Paul tersenyum samar. “Benar kan apa kataku kalau kamu belum tentu mandul? Karena itu, lain kali kamu jangan cepat percaya dengan vonis orang kepadamu. Kamu harus yakin dan percaya pada diri kamu sendiri bahwa kamu itu sehat dan berharga.” Yasmin tak menggubris ucapan Paul. Dia justru mengusap perutnya yang masih kempes. Matanya berkaca-kaca oleh rasa haru karena akhirnya dia akan menjadi seorang ibu. Meskipun bayi dalam kandungannya ini hasil dari perbuatan tidak senonoh Paul, tapi tentu dia tidak akan membuangnya. Dia langsung menyayanginya. Paul menghela nafas panjang melihat hal itu. Entah mengapa dia juga jadi ingin menyentuh perut Yasmin. “E… boleh tidak aku menyentuh perut kamu sedikit saja.” “Tidak boleh!” tolak Yasmin cepat dan tegas. Paul tersentak kaget. Tangannya yang baru

