?” tanya Nakira secara langsung. Bunda Naya penasaran akan jawaban Akira hingga ia diam menunggu.
Akira melirik Bunda Nay, dan hanya senyum yang Bunda berikan. Akira kembali menatap Nakira lalu perlahan mengangguk singkat.
“Apa itu?” tanya Nakira tidak mengerti pada anggukan yang Akira berikan.
Akira berdecak sebal. Nakira terlalu banyak bicara menurutnya. “Aku setuju berteman denganmu!” ujarnya.
Tanpa Bunda Nay duga, Nakira langsung memeluk Akira. Bunda saja sampai menganga melihatnya. Namun, setelah itu ia melebarkan senyumnya.
“Mulai sekarang kamu temanku ya Akira! Kalau ada yang gangguin kamu bilang aja sama aku,” ucap Nakira yang akhirnya bisa membuat Akira menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman.
Bunda Nay melihat interksi itu tanpa ikut campur. Nyatanya tanpa dirinya pun Nakira bisa mengatasi perasaan tidak nyaman yang Akira rasakan. Nakira memang sangat cerdas. Ia tampak lebih memahami segala sesuatu dibandingkan dengan Akira, terutama mengenai perasaan. Bunda Nay senang melihat kedekatan Akira dan Nakira.
“Sekarang kita makan ya. Kamu bawa apa Nana?” tanya Bunda Nay.
Nakira yang dipanggil demikian pun berlari menuju mejanya dan mengeluarkan bekalnya dari dalam tas. Lalu ia kembali menemui Akira dan Bunda Naya. “Mbak Hana bikin bento, tapi nggak secantik punya Akira!” ujarnya.
Akira terlihat tersipu. “Aku membuatnya sendiri bersama Mbak Selia,” katanya.
“Wahh! Kamu pintar bikin bento Akira!” puji Bunda Nay. “Dan, Nana, coba lain kali belajar dari Akira ya biar bentomu lebih menarik,” katanya.
Akira semakin tersipu, sedangkan Nakira tampak mengangguk penuh semangat. Bekal masing-masing pun dibuka. Lucunya apa yang tidak ada di dalam bekal Akira, diberikan oleh Nakira. Begitu juga sebaliknya. Akira pun melakukan hal yang sama kepada Nakira. Bunda Naya betul-betul senang melihat itu. Tadinya ia sempat berpikir Akira tak ingin Nakira berteman dengannya bila melihat reaksi pertamanya. Namun, ternyata dirinya salah. Akira menerima Nakira dengan sangat cepat meskipun sempat memiliki kekhawatiran akan kehadirannya yang datang secara tiba-tiba itu.
“Bunda mau?” tanya Akira menawari bekalnya untuk Bunda Nay.
Bunda Nay mengangguk singkat demi menghargai pemberian Akira. Kemudian dengan senang hati Akira memberikan beberapa sayuran dari bekalnya kepada Naya. Begitu juga dengan Nakira. Ia tampak tak ingin kalah. Syukur lah hanya ada tawa karena hal itu.
Setelah bekal yang mereka miliki habis tak bersisa, mereka menyimpan kembali wadah yang kosong ke dalam tas. Tiba-tiba Nakira berbisik kepada Naya. “Bunda, dari tadi Biru lihatin kita terus dari bangkunya,” katanya.
Naya pun mengernyitkan dahi, lalu menoleh ke arah bangku Biru, murid laki-laki yang menurutnya juga sangat pintar. Naya saja bingung siapa nilainya paling besar di antara Akira, Nakira dan Biru nantinya. Mereka benar-benar saingan dalam pembelajaran.
Naya tersenyum lembut kepada Biru, tetapi dengan kejam Biru mendengus kesal padanya. Naya tidak heran sebab Biru memang sering bersikap seperti itu. Naya belum tahu apa penyebabnya. Nanti akan ia tanyakan langsung kepada orang tuanya atau paling tidak kepada pengasuhnya. Mungkin ada sesuatu yang membuat Biru selalu terlihat kesal dan tidak bersahabat kepada semua orang.
“Biru! Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada Bunda,”
Belum sempat Naya berkata-kata, tetapi Nakira yang pemberani sudah lebih dulu menghampiri Biru dan memberinya peringatan. Sebelum mereka saling dorong mendorong, Bunda dengan cepat menghampiri. Di belakangnya Akira mengekori. Bunda memeluk bahu Nakira lalu menggeleng pelan kepadanya. “Biar Bunda yang bicara sama Biru ya,” ucapnya.
“Tapi Bun … ” Selain pemberani, Nakira juga keras kepala. Namun, Bunda Nay bukan tandingannya. Ia adalah seorang guru yang harus Nakira turuti. Di sampingnya juga Akira tampak menengahi. Akira menarik ujung lengan baju Nakira, lalu menggelengkan kepalanya begitu Nakira menoleh.
“Kalian bermain berdua dulu ya,” pinta Bunda kepada Akira dan Nakira.
Akira yang penurut mengangguk patuh, tetapi Nakira yang keras kepala terlihat sangat keberatan. Nakira tampak kesal pada Biru Lazuardi Abimanyu yang menyebalkan.
“Ayo, Nana!” ajak Akira sembari menarik tangan Nakira. Pada akhirnya Nakira menurut, ia pergi bersama Akira. Sementara itu, Bunda Nay tampak mendekati Biru. Ia tersenyum lembut sebelum mengajak Biru bicara. Bunda tahu bicara dengan Biru tidak lah mudah, tetapi ia bukan seorang guru yang gampang menyerah.
***
To be continued.