Bab 8

1219 Kata
Setelah 15 menit perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Paul berhenti di sebuah toko pakaian atau butik. Paul yang duduk di kursi kemudi, menoleh pada Yasmin. “Ayo, kita turun, nona.” Yasmin melempar pandang ke luar. Tampak olehnya sebuah toko pakaian yang cukup besar. Dia lalu memperhatikan sekeliling pekarangan toko, berjejer mobil-mobil mewah. Jadi bisa dipastikan yang berbelanja di toko ini adalah masyarakat menengah ke atas. Yasmin baru kali ini dibawa ke toko ini. Selama ini dia pasrah dengan pemberian Darius. Dia sendiri tidak tahu dimana Darius membeli pakaian buatnya. Entah di toko ini atau toko lainnya. Tapi pernah dua kali Darius membawanya berbelanja pakaian ke sebuah pusat perbelanjaan. "Mari kita turun nona. Di sini koleksi busana wanitanya bagus-bagus," ucap Paul. Pria itu lalu membuka pintu di samping kursinya sebelum akhirnya keluar dari mobil dan membuka pintu di samping tempat duduk Yasmine. "Jujur aku bingung. Dari mana kamu bisa tau kalau di toko ini koleksi baju wanitanya bagus-bagus? Memang kamu pernah ke sini sebelumnya?" tanya Yasmine setelah dia berada di luar mobil. "Pernah. Malah sering." "Belanja untuk kekasih?" Paul menjawab pertanyaan Yasmin dengan senyuman. Ya, dulu dia sering datang ke toko ini untuk kekasih-kekasihnya yang mencintainya secara tidak tulus. Mereka semua hanya menginginkan hartanya. Seandainya dia adalah pria miskin, tentu ceritanya akan berbeda. Sampai akhirnya, dia membuang semua kekasih-kekasihnya itu sejak dia bertemu dengan wanita yang baik hati dalam penyamarannya. Sejak itu pula, dia bertekad akan mendapatkan wanita itu apa pun status wanita tersebut. Yasmin menyimitkan mata. "Kenapa kamu malah tersenyum, Paul? Jangan-jangan kamu memang sering datang ke sini." "Memang sering nona. Karena mengantar majikan-majikanku terdahulu berbelanja pakaian." Mata Yasmin membulat indah. "Ah, ya. Kamu kan seorang sopir ya? Jadi pasti sering datang ke tempat-temoat seperti ini. Tapi ngomong-ngomong nih, aku bingung sama takdir Tuhan. Kok kamu bisa jadi sopir ya? Padahal kalau melihat dari fisik kamu, sedikit pun kamu tak pantas jadi sopir. Kamu lebih pantas menjadi seorang Tuan muda." Paul tertawa kecil dengan pernyataan Yasmin. "Memangnya fisik sopir seperti apa, nona?" "Sepertinya apa ya? Ya yang pasti tidak seperti fisik kamu." Paul kembali tersenyum. "Baiklah. Mari kita masuk ke toko, nona." Yasmin mengangguk. "Oke." Keduanya pun lalu memasuki toko tersebut. Baru beberapa langkah, seorang pramuniaga mendekati. "Selamat datang, kakak,” ucap Pramuniaga tersebut. Tapi begitu pandangannya mengarah pada Paul dia sedikit terhenyak. “Tu_”. Tapi tak jadi menyebutkan setelah melihat jari telunjuk Paul di depan bibir. Maka pandangan sang pramuniagaku kembali pada Yasmin. “A-Ada yang bisa saya bantu?" “Biarkan kami memilihnya sendiri. Nanti kalau butuh, aku akan memanggilmu,” jawab Wilson. Pramuniaga itu mengangguk. “Baik, tu_ eh kak.” Lalu menyingkir dari Yasmin dan Paul. Yasmin melirik Paul. “Sepertinya pramuniaga itu mau memanggilmu, tuan.” Paul tersenyum kecil. “Itu karena aku sering mengantar majikan. Mereka pikir aku adalah keluarga atau bahkan pasangan majikanku.” “Benar kan kataku kalau kamu itu tidak pantas menjadi sopir dan lebih pantas menjadi seorang tuan muda?” Paul tersenyum kembali. “Semoga saja suatu hari nanti aku menjadi seorang tuan muda, nona. Doakan saja.” “Amin.” “Kalau begitu mari kita memilih pakaian yang akan nona beli.” “Oke.” Yasmin dan Paul lalu mendekati lemari pajangan yang memamerkan pakaian-pakaian. Dari mulai gaun, atasan, bawahan, outer, dan lainnya. “Aku bingung mau pilih yang mana,” ucap Yasmin polos. “Semuanya bagus.” “Yang mana yang nona suka?” “Aku suka semua.” “Kalau begitu belilah semua.” Jasmin tertawa renyah. Memperlihatkan giginya yang berderet rapi. “Hahaha! Itu tidak mungkin. Ayo bantu aku memilihnya, Paul.” “Baiklah, nona.” Paul pun lalu memilihkan Yasmin beberapa lembar yang pasti bagus di tubuh Yasmin. “Wah, banyak sekali? Mengapa tidak membeli selembar saja?” protes Yasmin. Paul menatap wajah Yasmin yang cantik jelita. Dia kagum dengan protes Yasmin barusan. Menunjukkan betapa wanita ini tidak serakah. Padahal Yasmin bukan memakai uang orang lain melainkan uang suami sendiri. Tidak seperti kekasih-kekasihnya di masa lampau. Kalau perlu membeli tokonya sekalian. “Ini kesempatan besar untuk nona. Jangan sia-siakan,” ucap Paul. Dia lalu mengambil salah satu dress dari tangan pramuniaga yang membawa semua baju pilihannya. “Pakai yang ini.” Mata Yasmin menunjuk dirinya sendiri. “Aku memakai dress itu?” “Iya. Baju yang nona kenakan masukan dalam tas dan nona memakai dress ini.” Yasmin menurut saja. Dengan ditemani seorang pramuniaga, dia masuk ke dalam fitting room untuk berganti pakaian. Tidak sampai lima menit, dia sudah kembali pada Wilson. “Bagaimana? Cocok dengan aku?” Indera penglihat Paul berbinar karena terpesona. “Bukan hanya cocok, tapi nona terlihat mempesona dengan dress itu. Nona sangat cantik. Setelah ini aku akan membuat nona seperti seorang artis.” Kedua alis Yasmin bergerak ke atas mendengar ucapan Wilson. “Memangnya bisa?” Tapi Wilson hanya tersenyum penuh arti. Dari toko pakaian, Paul membawa Yasmin ke toko perhiasan, tas, dan sepatu. Dan yang terakhir Paul membawa Yasmin ke salon. “Tolong rambutnya dibentuk yang sesuai dengan wajahnya, tapi biarkan rambut panjangnya tetap tergerai.” Pemilik salon yang turun tangan langsung itu mengangguk dengan patuh. Bagaimana tidak, dia mengenal siapa Paul dan kuasanya. Akan tetapi, pemilik salon ini merasa bingung. Jika dulu Paul membawa wanita-wanitanya secara terang-terangan ke salon ini tanpa harus menyembunyikan identitasnya, kenapa kali ini berbeda? Tapi tentu dia tidak berani bertanya. Jika Paul marah, sekali menjentikan jari, maka habislah dirinya. *** Pukul tujuh malam, Yasmin kembali ke rumah. Yaitu di jam makan malam keluarganya. Karena barang belanjaannya banyak, Yasmin tidak bisa membawanya sendiri. Maka, Paul yang membantu membawakan. Saat Yasmin dan Paul berjalan melewati meja makan yang ada orangnya –yaitu Darius, Nia, Asri, dan Desy-, dirinya menjadi pusat perhatian. Semua orang bahkan tidak berkedip melihat Yasmin yang langsung masuk ke dalam kamar itu. Bahkan, Desy menjatuhkan sendoknya ke piring. “Kenapa Mbak Yasmin terlihat berbeda sekali, bu?” tanya Desy setengah bergumam. “Kenapa dia bisa secantik itu? Dia memang Mbak Yasmin kan?" “Kamu benar. Kenapa dia bisa secantik itu ya?” balas Asri. "Seperti artis." Jika Desy dan Asri terpesona oleh penampilan Yasmin, tidak begitu dengan Nia. Saat ini rahang wanita itu mengencang dengan sorot mata penuh kemarahan. ‘Sial! Bagaimana bisa semua yang aku inginkan ada di tubuhnya? Baju, tas, sepatu, jam tangan, dan perhiasan itu, semua yang aku idam-idamkan selama ini dan belum terbeli olehku. Aku tidak terima. Jika wanita kampung itu sudah memilikinya, maka aku pun harus memilikinya.’ Maka, Nia menoleh pada Darius. “Dar, aku mau kamu mengambil kembali kartu yang ada di tangan Yasmin.” Darius yang baru meneguk air putihnya, menoleh. “Tidak bisa begitu. Aku sudah berjanji meminjamkan kartu itu selama satu minggu. Kalau aku mengambilnya sekarang, Yasmin aku men-cap aku sebagai orang yang ingkar janji. Aku tidak mau itu.” Jawaban Darius membuat mata Nia menyipit. “Sepertinya anggapan Yasmin tentang kamu begitu penting ya?” “Ya iyalah. Dia kan istri aku juga.” “Tapi kalau kamu membiarkannya memegang kartu itu selama satu minggu, isinya bisa habis.” “Biarkan saja. Toh, selama ini aku belum pernah memanjakannya. Daripada dia pergi meninggalkan rumah?” Bahu Nia yang menegang, turun seketika. “Jadi kalau kehadirannya begitu penting bagi kamu, apa artinya aku?” “Kaliang berdua itu penting untuk aku. Hanya fungsinya berbeda. Jadi, jangan dipermasalahkan lagi ya?” Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN