***
Akira Lintang Kanagara baru saja keluar dari rumah mewahnya setelah sarapan bersama papanya, Lintang Kanagara. Si gadis kecil kini lebih banyak tersenyum. Tak hanya Selia yang merasakan perubahan tersebut, tetapi juga Lintang sendiri. Lintang merasa Akira lebih ceria, lebih terbuka kepadanya. Bahkan gadis kecilnya banyak bercerita selama mereka sarapan pagi bersama.
Menurut Selia perubahan itu terjadi karena Akira bergaul dengan guru barunya bernama Naya. Jujur, Lintang tak terlalu peduli seperti apa seorang Nayanika Candramawa, tetapi ia sungguh berterima kasih kepada wanita itu karena berhasil membuat Akira yang pendiam kini jauh lebih ceria.
Beberapa hari yang lalu Lintang memberi Naya hadiah sebagai ucapan rasa terima kasihnya. Sungguh, hadiah itu tidak memiliki maksud apa-apa selain karena rasa terima kasihnya saja.
Mengabaikan hal itu, kini Lintang juga akan meninggalkan rumah mewahnya. Hari ini ia akan melakukan perjalanan bisnis bersama sekretarisnya, Bela Ajisaka. Lintang mengendarai mobilnya sendiri karena ia memang terbiasa melakukannya.
Rumah mewah itu akhirnya kosong tak berpenghuni. Lintang sudah berangkat ke kantornya, dan Akira juga sudah lebih dulu berangkat ke sekolahnya dengan di antar oleh supir pribadinya. Ada Selia yang selalu menemani putrinya tercinta tersebut sehingga Lintang tak perlu mengkhawatirkannya.
Sesampainya di kantor Lintang disambut oleh Bela sekretarisnya.
“Selamat pagi, Pak,” Perempuan berparas cantik itu tersenyum ramah kepada Lintang.
Lintang menggangguk singkat. “Pagi,” balasnya.
Lintang menyimpan tas kerjanya di atas meja. Ia duduk di kursi kebanggaannya. Siap untuk melanjutkan pekerjaan.
“Bapak sudah sarapan?” tanya Bela masih dengan senyumnya yang mengembang ramah.
Setiap hari Bela selalu bersikap seperti itu. Bela memiliki misi tersendiri. Ia ingin merebut hati Lintang yang masih saja beku tersebut. Bela menginginkan Lintang menjadi miliknya. Perempuan berparas cantik itu mengejar Lintang untuk ia jadikan sebagai kekasihnya. Namun, hingga detik ini Lintang masih bungkam. Sang atasan hanya menganggap Bela sebagai sekretarisnya saja. Tak bisa lebih dari itu.
Namun, Bela yang sabar tak ingin menyerah begitu saja. Ia akan melakukan segala cara agar bisa memiliki Lintang Kanagara, duda keren dan kaya raya.
“Sudah.” Lihat, singkat sekali Lintang menjawab pertanyaan Bela. Ia tak ingin memperpanjang percakapan tidak penting semacam itu. Dirinya lebih suka membahas masalah pekerjaan bila bersama Bela karena hanya itu yang seharusnya menjadi bahasan mereka.
Bela tersenyum lembut. “Bagus deh, aku nggak mau Bapak sakit karena menyepelekan sarapan. Ngomong-ngomong gimana kabar Akira? Dia sehat kan?” tanyanya.
Lintang menatapnya tak suka. Tidakkah Bela peka? Betapa saat ini Lintang tak sudi bicara dengannya? Bela memang peka, tetapi memilih untuk pura-pura tidak mengerti ketidaksukaan Lintang ini. “Syukur lah jika Akira baik-baik saja. Kapan-kapan aku mau mampir ke rumah, sudah rindu sama Akira yang manis,” katanya tanpa peduli tatapan penuh peringatan dari Lintang.
Sekedar infromasi, Bela adalah wanita yang dikenalkan mantan mertua Lintang. Mantan mertuanya mencoba untuk menjodohkannya dengan Bela. Menggantikan istrinya yang telah tiada. Namun, sampai kapanpun juga Bela tak akan pernah bisa menggantikan istrinya. Bela hanya perempuan mata duitan bagi Lintang. Dia tidak bisa disamakan dengan almarhumah istrinya yang telah tiada. Mereka jelas jauh berbeda. Entah dari mana mantan mertuanya bisa menyamakan Bela dengan anak kandungnya sendiri. Lintang juga tidak mengerti kenapa mantan mertuanya menilai seorang Bela sebaik almarhumah istrinya.
“Bapak tidak keberatan kan? Karena aku mampir sama tante Hana,” Bela menambahkan sebab ia tahu Lintang pasti keberatan. Namun, jika ia menyebut tante Hana, maka Lintang tak akan menolaknya karena Hana adalah Nenek kandung Akira.
Lintang mendengus kesal. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.
“Ahh, makasih ya, Pak!” ujar Bela kegirangan.
Sementara itu, Lintang hanya bisa pasrah, ia membiarkan Bela berbuat sesukanya bersama Mama Hana. Lagipula memang sudah sangat lama mantan mertuanya itu tidak bertemu dengan Akira. Beberapa kali Akira juga sempat menanyakan kabarnya. Mungkin akan menjadi sesuatu yang baik untuk Akira bila ia bertemu dengan neneknya, wanita yang mirip sekali dengan rupa ibunya.
“Bapak … ”
“Bisa kita bekerja sekarang, Bel?” potong Lintang dengan cepat. Bela terdiam. Ia memandang Lintang dengan geram, tetapi senyumnya tetap saja terbit agar Lintang tak menyadari betapa sebalnya ia pada sikap Lintang.
Bela mengangguk singkat sebagai balasan. Ia melanjutkan pekerjaannya yang kemarin sempat tertunda. Begitu pula dengan Lintang, lelaki itu lega sebab Bela tak lagi banyak bicara. Lintang menyibukan dirinya dengan berkas-berkasnya. Lintang harap Bela tak lagi mengganggunya karena ia benar-benar tidak suka pada banyaknya pertanyaan yang Bela ajukan itu. Ia muak mendengarnya.
Jika Lintang sibuk dengan pekerjaannya, maka Akira sibuk dengan sekolahnya. Pukul Tujuh lewat beberapa menit Akira sudah sampai di kelasnya. Tak seperti teman-teman sekelasnya yang lincah berlari ke sana kemari, Akira hanya menunggu kelas dimulai dengan tenang di bangkunya.
Dulu wajah murung pasti menghampiri, tetapi sekarang tidak lagi. Ada Bunda Nay yang ia nanti kehadirannya. Bunda Nay yang setiap hari menjadi temannya di kala jam istirahat dimulai. Akira merasa tidak kesepian lagi. Ia memiliki teman yang sangat istimewa.
Akira akan sangat senang ketika bel masuk berbunyi. Ia selalu siap menerima pembelajaran dari Bunda Nay yang memang bertugas memegang kelasnya.
“Non, Mbak Selia tunggu di luar ya. Semangat belajar, Non Akira!” ujar Selia saat bel akhirnya benar-benar berbunyi.
Akira mengangguk singkat. Ia melambaikan tangannya pada Selia sembari tersenyum cerah. Betapa Selia senang melihat majikan kecilnya kini. Senyum nona mudanya membuatnya benar-benar ikut merasakan kebahagian.
Kembali pada Akira, si bocah cantik itu mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Meski masih kecil, Akira sangat disiplin. Tak pernah sekalipun ia malas mengerjakan PR ketika guru memberikan tugas itu. Tulisan tangannya pun terlihat rapi untuk anak seumuran dirinya. Akira itu salah satu murid yang istimewa. Dia jenius di usianya yang masih belia.
Buru-buru Akira menyiapkan tempat pensil dan bukunya demi menemukan Bunda Nay yang baru saja masuk ke ruang kelasnya. Kebetulan sekali ketika ia menoleh, Bunda Nay pun tengah meliriknya. Tak segan Akira melebarkan senyumnya.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Bunda Nay kepada murid-muridnya.
“Selamat pagi Bunda Nay,” Serempak semua murid menjawab. Hanya satu yang tidak yaitu Biru Lazuardi Abimanyu. Kenapa Naya bisa tahu? Karena ia memang cukup sering memperhatikan pria kecil tersebut. Biru tak pernah menjawab sapaannya. Wajahnya yang datar tampak tidak selera. Namun, Naya tak bisa marah karena Biru pun adalah salah satu muridnya yang jenius.
Biru tak pernah salah dalam menjawab pertanyaannya. Biru selalu memperhatikan penjelasannya ketika di kelas. Lucu bila Naya marah hanya karena Biru tak suka menjawab salamnya seperti muridnya yang lain. Namun, Naya aka menasihatinya nanti, sebab hal ini berkaitan erat dengan sopan dan santun sebagai seorang murid.
Naya melarikan matanya pada muridnya yang lain hingga ia menemukan gadis cantik bernama Nakira. Dia juga salah satu murid yang pintar, ceria dan sangat sopan. Naya juga menyukainya sejak pertemuan pertama mereka. Lalu, ia kembali melarikan matanya pada si kecil Akira. Gadis manis yang sejak awal telah menarik perhatiannya.
Akira sudah banyak berubah. Ia tampak lebih ceria meski hingga kini belum juga memiliki seorang teman. Naya tersenyum lembut, tidak apa-apa, perlahan Akira akan bertemu dengan teman yang bisa mengerti dirinya.
Naya melanjutkan kegiatan mengajarnya. Ia meminta semua murid mengeluarkan buku tulis. Namun, sebelum itu, dirinya pun mengajak muridnya bermain sambil bernyanyi terlebih dahulu.
***
To be continued.