Indigo
Nada membelokkan motor bebeknya ke halaman rumah itu. Sama sekali tak istimewa. Sama dan serupa dengan rumah-rumah seragam di kompleks perumahan kelas menengah perkotaan, mirip dengan rumahnya sendiri.
Sambil melepas ritsleting jaket hitam dan membetulkan letak tas di punggungnya, Nada melangkah menuju pintu depan. Dari bagian bawah jaketnya menyembul rok abu-abu sebatas lutut yang tampak jelas masih baru. Ia 15 tahun, berbadan kecil kurus, dan berkulit wajah kecokelatan agak gelap.
Tak akan ada anak laki-laki yang akan secara khusus memerhatikannya, karena ia memang tak termasuk jenis cewek yang cantik, glowing, molek, dan seksi. Ia sendiri tahu badannya terlalu kerempeng—kadang khawatir ia bisa saja mencelat kabur jika angin berhembus lebih kencang sedikit saja.
Pintu depan yang baru saja ia ketuk terbuka. Seorang wanita cantik berusia awal 40-an muncul. Nada menyapa duluan sebelum ditanyai.
“Benu ada, Bu?”
“Nada ya?” wanita itu balik bertanya.
“Betul, Bu.”
Wanita itu menepi memberi jalan. “Silakan masuk! Benu ada di kamarnya. Oh, ya, saya ibunya Benu. Mari saya antar!”
Mereka bersalaman. Sama-sama tersenyum ramah. Nada menguntit ibu Benu melintasi ruang depan dan tengah yang penuh benda-benda hiasan, lalu masuk kamar yang terletak di samping bufet besar yang terlihat sangat purba. Daun pintu kamar terbuka lebar, sehingga Nada sudah sejak dari jauh bisa melihat Benu berbaring dengan tampang loyo di tempat tidur.
Mereka mendekat. Benu menatap riang ke arah Nada, namun dengan sorot mata lemah dan kulit wajah pucat. Nada tak terlalu kenal Benu. Lagipula anak itu duduk di bangku yang paling jauh darinya di kelas. Baru kali ini ia melihat Benu dari dekat. Muka dia penuh jerawat. Bukan jenis cowok yang menarik buat lawan jenis.
Benu juga berbadan kecil. Kegiatannya di sekolah adalah aktif di majalah sekolah dan ekskul jurnalistik.
“Hari ini tadi ada ulangan nggak?” tanya anak itu.
“Nggak ada, tapi sekali lagi kamu ijin nggak masuk, nilai akhir semesteranmu bisa kacau. Sekolah baru jalan dua bulan, kamu udah total 10 kali ijin sakit.”
“Sudah tiga hari ini Benu demam panas,” kata ibu Benu. “Senin-Selasa kemarin masih saya suruh masuk, tapi hari ini bener-bener nggak kuat, katanya.”
“Itu sebabnya aku minta tolong kamu,” Benu mengedipkan sebelah mata ke arah Nada.
“Saya bikinkan kamu minum, Nada.”
Nada mengangguk. Ibu Benu melintas keluar kamar. Kini hanya tinggal mereka berdua di situ. Nada menaruh tasnya ke lantai, lalu melepas jaketnya.
“Ortuku nggak terlalu percaya cerita-cerita seperti itu, Nad,” kata Benu. “Tapi mereka oke-oke aja. Siapa tahu kamu emang beneran bisa.”
Nada tak menyahut. Hanya tersenyum penuh arti.
“Emang beneran bisa?” Benu penasaran.
Nada menyapu sekeliling sudut kamar dengan matanya. Ada beberapa yang terlihat jelas.
“Apa kamu sering muter musik-musik heavy metal dengan suara keras, Ben?”
Benu mengerutkan dahi. “Kok tahu?”
“Mereka bilang padaku.”
Benu menegakkan punggungnya. “Mereka?”
“Hantu. Arwah. Roh-roh halus di sini, sekitar rumahmu.”
“Memangnya ada berapa?”
“Lima. Cewek semua. Mereka tinggal di pohon jambu di samping itu.”
Pohonnya terlihat lewat jendela. Benu menoleh takut-takut ke arah itu karena sekilas Nada juga menatap ke sana.
“Mereka bilang, kamu berisik. Suka muter musik kenceng-kenceng sampai dini hari.”
Benu tertegun. “Bapak sama Ibu sering pergi-pergi. Maklum, aktivis organisasi sosial. Lagian rumah ini jauh dari tetangga. Kupikir nggak ada yang akan merasa terganggu...!”
“Mereka terganggu, lalu bikin kamu sakit panas nggak jelas sebagai hukumannya. Dan karena mereka nggak bisa langsung ngasih tahu ke kamu.”
Benu menatap Nada dengan sorot mata penuh permohonan.
“Trus aku musti gimana?”
“Pake earphone. Atau kecilin volume speaker setelah jam 12 malam.”
“Makhluk halus bisa terganggu suara berisik juga ya?”
“Yang ada di sini tadinya kan manusia juga.”
“Oh, ya? Bukan yang jenisnya pocong atau kuntilanak gitu?”
Nada menggeleng. “Nggak ada pocong atau kuntilanak di sekitar rumahmu. Adanya arwah orang-orang yang sudah meninggal tapi belum berangkat ke alam sana.”
“Kok bisa gitu caranya gimana sih? Mereka bener-bener kelihatan ama kamu ya?”
“Yap. Sama kayak aku lihat kamu sekarang ini.”
“Dulu awalnya gimana pas pertama kali tahu kamu anak indigo? Pasti ketakutan banget ya lihat hantu-hantu itu.”
“Lumayan. Aku sampe sakit panas seminggu, pas masih TK. Takut banget! Lama-lama akhirnya terbiasa.”
“Hantu apa yang pertama kamu lihat?”
“Suami sama istri dan anak perempuan kecil. Waktu itu pas aku sama mamaku lagi jenguk salah seorang teman sekantor Mama yang dirawat di rumah sakit. Pas di koridor depan kamar, ada tiga orang yang duduk bareng aku dan mamaku. Mereka kayaknya sakit. Baju mereka penuh noda darah. Lalu mereka pergi ke ruangan lain. Malemnya, pas di rumah, aku ngobrolin soal mereka sama Mama. Tapi Mama bilang, nggak ada siapa-siapa lagi di sana waktu itu. Yang duduk di bangku panjang cuman kita berdua tok, Mama sama aku doang.”
Benu melongo.
“Dan habis itu aku lihat orang-orang yang nggak dilihat orang lain. Barulah aku tahu mereka bukan orang, tapi mantan orang.”
“Pernah komunikasi sama mereka?”
“Beberapa kali. Mereka hanya mau bicara kalau ditanyai doang, seperti barusan aku nanya kenapa mereka gangguin kamu. Tapi ya cuman gitu tok. Begitu kemauan mereka dituruti, mereka akan diam membisu lagi.”
“Emang kamu nanyanya kapan? Sejak tadi kan ngobrolmu sama aku.”
Nada tersenyum. “Kan bisa lewat pikiran, kayak telepati gitu.”
Mulut Benu membentuk huruf “O”. Ibu anak itu muncul sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan satu stoples emping melinjo. Obrolan terputus sementara.
“Nada tinggal di mana?” tanya ibu Benu kemudian, malah ikut duduk-duduk di kamar.
“Di kompleks Griya Permata, Bu. Kompleksnya persis di belakang sekolah.”
“Sekelas sama Benu? Itu tehnya diminum dulu!”
Nada mengangguk dan tertawa. “Eh, iya, Bu. Iya, saya sekelas sama Benu.”
Ia menyeruput teh buatan ibu Benu. Enak. Hangat sedikit panas dan tidak terlalu manis.
“Nada duduk di deretan bangku terdepan, sedang aku paling belakang,” celetuk Benu.
“Trus gimana tadi?” sang ibu bertanya pada anaknya. “Sumber penyakitnya ketemu?”
“Mereka nggak suka aku muter musik terlalu kenceng malam-malam kalau pas Bapak sama Ibu nggak dirumah.”
Ibu Benu melongo. “Mereka siapa?”
Benu sekilas melirik Nada saat menyahut, “Arwah. Di sekitar rumah sini.”
Tatapan wanita itu berpindah ke Nada. “Kamu beneran bisa lihat makhluk-makhluk kayak gitu, Nada?”
Nada mengangguk. “Iya, Bu. Bakat alam.”
“Tapi sekarang ada banyak ya anak-anak yang bisa kayak gitu? Apa tuh namanya? Indigo?”
“Betul, Bu. Indigo. Ada cewek indigo yang membukukan pengalaman-pengalaman gaibnya dalam bentuk novel. Eh, maaf kalau lancang, tapi saya apa boleh ke toilet, Bu?”
Ibu Benu tersenyum dan seketika bangkit.
“Oh, tentu saja. Ayo, ayo, sini!”
Nada mengikuti wanita itu keluar kamar.
“Lurus saja ke dapur. Kamar mandinya di dekat tempat cuci piring.”
Nada mengangguk. “Ya, Bu. Terima kasih.”
Ia bergegas ke arah belakang. Matanya mengamati sekeliling. Rumah ini sangat lapang dan berangin. Suhu sejuk meski tanpa AC, karena terdapat cukup benyak ventilasi yang membuat sirkulasi udara menjadi sangat lancar.
Ruang tengah persis di depan kamar Benu didominasi kursi dan meja rotan berkayu warna cokelat tua. Bufet di sudut tak jauh dari pesawat TV layar datar di dinding juga berkecenderungan serupa. Di dekat ambang pintu menuju dapur malah terdapat sebuah lemari besar yang berukir luar biasa bagus. Ayah Benu mungkin membelinya dari pedagang barang-barang antik di pasar loak.
Masuk dapur, Nada sudah tak punya waktu untuk memperhatikan situasi. Panggilan kandung kemihnya jauh lebih urgen untuk didahulukan. Ia menemukan pintu kamar mandi dengan cepat. Dan betul seperti kata ibu Benu tadi, letaknya memang persis di sebelah tempat cuci piring.
Pintu kamar mandi tertutup saat ia tiba. Takut ada orang di dalam, Nada mengetuk pelan. Sepi. Tak ada sahutan. Barangkali pintu kamar mandi memang selalu tertutup demi alasan kebersihan dan kepantasan.
Ia dorong daun pintu dengan cepat. Mata melongo saat melintasi ambang. Angin keras dan kering sesaat menyambar. Nada celingukan.
Ini bukan kamar mandi, tapi pasar!